Rais JATMAN Kraksaan Tuturkan Kenapa Thariqah Wajib bagi Warga NU

PROBOLINGGO – Pengurus Idarah Syu’biyyah JATMAN Kraksaan dan Pengurus Idarah Ghusniyyah JATMAN Kraksaan kembali menggelar pertemuan rutin untuk memperkuat silaturahim sekaligus mengevaluasi perjalanan dakwah thariqah di Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur pada Senin (14/10).

Acara yang diadakan di kediaman KH. Najib Mi’ad, muqaddam thariqah Tijaniyah sekaligus pengasuh PP. Lubbul Labib Maron, Probolinggo dihadiri oleh para pengurus Idarah Syu’biyyah dan Ghusniyyah JATMAN Kraksaan.

Dalam pertemuan rutin triwulan itu, Rais Idarah Syu’biyyah JATMAN Kraksaan KH. Musthofa Quthbi Badri menyampaikan sambutan sekaligus arahannya.

“Habib Luthfi bin Yahya dawuh: JATMAN itu sekarang harus menunjukkan jati dirinya,” ucap Muqaddam Tarekat Tijaniyah tersebut menirukan Rais Aam JATMAN pada Senin (14/10).

KH. Musthofa.

Memang kalau secara organisasi, kata Gus Musthofa sapaan akrabnya, JATMAN itu adalah anak NU, tapi secara kerohanian thariqah (JATMAN) merupakan bapak bahkan buyut Nahdlatul Ulama (NU).

“Coba kita lihat fenomena kepengurusan NU di sekitar kita, di mana banyak dari mereka lebih asyik mengurusi kekuasaan daripada sesuatu yang berhubungan dengan Allah. Disinilah perlunya kita memasyarakatkan thariqah. Seperti kita ketahui NU didirikan oleh para ulama yang memegang teguh thariqah,” papar Gus Musthofa menjelaskan.

Dalam Muktamar JATMAN pertama pada tahun 1957 di Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, diputuskan bahwa seluruh masyarakat awam khususnya di NU wajib berthariqah. Alasannya waktu itu karena masyarakat awam tidak tahu jalan bagaimana wushul kepada Allah SWT. Maka dari itu harus ikut thariqah agar ada yang membimbing kepada Allah SWT.

Sementara itu, para alim ulama tidak wajib masuk thariqah. Alasannya karena alim ulama dinilai bisa membimbing dirinya sendiri dengan keilmuan yang dimilikinya untuk bisa wushul kepada Allah SWT.

Pada waktu itu Mbah Siradz berdiri di tengah tengah para hadirin dan berkata: “Saya sangat setuju dengan keputusan muktamar ini bahwa warga NU wajib masuk tarekat sementara para alim ulama tidak wajib. Namun saya mau bertanya kepada peserta Muktamar hari ini, siapa dirinya yang merasa sudah alim, tolong berdiri!”.

Karena yang dawuh Mbah Siradj, seorang yang terkenal alim, akhirnya para kiai tidak ada yang berani berdiri. Artinya, meskipun dirinya sudah menjadi kiai, bahkan kianya kiai ternyata juga perlu mengikuti thariqah. Maka sejak dari itu diputuskan, bahwa baik orang awam maupun para alim ulama juga wajib berthariqah

Gus Musthofa juga menerangkan bagaimana cara menjaga aqidah umat.

“Kalau ingin menjaga aqidah umat yang paling gampang ya masuk thariqah. Insya Allah kalau kita mempunyai ikatan dengan yang namanya ikatan thariqah, insyaAllah dalam membimbing umat akan lebih mudah mendapatkan taufik dan bimbingan Allah,” pungkasnya. (maghfur/eep)

Komentar
Loading...