Setiap Detik Kita Menikmati Lailatul Qadar

Ramadhan sebagai bulan yang dimuliakan oleh Allah. Bulan Al-Qur’an diturunkan, serta dilipatgandakannya pahala setiap kebaikan. Bulan yang ditunggu-tunggu umat Islam di seluruh dunia. Pada bulan Ramadhan terdapat satu malam yang memiliki keistimewaan lebih baik dari seribu bulan atau biasa disebut dengan malam lailatul qadar.

Pada malam tersebut, para Malaikat dengan dipimpin oleh Malaikat Jibril turun ke bumi untuk menyaksikan ibadah yang dilakukan manusia, serta mendo’akan manusia yang tengah berdo’a dan beribadah.

Kapan terjadinya malam lailatul qadar? Allah sendiri merahasiakan kepastian jatuhnya malam lailatul qadar. Kerahasiaan ini bertujuan agar umat manusia tetap menjalankan kebaikan-kebaikan, tanpa mengkhususkan waktu tertentu. Sebagian riwayat menyatakan bahwasannya malam lailatul qadar jatuh di sepuluh hari terakhir malam ganjil di bulan Ramadhan.

Terdapat tanda-tanda terjadinya malam lailatul qadar. Seperti malamnya langit cerah, tidak dingin dan tidak panas, suasana terasa damai dan tenang, udara bertiup pelan dan angin tidak bertiup kencang serta pada siang harinya matahari cerah, tapi teduh dan tidak menyilaukan.

Diantara tanda-tanda yang telah diberikan, memberikan pertanyaan. Kita ini mau fokus mencari tanda-tanda itu, apa fokus membuat hati dan emosi kita tenang dan jernih, agar bisa benar-benar sambung dengan pemilik lailatul qadar, yaitu Allah?

Seorang Ulama’ Mesir menyatakan, “Jangan mencari lailatul qadar hanya untuk shalat saja. Gunakankanlah dengan mencari ridha bapak dan ibumu, juga saudara-saudaramu dengan bersilaturrahim kepada mereka.

Memberi makan orang-orang miskin, memberi pakaian kepada yang belum berpakaian pantas, memberi rasa aman, menghilangkan kedzaliman, merawat anak yatim, menjenguk orang sakit. Raihlah lailatul qadar dengan menggapai ridha Allah, menghilangkan dosa di hati kalian sebelum shalat dan berperilaku baik akan mencegah kematian dalam keadaan tidak baik.”

Prof. Quraish Shihab, pengarang Kitab Tafsir Al-Misbah juga memberikan penjelasan mengenai lailatul qadar. Menurut beliau terdapat dua indikator orang tersebut mendapatkan lailatul qadar.

Pertama, bertambah terus kebaikanya dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun.

Kedua, ada kedamaian ketenangan dari diri sendiri, yaitu syukur atas karunia-Nya dan sabar menerima kondisi saat ini, tidak terus mengeluh. Serta damai kepada orang lain dengan tidak berbuat jahat, menjelekkan, atau menjatuhkan orang lain, hal ini disebut dengan damai pasif dan juga terdapat damai aktif yaitu memberikan manfaat kepada sesama.

Almaghfurlah KH. Sholahuddin Wahid dalam suatu kesempatan juga memberikan penjelasan. Bahwa kita mendapatkan atau mengalami betul lailatul qadar itu dilihat saat kita berpuasa mampu mendidik atau melatih diri kita untuk bersifat jujur, ikhlas dan bersikap qanaah, merasakan dahaga dan lapar.

Supaya tergerak hati kita untuk membantu orang-orang yang merasakan lapar, serta melindungi dan menyayangi orang-orang lemah dan memiliki sifat tenggang rasa. Menurut beliau, tanda kita mendapatkan lailatul qadar adalah sejauh mana mampu merubah diri kita. Yang semula tidak peduli orang lain, kemudian kita peduli orang lain. Yang semula kita acuh kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan, kemudian kita menjadi orang yang peduli dan membantu mereka.

Sebagian ulama pernah mengatakan, bahwa setiap malam menurut orang-orang yang ‘Arif adalah malam lailatul qadar. Syaikh Abu Abbas R.A juga pernah berkata “semua waktuku, alhamdulillah semuanya lailatul qadar.”

Dari sini bisa kita ambil kesimpulan, bahwasanya setiap detik, menit, jam, hari bisa terjadi lailatul qadar. Seberapa damai dan tenang hati kita untuk selalu bermunajat kepada Sang Pemilik lailatul qadar serta tergerak hati kita untuk peduli kepada sesama. Maka kita bisa menikmati hari-hari penuh lailatul qadar, yang penuh kedamaian dan ketenangan. Jika semua waktu adalah lailatul qadar, maka setiap saat kita akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Semoga kita semua bisa menikmati lailatul qadar. Aamiin. Wallahu ‘Alam.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...