Rajut Getaran Cinta, MATAN UNUJA Gelar Suluk Kali Pertama

0

PROBOLINGGO – Mahasiswa Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah Universitas Nurul Jadid atau disingkat MATAN UNUJA menggelar acara Suluk MATAN untuk kali pertama dengan tema ‘Merajut Getaran Cinta Terhadap Thariqah dan NKRI’ di Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur pada Kamis hingga Jum’at (18-19/4).

Acara yang dirangkai dengan pembacaan Shalawat Nariyah untuk Kedamaian dan Keberkahan NKRI sebanyak 100.000 kali tersebut diikuti oleh peserta yang terdiri dari mahasiswa dan mahasiswi Universitas Nurul Jadid yang juga santri PP. Nurul jadid dan perwakilan siswa MA dan SMA.

Ketua MATAN UNUJA, Maghfur Ramdlani menjelaskan bahwa acara Suluk MATAN ini untuk mengenalkan thariqah dari berbagai sisinya. “Acara ini tidak lain merupakan media agar para mahasiswa lebih mengetahui thariqah dari berbagai sisi,” ungkapnya di hadapan 180 peserta suluk yang hadir.

Ia juga menyebut bahwa peserta suluk ialah khadimul auliya dan penerus perjuangan ulama. Maghfur berharap, para mahasiswa semakin kokoh dalam berthariqah dan mengabdi untuk NKRI.

Ada 5 tema besar yang diangkat, yakni Ke-Indonesia-an, Ke-Aswaja-an, Kepemimpinan, Ke-Thariqah-an dan Ke-MATAN-an.

Dr. H. M. Hasyim Syamhudi, M.Si., menceritakan Peran Thariqah Terhadap Kemerdekaan Indonesia. “Jangan menduga hadirnya bangsa Indonesia ini hanya karena tentara yang berperang, wong senjatanya hanya bambu runcing sedangkan Belanda menggunakan meriam. Namun apa yang terjadi? Ya thariqah. Para kiai, para santri mengunakan bambu runcing, disertai teriakan ‘allahu akbar’ membuat meriam Belanda tidak meledak, karena mereka ahli dzikir yang mengandung atom-atom positif yang dahsyat,” ucap Dosen UNUJA yang juga penulis buku Akhlak Tasawuf tersebut.

Selanjutnya KH. Najiburrahman Wahid, M.Ag. memaparkan bagaimana Peran Thariqah Dalam Membentuk Jiwa Kepemimpinan. Wakil Kepala PP. Nurul Jadid tersebut mengatakan bahwa pemimpin yang baik dan bisa mengayomi umat itu harus beriman dan bertaqwa serta beramal shalih yang dilandasi keikhlasan.

Sedangkan KH. Musthofa Quthbi Badri, MA. menerangkan Hubungan Thariqah dengan Nahdlatul Ulama. “Jangan heran kalau hanya NU yang peduli dengan Ke-thariqah-an, sebab KH. Hasyim Asy’ari mendirikan NU untuk meneruskan perjuangan Wali Songo yang mana semuanya berpegang teguh pada ajaran thariqah,” tutur Rais Idarah Syu’biyyah JATMAN Kraksaan tersebut.

Kiai Musthofa juga menyebutkan bahwa Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari ialah pengamal tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah.

Narasumber keempat KH. Tauhidullah Badri memberi pencerahan seputar Konsep Shuhbah dan Ukhuwah Dalam Thariqah. Pengasuh PP. Badridduja Probolinggo tersebut menuturkan bahwa Keberadaan mursyid itu menjadi keniscayaan bagi mereka yang ingin wushul kepada Allah. Ia juga menambahkan, bahwa berkumpul bersama (shuhbah) dengan para kekasih Allah adalah nikmat surga yang terlimpahkan ke dunia fana.

Dalam kesempatan itu, Gus Ahmad Miftahul Haq menjelaskan bagaimana Kontribusi MATAN Untuk Indonesia. Menurut Sekretaris MATAN Jawa Timur tersebut, tidak ada organisasi yang menghimpun anak muda sekaligus mengurusi qalbunya selain MATAN.

“Dari MATAN ini menurut Abah Habib harus muncul dokter, ahli ekonomi, pedagang, ahli pertanian yang mursyid,” tutupnya. (eep)

Comments
Loading...