Situs Bersejarah yang Hancur Akibat Perang

Perang pasti mendatangkan kehancuran. Tidak saja kematian bagi ratusan, ribuan, bahkan jutaan nyawa, perang juga meluluhlantakkan tempat-tempat atau situs bersejarah di sejumlah tempat di dunia. Sulit, atau bahkan hampir mustahil mengembalikan situs-situs yang hancur itu pada kondisi semula. Peninggalan sejarah hilang begitu saja. Generasi mendatang akhirnya kehilangan jejak tentang masa lalunya.

Ada banyak tempat bersejarah di dunia yang hancur akibat perang. Berikut beberapa di antaranya:

Kota Kuno Palmyra, Suriah

Palmyra adalah kota kuno berusia lebih dari 2.000 tahun, letaknya di bagian tengah Suriah tepatnya di Provinsi Homs. Situs bersejarah ini beberapa waktu lalu luluh lantak akibat perang antara tentara Suriah dengan kelompok (Islamic State of Iraq and Syria) ISIS.

Menurut catatan sejarah, Palmyra dibangun pada milenium kedua sebelum masehi oleh Kerajaan Romawi. Setelah ditinggalkan sekian lama oleh penduduknya, kota yang merupakan pertemuan antara tiga kebudayaan: Aramaic, Arabic dan Greco-Roman ini, akhirnya ditemukan kembali pada era modern. Palmyra memiliki desain unik, bangunannya memiliki fungsi yang berbeda-beda. Kini, kota bersejarah yang oleh UNESCO sudah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia itu telah porak poranda.

Kota Palmyra, Suriah sebelum dan sesudah perang. Foto: BBC

Kota Kuno Cyrene, Libya

Dahulu Kota Kuno Cyrene merupakan wilayah penting Yunani Kuno. Bahkan, kota ini masuk dalam daftar kota paling banyak ditinggali dan digunakan sebagai pusat pemerintahan. Dibangun pertama kali tahun 630 SM dan ditinggali oleh penduduk hingga abad ke-4 masehi. Setelah abad ke-4 kota ini ditinggalkan begitu saja sebelum ditemukan lagi pada era modern.

Tahun 1982 Kota Kota Kuno Cyrene diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Namun sayang, statusnya sebagai situs dilindungi tidak membuatnya aman dari perang. Kota Cyrene hancur akibat perang dan revolusi Libya.

Domba-domba digembalakan di sekitar reruntuhan situs Kota Cyrene yang tidak terawat. Foto: Reuters

Masjid Agung Samarra, Irak

Masjid Agung Samarra, Irak dulu merupakan salah satu masjid terbesar di dunia. Dibangun pertama kali pada abad ke-9, masjid ini kemudian menjadi salah satu situs bersejarah tertua yang terletak di kawasan Sungai Tigris, sebelah utara Baghdad.

Masjid Agung Samarra memiliki menara atau minaret yang unik setinggi 52 meter berbentuk spiral sehingga pengunjung bisa naik ke atas menara dari luar, dari sini dapat terlihat pemandangan indah Kota Samarra. Minaret tersebut dinamakan Malwiya.

Saat Amerika menguasai Irak, Minaret sempat dijadikan menara pemantau. Masjid tua itu pernah terkena bom hebat pada tahun 2005. Sejumlah bagian masjid porak poranda sehingga tidak mungkin diperbaiki lagi. Masjid dibangun pada abad ke-9 oleh Khalifah Abbasiyah Al-Mutawakkil.

Masjid Agung Samarra, Irak sebelum dan sesudah perang.

Kota Kuno Nimrud, Irak

Nimrud merupakan sebuah kota kuno berasal dari peradaban Assyrian, terletak di sebelah selatan Mosul. Kota Nimrud pertama kali dibangun pada 1274-1245 SM oleh seorang raja bernama Shalmaneser I. Memasuki era modern, kota ini awalnya terbengkalai dan tidak berpenghuni sebelum akhirnya ditemukan kembali dan dianugerahi sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO.

Nimrud di masa silam merupakan salah satu pusat kebudayaan kuno di Timur Tengah, yaitu pada saat kota ini menjadi ibu kota Kekaisaran Assyria. Di Nimrud terdapat komplek istana dan monumen yang sangat luas sehingga diperkirakan butuh 150 tahun bagi para arkeolog untuk mengungkap histori di balik kota purba ini. Namun, pada April 2015 ISIS mengunggah video aksi mereka menghancurkan kota ini.

Mirisnya, banyak artefak dari bangunan ini yang dicuri lalu dijual ke luar negeri oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Kota Kuno Nimrud, Irak sebelum dan sesudah perang.

Situs-situs peninggalan sejarah yang hancur lebur di atas hanyalah sebagian kecil saja sebagai akibat perang yang pernah terjadi. Di tempat lain masih banyak untuk disebutkan tempat-tempat bernilai penting yang luluh lantak akibat perang.

Konflik terbaru antara Amerika Serikat dan Iran, jika benar-benar berubah menjadi perang, ditengarai juga akan berdampak pada situs-situs bersejarah di negara Mullah itu. Ada sekitar 52 situs yang terancam dihancurkan.

Iran memang memiliki setidaknya 52 situs bersejarah peninggalan masa lalu. Warisan budaya yang sejatinya dapat menjadi faktor perdamaian dan dialog antar bangsa. Diantaranya: Armenian Monastic Ensembles of Iran yaitu tiga biara Kristen Armenia yaitu Biara Santo Thaddeus, Santo Stepanus, dan Kapel Dzordzor yang berada di barat laut Iran; Bisotun, sebuah prasasti multibahasa yang diukir di tebing batu kapur Iran Barat. Prasasti ditulis dalam bahasa Babilonia, Persia Kuno dan Elamit; Istana Golestan, Istana mewah yang terletak di jantung kota Teheran dengan benda-benda paling menarik berasal dari abad ke-19 dari keluarga kerajaan Qajar; dan masih banyak lagi.

Sebetulnya, pada 1954, para pemimpin dunia telah meratifikasi perjanjian internasional tentang perlindungan warisan budaya yang melarang serangan terhadap situs-situs penting secara budaya dalam keadaan apapun. Bahkan AS saat itu berperan penting menegakkan perjanjian tersebut, dan dijadikan model bagi negara-negara lain. Misalnya, tentara AS yang ditempatkan di Irak dan Afghanistan diberi pemahaman akan pentingnya menjaga situs dan artefak. Bahkan pada tahun 2017, para pejabat AS dan para pemimpin negara lain menyerukan resolusi baru tentang pentingnya melindungi situs warisan budaya.

Apakah hal ini juga bakal diberlakukan jika perang AS-Iran benar-benar terjadi? Kita tunggu. Yang jelas, tentu kita berharap perang tak benar-benar terjadi.

Penulis: Imam Tamaim

Komentar
Loading...