Sanad Keilmuan Kunci Menjaga dan Melestarikan Islam Nusantara

SURABAYA – Dalam acara Bincang Sore ‘Merawat Islam Nusantara untuk Persatuan Bangsa‘. Zainul Milal Bizawie selaku pembicara utama  memaparkan apa yang mesti dilakukan untuk menjaga dan merawat Islam Nusantara pada Sabtu (29/9) di Gedung Aswaja Center, Surabaya, Jawa Timur.

“Yang menarik pada diskursus Islam Nusantara adalah platform untuk menegaskan kembali bahwa Islam di negeri ini mengadaptasi nilai-nilai lokal yang menjadi ciri khasnya. Warisan-warisan ulama, terutama Walisanga pada abad ke-15, menjadi bagian penting dari transformasi keilmuan Islam Nusantara,” tutur Gus Milal sapaannya.

Islam Nusantara sendiri, menurut Gus Milal, ramai diperbincangkan semenjak NU mencetuskannya pada Muktamar ke-33 di Jombang 1-5 Agustus 2015. Hingga lahir beragam reaksi dari yang pro hingga kontra.

Menurut penulis buku Master Piece Islam Nusantara: Jejaring dan Sanad Ulama-Santri (1830-1945), bahwa dewasa ini banyak faksi yang telah membajak istilah “Islam rahmatan lil ‘aalamiin, Islam ramah, Islam damai, Islam santun” dan lain sebagainya.

Sehingga, tambah Gus Milal, melalui istilah tersebut, ada faksi-faksi yang mencoba menyelipkan ideologi yang berseberangan dengan Pancasila untuk ditransmisikan kepada masyarakat, utamanya masyarakat awam.

“Implikasinya yang paling kentara adalah munculnya semangat keislaman yang tidak diimbangi dengan semangat kebangsaan,” imbuh penulis buku Jejaring Ulama Diponegoro itu.

Sehingga sanad keilmuan sangatlah penting untuk menjaga dan merawat Islam Nusantara. Sebagaimana hubungan santri dengan Kiai yang bersifat sosio kultural-spriritual. Tidak sebatas formal seperti murid dan guru di sekolah umum. Bahkan label santri senantiasa melekat walau telah menjadi alumni.

“Salah satu cara untuk mengcounternya adalah melalui sanad keilmuan,” ujar Gus Milal.

NU sendiri memang secara masif mengkampanyekan term Islam Nusantara. Islam Nusantara adalah cermin dari Islam yang berkembang di Nusantara yang kaya akan budaya dan kearifan lokalnya.

“Term Islam Nusantara milik kita semua, bukan hanya NU saja,” pungkasnya.

Sebagai konklusi, sejarawan santri itu menyimpulkan bahwa kita tetap harus berpegang pada prinsip tawassuth (moderat) tidak ekstrim ke kanan ataupun ke kiri. Tantangannya ialah mengemas dan membingkai Islam Nusantara dengan metode yang santun, ramah, damai, tidak mendikte serta menyesuaikan dengan sasaran dakwahnya (dakwah bil hal).

Acara ini diinisiasi oleh Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur bekerjasama dengan Islam Nusantara Center (INC) dan Center for Research and Islamic Studies (CRIS). (senata/eep)

Komentar
Loading...