Qana’ah adalah Kekayaan Sejati

Qana’ah, biasa diartikan merasa cukup dengan apa yang ada. Qana’ah itu enak diucapkan tapi susah diamalkan. Qana’ah adalah sikap atau persepsi seseorang dimana seseorang itu insyaAllah mampu merasa cukup terhadap karunia yang Allah berikan padanya.

Seperti kita tahu bahwa sesungguhnya bukanlah yang banyak itu yang kita cari pada hakikatnya. Bukan juga yang besar itu yang kita cari pada hakikatnya. Bukan yang panjang atau yang lebar yang kita cari itu pada hakikatnya. Tapi pada hakikatnya, yang kita cari yang kita butuhkan adalah berkahnya. Belum tentu yang besar itu berkah, belum tentu yang banyak iu berkah. Walaupun kecil tapi kalau itu berkah, itu jauh lebih menguntungkan dan lebih bermanfaat buat kita semuanya.

Makanya itu dalam hadis nabi disebutkan,

القناعة كنز لا يفنى

“Qana’ah itu adalah gudang yang tidak pernah kering”.

Kalau orang qana’ah merasa puas terhadap apa yang ada pada dirinya sendiri itulah sesungguhnya orang kaya. Tetapi kalau orang nggak pernah puas terhadap apa yang mereka miliki, sekalipun konglomerat, sekali pun menjabat jabatan paling tinggi, tapi kalau dia tidak pernah merasa puas maka sesungguhnya itu adalah orang miskin.

Jadi orang miskin itu bisa kita definisikan orang yang tidak pernah puas terhadap apa yang ada pada dirinya sendiri. Karena itu qan’aah itu adalah orang yang bersikap dan merasa puas terhadap karunia yang Allah berikan kepada kita. Nah itulah yang kita harapkan sebetulnya, tenang, nyaman, nikmat, sejuk, bahagia, damai, kenapa? Qana’ah sudah berada dalam diri setiap orang itu.

Tapi kalau enggak ada qana’ah dalam diri kita sendiri, kita sudah punya segalanya, tapi belum cukup. Selalu nggak pernah cukup. Nah kalau hidup ini tidak pernah cukup maka pada hakekatnya itu adalah sebuah penderitaan. Orang yang nggak pernah merasa cukup terhadap apa yang Allah karuniakan terhadapnya. Orang itu pada hakikatnya adalah orang miskin. Jadi kemiskinan itu bukan karena tidak ada hartanya, kemiskinan dia terlalu banyak kebutuhannya dan selalu membutuhkan dan tidak pernah merasa puas. Itulah hakikat orang-orang miskin. Nah kita dianjurkan oleh agama kita, agama Islam. Mari kita merasakan apa yang disebut dengan Qana’ah.

Oleh: Prof. Dr. Nasaruddin Umar

Komentar
Loading...