Satu Nusa Satu Bangsa

0

JARARTA – Akhir pekan lalu, tepatnya hari Sabtu 13 Juli 2019 telah terjadi peristiwa yang banyak ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia. Dua calon presiden yang bersaing dalam Pilpres 2019 untuk pertama kalinya bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus. Pertemuan yang penuh keakraban dan gelak tawa antara Jokowi dan Prabowo itu seakan menjadi oase. Penyejuk bagi sengitnya kontestasi pemilu. Baik bagi timses ataupun pendukung dari unsur masyarakat lainnya.

Tidak dapat dimungkiri bahwa kontestasi Pemilu 2019 membawa efek keterbelahan sosial. Terlebih dalam rangkaian tahapan Pilpres. Masing-masing tahapan tak luput dari kegaduhan politik. Mulai dari tahapan paling awal, yakni pemutakhiran data pemilih dan penyusunan daftar pemilih, hingga tahapan penyelesaian sengketa hasil pemilu. Puncaknya adalah saat tahapan masa kampanye dan rekapitulasi penghitungan suara. Masing-masing calon dan kubu pendukung, selalu menjadikan tahapan ini sebagai momentum untuk merebut citra dan simpati. Cara dan langkah apapun ditempuh demi meraup kemenangan.

Meskipun kompetisi adalah hal yang wajar adanya, tetapi perlu menjadi pelajaran bersama bahwa persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa adalah hal yang prinsip. Sengitnya persaingan jangan sampai mencederainya. Di titik inilah, fitnah, sebaran berita bohong (hoax), dan ujaran kebencian (hate speech) yang pernah mengalir deras dalam beberapa bulan terakhir perlu menjadi bahan koreksian bersama.

Menjadi tanggungjawab bersama, pemilu di masa yang akan datang tidak dikotori lagi oleh eksploitasi isu-isu SARA. Perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia harus menjadi modal sosial. Keragaman merupakan anugerah agar kita bisa saling mengenal dan menopang. Bukan untuk berpecah belah. Bukan pula untuk saling membenci dan bertikai. Dalam Islam, perbedaan adalah sunnatullah.

Allah swt berfirman dalam al-Quran, surat al-Hujurat ayat 13: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (Q.S. Al- Hujurat: 13).

Dari ayat di atas kita dapat memahami bahwa Allah ta’ala menciptakan manusia berupa laki-laki dan perempuan, menjadikannya berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, tidak lain adalah untuk saling mengenal. Syaikh Musthafa al-Maraghi (1881-1945) dalam kitab Tafsir al-Maraghi menjelaskan bahwa hikmah dari keragaman penciptaan di atas adalah supaya manusia dapat saling mengenal. Kemudian bekerja sama untuk mewujudkan kemashlahatan bersama. Sekali lagi, perbedaan bukan untuk perpecahan. Dari sinilah, perlu kiranya senantiasa kita bina ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariah.

Ukhuwah Islamiyah

Allah  swt menjadikan umat manusia beragam. Mulai dari jenis kelamin, suku, warna kulit, bahasa, status ekonomi, juga posisi di tengah masyarakat. Keberagaman ini adalah realita umat manusia. Karenanya, antara yang satu dengan yang lainnya agar saling mengenal. Dalam kehidupan nyata di tengah masyarakat, Islam membekali sejumlah petunjuk bagi umatnya. Tujuannya adalah agar mampu mengelola perbedaan dan keragaman tersebut.

Dalam internal sesama muslim, tidak sedikit ayat ataupun hadis yang menjelaskan tata cara hidup bermasyrakat. Mulai dari anjuran untuk memuliakan tamu yang datang ke rumah, menghormati tetangga, menjaga aib orang lain, memudahkan urusan orang lain, hingga saling tolong-menolong dalam mewujudkan kebaikan dan ketaatan.

Dengan sangat indahnya, Nabi Muhammad saw mengumpamakan umatnya laksana satu jasad. Jika ada salah satu bagian yang mengalami sakit, maka seluruh badan ikut merasakannya. Hal ini sebagaimana hadis shahih riwayat Imam Muslim (204-261 H) dalam kitab Shahih Muslim:

Diriwayatkan dari al-Nu’man bin Basyir ra, Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan orang mukmin di dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi itu ibarat satu jasad. Ketika ada satu bagian yang merasa sakit, maka sekujur tubuh yang lainnya juga ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (H.R. Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa persatuan dan kesatuan antar sesama Muslim adalah sebuah keniscayaan. Antar sesama Muslim harus saling mencintai dan mengasihi. Ibarat satu jasad yang saling menopang. Di balik perbedaan bentuk dan fungsinya, setiap bagian tubuh sangatlah berguna bagi bagian yang lain. Demikian pula sesama saudara Muslim, kita juga harus mengejawantahkan nilai-nilai persatuan ini. Meskipun tidak dapat dimungkiri bahwa kita berbeda ras, suku, budaya, ataupun pendapat.

Imam al-Nawawi (631-676 H) dalam kitab Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis di atas merupakan pijakan yang nyata bagi orang Muslim untuk saling menjaga dan melindungi hak dan kewajiban sesama. Jika kita ingin dicintai orang lain, maka kita juga harus mencintai orang lain. Jika kita senang dibantu orang lain, maka kita juga harus suka menolong orang lain. Begitu pula jika kita tidak ingin diganggu dan direndahkan orang lain, maka kita jangan mudah mengganggu dan merendahkan orang lain.

Ukhuwah Wathaniyah 

Selain mengajarkan persaudaraan antar sesama muslim (ukhuwah islamiyah), Islam juga menekankan pentingnya menjaga persaudaraan yang didasari kesamaan berbangsa dan bernegara. Meskipun berbeda ras, suku, agama, dan kepercayaan, Islam tidak menghalangi umatnya untuk saling bekerja sama. Terlebih dalam upaya mewujudkan dan menjaga ketentraman bersama. Tentu saja bukan dalam artian mencampuradukan keyakinan, akan tetapi kita dapat menyakini kebenaran agama masing-masing dengan tetap bisa menghormati agama dan kepercayaan orang lain.

Dalam praktiknya, tidak sedikit riwayat hadis shahih yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw semasa hidupnya juga bekerja sama dengan umat agama lain. Bahkan Rasulullah saw mempelopori adanya perjanjian dengan umat agama lain yang menetap di Madinah. Perjanjian yang sering disebut dengan Piagam Madinah itu menjadi bukti nyata adanya hubungan baik antara komunitas Muslim dan umat agama lainnya.

Kenyataan ini menegaskan bahwa kesatuan kebangsaan dan kenegaraan dapat digunakan sebagai pijakan untuk saling bekerja sama. Demikian halnya bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama. Perbedaan tidak seharusnya menghalangi untuk saling mengenal dan bekerja sama. Terlebih untuk menjaga perdamaian serta mewujudkan kesejahteraan bersama.

Ukhuwah Basyariyah

Selain mengajarkan ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah, Islam juga menunjukkan pentingnya ukhuwah antar sesama manusia (ukhuwah basyariyah). Persaudaraan ini penting kita pahami agar umat manusia memiliki tanggung jawab bersama untuk saling menjaga dan berbuat baik antar sesama. Meskipun berbeda negara, bangsa, dan benua.

Dalam Islam diajarkan bahwa asal muasal umat manusia adalah satu, yakni Nabi Adam as. Hal ini menunjukkan bahwa pada hakikatnya kita semua adalah bersaudara. Tidak sedikit ayat al-Qur’an menyeru manusia dengan panggilan yang sama. Dalam salah satu ayat al-Qur’an, Allah ta’ala berfirman: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (Q.S. al-Isra’: 70).

Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah swt telah memberi berbagai kenikmatan bagi anak cucu Adam. Ayat tersebut ditujukan sebagai pengingat bagi seluruh manusia akan hal yang sama, yakni kenikmatan hidup di dunia.  Imam Fakhruddin al-Razi (606 H) dalam kitab Tafsir Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa ayat tersebut ditujukan pada semua anak cucu Adam. Baik yang taat kepada Allah swt ataupun tidak.

Kesemuanya mendapatkan kenikmatan untuk menggunakan ketersediaan fasilitas hidup yang telah disediakan oleh alam semesta. Secara tidak langsung, hal ini menyiratkan bahwa seluruh manusia pada dasarnya adalah bersaudara. Oleh karenanya, sudah semestinya kita saling membantu dan bekerja sama. Tak ubahnya ibarat saudara sendiri.

Dari titik ini, dapat kita pahami bahwa tiga bentuk persaudaran yang telah disinggung di atas, harus kita bangun lagi pasca Pilpres 2019.Jika ada perseteruan mari kita akhiri dan buka lembaran baru. Sudah waktunya untuk bergandeng tangan, membangun kemajuan bangsa. Meskipun tetap harus senantiasa saling mengingatkan dan mengkritik, akan tetapi harus dengan cara yang elegan dan konstitusional. Dalam negara demokratis, perbedaan pendapat adalah hal yang baik. Bahkan perlu adanya. Hanya saja, perbedaan ini harus dikelola dengan baik, serta diorientasikan untuk merumuskan kebaikan bersama. Tidak lain karena kita adalah satu nusa, satu bangsa. Indonesia.

*
Oleh: Shulhan Rumaru

Tulisan ini juga dimuat dalam: Buletin Muslim Muda Indonesia, Edisi 52/Jum’at, 19 Juli 2019
Silahkan diunduh: https://drive.google.com/file/d/13G9364PZvVsxPVme7QUiTPzIzPHJXL9i/view

Comments
Loading...