Saudi Pertimbangkan Tak Ada Haji Tahun Ini

Pemerintah Arab Saudi mempertimbangkan pembatalan ibadah haji tahun ini (1441 H). Pembatalan tersebut akan menjadi yang pertama kalinya dalam sejarah modern sejak berdirinya Kerajaan pada tahun 1932.

Pertimbangan tersebut dilakukan setelah jumlah infeksi Covid-19 melebihi angka 100 ribu, sebagaimana dikatakan pejabat senior di Kementerian Haji dan Umrah Saudi kepada media Inggris Financial Times.

Ibadah haji yang dijadwalkan pada akhir Juli tahun ini merupakan pertemuan keagamaan terbesar di dunia, dengan lebih dari dua juta jemaah dari berbagai negara yang mengunjungi Tanah Suci untuk melakukan rukun Islam kelima itu.

Namun begitu, keputusan ini belum final. Arab Saudi bisa saja mempertimbangkan ibadah haji tetap dilakukan dengan jumlah jemaah yang sangat terbatas.

Ibadah haji, selain merupakan ritual ibadah yang sangat penting dalam agama Islam, ibadah haji dan umrah juga menjadi sumber utama devisa asing bagi Kerajaan Arab Saudi.

Namun sejak bulan Maret ketika kasus COVID-19 mulai meningkat, Pemerintah Arab Saudi meminta negara-negara muslim untuk menunda rencana perjalanan ibadah haji dan umrah sepanjang tahun ini.

Reuters mencatat, bahwa sejumlah pejabat Saudi sebagian berusaha untuk membatalkan ibadah haji tahun ini.

Namun sebagian lain ada juga yang menginginkan Arab Saudi dapat memberikan izin bagi jemaah haji tertentu tahun ini, dengan sejumlah pembatasan seperti larangan bagi orang tua dan dengan melakukan pemeriksaan kesehatan tambahan.

Dengan penyelenggaraan ibadah haji terbatas ada kemungkinan tiap negara muslim masih bisa mendapat kuota hingga 20 persen.

Namun begitu, sejumlah negara yang berlangganan mengirimkan jemaah haji ke Tanah Suci sudah memutuskan untuk membatalkan ibadah tahunan ini, termasuk Indonesia.

Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia telah membatalkan keberangkatan jemaah hajinya dengan alasan pihak Arab Saudi gagal memberikan kepastian. Indonesia mengirim sekitar 220 ribu jemaah haji setiap tahunnya.

Komite Haji India juga telah mengumumkan pembatalan ibadah haji dari negaranya. Para jemaah haji akan mendapatkan pengembalian uang penuh. Setiap tahun, rata-rata ada sekitar 200 ribu orang dari India yang berangkat haji.

Demikian juga dengan Singapura yang telah menunda warga muslimnya yang akan berangkat haji tahun ini.

Pembatalan ibadah haji tentu menjadi pukulan telak bagi ekonomi Arab Saudi yang saat ini tengah menggalakkan peningkatan kapasitas wisata religi.

Untuk diketahui, Putra Mahkota Mohammed bin Salman tengah menggagas sebuah rencana reformasi ekonomi yang bertujuan meningkatkan kapasitas Umrah dan Haji menjadi 30 juta jemaah setiap tahun serta menghasilkan USD 13,32 miliar pada tahun 2030. Namun, semua program harus tertunda karena pandemi Covid-19.

Ibadah Haji Rentan Penularan

Ibadah haji dan umrah yang meniscayakan perkumpulan jutaan orang dari berbagai negara di dunia pada satu tempat rentan penularan berbagai macam penyakit.

Oleh sebab itu, setiap penyelenggaraannya senantiasa diawasi oleh sejumlah badan kesehatan, termasuk badan kesehatan dunia, WHO. Sejumlah prosedur kesehatan juga harus dijalani jemaah haji sebelum berangkat ke Tanah Suci.

Journal of Infection and Public Health pada tahun 2017 mempublikasikan hasil penelitian yang mencatat risiko penyakit menular tersebut. Terutama seperti infeksi saluran pernapasan akut, diare, dan meningitis meningokokus, yang sering dilaporkan terjadi di antara para jemaah Haji.

Dengan rata-rata perjalanan haji berkisar antara 30-45 hari, mayoritas jemaah haji kemungkinan besar berisiko tertular penyakit. Mereka akan tinggal sekitar 6 hari di Jedah, lalu 10 hari di Madinah, dan setelah itu sekitar 8 hari dihabiskan di Mekah.

Penelitian tersebut menyebut bahwa secara umum, pertemuan massal di lokasi terbatas dapat meningkatkan risiko tertular dan penyebaran penyakit menular, terutama infeksi pernapasan.

Itulah sebabnya, penyakit pernapasan menjadi umum diderita jemaah yang dirawat di pusat-pusat kesehatan di Mina, Mekah dan Madinah. Pneumonia adalah penyebab utama jemaah haji atau umrah masuk rumah sakit.

Tahun 2009, sebuah laporan menyebutkan, batuk merupakan keluhan utama para jemaah haji terutama yang berusia di atas 55 tahun. Penyakit berikutnya sakit kepala, stres, demam, serta diare dan muntah.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada periode 2004-2013, ditemukan bahwa sumber utama kontaminasi infeksi saluran pernapasan akut adalah bersin dan batuk (58,1%), tangan kotor (43,9%), kontak dengan orang sakit (40,5%), air liur (17,2%), makanan (12,1%), minuman (9,1%), AC (3,4%), dan kontak dengan hewan (0,4%).

Dan ternyata, pneumonia atau gangguan pernapasan disebut sebagai penyakit yang paling umum ditemukan di antara para jemaah haji yang dirawat di rumah sakit.

Mayoritas pasien berasal dari Pakistan, India, Bangladesh, Indonesia, dan negara-negara Afrika Utara, karena memang negara-negara tersebut paling banyak mengirim jemaah haji.

Islam adalah agama rasional yang meletakkan keselamatan jiwa manusia di atas yang lain.

Ritual ibadah haji yang merupakan bagian dari rukun Islam sekalipun, dapat dibatalkan apabila membahayakan nyawa jemaah. Seperti tahun ini, ketika pandemi Covid-19 yang belum juga mereda mengancam nyawa umat manusia.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...