Connect with us

Artikel

Profil Pondok Pesantren Baitul Hikmah Depok

Published

on

Pondok Pesantren Baitul Hikmah Depok adalah sebuah lembaga pendidikan Islam yang didirikan oleh DR. KH. Muhammad Hamdan Rasyid, MA dan keluarga di atas tanah seluas kurang lebih 5.000 M2 (lima ribu meter persegi) yang terletak di Jl. Curug Taufiq 90 RT.02 RW. 02 Kelurahan Curug – Kecamatan Bojongsari – Kota Depok yang dibeli dan diwakafkan kepada Yayasan Mahabbatullah yang berdiri pada tanggal 11 Agustus 2014 .

Motivasi Kiai Hamdan dalam membangun pondok pesantren serta mewakafkan tanah beserta seluruh bangunan sarana dan prasana pendidikan adalah semata-mata ingin meraih ridla Allah Swt serta pahala yang terus mengalir hingga hari kiamat. Sebagaimana telah disabdakan Rasulullah Saw dalam hadis sahih yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurarirah Ra:       

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله تعالى عنه: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: إِذَا مَاتَ ابنُ آدم انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

“Dari sahabat Abu Hurarirah RA. bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda; ‘Jika Anak Adam (manusia) wafat (meninggal dunia), maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga hal. Yaitu; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakan orang tuanya.” (H.R Muslim).

Berdasarkan sabda Rasulullah Saw di atas, beliau ingin mendapatkan pahala yang abadi, terus mengalir hingga hari kiamat dari 3 (tiga) hal yang disebutkan di atas. Dengan membangun pondok pesantren serta mewakafkan tanah beserta seluruh bangunan sarana dan prasana pendidikan, beliau ingin mendapatkan pahala yang abadi dari sedekah jariyah. Dengan berdakwah, mengajar para santri dan masyarakat serta menulis buku-buku tentang agama Islam, beliau ingin mendapatkan pahala yang abadi dari ilmu yang bermanfaat. Dengan mendidik putra-putri dan dzurriyahnya beliau ingin mendapatkan pahala yang abadi dari anak-anak sholeh yang mendoakannya.   

Tanah Pondok Pesantren Baitul Hikmah Depok seluas kurang lebih 5000 M2 (lima ribu meter persegi) beliau beli pada tahun 2011 dari H. Rizal dan H. Taufiq, kemudiana dibangun secara bertahap.

Secara resmi aktivitas pendidikan Pondok Pesantren Baitul Hikmah dimulai pada tanggal 17 Ramadhan 1436 H. bertepatan dengan tanggal 15 Juli 2015. Tanggal 17 Ramadhan dipilih sebagai hari pertama operasional pendidikan sekaligus hari jadi Pondok Pesantren Baitul Hikmah, karena ingin mengambil berkah dari malam Nuzul al-Qur’an, malam pertama turunnya kitab suci al-Qur’an dari Allah Swt kepada Rasulullah Saw melalui Malaikat Jibril yang ditandai dengan turunnya Surat al-Alaq ayat 1-5 :

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara qalam (baca tulis). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Lembaga pendidikan ini diberi nama Pondok Pesantren Baitul Hikmah yang berarti Rumah Yang Penuh Kebijaksaan (house of wisdom) adalah semata-mata mengharapkan bahwa dari Pondok Pesantren Baitul Hikmah akan lahir pejuang agama Islam dan calon pemimpin umat serta pemimpin bangsa yang wise (arif dan bijaksana) sesuai firman Allah Swt dalam Surat al-Baqarah ayat 269 :

يُؤْتِى ٱلْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ ٱلْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

“Allah menganugerahkan al-Hikmah (kefahaman yang mendalam tentang al-Quran dan as- Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”.

Menurut Imam al-Razi, “Hikmat adalah ungkapan untuk menggambarkan kesesuaian antara perkataan dan perbuatan, karena pengertian Hikmah adalah ketepatan perkataan dan perbuatan”. Asal kata hikmat adalah ‘menempatkan sesuatu pada tempatnya.Jadi, setiap orang yang diberi kesesuaian antara ilmu dan amal berarti ia telah dianugerahi hikmah, sehingga layak mendapat gelar al-Hakim ( (الحكيم هو الذي وافق أعماله علومه. الحكيم هو الذي وافق كلامه أفعاله Dalam “Lisan al-Arab” disebutkan bahwa kalimat (أحكم الأمر) artinya, “ia mengerjakan dengan sempurna suatu perkara”. Seseorang disebut ‘bijak’ (حكيم) jika ia ‘telah diasah oleh pengalaman’. Orang bijak (حكيم) adalah orang yang menyelesaikan setiap perkara dengan sempurna.

Di samping itu, pemberian nama Baitul Hikmah kepada lembaga pendidikan pondok pesantren ini, juga dimaksudkan sebagai tafaul (mengenang, mengikuti dan mengambil berkah) dari Baitul Hikmah, lembaga pendidikan dan pusat penelitian kaum intelektual yang didirikan oleh Khalifah Harun al-Rasyid dari Dinasti Abbasiyyah. Lembaga yang berpusat di Baghdad Irak selama zaman keemasan Islam (The Golden Age of Islam) ini telah melahirkan para ulama dan sarjana dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Selain menerjemahkan buku-buku ke dalam bahasa Arab dan melestarikannya, para ulama dan sarjana Baitul Hikmah juga banyak memberikan konstribusi penemuan-penemuan baru dan original yang luar biasa dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Pemerintahan al-Ma’mun telah menjadikan Baitul Hikmah sebagai pusat studi humaniora, matematika, astronomi, kedokteran, kimia, zoologi, geografi  kartografi dan ilmu-ilmu keislaman yang tidak tertandingi. Baitul hikmah juga menjadi pusat observatorium astronomi. Pada pertengahan abad kesembilan, Baitul Hikmah merupakan perpustakaan terbesar di dunia. Dinasti Abbasiyyah berkuasa selama lebih dari 500 tahun sejak tahun 750 sd 1258 M.

Nama Baitul Hikmah diabadikan sebagai nama pondok pesantren ini, juga sekaligus untuk mengenang dan mendoakan Ibu Nyai Hj. Siti Hikmah binti H. Raden Muhammad, ibunda DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA yang telah berjasa melahirkan dan mendidik pendiri dan pengasuh pondok ini dan telah wafat pada tanggal 9 Oktober 2017.

Sementara itu, yayasan yang menaungi Pondok Pesantren Baitul Hikmah serta unit-unit lainnya bernama Yayasan Mahabbatullah yang berarti mencinta dan dicintai Allah Swt. Hal ini dimaksudkan agar para pengurus yayasan beserta seluruh perangkatnya sampai kapanpun harus berorientasi pada usaha mencintai Allah Swt dengan bersikap amanah (bertanggung jawab) serta senantiasa mengikuti sunnah Rasulullah Saw agar dicintai oleh Allah Swt sehingga berkah. Hal ini didasarkan pada firman Allah Swt dalam surat Ali Imran ayat 31 :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (Wahai Muhammad): “Jika kamu sekalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Visi dan Misi

a. Visi
“Menjadi pesantren unggulan yang menanampkan Iman dan Taqwa (IMTAQ) serta mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), sehingga melahirkan Scholars Of Religion (Ulama) dan Religious Scholars (Cendikiawan Muslim) yang Moderat, Inklusif dan Dinamis, serta bermanfa’at bagi kemajuan Umat dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

b. Misi
• Menyelenggarakan Pendidikan yang berkualitas dan Integral antara IMTAQ dan IPTEK
• Mendidik generasi muda Islam agar memiliki aqidah yang mantap : akhlak yang mulia serta menguasai berbagai keterampilan (Skill)
• Mendidik kader-kader ulama dan mubaligh yang memiliki semangat memperjuangkan Agama Islam dan keutuhan NKRI dengan pemikiran dan sikap yang moderat, menghidari faham liberalisme, ekstremisme, fundamentalisme serta radikalisme.

Fasilitas Pesantren

Bagi yang ingin putra putrinya mondok di Pondok Pesantren Baitul Hikmah silahkan kunjungi Pondok Pesantren Baitul Hikmah Depok.

Artikel

Tokoh-Tokoh Tarekat Di Aceh Dan Biografinya

Published

on

Dari banyak ulama di Aceh, ternyata ada empat ulama besar yang sangat berpengaruh. Riwayat empat ulama ini bersumber dari Buku ‘Paham Wujudiah’ karya Abuya Syekh Prof. Dr. Tgk H. Muhibbuddin Muhammad Waly yang dirangkum dalam ‘Sejarah Aceh’. Berikut nama dan kisah singkat empat ulama masyhur tersebut:

1. Syekh Hamzah Fansuri

Syekh Hamzah Fansuri adalah tokoh sufi terkenal di Aceh. Ia lahir di Fansur Singkil, Aceh. Ia hidup pada zaman pemerintahan Sultan Alaiddin Riayatsyah IV (1589 -1604 atau 997-1011 Hijriyah) hingga awal pemerintahan Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam.

Ia merantau untuk menuntut ilmu hingga ke Jawa, Semenanjung Tanah Melayu, India, Parsi dan Semenanjung Arab. Ia ahli dalam ilmu fiqh, tasawuf, falsafah, sastra, mantiq, sejarah dan lain-lain, serta fasih berbahasa Arab, Urdu, Parsi di samping bahasa Melayu dan Jawa.

Syekh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani merupakan dua tokoh sufi yang sepaham dan hidup lebih dahulu dari dua ulama terkemuka lainnya yang pernah hidup di Aceh, yakni Abdurrauf Singkil Fansuri dan Nuruddin Ar-Raniry.

Riwayat hidupnya tidak banyak diketahui. Ia diperkirakan telah menjadi penulis pada masa kesultanan Aceh Sultan Alaiddin Riayatsyah IV. Ia menyebutkan Sultan Alaiddin selaku sultan yang ke-4 dengan Sayyid Mukammil sebagai gelarnya. Syahr Nawi mengisyaratkan, bahwa ia lahir di tanah Aceh. Konon saudara Hamzah Fansuri bernama Ali Fansuri yakni ayah dari Abdurrauf Singkil Fansuri.

Ketika pengembaraannya selesai dari Kudus, Banten, Johor, Siam, India, Persia, Irak, Makkah dan Madinah, untuk mencari ilmu makrifat terhadap Allah Swt, Ia kembali ke Aceh dan mengajarkan ilmunya. Mula-mula ia berdiam di Barus, lalu di Banda Aceh yang kemudian ia mendirikan Dayah (pesantren) di Oboh Simpang Kanan Singkil. Di pesantren itulah (ada yang mengatakan antara Singkil dengan Rundeng) ia dimakamkan tepatnya di sebuah pekuburan di desa tersebut.

2. Syekh Syamsuddin As-Sumatrani

Ia adalah tokoh ulama besar dan pengarang kenamaan di Aceh. Nama lengkapnya ialah Syekh Syamsuddin bin Abdillah As-Sumatrani. Sering juga disebut Syamsuddin Pasee. Dia adalah ulama besar yang hidup di Aceh pada beberapa dasa warsa (sepuluh tahun) terakhir abad ke-16 dan tiga dasa warsa pertama abad ke-17.

Gurunya ialah Hamzah Fansuri dan pernah belajar dengan Pangeran Sunan Bonang di Jawa. Ia menguasai bahasa Melayu-Jawa, Parsi dan Arab. Antara cabang ilmu yang dikuasainya ialah ilmu tasawuf, fiqh, sejarah, mantiq, tauhid, dan lain-lain.

Pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Riayatsyah IV dan Sultan Iskandar Muda, Ia memegang jabatan yang tinggi dalam Kerajaan Kesultanan Aceh. Ia dilantik sebagai penasehat kepada kedua sultan tersebut.

Ia juga pernah diangkat menjadi Qadi Malikul Adil yaitu satu jabatan yang terdiri dalam Kerajaan Aceh (orang yang kedua penting dalam kerajaan). Ia mengetuai Balai Gading (balai khusus yang dianggotai oleh tujuh orang ulama dan delapan orang ulee balang), di samping menjadi Syekh pusat pengajaran Baiturrahman.

Sekalipun mengikut faham aliran tasawuf wahdatul wujud, namun ia berlaku adil dalam menjalankan hukum-hukum yang difatwakannya. Keahliannya diakui oleh semua pihak termasuk Syekh Nuruddin. Ia meninggal dunia pada tahun 1630 M di zaman Sultan Iskandar Muda. Banyak karangan-karangan dan fatwa-fatwa yang ia tinggalkan. Di antaranya Syarah Ruba’i Fansuri (uraian terhadap puisi Hamzah Fansuri), dan lain-lain.

Ia adalah seorang ulama besar fiqh dan tasawuf. Seorang pelaut Belanda bernama Frederick de Houtman (1599 M/1008 H) yang ditawan di Banda Aceh, menyebutkan dalam bukunya tentang Syamsuddin Sumatrani adalah seorang syekh dan juga penasehat agung raja.

3. Syekh Nuruddin Ar-Raniry

Nama lengkapnya ialah Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasani bin Muhammad Hamid ar-Raniry al-Quraisyi asy-Syafi’ie. Ia wafat pada 22 Zulhijjah 1069 H/21 September 1658 M di kota kelahirannya di Kota Pelabuhan Ranir (Rander) Gujarat India. Sayang, tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti.

Ia seorang ulama besar, penulis, ahli fikir di India yang merantau dan menetap di Aceh. Ia lahir sekitar pertengahan ke dua abad ke-16. Pendidikan awalnya dalam masalah keagamaan ia peroleh di tempat kelahirannya sendiri.

Kemudian ia melanjutkan pendidikan ke Tarim, Yaman. Tarim adalah pusat studi ilmu agama pada masa itu. Setelah menunaikan ibadah haji dan ziarah ke makam Nabi saw. pada 1621 M (1030 H), ia kembali ke India.

Setelah kembali ke India dan mengajar, di samping sebagai Syekh Thariqah Rifa’iyyah ia merantau ke Nusantara dan memilih Aceh sebagai tempat menetap. Ia datang ke Aceh karena mengetahui Aceh menjadi pusat perdagangan, kebudayaan dan politik serta pusat studi agama Islam di kawasan Asia Tenggara menggantikan Malaka yang jatuh ke tangan Portugis.

Berkat kesungguhannya ia berhasil menjadi ulama besar yang berpengatahuan luas dan tercatat sebagai Syekh Thariqat Rifa’iyyah dan bermazhab Syafi’i. Hubungan baik Syekh Nuruddin dengan Sultan Iskandar Tsani di Aceh memberi peluang kepadanya untuk mengembangkan ajaran yang dibawanya.

Ia pernah menentang Paham Wujudiyah yang berkembang di Aceh pada masa itu. Untuk menyanggah Paham Wujudiyah yang dinilainya sesat itu ia sengaja menulis beberapa kitab.

Al Quraisyi pada laqab namanya menunjukkan bahwa ia berasal dari kabilah terhormat yaitu Quraisy. Ia berthariqah Rifa’iyyah menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara dirinya dengan Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani dan Abdurrauf Al-Fansuri. Sebab, semuanya sama-sama pengikut thariqah suffiyah dan bermazhab Imam Syafi’i.

4. Syekh Abdurrauf As-Singkili

Ia adalah salah satu dari empat ulama terkemuka yang pernah lahir di Aceh pada abad ke-17. Sedangkan tiga ulama lainnya adalah Syekh Hamzah Fansuri, Syekh Syamsuddin Sumatrani dan Syekh Nuruddin Ar-Raniry. Para ahli sejarah memperkirakan bahwa ia lahir sekitar 1615 M (1035 H) di Singkil yang terletak di ujung paling selatan pantai barat Aceh, sekampung dengan Syekh Hamzah Fansuri dan juga putera dari saudara Syekh Hamzah Fansuri sendiri.

Ia tumbuh dan berkembang sebagai calon ulama di Aceh pada masa negeri itu sedang berada dalam puncak kejayaan di bawah pimpinan sultannya yang terbesar, Sultan Iskandar Muda. Untuk memperdalam pengetahuan agamanya, ia berangkat ke Saudi Arabia sekitar tahun 1643 M (1064 H) pada saat negeri Aceh dipimpin oleh Sultanah Safiatuddin yang berada dalam kekacauan politik dan pertentangan paham keagamaan.

Syekh Abdurrauf tidak segera langsung menuju Mekkah, tapi terlebih dahulu bermukim pada banyak tempat yang menjadi pusat-pusat pendidikan agama di sepanjang jalur perjalanan haji. Setelah Ia sampai di Mekkah dan Madinah Ia melengkapi ilmu lahir (ilmu Al-Qur’an, tafsir, hadits, fiqh) yang telah dimilikinya dan dilengkapi pula dengan ilmu, yakni tasawuf dan thariqat.

Setelah belajar di Madinah pada Syekh Thariqah Syatthariyah Ahmad Al Qusyasyi (wafat 1661 M/ 1082 H) dan kemudian pada khalifah atau penggantinya Ibrahim al-Qur’ani, ia memperoleh ijazah dari pimpinan thariqah tersebut. Banyak guru-guru besar yang memberikan ijazah ilmu pengetahuan kepadanya selama 19 tahun menuntut ilmu. Ketika pulang ke Aceh, Syekh Abdurrauf menjadi ulama besar yang memiliki ilmu yang luas. Menurut perkiraan para ahli sekitar tahun 1662 M (1083 H), peranannya sebagai pengajar Thariqah Syatthariah telah dimulainya di Madinah, menjelang pulang ke Aceh.

Penulis: Budi Handoyo (Dosen STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Artikel

Karomah Sampai Wafatnya Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 3)

Published

on

Ilustrasi

Nasehat, Akhlak dan Karomah Syaikh an-Naqsyabandî

Di antara akhlak Syaikh an-Naqsyabandî adalah apabila menjenguk salah seorang temannya, pasti akan menanyakan kabar keluarga dan anak-anaknya serta menghiburnya dengan hiburan yang sepantasnya. Bukan hanya itu saja, Syaikh an-Naqsyabandî juga menanyakan apa yang berhubungan dengannya sampai bertanya tentang ayam-ayam peliharaannya. Ditampakkan rasa belas-kasihan kepada semuanya seraya berkata, “Abu Yazid al-Busthâmî sekembalinya dari laut berdzikir, melakukan hal seperti ini.”

Meski sangat sempurna dalam kezuhudannya, Syaikh an-Naqsyabandî senantiasa memberi dan mendahulukan orang lain. Bila ada orang memberinya, diterimanya. Lalu membalasnya dengan pemberian yang berlipat ganda. Demikian itu karena Syaikh an-Naqsyabandî mengikuti jejak Rasulullah Shalallu ‘Alaihi Wassalam yang sangat terkenal kedermawanannya. Keberkahan akhlaknya yang mulia ini menular kepada murid-muridnya.

Di antara karamahnya adalah sebagaimana yang telah disampaikan oleh Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar. Suatu ketika Syaikh ‘alâ`uddîn al-Aththar bersama dengan Syaikh an-Naqsyabandî. Ketika itu udara diliputi oleh mendung. Lalu Syaikh an-Naqsyabandî bertanya, “Apa waktu dzuhur sudah masuk?” Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar menjawab, “Belum” Lalu Syaikh an-Naqsyabandî berkata, “Keluarlah dan lihatlah langit.”

Lalu Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar keluar dan melihat ke atas langit. Tiba-tiba tersingkaplah hijab alam langit sehingga Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar dapat melihat seluruh malaikat di langit tengah melaksanakan shalat Dzuhur. Lalu Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar masuk dan langsung ditanya oleh Syaikh an-Naqsyabandî, “Bagaimana pendapatmu, bukankah waktu dzuhur tiba?”

Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar malu dibuatnya dan membaca istighfar dan sampai beberapa hari masih terbebani dengan kejadian tersebut.

Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar berkata, “Ketika Syaikh an-Naqsyabandî akan meninggal, aku dan yang hadir pada saat itu membaca surah Yasîn. Ketika bacaan surah Yasin sampai di tengah-tengah, tiba-tiba tampak seberkas cahaya menyinari seisi ruangan. Maka aku membaca kalimat laa ilaaha illa Allah, lalu Syaikh an-Naqsyabandî wafat.”

Wafatnya Syaikh an-Naqsyabandî

Syaikh an-Naqsyabandî wafat pada malam Senin tanggal 3 Rabi’ul awal tahun 791 Hijriyah. Kemudian dimakamkan di kebun miliknya yang memang sudah ditentukan oleh Syaikh an-Naqsyabandî sendiri. Para pengikutnya mem-bangun kubah di atas makamnya dan di kebunnya dibangun masjid yang luas.

Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh

Continue Reading

Artikel

Nasab Keilmuan dan Keturunan Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 2)

Published

on

Ilustrasi

Syaikh an-Naqsyabandî berguru ilmu tarekat kepada Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî kemudian kepada Sayyid ‘Amîr Kulâl. Sedangkan Sayyid ‘Amir Kulal berguru kepada Syaikh Muhammad Baba as-Sammâsî. Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî berguru kepada ‘Ali ar-Râmîtanî yang lebih dikenal dengan nama Syaikh al-‘Azîzân. Syaikh al-Azîzân berguru kepada Syaikh Mahmud al-‘Anjîr Faghnawî.

Syaikh Mahmud al-‘Anjîr Faghnawi berguru kepada Syaikh ‘Ârif ar-Rîwakirî yang berguru kepada Syaikh ‘Abdul Khalîq al-Ghuzduwânî yang berguru kepada Syaikh Abi Ya’qûb Yûsuf al-Hamadânî yang berguru kepada Syaikh Abi ‘Ali al-Fadhal bin Muhammad ath-Thusi al-Fâramadî yang berguru kepada Syaikh Abil Hasan ‘Ali bin Abi Ja’far al-Kharqânî.

Syaikh Abil Hasan ‘Ali berguru Kepada Abi Yazid Thaifur bin ‘Îsa al-Busthâmî yang berguru kepada Syaikh Imam Ja’far ash-Shâdiq yang berguru kepada kakeknya Sayyid al-Qâsim bin Muhammad bin Abi Bakar ash-Shiddiq yang dari Salmân al-Farîsî yang memperoleh dari Abi Bakar ash-Shiddîq yang memperoleh dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Syaikh an-Naqsyabandî juga berkata, “Di antara pertolongan Allah yang diberikan kepadaku adalah kopiah kakek guruku (Syaikh al-‘Azîzân) telah sampai kepadaku sehingga keadaanku semakin baik dan harapanku semakin kuat. Yang demikian itu membuatku dapat mengabdi kepada Sayyid ‘Amîr Kulâl dan memberi tahuku bahwa Syaikh as-Sammâsî mewasiatkan diriku kepadanya.”

Semakin hari Sayyid ‘Amîr Kulâl semakin memperhatikan dan bersungguh-sungguh dalam membimbingnya. Setelah bekal bimbingan yang diberikan dirasa sudah cukup, Sayyid ‘Amîr Kulâl berkata, “Wahai anakku, aku telah melaksanakan wasiat Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî untuk membimbingmu.”

Seraya menunjuk ke arah susunya, Sayyid ‘Amîr Kulâl berkata, “Engkau telah menyusu pendidikan kepadaku. Tingkat penyerapanmu terhadap apa yang aku ajarkan sangat tinggi dan keyakinanmu sangat kuat. Oleh karena itu, aku mengizinkan engkau mencari ilmu ke beberapa orang guru. Engkau dapat mengambil ilmu dari mereka sesuai dengan kemauanmu yang besar.”

“Sejak saat itu, aku terus menerus mendatangi ulama untuk memetik ilmu syariat dan mencari ilmu Hadis serta akhlak Rasulullah dan para sahabat sebagaimana telah diperintahkan kepadaku,” papar Syaikh an-Naqsyabandî.



Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending