Connect with us

Artikel

Siapapun Kita, Bisa Jadi Pahlawan

Published

on

“Jadilah generasi penerus bangsa yang tidak memalukan para pahlawan kita. Pembangunan masih panjang, terus berlanjut, mari kita isi kemerdekaan dengan sebaik-baiknya. Jangan kecewakan para pahlawan”. (Maulana Habib Luthfi Bin Yahya)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kata pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.

Sedangkan Hari Pahlawan yang diperingati setiap tangal 10 november adalah peringatan hari besar nasional berdasarkan Keppres No.316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959 tentang Hari-hari Nasional Bukan Hari Libur yang ditetapkan Presiden Soekarno.

Hari pahlawan didasarkan pada peristiwa 10 november 1945 di Surabaya saat “arek-arek Suroboyo” melakukan perlawanan melawan sekutu yang ingin kembali menjajah Indonesia setelah bangsa Indonesia mengumandangkan proklamasi kemerdekaan pada tangal 17 Agustus 1945.

Pekik takbir yang berkumandang pada peristiwa 10 November 1945 telah mewafatkan ribuan korban jiwa, yang sebelumnya didahului dengan Resolusi Jihad yang dikumandangkan oleh Rois Akbar NU Hadrotussyeikh Kiai Haji Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.

Peristiwa di Surabaya bukanlah peristiwa tunggal di Indonesia yang menunjukkan perlawanan para pejuang di negeri ini untuk mempertahankan kemerdekaan. Di wilayah lain juga terjadi perjuangan serupa.

Di Bandung pada tanggal 23 Maret 1946 terjadi peristiwa yang kemudian dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api yang bertujuan sama, yaitu untuk mengusir para sekutu yang ingin menduduki wilayah Bandung dan sekitarnya.

Di Ambarawa Jawa Tengah juga terjadi perlawanan sengit yang dipimpin langsung oleh Jenderal Besar Panglima Sudirman pada 20 Oktober 1945 – 15 Desember 1945 yang kemudian diabadikan dengan Monumen Palagan Ambarawa.

350 tahun lebih Indonesia dijajah oleh bangsa lain. Kurun waktu yang sangat panjang tersebut kemudian mengidentikkan istilah pahlawan dengan perjuangan rakyat Indonesia mengangkat senjata melawan para penjajah.

Kini pasca kemerdekaan, konteks arti pahlawan menyesuaikan zamannya, karena secara fisik negara ini tidak lagi dijajah negara lain. Pahlawan memiliki makna yang lebih luas namun tetap berdasarkan makna dasar sebagaimana tertuang dalam kamus besar Bahasa Indonesia yaitu orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.

Subyek dan obyek arti kepahlawanan bisa berasal dari berbagai macam latar belakang, sehingga arti kata pahlawan secara kebangsaan kurang lebih memiliki tujuan mengisi kemerdekaan dan mengharumkan nama bangsa Indonesia.

Pahlawan pada konteks pasca kemerdekaan memiliki subyek dari berbagai macam latar belakang status. Misalnya tentara, polisi, birokrat, atlit, guru, siswa, santri, ekonom, seniman dan berbagai macam status lainnya yang didasarkan pada tujuan mengisi kemerdekaan dan mengharumkan bangsa Indonesia.

Banyak terminologi pahlawan yang dijumpai di era sekarang ini. Contohnya pahlawan tanpa tanda jasa, pahlawan devisa, pahlawan demokrasi, pahlawan kesehatan dan lainnya.

Kesimpulannya, siapa saja bisa menjadi pahlawan sebab pahlawan tidak harus mendapatkan bintang mahaputera dari negara yang disematkan di istana. Pahlawan tidak harus mendapatkan sertifikat penghargaan yang ketika meninggal nanti dimakamkan di taman makam pahlawan.

Pahlawan adalah siapa saja yang mengisi kemerdekaan dengan usaha-usaha positif, kreatif, mencegah dari ancaman perpecahan bangsa, mengharumkan nama bangsa dan untuk menjadi pahlawan tidak harus berangkat ke negara konflik untuk mengangkat senjata.

Oleh: Mustafid, M.Si.

Artikel

Kurikulum Ecopesantren: Model Pendidikan Penanggulangan Kerusakan Lingkungan di Indonesia

Published

on

By

Jakarta, JATMAN Online – Pondok Pesantren (Ponpes) memiliki peran penting dan strategis dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, hal ini dapat dilihat dari beberapa hal yang melatar belakanginya. Ponpes merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia, sehingga keberadaanya sangat mengakar dan berpengaruh ditengah masyarakat.

EcoPesantren adalah program dari Kementerian Lingkungan Hidup yang dicanangkan sejak tahun 2008. Program ini bertujuan untuk mendorong peningkatan pengetahuan, kepedulian, kesadaran dan peran serta aktif warga pondok pesantren terhadap upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup berdasarkan ajaran agama Islam.

Program Eco Pesantren adalah memberdayakan komunitas pesantren dalam meningkatkan kualitas lingkungan sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. 

Rihlah Nur Aulia, MA, selaku dosen dan peneliti Ecopesantren bersama dengan Tim melakukan pengabdian Kepada Masyarakat (P2M) tentang Kurikulum Ecopesantren di era daring bagi guru-guru di Pondok pesantren SPMAA Lamongan. Kegiatan ini diikuti oleh guru-guru pondok pesantren SPMAA Lamongan Jawa Timur.

Dalam paparannya peneliti menyebutkan tujuan dari kegiatan ini untuk melakukan pengarusutamaan ecopesantren melalui penguatan kurikulum dalam pendidikan di Pondok Pesantren.

Peneliti pernah menulis karya ilmiah yang berjudul Management of Ecopesantren Curriculum Development in Forming The Ecopreneurship of Santri kesimpulan dari hasil penelitiannya tersebut pertama, Pesantren SPMAA menerapkan kurikulum manajemen yang berbeda dengan pesantren lain di Indonesia. Kedua, dalam pengelolaan atau pengelolaan kurikulum SPMAA Pesantren mengacu pada kurikulum Nasional, dan ketiga, kurikulum ekopesantren, manajemen kurikulum meliputi; Perencanaan kurikulum: pemetaan kurikulum, silabus, program inkuiri, unit inkuiri, unit perencanaan pembelajaran.

Secara simultan, penataan kurikulum terdiri dari struktur kurikulum, pembagian tugas guru, pengembangan program transdisipliner, pengembangan program transdisipliner, penetapan unit inkuiri untuk setiap jenjang kelas. Selain itu, implementasi kurikulum terdiri dari pengalaman belajar, penilaian, dan laporan hasil belajar. Sedangkan evaluasi kurikulum terdiri dari review unit dan dua review mata pelajaran yaitu review unit dan review mata pelajaran.

Pemateri pada acara ini disampaikan oleh Faisal M. Jasin, ST, M.Si, dari kementerian KLHK,  Ibu Dr. Amaliyah, M.Pd, sebagai  salah satu dosen Kurikulum FIS UNJ, dan Ibu Rihlah Nur Aulia, MA sebagai dosen UNJ, karena di era corona dalam suasana pembelajaran daring, maka kegiatan ini juga diperkuat oleh dr. Santi Anugrahsari, SpM, MSc, FISQua dari  kepala SMF Mata RSUD Koja.

Continue Reading

Artikel

Selayang Pandang tentang Thariqah ‘Alawiyah

(Jalan Lurus menuju Allah)

Published

on

Thariqah 'Alawiyah

Jadilah seorang Asy’ari dalam aqidahmu
karena ia Sumber yang bersih dari penyimpangan dan kekufuran
Imam sandaran kita telah menyusun aqidahmu
Dan itulah penyembuh dari bahaya
Yang kumaksud dengannya adalah, yang selainnya tak digelari dengan Hujjatul Islam, betapa bangganya engkau

Itulah penggalan qasidah raiyah, al-Imam al-Hadad yang dengannya Sang Imam seolah mengirimkan pesan bahwa madzhab Fiqih yang dianut oleh para Saadah Ba ‘Alawiyah adalah madzhab Imam Syafi’i yang sejak awal ditakdirkan berkembang di Yaman. Sedangkan dalam hal aqidah mereka bermazhab Sunni asy-Asy’ariyah sebagaimana yang dianut sandaran mereka al-Imam Hunjatul-Islam Abu Hamid al-Ghazali.

Thariqah Alawiyyah diajarkan oleh leluhur (salaf) mereka secara turun temurun. Dari kakek mengajarkan kepada ayah, kemudian kepada anak-anak lalu cucu-cucu mereka dan seterusnya. Demikian sampai sekarang sehingga thariqah ini di kenal sebagai thariqah yang langgeng sebab penyebaran di lakukan dengan ikhlas dari hati ke hati.

Nasab para Saadah Ba ‘Alawiyah kembali ke datuk mereka, Alwi bin ‘Ubaidillah, cucu al-Imam Al-Muhajir, Ahmad bin Isa an-Naqib, yakni Naqib (pemimpin) para Syarif di Irak, bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-‘Uraidhi bin Ja’far Ash-Shiddiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal ‘Abidin bin al-Imam al-Husain bin Ali bin Abu Thalib.

Peletak pondasi bangunan thariqah’Alawiyah adalah al-Imam Muhammad bin Ali Ba ‘Alawiyah yang bergelar al-Faqih al-Muqaddam lahir di Tarim pada tahun 574 H. al-Muqaddam menerima thariqah ini seorang ‘Arif Billah, Syaikh Abu Madyan al-Maghribi. al-Muqaddam lah yang menyempurnakan thariqah ini sebagaimana dikatakan Imam Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih yang dikenal sebagai ‘Allamah ad-dunnya (wafat tahun 1162 H), “Asal thariqah’Alawiyah adalah thariqah Madyaniyyah,yaitu thariqah Syaikh Abu Madyan Syu’aib al-Maghribi, sedangkan quthub dan inti hakikatnya adalah asy-Syaikh al-Faqih al-Imam Muhammad bin Ali Ba ‘Alawiyah al-Husaini al-Hadrami”.

Setelah al-Muqaddam wafat di kota kelahirannya pada tahun 653 H, di tangan keturunannya thariqah ini tetap mengikuti sistim dan caranya. Thariqah ‘Alawiyah adalah jalan yang menomorsatukan tahqiq (pendalaman), rasa dan rahasia sehingga cenderung bersikap khumul (menutup diri) dan merahasiakan. Periode ini pertama ini berlangsung demikian hingga zaman al-‘Aydarus (wafat 864) dan saudaranya, as-Syikh Ali (wafat pada tahun 892 H). Namun seiring dengan semakin meluasnya wilayah penyebaran thariqah ini maka dipandang perlu untuk segera melakukan kodifikasi ajaran thariqah ‘Alawiyah. Maka mulailah ditulis kitab-kitab yang berisi adab thariqah ini dan petunjuk-petunjuk untuk menjalaninya seperti al-Kibrit al-Ahmar, al-Juz al-lathif, al-Ma’arij, al-Barqah dan lainnya.

Lalu bermunculanlah di antara para pemuka thariqah ini mereka yang memiliki keunggulan dalam kecerdasan, ilmu dan amal di angkatannya. Yang masing-masing memiliki prasasti sejarah berupa karya ilmiah dan sastra yang tak cukup ruang untuk menyebutnya di sini. Masing-masing juga memiliki biografi sendiri-sendiri. Setiap kali kita tenggelam dalam lautan salah satu dari mereka, maka itu akan membuat kita lupa dengan yang lain.

Akhirnya sampailah thariqah ini sampai kepada Pembaru menaranya dan penyebar cahayanya, al-Imam Syaikh Abdul Quthb ad-Da’wah wa al-Irsyad Abdullah bin Alwi Al Haddad (1132 H).

Di tangan al-Imam al-Hadad, thariqah ini mengembangkan metode baru yang dinamainya Thariqah Ahl al-Yamin. Dalam pandangannya yang paling sesuai dengan kondisi orang-orang di masa itu, yang paling dekat dengan keadaan mereka, yang paling mudah untuk menarik mereka menuju ketaatan adalah dengan menghidupkan keimanan mereka, yang dengan perannya dapat menyiapkan mereka meningkat ke tangga Ihsan. Sehingga Thariqah ini mengajarkan untuk bermujahadah (bersungguh-sungguh) dalam menuntut ilmu guna menegakkan agama Allah.[Syuaib]

Continue Reading

Artikel

Adab-adab Berzikir

Published

on

Adab-Adab Berzikir

Berdzikir adalah salah satu upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan melalui zikir, Allah sudah menjamin ketenangan hati hambanya dari hiruk-pikuk dunia sebagaimana yang telah difirmankan dalam surat Ar Ra’du ayat 28 yang artinya:

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”

Tapi, untuk mengawali berzikir, kita harus punya menjalani beberapa etika agar dampak positif zikir tersebut bisa merasuk ke dalam hati dan bermanfaat bagi kebersihan jiwa. Adapun langkah-langkah yang harus dipahami sebelum dan ketika berzikir adalah sebagai berikut:

  • Konsentrasi penuh

Konsentrasi  adalah bagian dari merendahkan diri di hadapan Allah. Ketika berzikir, hamba diminta untuk melupakan segala pekerjaan duniawi serta meminimalisir gerakan-gerakan yang tidak penting agar fokus pada tujuan awal tetap terjaga

  • Memperkecil Suara

Yang dimaksud pada poin kedua adalah volume suara berada diantara diami dan keras yaitu sedang-sedang saja. Kecuali memang sedang berada dalam majelis zikir khusus yang menggunakan zikir jahri

  • Kesadaran Penuh

Alangkah baiknya jika orang yang berzikir, memusatkan pikirannya pada apa yang diharapkan. Jika sudah mulai mengantuk atau merasa bosan, maka dianjurkan untuk memperbaharui wudhu dan berpindah posisi duduk agar hamba tetap berada dalam keadaan sadar dan tidak tidur

  • Memilih Waktu yang Pas

Pemilihan waktu dalam berzikir bisa memengaruhi tingkat konsentrasi serta kekhusyukan. Waktu terbaik untuk berzikir adalah ketika waktu sahur, yaitu setelah bangun tidur. Kemudian di pagi hari dan di sore hari pada hari Jumat

  • Memilih Tempat yang Pas

Selain memilih waktu, tempat juga menjadi salah satu penunjang kekhusukan berzikir. Utamanya adalah di masjid. Namun jika tidak, yang penting tempat tersebut suci dari najis dan jauh dari keramaian

  • Menghadirkan Hati ketika Berzikir

Orang yang melakukan zikir, tentu memiliki ambisi untuk mencapai apa yang diharapkan. Agar hati dan bacaan zikir menyatu, maka bukan hanya lisan yang digunakan untuk membaca lafaznya, melainkan hati juga harus digunakan untuk memahami makna dari apa yang dibaca. Supaya keduanya terhubung dan saling memengaruhi di dalam otak

Adab-Adab Berzikir
  • Bersuci dan Menghadap Kiblat

Poin ini adalah yang paling utama sebelum dilakukannya zikir. Meskipun seluruh ulama bersepakat bahwa boleh melafalkan zikir dari dalam hati bagi orang yang memiliki hadas, tetapi ada sebagian ulama yang melarang melafalkan zikir yang menggunakan ayat-ayat Al-Quran  bagi orang yang sedang berhadas.

  • Adanya Kesesuaian Bacaan ketika Zikir Berjamaah

Zikir yang dilakukan bersama-sama harus berdasarkan bacaan yang sama. Tidak ada yang boleh mendahului ataupun mengakhiri, apalagi menambah dan mengurangi bacaan. Maka ketika salah satu jamaah ada yang tertinggal bacaanya, maka hendaklah ia tetap mengikuti bacaan jamaah-jamaah yang lain

  • Zikir Dapat Berpengaruh pada Perilaku

Ketika zikir menjadi kegiatan yang terus-menerus dilakukan, maka dampaknya akan terlihat pada kebiasaan pelaku zikir. Hal yang paling signifikan adalah bagaimana ketika bersosialisasi dengan sesama manusia. Pelaku zikir akan memiliki akhlak yang baik serta bersungguh-sungguh dalam menghambakan diri kepada Allah Swt.

Diterjemahkan dari Kitab Radd al Bala’ Bi adz Dzikri karya Mushthafa Syaikh Ibrahim Haqqi.[Khoirum Millatin]

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending