Sejarah Lahirnya Ilmu Tasawuf

Kepada kaum yang buta huruf dan berbudaya jahiliyah, Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, dimana Rasul itu kemudian membacakan ayat-ayat-Nya, mensucikan mereka, serta mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah, dimana sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata, huwaal-ladzi ba’atsa fil ummiyyina rasulan minhum yatlu ‘alayhim ayatihi (QS Ash-Shaff, 62:2). Begitulah de facto masyarakat ketika Rasulullah hadir di kota Makkah. Oleh karena itu tidak aneh ketika Rasul kemudian disalahpahami, dinista, bahkan diancam dengan pembunuhan.

Selama 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah, Rasul SAW menyempurnakan tugasnya. Dan ketika wafat, seluruh masyarakat di jazirah Arab sudah menganut agama Islam, meski tingkatan keislaman mereka berbeda-beda. Ada yang masuk kategori al-salaf al-shalih, al-sabiqun al-awwalun, sebagai generasi pertama yang sangat berkualitas, dan ada generasi yang tabi’in, tabi’i al-tabi’in, dan berikutnya ada yang lebih hanya terbawa arus baru sehingga pemahaman mereka terhadap Islam belum komprehensif. Dalam kurun waktu 30 tahun setelah hijrah Nabi, kaum Muslimin generasi pertama ini mengalami perubahan yang sangat cepat, dari penduduk padang pasir yang tidak dikenal, berubah menjadi penguasa (imperium) dengan wilayah kekuasaan yang amat luas dan kekayaan yang melimpah ruah.

Pada masa Umar ibn al-Khaththab, wilayah jajahan Romawi di Afrika Utara dan Syam serta imperium Persia telah ditaklukkan. Semangat juang yang sangat tinggi dari tentara Islam dalam melakukan ekspansi wilayah tak bisa dihindarkan dari adanya semangat menemukan kehidupan duniawi yang lebih nyaman, yakni memperoleh harta rampasan perang atau menemukan peluang bisnis yang baru, disamping semangat ibadah tentunya. Pada masa Umar ibn al-Khaththab, semangat bisnis elit politik belum tumbuh karena Umar melarang sahabat-sahabat Nabi hijrah ke negeri baru. Tetapi ketika Khalifah Ustman ibn Affan mencabut larangan itu, maka berlomba-lombalah para elit sahabat untuk ikut dalam ekspedisi militer dan selanjutnya menetap di negeri yang baru ditaklukkan. Dan seperti yang sudah banyak ditulis, keluarga Utsman ibn Affan (Bani Umayyah) kemudian menguasai jaringan ekonomi nasional ketika itu. Pada saat itulah pertarungan antara motivasi duniawi dengan motivasi ukhrawi muncul dan berkembang menjadi konflik politik.

Pada akhir masa Khalifah Ustman ibn Affan dan masa Ali ibn Thalib, di kala kekayaan melimpah ruah, konflik elit politik mengemuka dengan amat tajam, dan menelan korban yang tidak tanggung-tanggung, yaitu Khalifah Utsman, Khalifah Ali, dan bahkan cucu Nabi sendiri, Husain, yang mana ketiganya terbunuh secara keji.

Meski perubahan datang begitu cepat, tetapi para ulama tidak kehilangan kemampuan untuk merenung, mengambil hikmah, dan mencontoh perilaku keagamaan Nabi serta para sahabat-sahabatnya. Kenangan Abu Bakar yang dikenal sangat sederhana, tetapi mampu mengorbankan seluruh hartanya untuk perjuangannya belum hilang. Demikian juga dengan Umar ibn Khaththab yang tetap hidup amat sederhana dengan baju tambalan, meski ia ketika itu merupakan seorang kepala negara dari negara baru yang kaya raya, satu bentuk kehidupan yang dalam Tasawuf disebut Zuhud atau meninggalkan kehidupan bendawi di tengah melimpahnya harta benda. Keteladanan generasi pertama (al-sabiqun al-awwalun itu masih belum hilang dari kenangan masyarakat).

Ketinggian akhlak Rasul dalam kehidupan kesehariannya juga masih belum hilang dari kenangan para sahabatnya. Hal ini yang menjadi kekecewaan masyarakat atas konflik elit politik (sebagai limbah “modernisasi”) tidak sampai mengumpulkan pemahaman para sahabat dan ulama atas ketinggian ajaran agama Islam. Sebaliknya, semangat memahami Al-Quran dengan ta’wil menjadi subur, antara lain melahirkan metode tafsir isyari, yakni memahami relita dengan sebuah metode tafsir yang kelak dikenal sebagai corak tafsir tasawuf.

Kemunculan Tasawuf sebagai substansi bermula dari abad pertama Hijriah, tetapi perlu digaris bawahi bahwa istilah Tasawuf hampir tidak pernah dipakai pada dua abad pertama Hijriah. Kemunculan Tasawuf dapat disebut sebagai bentuk perlawanan terhadap penyimpangan dari ajaran Islam yang sudah di luar batas syariat. Para penguasa saat itu sering menggunakan Islam sebagai alat legitimasi ambisi pribadi. Bahwa dalam praktek selanjutnya dijumpai penyimpangan-penyimpangan, terutama pada tataran tarekat, adalah hal yang bisa dimaklumi. Tetapi konsistensi menjadikan syariat agama sebagai koridor membuat perkembangan Tasawuf tetap tidak terlepas dari agama Islam, meski Tasawuf itu sendiri bersifat universal, ada pada semua agama.

Dalam perspektif ini, maka Tasawuf masuk dalam wilayah kebudayaan Islam, yakni kebudayaan yang diilhami oleh ajaran Islam. Kata Tasawuf berasal dari kata shafa (jernih), shafwah (orang-orang terpilih), shaf (deretan), shuffah (serambi sederhana) dan shuf (kain wol kasar). Tetapi apapun akar katanya, istilah Tasawuf menunjuk pada makna orang-orang yang tertarik pada pengetahuan esoterik, yang menukik jauh dalam menyelami inti agama, yang berusaha mencari jalan atau praktek amalan yang dapat mengantarkannya pada kesadaran yang tercerahkan dan pencerahan hati.

Karena Tasawuf itu berfokus pada substansi dan bersifat ruhaniyah, maka corak Tasawuf ada yang lebih bernuansa falsafi, ada yang lebih bersifat ‘amali atau suluki, dan ada juga yang spritualis bahkan yang “mistis”. Al-Hallaj misalnya harus menanggung resiko dihukum mati karena menganut paham hulul, atau wahdat al-wujud seperti juga yang dialami oleh Syaikh Siti Jenar di Jawa yang menganut paham Manunggaling Kawulo Ian Gusti. Adapun upaya untuk mewaspadai kemugkinan ada penyimpangan dari syari’at, di Indonesia misalnya, maka didirikan lembaga JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nadhliyyah) yang bekerja mengakreditasi tarekat.

Oleh: Prof. Dr. Achmad Mubarok, MA

Komentar
Loading...