Sambut Tahun Baru, Ketum PBNU Ajak Warga NU Evaluasi Diri dan Optimis

0

Jakarta – Menyambut tahun baru, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. KH. Said Agil Siraj, MA, hadir dalam acara “Istighatsah Untuk Indonesia Aman dan Damai”. Dalam tausiahnya, beliau mengajak pada khususnya warga NU evaluasi diri (muhasabah) dan optimis serta bersemangat di tahun yang baru, bertempat di halaman Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya No. 164, Jakarta, Senin (31/12).

Di awal ceramahnya, beliau berdoa agar tahun baru menjadi “sanah mubarakah nafi’ah lana wa lilmuslimin wa liindunisiya kullihim ajmain,” (tahun yang penuh keberkahan dan membawa kemanfaatan bagi umat Islam, seluruh Indonesia).

Kiai Said panggilan akrabnya, mengatakan bahwa ada tiga hal yang musti dilakukan dalam menyambut tahun baru ini.

Pertama, muhasabah, dengan menghitung banyak mana amal baiknya atau amal buruknya, kemudian bertekad lebih baik. Dalam diri manusia, lanjut beliau, ada yang dinamakan nafsu ghadabiyah dan nafsu syahwatiyah.

Nafsu Ghadabiyah, diri yang punya ambisi besar dan menggebu-gebu misalnya ingin menjadi bupati atau gubernur. Namun, beliau mengingatkan bahwa kalau ada orang punya ambisi namun punta niat yang baik ditempuh dengan cara yang baik dengan tidak menzalimi siapapun, tujuannya juga baik namanya himmah, bukan nafsu ghadabiyah.

Sedangkan Nafsu Syahwatiyah, ingin kaya ingin sukses ingin beristri cantk, namun kembali beliau menambahkan, jika diiringi niat yang baik, ditempuh dengan cara yang baik, tujuannya baik maka itu namanya azimah.

“Kedua perangkat tersebut dari Allah, tinggal di-manage dan dikelola. Kalau ghadabiyah kita jadikan sesuatu yang baik namanya himmah, kalau syahwatiyah kita jadikan sesuatu yang baik namanya azimah,” tandas beliau.

Lantas beliau bertanya pada jamaah, “Problem sebesar apapun, tekad dan keinginan sebesar apapun kalau kita punya himmah besar punya azimah besar tercapai tidak?”

“Tercapai,” jawab jamaah kompak.

Namun, semua ini harus kita lakukan dengan bilhikmah dengan wisdom dengan kearifan dan kebijaksanaan. Wisdom ini tidak ada di bangku sekolah maupun kuliah.

Kedua, mu’atabah, dengan mengambil tanggung jawab pribadi, blaming self (menyalahkan diri sendiri), dengan mengutip surah Ibrahim ayat 22. Menurut Kiyai Said tidak akan ada perubahan dari Allah kalau kita tidak mau berubah jadi lebih baik (surah Ar Ra’du: 11).

Ketiga, muraqabah, jangan putus asa dari rahmat Allah wala taiasu min rauhillah (surah Yusuf: 87). “Jangan suudzan kepada Allah, Allah tetap Rahman Rahim Lathif Ghafur Karim Syakur, sehingga optimis tahun ini lebih baik dari tahun kemarin,” pungkas beliau.

Di akhir tausiahnya, beliau mendoakan agar masyarakat Indonesia mendapatkan keamanan, kedamaian dan keselamatan dari berbagai ancaman, marabahaya dan malapetaka.

Hadir Dr. Ir. Helmy Faishal Zaini, Sekjen PBNU, KH. Agus Salim, Ketua Lembaga Dakwah PBNU dan ratusan jamaah lainnya.  (eep)

Comments
Loading...