Connect with us

Artikel

‘Sunnah’ Menurut Ulama Hadis Hingga Ulama Sufi

Published

on

Sunnah secara harfiah berasal dari kata sanna yasunnu yang berarti perilaku, jalan, kebiasaan dan ketentuan. Dalam bahasa Arab, satu buah kosakata tidak bisa diartikan oleh satu makna saja melainkan tergantung dengan kalimat setelahnya. Maka makna Sunnah bisa menjadi definisi lain sesuai dengan konteks kalimat yang ada sebagaimana Sunnah menurut beberapa ahli berikut:

  • Menurut Ulama Hadits

Apapun yang bersumber dari Nabi baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan maupun sifat. Dalam konteks ini, sunnah kemudian menjadi tradisi turun temurun yang diriwayatkan oleh beberapa generasi yang poros utamanya adalah Nabi Muhammad Saw.

  • Menurut Mufassir

Pembatas bagi keuniversalan ayat-ayat al Quran. Meskipun al Quran dianggap sudah mencakup hukum-hukum peribadatan bagi umat Islam, tapi jika dilihat dari sisi kebahasaannya, masih banyak hal-hal yang perlu dijelaskan secara detail. Dan posisi sunnah menjadi alat bantu untuk menerangkan apa saja yang tidak dibahas dan ayat-ayat yang multitafsir dalam al Quran

  • Menurut Ulama Ushul

Sunnah diposisikan sebagai sumber hukum kedua setelah al Quran. Sunnah menjadi pijakan dalil suatu hukum karena pada dasarnya kedua-duanya berasal dari Allah Swt melalui Nabi Muhammad Saw.

  • Menurut Ulama fiqih

Sunnah ialah amalan dan ibadah yang apabila dilakukan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak berdosa. Makna sunnah disini lebih mengarah pada hasil hukum dari proses penggalian dalil syara’. Inilah definisi sunnah yang kemudian dipahami oleh orang Indonesia kebanyakan sebagai makna sunnah yang sesungguhnya

  • Menurut Ulama Kalam

Amalan-amalan yang bersumber dari Nabi dan diikuti oleh golongan ahlussunnah. Menurut al Auzai ada lima perkara yang selalu diamalkan oleh para sahabat dan tabiin yaitu mengikuti kebenaran, mengikuti sunnah, memakmurkan masjid, membaca al Quran dan berjihad di jalan Allah. Orang-orang yang mengikuti sunnah inilah yang kemudian mengklaim sebagai pengikut Nabi dan menamakan dirinya sebagai golongan ahlulssunnah wa al jamaah. Dengan kata lain siapapun yang tidak mengikuti sunnahnya maka dianggap bukan pengikut Nabi.

  • Menurut kaum sufi

Sunnah adalah bukti kecintaan terhadap Nabi. Orang-orang sufi sama sekali tidak memprioritaskan pahala dalam hidup mereka. Maka jika Sunnah dianggap sebagai amaliyah yang boleh ditinggalkan dan boleh tidak, maka bagi mereka sunnah diposisikan sebagai hal yang wajib sebagai bukti cinta mereka terhadap Allah dan Nabinya.

Belakangan ini di Indonesia, dari beberapa definisi sunnah dalam pandangan Islam yang demikian luas, dipersempit menjadi satu definisi saja. Seolah definisi sunnah adalah bagian dari identitas kelompok yaitu perilaku Nabi yang diamalkan oleh golongan Ahlussunnah saja dan siapapun yang tidak mengamalkannya dianggap bukan bagian dari ahlussunnah. Padahal jika kita tarik kesimpulan dari beberapa definisi diatas, cakupan sunnah sangat luas antara lain berupa perbuatan keseharian Nabi yang sebenarnya tidak ada unsur ibadah sama sekali seperti mendahulukan anggota tubuh yang kanan daripada yang kiri, bagaimana cara memotong kuku, cara mandi dan lain-lain. Apa yang dilakukan Nabi dalam kesehariannya sama dengan apa yang dilakukan orang lain pada umumnya. Bahkan bisa jadi berasal dari tradisi masyarakat sekitar yang kemudian diimplementasikan oleh Nabi. Sahabat dan tabiin mengamalkannya atas dasar mencontoh keteladanan Nabi yang lambat laun menjadi tradisi turun-temurun dan dilakukan oleh pengikut-pengikut setelahnya. Makna sunnah tersebut berbeda dengan makna sunnah ketika Nabi sudah memfatwakan hukum berdasarkan suatu peristiwa atau menjelaskan firman Allah yang masih umum, seperti sistematika gerakan shalat yang tidak dijelaskan dalam al Quran kemudian Nabi memberikan contoh kepada para sahabat bagaimana gerakan shalat yang dimaksud dalam al Quran. Maka itu bisa menjadi dasar hukum dan rujukan pengambilan hukum syara’.

Adapun definisi yang disampaikan oleh ahli hadits, sunnah bukan hanya seputar perkataan, perbuatan dan ketetapan, tapi juga berupa karakteristik Nabi. Maka itulah sebabnya arti sunnah juga bisa dimaknai sebagai Sirah atau biografi dan mustahil para sahabat meniru fisik nabi kecuali hanya sebatas cara nabi berpenampilan dan berakhlak. Beberapa ulama membedakan antara sunnah dan hadits. Sunnah merujuk kepada perbuatan dan ketetapan Nabi sedangkan hadits mencakup pada ucapan. Sedangkan dalam persperktif lain, sunnah dianggap implementasi Nabi terhadap wahyu Allah dan hadis merupakan penuturuan dan respon nabi terhadap tindakan orang lain. Dari beberapa definisi diatas, Sunnah dianggap memiliki satu makna dengan hadits kecuali pada definisi menurut ulama fiqih, yang disebut dengan sunnah adalah salah satu dari lima hukum syara’ yang berhubungan dengan peribadatan dan muamalah yaitu wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah. Lima hukum tersebut diartikan sebagai berikut:

  • Wajib yaitu apabila dilaksanakan mendapatkan pahala dan apabila dtinggalkan mendapat dosa.
  • Haram yaitu apabila dilaksanakan berdosa dan apabila ditinggalkan mendapat pahala
  • Sunnah yaitu apabila dilaksanakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak berdosa
  • Makruh yaitu apabila dilaksanakan tidak berdosa dan apabila ditinggalkan mendapat pahala
  • Mubah yaitu baik dilaksanakan atau ditinggalkan, tidak ada pahala dan dosa.

Laporan: Khoirum Millatin, S.Hum

Continue Reading

Artikel

Firasat Murid ke Gurunya

Published

on

Firasat Murid ke Gurunya

Mursyid Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy, al-Habib Syekh Sayyid Abd Rahim Assegaf Puang Makka atau yang kerap disapa dengan Habib Puang Makka, memiliki sejumlah guru tarekat.

Ada tiga gurunya di Makassar yang sangat berjasa, abahnya sendiri yakni Habib Puang Ramma, Habib Thahir Assegaf dan Allamah Nashirus Sunnah AG. KH. Muhammad Nur.

Saat haul ke-10 AGH. Muhammad Nur (29/06/2021) puang Makka masih di Jakarta, Duren Sawit kediaman gurunya juga, maulana Habib Luthfi bin Yahya. Selama seminggu Puang Makka di Jakarta dan kemarin (kamis/01/07) Puang sudah tiba di Makassar, Alhamdulillah.

Puang Makka mengenang 10 tahun gurunya Allahuyarham AGH. M. Nur dengan doa khusus dan kembali mengingat momen-momen kebersamaanya antara lain saat bersama di Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Situbondo.

Saat puang makka hendak mengantar jamaah umrah tahun 2011, seminggu sebelumnya ada firasat dalam hati akan kepergian sang guru ahli hadis dengan gelar Nashirus Sunnah ini sehingga Puang Makka bergegas ke RS Faisal Makassar menjenguk gurunya, AGH. M. Nur

Tabe Puang Anre gurukku, “kidoakan nga”. Demikian kata puang Makka di hadapan AGH. M. Nur sambil digenggamnya tangannya tanpa bicara tapi ada isyarat khusus yang disampaikan.

Setelah didoakan dan izin pamit, Puang Makka berangkat umrah keesokan harinya dan saat tiba di Mekka, Puang Makka mendapat berita tentang wafatnya sang guru AGH. Muhammad Nur. [Dr. K. M. Mahmud Suyuti, MAg.]

Continue Reading

Artikel

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Published

on

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Manfaat Uzlah/Suluk adalah selamat dari segala bentuk kemaksiatan. Sebagaimana orang yang melakukan mukhalatah (hidup di tengah masyarakat namun tahan pada pengaruh buruk). Imam al-GHazali menerangkan ada empat penyakit kronis yang dapat dihindari saat seorang Uzlah yaitu: ghibah (bergosip), namimah (fitnah), riya (terpesona dengan kehendak diri sendiri) dan suqut anil amri wa nahi ala munka (diam dari perintah berbuat benar dan melarang kemungkaran).

Dalam bab riya, Imam al-Ghazali menjelaskan riya adalah melakukan sesuatu untuk mencari perhatian makhluk bukan karena Allah. Biasanya pelakunya jika melakukan sesuatu akan semangat apabila dilihat dan disanjung banyak orang. Riya ini termasuk penyakit kronis yang sulit dihilangkan. Bahkan wali abdal dan autad merasa kesulitan menghadapinya.

Riya termasuk syirik yang tersembunyi (syirik khafi). Rasulullah saw. telah mengingatkan bahwa yang paling beliau takutkan dari umatnya adalah bila seorang terjangkit syirik asghar yaitu riya. Riya bisa dihilangkan dengan mengamalkan ilmu tarekat yakni riyadhah mujahadah dan dzikir nafi isbat لا إلهَ إِلاَّ اللهُ

Jika sudah memahami makna substansi zikir nafi isbat, maka riya akan tergeser. Setelah istikamah dzikir nafi isbat kita juga akan memahami siapa diri kita dan mudah mengucapkan لاحول ولاقوة الا بآلله العلي العظيم

Selain itu, manfaat istikamah zikir nafi isbat, riyadhah dan mujahadah (suluk) adalah menguatkan ruhani sehingga memiliki filter bagi diri dari pengaruh lingkungan buruk. Karena karakter seseorang terbentuk dari keadaan lingkungannya. Maka ada ungkapan kalau kita berteman dengan tukang abu kita akan ketiban abunya dan bila kita berteman dengan tukang minyak wangi maka kita juga akan wangi.

Penyakit buruk akan menjadi penyakit yang terpendam. Maka sedikit sekali orang yang mengerti, apalagi dia orang yang ghofilin atau lalai. Jika orang yang istikamah zikir dan ia memiliki power saat berkumpul dengan orang yang karakter buruk, maka efek dari zikir ini akan bisa menjaga kita dari ketularan tabiat buruknya. Seolah-olah kita diberi penjagaan Allah untuk tidak mengikuti. Ini jika memiliki tameng ruhani. Jika kita tidak istikamah maka akan mudah mengikuti.

Selanjutnya Imam al-Ghazali mengutip sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda bahwa kamu akan menemukan manusia yang paling buruk yaitu yang memiliki dua wajah, dia datang kepada satu kelompok dengan satu wajah dan pada yang lain dengan satu wajah. Inilah ciri oraang yang terjangkit riya, yaitu mudah menjadi orang munafik. Dia tidak memiliki prinsip.

Ada satu cara lain untuk merubah watak yang buruk yaitu dengan sering mendengarkan kebaikan maupun keburukan, terlebih menyaksikan perbuatan itu langsung. Kalau kita berkumpul dengan orang yang biasa bohong maka bisa dilihat kalau ia sehari tidak bohong rasanya kurang lengkap. Kalau berkumpul dengan orang baik, ia akan mengambil banyak hikmah darinya.

Inilah rahasia sabda Rasulullah saw. bawa ketika kita duduk bersama-sama mengingat orang salleh dan ilmunya maka akan turun rahmat pada kita. Yang bentuknya kita diberi pemahaman baik buruk sehingga tidak melakukannya. Dan masuk ke dalam surga dan berjumpa dengan Allah.

Dengan mengkaji ilmu orang saleh dan mengingatnya dalam diri kita akan muncul sifat rahmat dan tergerak memiliki kesungguhan untuk mengikuti langkah mereka dalam melakukan kebaikan.           Maka dari itu penting untuk istikamah mengkaji ilmu tasawuf dan praktek suluk tarekat (zikir, riyadhah mujahadah) agar kita dapat menaikkah vibrasi positif di dalam diri dan memulai untuk melakukan kebaikan. Tentu saja dengan proses yang tidak sebentar dan tahan dengan segala dinamika perjalanan pengamalannya. [Silvia Bidayah Nafsani]

Al-Rabbani Islamic College Cikeas, 10 Juni 2021

Continue Reading

Artikel

Fase Kehidupan di Alam Dunia (3)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Fitrah dan Potensi Manusia

Fitrah dan Potensi Manusia

Agar manusia mampu melaksanakan berbagai tugas dan tanggungjawab yang telah diamanahkan kepada mereka sesudah aqil baligh (dewasa), maka sejak lahir di alam dunia, bahkan sejak hidup di alam ruh, setiap manusia telah diberikan fitrah (potensi) keyakinan terhadap adanya Allah SWT, Dzat Yang Maha Esa, Tuhan yang Maha Mencipta, Mengatur kehidupan dan Menganugerahkan seluruh kebutuhan manusia inilah yang disebut fitrah beragama.

Sebagaimana difirmankan dalam surat Ar-Rum ayat 30;

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Pengertian fitrah pada ayat di atas adalah naluri yang diciptakan oleh Allah SWT. Yakni manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan memiliki naluri beragama, yaitu agama tauhid, agama yang mengakui keesaan Allah SWT. Oleh karena itu, kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar dan merupakan penyimpangan dari fitrahnya. Mereka tidak beragama tauhid tersebut hanyalah semata-mata karena pengaruh lingkungan hidup mereka, terutama pendidikan yang ditanamkan oleh kedua orang tua mereka. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits shahih:

“Setiap bayi yang dilahirkan pasti membawa fithrah (agama Islam). Kedua orang tuanya-lah yang menjadikan bayi tersebut memeluk agama Yahudi , Nasrani atau Majusi”.

Selain membawa potensi agama Islam, setiap bayi yang dilahirkan juga telah dilengkapi dengan berbagai potensi jasmani dan rohani yang dalam perkembangannya berbagai potensi tersebut teraktualisasi dalam bentuk pendengaran, penglihatan, daya berpikir dsb. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Nahl (16) ayat 78:

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberikamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.

Dalam mengarungi kehidupan di alam dunia ini, manusia tumbuh dan berkembang mulai dari bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, masa setengah baya, masa tua dan tua renta, akhirnya wafat. Sungguh pun demikian ada di antara manusia yang wafat dalam usia muda belia atau sangat tua renta. Sebagaimana difirmankan dalam surat al -Nahl (16) ayat 70:

“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu. Dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”.

Jadi pada dasarnya, masa kehidupan manusia di alam dunia ini sangat relatif. Akan tetapi pada umumnya, kehidupan umat Nabi Muhammad SAW di alam dunia ini, rata-rata berkisar antara 60 (enam puluh) hingga 70 (tujuh puluh) tahun. Ada yang kurang ada pula yang lebih. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW:

“Umur umatku (rata-rata) adalah berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun.”[]

Bersambung….

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending