Connect with us

Artikel

Re-Transnasionalisasi Tasawuf Aceh

Published

on

Makna Re-transnasionalisasi adalah untuk menyatakan ada suatu upaya melakukan aktualisasi kembali posisi Aceh dalam penyebaran tasawuf menjadi gerakan Islam penuh cinta dalam kehidupan umat manusia di dunia. Hal ini suatu yang lumrah mengingat Aceh pernah menjadi pusat perkembangan tasawuf di masa lalu.

Dalam hal ini, Aceh memiliki lebih dari cukup bukti untuk menyatakan diri sebagai daerah perkembangan tasawuf. Keberadaan beberapa orang sufi penting di daerah ini menunjukkan bagaimana posisi strategis tasawuf dalam keberislaman masyarakat Aceh di masa lampau sebagai bagian penting dalam kehidupan kerajaan.

Setidaknya, kita telah mengenal empat ulama sufi penting di Aceh yang menjadi tokoh utama pemikiran dan perkembangan tasawuf. Hamzah Fansuri adalah tokoh penting dan utama dalam gerakan ini.

Hamzah Fansuri menjadi orang nomor satu dalam transformasi pemikiran tasawuf falsafi di Aceh dan kemudian berkembang di Nusantara. Dari namanya kita tahu kalau Hamzah berasal dari Fansur, sebuah wilayah di Singkil. Dari sana ia merantau ke Banda Aceh dan lalu menjadi orang penting di kerajaan Aceh Darussalam.

Hamzah Fansuri tidak hanya memiliki peran sebagai ulama kerajaan atau dikenal dengan Syekh al-Islam saja, namun juga seorang mufti kerajaan di masa Sultan Iskandar Muda serta sebagai diplomat dan perwakilan raja dalam negosiasi pedagangan dan politik.

Murid penting Hamzah bernama Syamsuddin as-Sumatrani. Ia berasal dari Pase, berguru kepada Hamzah dan menggantikan posisinya di kerjaan setelah sang guru wafat. Ide utama tasawuf Syamsuddin sama dengan Hamzah, pemikirn tasawuf falsafi ala Ibnu Arabi.

Ia menjelaskan beberapa terminologi tasawuf dengan pendekatan filsafat pelik yang banyak orang awam tidak paham. Hal inilah yang dikritik oleh Nuruddin Ar-Raniry, ulama yang berasal dari Raneer, India yang menjadi Syekh al-Islam pada masa Kerajaan Aceh di bawah pimpinan Sultan Iskandar Tsani.

Ar-Raniry melakukan perlawanan pada ide-ide filsafat wujud dalam tasawuf yang dikembangkan oleh dua ulama sebelumnya. Usaha ini dilakukan dengan menggunakan tangan kekuasaan.

Sekilas berhasil, namun Abdurrauf as-Singkili yang menjadi penggantinya pada masa pemerintah Sultanah Safiatuddin menghidupkan kembali ide-ide wujudiyah dan menjadikannya sebagai bagian penting dalam keberagamaan orang Aceh.

Tasawuf ke Tarekat

Abdurrauf as-Singkili menjadi ulama yang sangat penting dalam perbincangan tasawuf Aceh. Pertama, pada masanyalah tasawuf Aceh bertransformasi kepada tarekat. Abdurrauf adalah seorang mursyid, setidaknya dalam dua tarekat besar, yaitu Naqsabandiyah dan Syattariyah.

Ia berguru pada Syekh Ahmad al-Qusyasyi dan Syekh Sulaiman  al-Qurani di Haramain. Namun dalam praktiknya ia nampak lebih banyak mengembangkan Tarekat Syattariyah.

Azyumardi Azra (1991) mencatat pilihan ini sepertinya sebuah “pembagian tugas” antara Abdurrauf dengan Syekh Yusuf al-Maqassari yang sama-sama belajar dan mengambil tarekat di Haramain.

Dalam pembagian ini, Abdurrauf mengembangkan Syattariyah dan Abu Yusuf mengembangkan Naqsabandiyah dan Khalwatiyah.

Dari catatan sejarawan, kita melihat Abdurrauf berada di posisi penting dalam silsilah Tarekat Syattariyah di Nusantara kontemporer. Nama Aceh sebagai “Serambi Mekkah” antara lain diambli dari realitas ini.

Sebagai alumni Timur Tengah yang belajar di sana selama belasan tahun, Abdurrauf menjadi magnet bagi ulama lain di Nusantara untuk mendalami Islam.

Dalam pelayaran menuju Haramain mereka singgah di Aceh untuk belajar dasar-dasar keislaman sebelum kemudian belajar ke Mekkah atau Madinah. Meskipun sebagai “pengantar” beberapa ulama merasa sudah cukup mahir dalam ilmu agama setelah berjumpa dengan Abdurrauf.

Kebanyakan ulama Tarekat Syattariyah yang ada di Indonesia memiliki silsilah yang terhubung kepada Abdurrauf As-Singkili. Di Pulau Jawa misalnya ada Abdul Muhyi Pamijahan. Ia adalah mursyid Tarekat Syattariyah yang sangat berpengaruh di Jawa.

Hampir semua Tarekat Syattariyah yang ada di Jawa saat ini memiliki silsilah yang terhubung kepadanya. Demikian juga dengan Burhanuddin Ulakan dari Sumatera Barat. Ia adalah murid penting Abdurrauf di Sumatera Barat dan menjadi tokoh utama dalam perkembangan Syattariyah di sana.

Abdurrauf As-Singkili berhasil mendamaikan dua kubu yang saling bertentangan yaitu antara pengikut Hamzah Fansuri dan pendukung Ar-Raniri untuk tidak saling sesat-menyesatkan dan mengkafirkan antara satu dengan yang lain. Dalam hal ini Syaikh Abdurrauf As-Singkili mengatakan :

أعلم ايها المريد إلى هذا المنتهى واطلب من مولاك الكريم أن يوصلك به إليه ولا تلتفت فى سيرك إلى ما سواه فإن ذلك حجاب شاغل يشغلك عن مطلوبك واحفظ لسانك من الغيبة والتكفير فإن فيهما خطرا عظيما عنه ربك الكبير ولا تلعن اخاك المسلم فتكن من الحجرومين يوم القيامة ولا تمدحه أيضا فتكن من المبغو ضين أو من الصاربين عنق أخيهم قال صلى الله عليه وسلم “لا يرمى رجل رجلا بالسوق ولا يرميه بالكفر إلا ارتدت عليه أن لم يكن صاحبة كذلك” وقال صلى الله عليه وسلم “من دعا رجلا بالكفر أو قال عدو الله وليس كذلك إلا حار عليه” وقال صلى الله عليه وسلم “أن للعانين لا يكونون شهداء ولا شفعاء يوم القيامة

“Ketahuilah wahai murid (orang yang sedang menuntut ilmu syariat, tarekat dan hakikat) sampai batas terakhir dan tertinggi (dari tauhid). Mohonlah kepada Tuhanmu Yang Maha Mulia agar engkau bisa sampai kepada-Nya. Janganlah engkau berpaling dari perjalananmu kepada selain-Nya, karena hal itu akan menjadi hijab yang menghalangi engkau dari tujuanmu. Peliharalah lidahmu dari perbuatan ghibah (membicarakan kejelekan) dan mengkafirkan orang lain, karena pada keduanya terdapat dosa yang sangat besar di sisi Tuhanmu Yang Maha Besar. Jangan pula engkau mengutuk saudaramu sesama muslim, karena hal itu akan menjerumuskan engkau ke dalam golongan orang-orang yang berdosa pada hari kiamat. Tetapi jangan pula engkau selalu memujinnya secara berlebih-lebihan, karena hal itu akan menjerumuskan engkau ke dalam orang-orang yang dimurkai Allah atau orang yang memenggal leher suadaranya sendiri.

Nabi Muhammad saw. bersabda, ‘Tidaklah seseorang menuduh orang lain berbuat fasik atau kafir, melainkan tuduhan itu kembali kepada dirinya, jika yang dituduhkan itu tidak terbukti fasik dan kafir.’

Selanjutnya Nabi saw. bersabda, ‘Barangsiapa yang memanggil seseorang dengan panggilan kafir atau musuh Allah, padahal orang itu tidak terbukti demikian, maka panggilan itu kembali kepadanya.’

Dan Nabi Muhammad saw. juga bersabda, ‘Sesungguhnya orang yang suka mengutuk dan menuduh sesat orang lain itu ia tidak bisa menjadi orang yang mati syahid dan tidak mendapatkan syafa’at Nabi di hari kiamat.”

(Kitab Tanbihu Al-Masyi Al-Mansub Ila Thariq Al-Qusyasyih, hal 35-36)

Sayangnya serangan imperialisme Belanda dan Inggris ke Aceh sejak pertengahan abad 18 membuat perkembangan tarekat di Aceh cenderung memudar. Kita mengenal beberapa zawiyah yang muncul di Aceh, namun hampir tidak ada tokoh besar yang muncul dan setara dengan beberapa yang telah dijelaskan di atas.

Apalagi memasuki abad 20, di mana intensitas peperangan melawan Belanda semakin tinggi yang kemudian menyebabkan perkembangan pemikiran seperti sebelumnya menjadi redup. Ini adalah sebuah masa yang sulit dalam perkembangan pemikiran tasawuf di Aceh.

Namun pada abad 20 seorang tokoh ulama pembaharu tasaawuf Aceh, Syekh Muhammad Muda Waly Al-Khalidiy (Abuya Muda Waly) telah kembali menghidupkan tasawuf di Aceh yang kemudian dilanjutkan oleh anak-anak dan murid beliau, di antaranya Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidi.

Upaya yang dilakukan Abuya Amran adalah dengan mendirikan organisasi bernama Majelis Pengkajian Tauhid dan Tasawuf (MPTT-I) yang bertujuan untuk menghidupkan  kembali ajaran tasawuf Dzuqi “Falsafi” ala Ibnu Arabi dan Syekh Abdul Karim Al-Jili sebagai mana di masa Hamzah Fansuri.

Muzakarah Ulama Sufi yang dilaksanakan di Banda Aceh pada 13-16 Juli 2018 adalah sebuah inisiasi yang sangat bagus untuk menjadikan Aceh kembali memegang peranan penting dalam transformasi gerakan sufi menjadi gerakan bersama di dunia Islam. Melihat dari tema yang diangkat, “Tauhid Tasawuf Jalan Untuk Mencapai Kedamaian Ummat Sedunia”, jelas menunjukkan adanya keinginan untuk mereposisikan tasawuf sebagai dimensi agama yang mampu berkontribusi langsung bagi kedamaian dunia.

Perang, terorisme, intoleransi yang terus merusak ketenangan umat manusia harus diakhiri. Para ulama sufi berkeyakinan kalau model pemahaman tauhid tasawuf yang mereka yakini adalah model ideal bagi penyelesaian masalah tersebut.

Di samping itu, muzakarah ini juga menjadi titik ideal bagi reposisi Aceh dalam kancah wacana ide-ide besar keagamaan yang mempengaruhi dan melingkupi kehidupan umat Islam di dunia. Hal ini sangat memungkinkan.

Melihat apa yang sudah dijelaskan di atas, Aceh pernah menjadi kiblat pembelajaran Islam dan tasawuf di Nusantara pada masa lalu. Sehingga sangat terbuka lebar kesempatan untuk memainkan peran yang sama dalam konteks kehidupan Islam masa kini. Apalagi Aceh sudah dikenal sebagai daerah mayoritas muslim pertama di Indonesia yang menerapkan hukum Islam. Hal ini tentu saja menjadi ladang yang dapat disemai bibit-bibit pemahaman dan diskursus tasawuf bagi upaya mencapai posisi tersebut.

Muzakarah ini merupakan sebuah pertemuan yang sangat potensial. Di satu sisi mempromosikan Aceh ke dunia Internasional, di sisi lain kembali menjadikan Aceh sebagai daerah sentral perkembangan tasawuf di Nusantara. Bahkan, kalau mungkin Aceh memproduksi pemikiran tasawuf yang kemudian berkembang ke seluruh dunia, baik dunia Islam maupun non-muslim. Inilah yang saya sebut dengan re-transnasionalisasi tasawuf Aceh. Ide-ide tasawuf dari Aceh meuceuhu ban sigom donya.

Wallahu a’lam bisshawwab

Penulis: Budi Handoyo (Dosen Prodi Hukum Tata Negara Islam Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh-Kabupaten Aceh Barat)
Editor: Khoirum Millatin

Artikel

Tokoh-Tokoh Tarekat Di Aceh Dan Biografinya

Published

on

Dari banyak ulama di Aceh, ternyata ada empat ulama besar yang sangat berpengaruh. Riwayat empat ulama ini bersumber dari Buku ‘Paham Wujudiah’ karya Abuya Syekh Prof. Dr. Tgk H. Muhibbuddin Muhammad Waly yang dirangkum dalam ‘Sejarah Aceh’. Berikut nama dan kisah singkat empat ulama masyhur tersebut:

1. Syekh Hamzah Fansuri

Syekh Hamzah Fansuri adalah tokoh sufi terkenal di Aceh. Ia lahir di Fansur Singkil, Aceh. Ia hidup pada zaman pemerintahan Sultan Alaiddin Riayatsyah IV (1589 -1604 atau 997-1011 Hijriyah) hingga awal pemerintahan Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam.

Ia merantau untuk menuntut ilmu hingga ke Jawa, Semenanjung Tanah Melayu, India, Parsi dan Semenanjung Arab. Ia ahli dalam ilmu fiqh, tasawuf, falsafah, sastra, mantiq, sejarah dan lain-lain, serta fasih berbahasa Arab, Urdu, Parsi di samping bahasa Melayu dan Jawa.

Syekh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani merupakan dua tokoh sufi yang sepaham dan hidup lebih dahulu dari dua ulama terkemuka lainnya yang pernah hidup di Aceh, yakni Abdurrauf Singkil Fansuri dan Nuruddin Ar-Raniry.

Riwayat hidupnya tidak banyak diketahui. Ia diperkirakan telah menjadi penulis pada masa kesultanan Aceh Sultan Alaiddin Riayatsyah IV. Ia menyebutkan Sultan Alaiddin selaku sultan yang ke-4 dengan Sayyid Mukammil sebagai gelarnya. Syahr Nawi mengisyaratkan, bahwa ia lahir di tanah Aceh. Konon saudara Hamzah Fansuri bernama Ali Fansuri yakni ayah dari Abdurrauf Singkil Fansuri.

Ketika pengembaraannya selesai dari Kudus, Banten, Johor, Siam, India, Persia, Irak, Makkah dan Madinah, untuk mencari ilmu makrifat terhadap Allah Swt, Ia kembali ke Aceh dan mengajarkan ilmunya. Mula-mula ia berdiam di Barus, lalu di Banda Aceh yang kemudian ia mendirikan Dayah (pesantren) di Oboh Simpang Kanan Singkil. Di pesantren itulah (ada yang mengatakan antara Singkil dengan Rundeng) ia dimakamkan tepatnya di sebuah pekuburan di desa tersebut.

2. Syekh Syamsuddin As-Sumatrani

Ia adalah tokoh ulama besar dan pengarang kenamaan di Aceh. Nama lengkapnya ialah Syekh Syamsuddin bin Abdillah As-Sumatrani. Sering juga disebut Syamsuddin Pasee. Dia adalah ulama besar yang hidup di Aceh pada beberapa dasa warsa (sepuluh tahun) terakhir abad ke-16 dan tiga dasa warsa pertama abad ke-17.

Gurunya ialah Hamzah Fansuri dan pernah belajar dengan Pangeran Sunan Bonang di Jawa. Ia menguasai bahasa Melayu-Jawa, Parsi dan Arab. Antara cabang ilmu yang dikuasainya ialah ilmu tasawuf, fiqh, sejarah, mantiq, tauhid, dan lain-lain.

Pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Riayatsyah IV dan Sultan Iskandar Muda, Ia memegang jabatan yang tinggi dalam Kerajaan Kesultanan Aceh. Ia dilantik sebagai penasehat kepada kedua sultan tersebut.

Ia juga pernah diangkat menjadi Qadi Malikul Adil yaitu satu jabatan yang terdiri dalam Kerajaan Aceh (orang yang kedua penting dalam kerajaan). Ia mengetuai Balai Gading (balai khusus yang dianggotai oleh tujuh orang ulama dan delapan orang ulee balang), di samping menjadi Syekh pusat pengajaran Baiturrahman.

Sekalipun mengikut faham aliran tasawuf wahdatul wujud, namun ia berlaku adil dalam menjalankan hukum-hukum yang difatwakannya. Keahliannya diakui oleh semua pihak termasuk Syekh Nuruddin. Ia meninggal dunia pada tahun 1630 M di zaman Sultan Iskandar Muda. Banyak karangan-karangan dan fatwa-fatwa yang ia tinggalkan. Di antaranya Syarah Ruba’i Fansuri (uraian terhadap puisi Hamzah Fansuri), dan lain-lain.

Ia adalah seorang ulama besar fiqh dan tasawuf. Seorang pelaut Belanda bernama Frederick de Houtman (1599 M/1008 H) yang ditawan di Banda Aceh, menyebutkan dalam bukunya tentang Syamsuddin Sumatrani adalah seorang syekh dan juga penasehat agung raja.

3. Syekh Nuruddin Ar-Raniry

Nama lengkapnya ialah Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasani bin Muhammad Hamid ar-Raniry al-Quraisyi asy-Syafi’ie. Ia wafat pada 22 Zulhijjah 1069 H/21 September 1658 M di kota kelahirannya di Kota Pelabuhan Ranir (Rander) Gujarat India. Sayang, tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti.

Ia seorang ulama besar, penulis, ahli fikir di India yang merantau dan menetap di Aceh. Ia lahir sekitar pertengahan ke dua abad ke-16. Pendidikan awalnya dalam masalah keagamaan ia peroleh di tempat kelahirannya sendiri.

Kemudian ia melanjutkan pendidikan ke Tarim, Yaman. Tarim adalah pusat studi ilmu agama pada masa itu. Setelah menunaikan ibadah haji dan ziarah ke makam Nabi saw. pada 1621 M (1030 H), ia kembali ke India.

Setelah kembali ke India dan mengajar, di samping sebagai Syekh Thariqah Rifa’iyyah ia merantau ke Nusantara dan memilih Aceh sebagai tempat menetap. Ia datang ke Aceh karena mengetahui Aceh menjadi pusat perdagangan, kebudayaan dan politik serta pusat studi agama Islam di kawasan Asia Tenggara menggantikan Malaka yang jatuh ke tangan Portugis.

Berkat kesungguhannya ia berhasil menjadi ulama besar yang berpengatahuan luas dan tercatat sebagai Syekh Thariqat Rifa’iyyah dan bermazhab Syafi’i. Hubungan baik Syekh Nuruddin dengan Sultan Iskandar Tsani di Aceh memberi peluang kepadanya untuk mengembangkan ajaran yang dibawanya.

Ia pernah menentang Paham Wujudiyah yang berkembang di Aceh pada masa itu. Untuk menyanggah Paham Wujudiyah yang dinilainya sesat itu ia sengaja menulis beberapa kitab.

Al Quraisyi pada laqab namanya menunjukkan bahwa ia berasal dari kabilah terhormat yaitu Quraisy. Ia berthariqah Rifa’iyyah menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara dirinya dengan Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani dan Abdurrauf Al-Fansuri. Sebab, semuanya sama-sama pengikut thariqah suffiyah dan bermazhab Imam Syafi’i.

4. Syekh Abdurrauf As-Singkili

Ia adalah salah satu dari empat ulama terkemuka yang pernah lahir di Aceh pada abad ke-17. Sedangkan tiga ulama lainnya adalah Syekh Hamzah Fansuri, Syekh Syamsuddin Sumatrani dan Syekh Nuruddin Ar-Raniry. Para ahli sejarah memperkirakan bahwa ia lahir sekitar 1615 M (1035 H) di Singkil yang terletak di ujung paling selatan pantai barat Aceh, sekampung dengan Syekh Hamzah Fansuri dan juga putera dari saudara Syekh Hamzah Fansuri sendiri.

Ia tumbuh dan berkembang sebagai calon ulama di Aceh pada masa negeri itu sedang berada dalam puncak kejayaan di bawah pimpinan sultannya yang terbesar, Sultan Iskandar Muda. Untuk memperdalam pengetahuan agamanya, ia berangkat ke Saudi Arabia sekitar tahun 1643 M (1064 H) pada saat negeri Aceh dipimpin oleh Sultanah Safiatuddin yang berada dalam kekacauan politik dan pertentangan paham keagamaan.

Syekh Abdurrauf tidak segera langsung menuju Mekkah, tapi terlebih dahulu bermukim pada banyak tempat yang menjadi pusat-pusat pendidikan agama di sepanjang jalur perjalanan haji. Setelah Ia sampai di Mekkah dan Madinah Ia melengkapi ilmu lahir (ilmu Al-Qur’an, tafsir, hadits, fiqh) yang telah dimilikinya dan dilengkapi pula dengan ilmu, yakni tasawuf dan thariqat.

Setelah belajar di Madinah pada Syekh Thariqah Syatthariyah Ahmad Al Qusyasyi (wafat 1661 M/ 1082 H) dan kemudian pada khalifah atau penggantinya Ibrahim al-Qur’ani, ia memperoleh ijazah dari pimpinan thariqah tersebut. Banyak guru-guru besar yang memberikan ijazah ilmu pengetahuan kepadanya selama 19 tahun menuntut ilmu. Ketika pulang ke Aceh, Syekh Abdurrauf menjadi ulama besar yang memiliki ilmu yang luas. Menurut perkiraan para ahli sekitar tahun 1662 M (1083 H), peranannya sebagai pengajar Thariqah Syatthariah telah dimulainya di Madinah, menjelang pulang ke Aceh.

Penulis: Budi Handoyo (Dosen STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Artikel

Karomah Sampai Wafatnya Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 3)

Published

on

Ilustrasi

Nasehat, Akhlak dan Karomah Syaikh an-Naqsyabandî

Di antara akhlak Syaikh an-Naqsyabandî adalah apabila menjenguk salah seorang temannya, pasti akan menanyakan kabar keluarga dan anak-anaknya serta menghiburnya dengan hiburan yang sepantasnya. Bukan hanya itu saja, Syaikh an-Naqsyabandî juga menanyakan apa yang berhubungan dengannya sampai bertanya tentang ayam-ayam peliharaannya. Ditampakkan rasa belas-kasihan kepada semuanya seraya berkata, “Abu Yazid al-Busthâmî sekembalinya dari laut berdzikir, melakukan hal seperti ini.”

Meski sangat sempurna dalam kezuhudannya, Syaikh an-Naqsyabandî senantiasa memberi dan mendahulukan orang lain. Bila ada orang memberinya, diterimanya. Lalu membalasnya dengan pemberian yang berlipat ganda. Demikian itu karena Syaikh an-Naqsyabandî mengikuti jejak Rasulullah Shalallu ‘Alaihi Wassalam yang sangat terkenal kedermawanannya. Keberkahan akhlaknya yang mulia ini menular kepada murid-muridnya.

Di antara karamahnya adalah sebagaimana yang telah disampaikan oleh Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar. Suatu ketika Syaikh ‘alâ`uddîn al-Aththar bersama dengan Syaikh an-Naqsyabandî. Ketika itu udara diliputi oleh mendung. Lalu Syaikh an-Naqsyabandî bertanya, “Apa waktu dzuhur sudah masuk?” Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar menjawab, “Belum” Lalu Syaikh an-Naqsyabandî berkata, “Keluarlah dan lihatlah langit.”

Lalu Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar keluar dan melihat ke atas langit. Tiba-tiba tersingkaplah hijab alam langit sehingga Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar dapat melihat seluruh malaikat di langit tengah melaksanakan shalat Dzuhur. Lalu Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar masuk dan langsung ditanya oleh Syaikh an-Naqsyabandî, “Bagaimana pendapatmu, bukankah waktu dzuhur tiba?”

Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar malu dibuatnya dan membaca istighfar dan sampai beberapa hari masih terbebani dengan kejadian tersebut.

Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar berkata, “Ketika Syaikh an-Naqsyabandî akan meninggal, aku dan yang hadir pada saat itu membaca surah Yasîn. Ketika bacaan surah Yasin sampai di tengah-tengah, tiba-tiba tampak seberkas cahaya menyinari seisi ruangan. Maka aku membaca kalimat laa ilaaha illa Allah, lalu Syaikh an-Naqsyabandî wafat.”

Wafatnya Syaikh an-Naqsyabandî

Syaikh an-Naqsyabandî wafat pada malam Senin tanggal 3 Rabi’ul awal tahun 791 Hijriyah. Kemudian dimakamkan di kebun miliknya yang memang sudah ditentukan oleh Syaikh an-Naqsyabandî sendiri. Para pengikutnya mem-bangun kubah di atas makamnya dan di kebunnya dibangun masjid yang luas.

Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh

Continue Reading

Artikel

Nasab Keilmuan dan Keturunan Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 2)

Published

on

Ilustrasi

Syaikh an-Naqsyabandî berguru ilmu tarekat kepada Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî kemudian kepada Sayyid ‘Amîr Kulâl. Sedangkan Sayyid ‘Amir Kulal berguru kepada Syaikh Muhammad Baba as-Sammâsî. Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî berguru kepada ‘Ali ar-Râmîtanî yang lebih dikenal dengan nama Syaikh al-‘Azîzân. Syaikh al-Azîzân berguru kepada Syaikh Mahmud al-‘Anjîr Faghnawî.

Syaikh Mahmud al-‘Anjîr Faghnawi berguru kepada Syaikh ‘Ârif ar-Rîwakirî yang berguru kepada Syaikh ‘Abdul Khalîq al-Ghuzduwânî yang berguru kepada Syaikh Abi Ya’qûb Yûsuf al-Hamadânî yang berguru kepada Syaikh Abi ‘Ali al-Fadhal bin Muhammad ath-Thusi al-Fâramadî yang berguru kepada Syaikh Abil Hasan ‘Ali bin Abi Ja’far al-Kharqânî.

Syaikh Abil Hasan ‘Ali berguru Kepada Abi Yazid Thaifur bin ‘Îsa al-Busthâmî yang berguru kepada Syaikh Imam Ja’far ash-Shâdiq yang berguru kepada kakeknya Sayyid al-Qâsim bin Muhammad bin Abi Bakar ash-Shiddiq yang dari Salmân al-Farîsî yang memperoleh dari Abi Bakar ash-Shiddîq yang memperoleh dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Syaikh an-Naqsyabandî juga berkata, “Di antara pertolongan Allah yang diberikan kepadaku adalah kopiah kakek guruku (Syaikh al-‘Azîzân) telah sampai kepadaku sehingga keadaanku semakin baik dan harapanku semakin kuat. Yang demikian itu membuatku dapat mengabdi kepada Sayyid ‘Amîr Kulâl dan memberi tahuku bahwa Syaikh as-Sammâsî mewasiatkan diriku kepadanya.”

Semakin hari Sayyid ‘Amîr Kulâl semakin memperhatikan dan bersungguh-sungguh dalam membimbingnya. Setelah bekal bimbingan yang diberikan dirasa sudah cukup, Sayyid ‘Amîr Kulâl berkata, “Wahai anakku, aku telah melaksanakan wasiat Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî untuk membimbingmu.”

Seraya menunjuk ke arah susunya, Sayyid ‘Amîr Kulâl berkata, “Engkau telah menyusu pendidikan kepadaku. Tingkat penyerapanmu terhadap apa yang aku ajarkan sangat tinggi dan keyakinanmu sangat kuat. Oleh karena itu, aku mengizinkan engkau mencari ilmu ke beberapa orang guru. Engkau dapat mengambil ilmu dari mereka sesuai dengan kemauanmu yang besar.”

“Sejak saat itu, aku terus menerus mendatangi ulama untuk memetik ilmu syariat dan mencari ilmu Hadis serta akhlak Rasulullah dan para sahabat sebagaimana telah diperintahkan kepadaku,” papar Syaikh an-Naqsyabandî.



Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending