Connect with us

Kitab

Sunan Kalijaga, Hidup dan Spiritual

Published

on

Sunan Kalijaga

Intisari ajaran Sunan Kalijaga berpangkal tolak dari nilai luhur paham Sabda Brahmana Raja. Pengertian sabda berkaitan dengan wulang wuruk yang meliputi ilmu pengetahuan kasampurnaan, material spiritual dan lahir batin. Adapun pengertian brahmana merupakan kualitas pribadi yang kebak ngelmu sipating kawruh, putus ingreh saniskara dengan bersumberkan kepada prinsip kebajikan dan kebijakan.

Sedangkan pengertian raja adalah top executive yang telah hamangku, hamengku dan hamengkoni terhadap jagat sakalir, sehingga bisa mengayomi dan mengayemi sanggyaning kawula dasih. Sinopsis kearifan lokal yang dirumuskan oleh Sunan Kalijaga itu pada kenyataannya telah menghantarkan sukses dakwah Islamiyah di segala penjuru tanah Jawa. Kebetulan sekali, beliau dikaruniai usia yang sangat panjang. Beliau mampu menjadi guru spiritual para raja Jawa, mulai dari Keraton Demak Bintara, Keraton Pajang Hadiningrat dan Keraton Mataram.

Para raja Keraton Agung itu pada umumnya sangat menghormati Sunan Kalijaga yang dianggapnya sebagai guru suci. Tak mengherankan pula apabila seluruh elemen masyarakat Jawa juga menganggap beliau sebagai tokoh legendaris yang sangat berwibawa. Buku Hidup & Spiritual Sunan Kalijaga ini memberi uraian yang sistematis, integral dan komprehensif mengenai proses Islamisasi di tanah Jawa. Sebuah buku sangat bermutu dan berguna bagi siapa saja yang ingin mengetahui sejaran perkembangan Islam di Nusantara. Selamat membaca.

Baca juga di Perpustakaan Digital JATMAN

Baca buku lain.

Glossary Tasawuf

جامع الأصول في الأولياء – معجم الكلمات الصوفية

السيد أحمد النقشبندي الخالدي

Published

on

Glossary Tasawuf

Mukadimah

Tidak diragukan, penggunaan orientasi sufisme dan budaya sufisme untuk memahami ungkapan dan istilah khusus mereka, menjadi tugas yang sangat sulit bagi pembaca. Terutama, jika ungkapan dan istilah tersebut sengaja menggunakan bahasa yang pemahamannya berkaitan dengan indikasi keimanan dan dimensi intuisi.

Ternyata, penulis telah menyadari tugas itu dan berdedikasi membuat pengantar yang sempurna. Di akhir bukunya, dia menulis kamus kosa kata sufi untuk menjelaskan konsep-konsep, yang dinamai “definisi-definisi”. Meskipun dia secara total menggunakan bahasa elite, tetapi dia menghendaki bukunya untuk umum. Di dalam bukunya, dia melakukan klasifikasi konsep-konsep dan indikasi-indikasi ke dalam tiga kategori yang penjelasannya ditujukan kepada umum, elite, dan super elite. Oleh karena itu, penulis menerbitkan sebuah buku yang komprehensif tentang tema tarekat sufisme, macam-macamnya, penjelasan substansinya, dan syarat-syarat murid, untuk pembaca di setiap ruang dan waktu.

Gaya langka yang digunakan penulis di awal bukunya, yang menulis “Ini tiada tandingan dan tiada lagi”, menunjuk dengan jelas kepada standar buku Arab terdahulu pada abad-abad yang lalu dan penghormatan penulis kepada pembaca mengenai isi sistematika kepenulisan, jika boleh dikatakan, di berbagai standar. Maka, buku ini tidak dilahirkan kecuali setelah menjadi pekerjaan sempurna dan komplementer yang menyentuh tema, penjelasan, perincian, dan menyampaikan berbagai titik perspektif secara menyeluruh. Untuk mencapai level ini, disyaratkan telah mendapatkan perhatian para ilmuwan dan para tokoh pemikiran lain yang mendukung dan memberi “kesaksian” penghargaan tentang pekerjaan yang telah diselesaikan sebagai proposal yang memiliki unsur kebaruan (novelty).

Oleh karena itu, buku yang ada di hadapan kita ini telah mendapatkan ucapan selamat dari empat ilmuwan kontemporer pada waktu itu. Mereka memujinya. Salah satu dari mereka berpendapat, “(Penulis) telah menyelami, melakukannya dengan baik, dan mendisiplinkan”. Yang lain berpendapat, “(Buku ini adalah) risalah yang komplit tentang dasar-dasar tarekat dan koleksi komprehensif tentang adab-adab sufisme”.

Terakhir, semoga kita diberi taufik untuk menjaga amanah adab dan menyajikan buku yang ada di hadapan kita sebagaimana seharusnya.[Jamal]

Continue Reading

Pustaka

Kitapun Bisa Jadi Sufi

Published

on

Kitapun Bisa Jadi Sufi

Banyaknya problematika hidup yang semakin kompleks di zaman modern ini sering kali menjadikan manusia terkungkung dengan berbagai kebingungan dan tekanan-tekanan batin yang semakin tak menentu. Banyak manusia yang disibukkan dengan berbagai aktivitas duniawi yang setelah dirasa-rasakan ternyata tidak memberikan apa-apa selain kelelahan. Banyak manusia pun yang menjadi pemburu harta, sebab dikiranya dengan itu semua mereka akan menjadi mulia dan bahagia. Tetapi setelah di rasa-rasakan pemburuan terhadap harta tak lebih dari dari sekedar kelelahan, kebingungan bahkan penderitaan batin yang yang tiada ujungnya. Banyak orang yang tak merasa bahwa harta sesungguhnya telah memperbudak dirinya dan telah meracuni pikirannya. Hingga sampai pada ujungnya mereka tidak sadar bahwa harta tak sanggup memberikan kebahagiaan bagi hidupnya dan berburu harta tak semakin menjadikan manusia puas, malah menjadi makhluk yang ambisius yang tak pernah merasakan cukup.

Dalam sadar, bagi mereka yang secara materi berkecukupan dan bergelimangan harta, mereka mulai sadar bahwa ada kebahagiaan lain yang itu tidak akan diberikan oleh harta. Tetapi bagi mereka yang gagal, hidup melarat secara materi, mereka merasakan bahwa pencarian dunia malah menjadikan mereka jauh dari kebahagiaan. Pada saat seperti itulah, secara kodrati manusia lari kepada agama. Mereka mulai sadar bahwa hanya pada agama kebahagiaan hakiki akan diketemukan.

Dalam berbagai kasus, banyaknya masalah-masalah hidup yang tak kunjung habis membuat manusia mencari jalan alternatif untuk mengatasi masalah-masalahnya. Dan salah satu alternatif tersebut adalah dalam tasawuf. Fakta membuktikan bahwa kian banyak orang memasuki dunia mistik dalam islam ini. Hal ini juga terbukti dengan banyaknya orang-orang yang masuk dalam suatu tarikat maupun mengikuti jamaah dzikir yang diadakan oleh para pecinta Tuhan itu. Juga bisa dilihat dalam penerbitan sekaligus penjualan buku-buku tentang tasawuf yang semakin marak. Gejala ini menunjukkan bahwa tasawuf ternyata banyak diminati oleh banyak orang sebagai cara alternatif untuk mencapai ketenangan batin. Sayangnya masih saja banyak orang yang memasuki dunia ini dengan tanpa bekal yang memadai. Hingga secara mendasar mereka banyak salah dalam meresepsikan arti tasawuf itu sendiri sekaligus salah, bahkan cenderung menyimpang dalam mengamalkan latihan-latihan atau olah batin (riyadhah) yang merupakan ajarannya.

Berangkat dari kenyataan seperti itu kajian dalam buku ini disusun. Walaupun di sana-sini masih banyak kekurangan yang tentu selalu membutuhkan benahan, masukan atau bahkan kritikan dari pihat manapun, setidak-tidaknya buku ini mempunyai daya guna dan manfaat terutama bagi para pembaca yang ingin mengarungi dunia tasawuf.

Akhirnya, semoga Allah menilai karya yang masih jauh dari sempurna ini sebagai bentuk ibadah. Juga saya ucapkan terimakasih kepada siapa saja yang telah memberi kontribusi dalam bentuk apapun, terutama kepada keluarga, istri dan anak sehingga karya ini dapat terselesaikan. Terakhir, kepada pihak penerbit saya haturkan rasa terima kasih yang tak terhingga atas penerimaan naskah ini. Semoga Allah senantiasa membalas semua amal baik kita semua. Aamiin.[Asrifin An-Nakhrowi]

Continue Reading

Pustaka

Tasawuf Aceh; Mengungkap Kembali Khasanah Klasik Keislaman Tanah Rencong

Penulis: Sehat Insan Shadhiqin

Published

on

Tasawuf Aceh

Sejarah seakan berulang. Apa yang terjadi hari ini seolah terjadi lagi di masa depan. Mungkin saja dengan tempat dan objek yang berbeda. Namun, nilai dan hakikatnya selalu sama. Ini yang dikatakan Allah dalam al-Quran bahwa manusia mesti belajar dari apa yang dialami oleh nenek moyangnya. Apa yang baik dari mereka mesti menjadi pelajaran dan apa yang keliru yang telah mereka lakukan, maka hendaknya kita menghindarinya. Tujuannya, manusia dapat memperoleh kebahagiaan hidup di didunia dan tempat kembali yang baik di akhirat kelak.

Buku yang ada di tangan pembaca ini adalah salah satu usaha untuk menulis sebagai khasanah klasik Aceh, agar kekayaan dan kebanggaan Aceh masa lalu dapat memerikan manfaat untuk kahidupan masyarakat saat ini, bukan hanya untuk masyarakat Aceh sendiri, namun untuk umat Islam Melayu seluruhnya. Khusus bagi Aceh, khasanah pemikiran klasik ini semakin penting untuk melacak jejak Syariat Islam dalam sejarah Aceh masa lalu. Selama ini Syariat Islam selalu dikaitkan dengan kemajuan Aceh tempoe doloe.  Bagaimana mungkin ia bisa menjadi rujukan jika rujukan itu sendiri tidak jelas bentuknya? Hanya dengan studi khusus mengenai faham beragama masyarakat Aceh masa lalu sajalah kita bisa mendapatkan sebuah konstruk pemahaman dan pelaksanaan Syariat Islam masa lalu di Aceh untuk bisa menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat kita saat ini.

Dorongan yang paling besar dari penulisan ini adalah tumbuhnya semangat menulis dan diskusi tentang berbagai masalah di Aceh, baik yang menyangkut sejarah ataupun masalah Aceh, baik yang menyangkut sejarah ataupun masalah kontemporer di kalangan anak muda Aceh saat ini. Wacana penulisan dan pengkajian berbagai khasanah klasik Aceh mendapat porsi besar dalam pembicaraan di warung kopi dan  milis. Beberapa “anak muda gila” menginginkan diskusi tersebut menjadi sebuah relita yang tertulis. Apalag ada di antara mereka yang memiliki bukti historis mengenai sejarah Aceh masa lalu berupa benda budaya dan catatan lama (manuskrip). Sangat disayangkan jika saja potensi tersebut  tidak direalisasikan dalam wujud studi yang hasilnya dapat dimanfaatkan oleh banyak orang.

Studi ini merupakan langkah awal untuk “memotret” pemikiran dan perkembangan tasawuf di Aceh masa lalu, sekaligus realisasi  semangat yang tercecer  di warung kopi. Bagi saya tasawuf Aceh masa lalu bukanlah sekadar tasawuf sebagaimana dipahami saat ini, namun ia adalah Islam itu sendiri. Dari penelitian yang telah dilakukan mengenai Islam di Aceh pada masa lalu dan dokumen-dokumen tertulis yang diperoleh saat ini diberbagai tempat, menunjukkan kalau Islam yang berkembang di Aceh masa lalu adalah Islam dalam dimensi tasawuf. Meskipun dalam sejarah  tercatat Ar-Raniry pernah melakukan mihnah untuk faham wujudiyah Hamzah Fansuri  dan Syamsuddin as-sumatrani, namun ia juga mengembangkan tasawuf Rifa’iyah dalam masyarakat Aceh. Berbagai buku yang dikarangnya juga tidak terlepas dari dimensi tasawuf. Hanya saja, arraniry akhirnya mempengaruhi sultan untuk memberikan tindakan politik bagai ajaran Hamzah Fansuri dan pengikutnya.

Namun demikian, saya mengakui kajian ini tidak akan sampai ke tangan pembaca tanpa bantuan beberapa antuan teman. Terutama sekali, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk BANDAR PUBLISHING yang dimotori oleh Mukhlisuddin Ilyas , Lukman Emha, Husaini Nurdin,Tgk. Jabbar dan Khairul Umami. Atas dorongan dan motivasi, serta beberapa koreksi yang mereka berikan menjadikan buku ini menurut saya menjadi sempurna. Tanpa Mukhlis dkk, mungkin buku ini masih “bersemayam” dalam hard disk laptop, berupa out line dan draf kasar, ataupun sebuah cerita yang selalu saya lantunkan di warung kopi.

Saya juga mengucapkan terima kasih untuk  teman-teman di warkop Philo-Sophia, atas internet gratis dan tentu saja yang paling penting  adalah diskusi-diskusi “langit”. Terima ksih untuk bapak Zulkarnaini di Pustaka Paskasarjana IAIN ar-Raniry Banda Aceh, Bapak Sayed di Pustaka Ali Hasimy, dan Prof. Yusny Saby yang telah memberikan komentar untuk buku ini. Pengantar ini bukan hanya mengantarkan pembaca pada pemahaman yang benar mengenai tasawuf, namun juga mengantarkan saya memahami dengan tepat apa yang telah saya tulis.

Terima kasih ta’zim saya sampaikan kepada Nur Ibrahim NK, orang tua dan guru saya sepanjang masa. Dari beliaulah Allah curahkan saya kecintaan pada pengetahuan, dan keterbukaan hati untuk menghormati perbedaan dalam hidup. Terima kasih juga untuk iu dan adik-adik saya semuanya. Mereka semua adalah para “profesor” yang di hadapan mereka saya menjadi bodoh, bahkan untuk menyelesaikan masalah-masalah sepele sekalipun. Terima kasih juga untuk keluarga Yahbit dan Pakloet di Banda Aceh yang menjadi rumah kedua dalam kehidupan saya saat ini. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada saudari Cut Aina Shaharina Putri yang menjadi teman diskusi dalam masalah non teknis, apapun dalam kehidupan saya. Salam untuk bapak dan keluarga semuanya.

Saya menyadari karya ini tidaklah sempurna dan masih jauh dari sebuah studi ilmiah sebagaimana layaknya. Saya masih bahkan terlalu banyak menggunakan referensi sekunder dan bahkan beberapa di antara sebenarnya  tidak layak dijadikan rujukan. Namun saya tetap berharap, sumbangan pemikiran dan kajian ini sedikit banyak dapat bermanfaat bagi perkembangan pengetahuan dan kajian sejarah di Aceh. Dan yang paling penting, ini dapat menjadi semangat awal bagi teman-teman kelompok diskusi yang selama ini hanya membuang ide di bawah kolong meja kedai kopi. Mari kita mulai menulis! Saya tidak mau mendengar apa yang ada katakan, tapi saya mau membaca apa yang anda pikirkan.[]

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending