Connect with us

MATAN

Selamat Ulang Tahun Sufi Muda

Published

on

Sejarah MATAN

Tidak ada gemericik air yg menetes pelan disini, yang disaksikan dunia adalah air deras tak terhalang, dunia melimpah, kebaikan itu meruah, tumpah dalam CINTA yang telah ENGKAU luruskan dan makna dengan tinta kasih sayang.

9 tahun ENGKAU telah ada, padang gersang itu tidak ada lagi, karena ENGKAU telah mengubahnya menjadi Hijau, manusia dengan kemanusiaanya yang belum selesai berteduh di sana, karena di sana ada damai yang tidak mereka temukan dalam sabda manapun.

Selamat ulang tahun, bunga kelopak indah yang selalu mekar, tumbuh dan terus tumbuh, izinkan kami untuk selalu ada bersamaMU, karena semesta rindu setiap tarikan kalimatMU. Semangat berjuang sahabat matan, demi pertiwi berkorban kita semua harapan bangsa untuk Indonesia junjung tinggi Pancasila, Satu Nusa Satu Bangsa. Semoga berlimpah berkah, mengiringi setiap langkah, pengharapan nan abadi petunjukMU kunanti Yaa Robbi.

Hari ini kami mendengar dan melihat semesta berdiri berjajar dan dengan bangga berkata “SELAMAT ULANG TAHUN SUFI MUDA, KARENA HANYA CINTA YANG MEMBAWA KEBAIKAN DI DUNIA.“

Ahmad Ja’far Shodiq
Ketum PW MATAN PROVINSI LAMPUNG

Continue Reading

Berita

Bahas Cinta, MATAN UINSA Bedah Buku

Tak sedikit yang membicarakan tentang cinta, namun hanya beberapa yang dapat mengetahui maknanya. Tuhan itu tidak bisa dikonsepsikan, akan tetapi Tuhan bisa direfleksikan dengan kebaikan dan cinta, maka menyatu dengan Tuhan itu berarti menyatu dengan kebaikan dan cinta.

Published

on

Cinta

Surabaya, JATMAN.OR.ID: Hal itu yang disampaikan Merita Dian Erina saat mengisi Kajian Tematik Bedah Buku: Virus Cinta, Penghancur Stigma yang diselenggarakan oleh Pengurus Komisariat Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (MATAN) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Ahad (18/4).

Penulis buku Virus Cinta, Penghancur Stigma menjelaskan tentang inspirasi ia menulis buku adalah meluruskan asumsi masyarakat tentang cinta yang kurang pas.

“Inspirasi saya menulis buku ini berawal dari karya Buya Kamba Mencintai Allah Secara Merdeka. Meluruskan anggapan bahwa cinta itu sebatas antara laki-laki dan perempuan, padahal makna cinta itu luas. Juga meluruskan bahwa tasawuf bukan identik dengan dukun” jelas penerima Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Erin mengatakan bahwa konsep wahdah al-wujud itu ketika menyatu dengan Tuhan maka yang akan lahir dari perbuatan adalah kebaikan. Semua perbuatan yang dilandasi dengan mahabbah maka eksistensinya akan kembali kepada diri sendiri.

mahabbah itu al-Ibbah berarti biji-bijian, biji yang dimaksud di sini yakni benih kehidupan. Sebenarnya kita hidup di dunia itu sangat memerlukan cinta, di mana pun dan kapan pun. Ketika sudah mulai mencintai maka tidak memikirkan apa pun kecuali apa yang dicintai”, kata Mahasiswi Psikoterapi ini.

Erin menjelaskan proses terbentuknya stigma, berawal dari kognitif dilanjut persepsi kemudian stigma.

“Stigmasi bermula dari kemampuan individu dalam proses berpikir, di dalamnya muncul persepsi, bisa jadi buruk, baik, visual tergantung kita memandang objek tersebut. Dari sini akan muncul stigma, yakni ciri negatif yang muncul dalam diri pribadi”, ujar delegasi International Youth Leader Batch 21.

Erin berpesan agar kita menghindari stigma. Tipe stigma banyak sekali ada kecacatan tubuh, suku, budaya.

“Bentuk stigma sangat beragam, semisal dalam kondisi sekarang, batuk sedikit dianggap korona, bajunya compang-camping dianggap miskin, kita pasti langsung prasangka begitu. Itulah stigma, hal yang harus kita basmi”, pesan kader PMII ini.[Ahmad Rizkiansah Rahman (Ketua MATAN UINSA Surabaya, Mahasiswa IAT UINSA Surabaya)]

Continue Reading

Artikel

Ajaran Martabat Tujuh, Mutiara Hilang yang Ditemukan Kembali

Hamzah Alfarisi, Redaktur JATMAN Online

Published

on

By

JATMAN.OR.ID – Sabtu, 17 April 2021 pukul 20.30 WIB, PW MATAN DKI Jakarta menyelenggarakan pengajian ramadhan yang bertajuk “Kajian manuskrip kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah” karya Syekh Fadhl Allah al-Burhanpuri via Zoom. Kajian ini merupakan bagian dari program Kajian Sufi Ramadhan yang diselenggarakan di bulan ramadhan kali ini. Sebagai anak kandung dari JATMAN, MATAN memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan tarekat di kalangan anak muda dan kajian ini dalam rangka mewujudkan tanggung jawab tersebut. Selain kajian manuskrip ini, MATAN DKI Jakarta juga menyelenggarakan kajian kitab “Bidayatul Hidayah” karya sufi besar Imam Al-Ghazali setiap Kamis dan Jum’at pukul 20.20 WIB.

Kajian manuskrip ini diampu oleh Dr KH Ali M Abdillah, yang merupakan ketua PW MATAN DKI Jakarta sekaligus Sekretaris Komisi Pengakajian, dan Penelitian MUI Pusat. Dalam kajiannya, beliau memaparkan bahwa kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah adalah penafsiran dari Tauhid Wujudiah Ibnu Arabi, yang bercorak tasawuf falsafi. Ajaran tasawuf falsafi yang berkembang di Nusantara bersumber dari ajaran Ibnu Arabi, yang diantaranya adalah ajaran Martabat Tujuh dalam kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah karya Syekh Fadl Allah al-Burhanpuri (w 1630) dari Gujarat India.

Dalam perkembangannya, ajaran Martabat Tujuh ini mengalami pasang surut. Pada masa Syekh Syamsuddin al-Sumatrani, ajaran martabat tujuh mengalami puncak kejayaannya karena mendapat dukungan dari Kesultanan Aceh Iskandar Muda (1607-1636). Namun pada masa Syekh Nuruddin Al-Raniri yang saat itu menjadi Mufti Kesultanan Iskandar Tsani yang menggantikan Syekh Syamsuddin, beliau mengeluarkan fatwa sesat terhadap ajaran Martabat Tujuh yang dianggap menyimpang (ilhad).

Tuduhan sesat yang dialamatkan oleh Syekh Nuruddin Al-Raniri kepada ajaran Martabat Tujuh diselesaikan secara dialogis oleh ulama muda Sayfurrijal. Akhirnya, beliau mendapat simpati dari Sultanah Safiyyat al-Din (1641-1674), kemudian diangkat sebagai mufti menggantikan Syekh Nuruddin Al-Raniri. Sejak saat itulah, ajaran Martabat Tujuh berkembang kembali di tanah Aceh. Perkembangan ajaran Martabat Tujuh di Nusantara tidak dapat dipisahkan dari Syekh Abdul Rauf Al-Sinkili yang memiliki murid diantaranya Dawud Al-Jawi al-Rumi, Burhanudin Ulakan, Muhyi Pamijahan, dan Abdul Malik Trengganu.

Ajaran Martabat Tujuh pada zaman kolonial Belanda ditumpas habis berdasarkan fatwa sesat oleh Mufti Betawi. Ulama-ulama yang mengajarkan Martabat Tujuh dilarang mengajarkannya atau jika mengajarkannya akan ditangkap. Selain itu, manuskrip ulama-ulama yang mengembangkan ajaran Martabat Tujuh ini dibawa oleh Kolonial Belanda. Akhirnya, kini kita hanya dapat berziarah, namun tidak bisa mempelajari ilmu dari Syekh Muhyi Pamijahan, karena manuskrip-manuskrip beliau dibawa ke Belanda.

Di akhir sesi, Kyai Ali menuturkan: “Ini (ajaran Martabat Tujuh) adalah mutiara yang hilang, yang sekarang pada abad ke-21, kita temukan kembali. Mari kita pelajari kembali karena sekarang sudah tidak ada lagi hambatan untuk mempelajarinya”.

Sumber tambahan: Sufisme Jawa: Ajaran Martabat Tujuh Sufi Agung Mangkunegaran Kyai Muhammad Santri.

Baca juga: Launching Buku Sufisme Jawa: Kyai Muhammad Santri Mitos atau Fakta?

Continue Reading

Berita

Gus Hamid: Hidupkan Malam Nisfu Sya’ban

Kajian Tematik MATAN UINSA

Published

on

Gus Hamid

Salah satu bulan haram yakni Sya’ban. Bulan Sya’ban tidak bisa dilepaskan dengan bulan sebelum dan sesudahnya yakni Rajab dan Ramadhan. Di bulan Rajab terdapat malam istimewa yakni malam isra’ mi’raj, kita mendapat hadiah salat. Di bulan Sya’ban terdapat malam istimewa yakni malam nisfu sya’ban, kita mendapat hadiah salawat. Di bulan Ramadhan terdapat malam lailatul qadr, nuzulul quran, kita mendapat hadiah al-Quran.

Begitulah yang disampaikan Abdullah Hamid saat mengisi kajian tematik “Amalan Nisfu Sya’ban” yang diselenggarakan oleh Pengurus Komisariat Mahasiswa Ahlit Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyah (MATAN) Universitas Islan Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Ahad sore (28/3/2021).

Dalam penjelasannya, Abdullah Hamid menceritakan kisah masyarakat Makkah ketika menghidupi malam nisfu sya’ban.

“Ketika kota Makkah belum dikuasai oleh wahabi, banyak cara yang dilakukan masyarakat Makkah ketika datangnya malam nisfu sya’ban, di antaranya thawaf, salat berjamaah, dzikir, dan lain sebagainya. Ketika itu Ibnu Jubair bersama sahabatnya Ahmad bin Hasan berjalan berkeliling kota untuk memperhatikan kegiatan yang dilakukan masyarakat Makkah ketika malam nisfu sya’ban. Di tengah perjalanan Ahmad bin Hasan merasa kelelahan dan memutuskan untuk istirahat disalah satu teras rumah warga,” kata Dosen UINSA.

“Ketika hendak memejamkan mata, ia dikejutkan dengan orang yang berjalan menuju arahnya kemudian duduk dan membaca Alquran. Orang tersebut membaca Alquran dengan suara yang sangat merdu dan yang membuat Ahmad bin Hasan heran, orang tersebut tiba-tiba menangis kadangkala tertawa. Di tengah lantunan bacaan Alquran orang tersebut membaca qasidah yang artinya jika buruknya perilakuku menyebabkan jauh dari-Mu, maka jadikan prasangka baikku mendekatkanku dari-Mu,” sambung Abdullah Hamid.

“Wajib bagi sohib MATAN pada malam nisfu sya’ban untuk introspeksi, kontemplasi, berpikir semoga amal kita diterima dan dosa kita diampuni oleh Allah SWT,” jelas Pembina MATAN UINSA Surabaya.

Abdullah Hamid berpesan agar menghidupi malam nisfu sya’ban dengan amalan yang telah diajarkan oleh Ulama.

“Mari kita hidupi malam nisfu sya’ban dengan amalan-amalan yang sudah diberikan oleh guru-guru kita, di antaranya membaca surat yasin 3 kali, pertama, niat panjang umur untuk beribadah kepada Allah SWT. kedua, niat tolak bala’. Ketiga, niat hanya kepada Allah SWT kita berharap. Ada juga amalan membaca salawat sebanyak-banyaknya,” pesan Abdullah Hamid.[]

Ahmad Rizkiansah Rahman (MATAN UINSA Surabaya, Mahasiswa Ilmu Alquran dan Tafsir UINSA Surabaya, Santri PPM Al-Jihad Surabaya)

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending