Connect with us

Thariqah

Sholawat Thoriqiyah Beserta Artinya

Published

on

Allahumma shalli wasallim ‘ala ۞ Muhammadin wa alin washahbin ajma’in.

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqan minallahi Rabbil ‘alamin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan dari Allah Tuhan semesta alam)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqan min ruhi Jibrilal matin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan dari Malaikat Jibril al-Matin)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal anbiya-i wal mursalin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para nabi dan rasul)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqassyuhada-i wal mujahidin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para pahlawan dan pejuang)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal khulafa-i warrasyidin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para Khulafaur Rasyidin)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal ‘ulama-i wal ‘amilin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para ulama dan pengamal)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal auliya-i wal mukhlishin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para wali dan orang-orang yang ikhlas)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqassu’ada-i wal fa-izin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang menang dan bahagia)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal atqiya-i wasshalihin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang bertaqwa dan shaleh)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal budala-i wal qanithin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para wali abdal dan ahli ibadah)

Allahummahdina ath-thariqal mustaqim ۞ Thariqal ashfiya-i wadzdzakirin.

(Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan para sufi dan  ahli dzikir)

Continue Reading

MATAN

Pesan Penting Habib Luthfi ketika MATAN di Deklarasikan

Published

on

By

Gus Hasan Chabibie dan Habib Luthfi

Habib Luthfi merupakan Deklarator MATAN (Mahasiswa Ahlith Thariqah al Mu’tabarah an Nahdliyyah). Dikisahkan pada tanggal 2 Agustus 2009 ada beberapa mahasiswa yang menemui dan berdiskusi dengan beliau. Gagasan dan visi pergerakan mahasiswa tersebut disambut beliau dengan penuh apresiatif.

Bahkan setelah mendengarkan deskripsi tentang fenomena pergerakan mahasiswa yang cenderung radikal dan pragmatis, dengan spontan, Habib Luthfi mengatakan: “Kita dirikan MATAN”. Ditanya oleh Kang Hamdani “Apa MATAN itu Mbah?”, beliau menjawab “MATAN itu singkatan Mahasiswa Ahlit Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah”.

Habib Luthfi pun berharap besar dengan MATAN, hingga beliau mengucapkan “Saya ingin lahir mursyid-mursyid dari MATAN!”.

Akhirnya berselang beberapa tahun, atas arahan dan masukan dari Habib Luthfi bin Yahya, deklarasi MATAN dapat dilakukan bersamaan dengan Muktamar XI JATMAN di Pondok Pesantren Al-Munawariyyah Bululawang Malang Jawa Timur pada tanggal 10 – 14 Januari 2012 M / 16 – 20 Shafar 1433 H.

Berikut ini merupakan pesan penting dan amanat yang disampaikan oleh Habib Luthfi kepada seluruh kader MATAN di Indonesia.

Adik-adik mahasiswa yang saya hormati, saya selaku orang yang mempunyai inisatif berdirinya MATAN sekaligus mempunyai tujuan MATAN. Agar membuat suatu haibah atas nama MATAN, saya berani membai‟at saudara-saudara hanya bersifat tabarukan saja, setelah saya mengambil bai‟at saudara agar terhindar dari dosa-dosa besar,hal tersebut kami menyadari bahwa saudara adalah kaula muda yang emosinya kadang belum terkontrol, adakalanya satu bulan diamalkan setelah itu seterusnya malah ditinggalkan, oleh karena itu saya selaku orang tua tidak membait saudara dengan bai‟at mutlak tetapi niat kita berthoriqoh dengan tabarukan, sewaktu-waktu kita tidak mengamalkannya niatnya saja tabarukan tidak berdosa.

Mahasiswa ada dua kalimat, pertama “maha” dan kedua “siswa”, dengan satu kalimat “maha” sudah menunjukan karakter intelektualitas, keilmuan, individu, kepribadian dan disilpin keilmuan, maka dalam kalimat “maha” menunjukan prilaku yang diberi ilmu sejauh mana membawa visi dan misi tersebut kedalam kesiswaan, kalimat “maha” bukan suatu yang wah sebab kalimat maha sudah diatas segalanya dan banyak digunakan untuk menjunjung sifat-sifat Allah SWT,Maha Mengetahui, Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha dari berbagai sifat kalimat“maha” peganti dari pada kalimat keagungan, kalimat “maha” itu tidak ada duanya.

Ke-maha-an yang ada dalam kesiswan ini adakah predikat simbolis? ataukah dengan dasar mengangkat nilai kemahanan tersebut kita mampu merealisasikanya dalam kehidupan sehari- hari, yang pertama hubungan dengan Allah SWT,rasul, para sahabat dan para ulama, yang menjadi penyambung dari ulama- ulama yang terdahulu, apa yang dibawa oleh para ulama terdahulu? dengan modal kemahaan yang istimewa sekali untuk menjabarkan ayat perayat dalam al-Quran, karena kalau kita tidak memiliki dengan istilah “maha”, sulit untuk bisa menafsirkan ayat ayat yang telah diturunkan oleh baginda Nabi SAW.

Thoriqoh ini bukan mengandalkan lafadz laaillaha illallah saja, kalau ideologi kita kuat adalah pembentukan SDM , sejauh mana kita bisa mengelola wafima rozaqnaakum, mestinya kalian harus berperan aktif untuk negara kita Indonesia, semua ini dipundak kalian, tolong jaga ke-maha-an ini karena apa adanya MATAN mau tidak mau walau pun kita pandai didunia kita pasti mengalami kekurangan, kelemahaan dan kemunduran. Maka dari itu dipundak kalian MATAN yang disiplin ilmu intelektual bisa menunjukan inilah ahli ushuluddin, orang-orang yang laaillaha illallah. Ahli thoriqoh itu ada di pundak kalian. Apakah kita menantikan belas kasihan orang lain? itulah harapan saya sebagai Rois Aam thoriqoh, tolong satu pesan saya cuma tiga kalimat “jangan kecewakan saya!!!”.

Malang, 19 Shafar 1433 H / 13 Januari 2012 M.

Sumber: SOP dan JUKNIS MATAN

Continue Reading

Thariqah

Zawiyah Arraudhah dan Jatman DKI Jakarta akan Berikan Ijazah Sanad Kitab Syeikh Yasin Al-Fadani Besok

Published

on

By

Jakarta, Jatman.or.id – Zawiyah Arraudhah Ihsan Fondation berkolaborasi dengan Idaroh Wustho Jamiyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (Jatman) DKI Jakarta akan mengadakan Maulid Nabi Muhammad Saw 1442 H, besok Sabtu (14/11). Maulid Nabi seperti biasa diadakan setiap tahunnya dengan istilah ‘Maulid Anwar’.

Menurut pantauan Jatman Online, acara Maulid Anwar 1442 H akan diadakan di Zawiyah Arraudhah Jl. Tebet Barat VIII No. 50, Kec. Tebet, Jakarta Selatan.

Acara ini akan dihadiri oleh Maulana Syeikh Dr. Abdul Mun’iem bin Abdul Aziz bin Al Shiddiq Al Ghumary Al Hasani (Muryid Thoriqoh Syadziliyah Darqowiyah) melalui Video Conference dari Maroko. Kemudian Syeikh Muhammad Yasin Al-Qadiri Al-Pakistani dari Pakistan, KH. Ahmad Marwazie Al-Batawi Al-Makki, KH. Dr Syamsul Maarif Ketua PWNU DKI Jakarta.

Dalam acara tersebut terdapat rangkaian Khataman dan Ijazah Sanad Kitab a-l-Arbaun al-Buldaniyah karya Syaikh Muhammad Yasin Al-Fadani ra. yang akan dibacakan langsung oleh muridnya yaitu KH. Ahmad Marwazie Al Batawi.

Bagi para peserta atau jamaah yang ingin menghadiri acara tersebut, bisa menghubungi langsung nomor admin Zawiyah Arraudhah 0877-8805-8845 atau daftar di link bit.ly/40Buldaniyah dan para jamaah agar mempersiapkan infaq terbaiknya minimal Rp.50.000 (Infaq Kitab).

Semoga acara tersebut para peserta dan jamaah mendapatkan ilmu dan pancaran dari para masyayikh, wali Quthb dan kanjeng Rasulullah Saw.

Continue Reading

Artikel

Mahabbah dan Pecandunya

Published

on

By

Mahabbah berasal dari kata dasar hubbu yang berarti cinta. Kalimat tersebut mengandung kata ha’ dan ba’. Ada yang mengatakan bahwa hubbu diambil dari kata Habab yaitu gelembung yang selalu berada di atas air. Yang dimaksud adalah bahwa cinta menempati posisi paling tinggi di hati. Ada pula yang mengatakan berasal dari kata Al Habbu yang berarti anting-anting. Disebut demikian karena model anting yang menggantung seperti keadaan seorang pecinta yang menemui kegelisahan. Selain itu kata hubbu juga bisa berasal dari kata hibban untuk yang artinya biji kecil di padang pasir. Maksudnya bahwa cinta adalah cikal bakal tumbuhnya kehidupan.

Adapun dasar-dasar mahabbah adalah sebagai berikut:

– Allah Swt. Berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِۦ فَسَوْفَ يَأْتِى ٱللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُۥٓ

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya”

Maqam Mahabbah dipopulerkan oleh Rabiah Al-Adawiyah. Meskipun Bukan pencetusnya, tapi Rabiah mampu membawa eksistensi Mahabbah lebih unggul daripada Ja’far Shadiq sang pemilik konsep Mahabbah. Keunggulannya bahwa ia adalah salah satu Sufi perempuan yang memiliki derajat lebih tinggi dari Sufi lain pada zamannya. Rabiah mendapat julukan “Mahkota Kaum Pria” (Taj Al Rijal) karena ia terjaga dari sifat-sifat yang merendahkan martabatnya sebagai perempuan.

Rabiah terlahir dari keluarga yang miskin. sejak kecil ia ditinggal mati oleh kedua orang tuanya kemudian dijual sebagai budak yang sangat murah sehingga harus melewati kehidupan yang sangat keras dan pahit. Meskipun demikian, Allah memberinya anugerah untuk mengamalkan kezuhudan dan tidak ada keterikatan dengan materi duniawi. Pada suatu hari ia bermunajat kepada Allah. Tanpa ia sadari tuanya telah memerhatikannya. Keesokan harinya itu merdekakan dan kemudian ia hijrah ke Mekkah. Menurut riwayat ketika ia di Mekkah, iya bertemu dengan Ibrahim Al Adham dan keduanya saling berdiskusi sehingga dari sini Rabiah digambarkan sebagai sosok yang telah mengalami pengalaman cinta kepada Allah.

Rabiah sebagai Sufi wanita dideskripsikan sebagai wanita yang tidak ingin membagi cintanya kepada siapapun dan hanya menginginkan Allah semata serta memilih tidak menikah sepanjang usianya. Semasa hidupnya ia pernah dilamar oleh beberapa laki-laki. Namun ia selalu menolaknya dengan berdalih, “akad nikah adalah milik kemaujudan yang luar biasa sedangkan aku terlepas dari hal tersebut. Aku maujud dalam Tuhan dan sepenuhnya milik-Nya. Aku hidup dalam naungan firman-Nya. Maka akad nikah seharusnya diminta dari-Nya bukan dariku.”

Kesetiaannya yang luar biasa terhadap Allah tidak bisa terhianati oleh cinta duniawi semata. Kecintaannya terhadap Allah bukan karena menginginkan surga dan bukan pula karena takut neraka. Cinta seperti inilah yang oleh M. Smith juga disebut cinta tanpa pamrih.

Dalam syairnya Rabiah bersajak:

“Sendiri daku bersama cintaku

Waktu rahasia yang lebih lembut dari udara petang

Melimpahkan karunianya atas doaku

Memahkotaiku, enyahlah yang lain, sirna

Antara takjub atas Keindahan dan Keagungan-Nya

Dalam semerbak tiada tara

Aku berdiri dalam asyik-masyuk yang bisu

Kusaksikan yang datang dan pergi dalam kalbu

Lihat, dalam wajah-Nya

Tercampur segenap pesona dan karunia

Seluruh keindahan menyatu dalam wajah-Nya yang sempurna

Lihat dia, yang akan berkata “Tiada Tuhan selain Dia dan Dia-Lah yang paling mulia.”

Pada bait-perbait sajak di atas, Rabiah tidak henti-hentinya memuji Tuhan yang telah bersemayam pada dirinya sehingga tidak ada sedikitpun celah bagi makhluk. Dalam syair itu tabir ketuhanan telah tersingkap dan Rabiah asik bermadu kasih dengan Tuhan. Dari kalimat yang diungkapkan ia menunjukkan betapa ia menikmati kondisi tersebut. Lalu mana mungkin cinta yang sedemikian agung akan terkalahkan oleh cinta duniawi.

Dari konsep Mahabbah Rabiah mengajarkan bahwa cinta dan ujian adalah satu kesatuan. Tidak akan merasakan cinta jika tidak menemui ujian dan kesakitan serta tidak akan pernah merasakan ujian terdahsyat jika belum pernah mencintai secara total. Maka, hendaklah melihat ujian melalui kacamata cinta agar keduanya dijalani dengan ketulusan.

Oleh: Khoirum Millatin, S.Hum. (adalah Kader MATAN DKI Jakarta dan merupakan mahasiswi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Continue Reading

Facebook

Trending