Portal Berita & Informasi JATMAN

MENGENAL LEBIH DEKAT JATMAN

Apakah JATMAN itu?

JATMAN adalah singkatan dari Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah merupakan organisasi keagamaan sebagai wadah pengamal ajaran Thariqah Al Mu’tabarah yang menjadi Badan Otonom Organisasi Nahdlatul ‘Ulama dan merupakan salah satu pilar dari ajaran Islam ala Ahlussunah Wal Jamaah yang telah dirintis dan dikembangkan oleh para salafusshalihin yang bersumber dari Rasulullah Saw, Malaikat Jibril As dan petunjuk Allah Swt dengan sanad yang muttasil.

Bagaimana Hubungan JATMAN dengan Nandlatul Ulama?

Hubungan JATMAN  dengan Nahdlatul ‘Ulama ialah JATMAN sebagai salah satu badan otonom Nahdlatul Ulama diantara 12 bada otonom lainnya, yang berfungsi melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama pada pengikut Thariqah yang Mu’tabarah di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Ada Berapa Perangkat Organisasi Nahdlatul Ulama?

Perangkat organisasi Nahdlatul Ulama ada tiga, yaitu:

  1. Lembaga, yaitu perangkat departementasi organisasi Nahdlatul Ulama yang berfungsi sebagai pelaksana kebijakan Nahdlatul Ulama berkaitan dengan suatu bidang tertentu.
  2. Lajnah, yaitu perangkat organisasi Nahdlatul Ulama untuk melaksanakan program Nahdlatul Ulama ayng memerlukan penanganan khusus.
  3. Badan Otonom, yaitu perangkat organisasi Nahdlatul Ulama yang berfungsi melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama yang berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu dan beranggotakan perorangan.
Ada Berapa Lembaga dalam Organisasi Nahdlatul Ulama?

Lembaga dalam organisasi Nahdlatul Ulama ada 16 lembaga, meliputi:

  1. Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU),
    Bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang pengembangan Islam yang menganut faham Ahlussunah wal Jamaah.
  2. Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU),
    Bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang pendidikan dan pengajaran formal.
  3. Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU),
    Bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang pengembangan ekonomi warga Nahdlatul Ulama.
  4. Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPP NU),
    Bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang pengembangan pertanian, lingkungan hidup dan eksplorasi kelautan.
  5. Rabithah Ma’ahid Islamiah (RMI),
    Bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren.
  6. Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU),
    Bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang kesejahteraan keluarga, sosial dan kependudukan.
  7. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU),
    Bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang pengkajian dan pengembangan sumber daya manusia.
  8. Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU),
    Bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang pengembangan dan pemberdayaan masjid.
  9. Lembaga Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LBHNU),
    Bertugas melaksanakan penyuluhan dan pemberian bantuan hukum bagi warga masyarakat yang memerlukan bantuan atau perlindungan hukum.
  10. Lembaga Wakaf dan Pertanahan Nahdlatul Ulama (LWPNU),
    Bertugas mengurus, mengelola dan mengembangkan tanah dan bangunan serta harta benda wakaf lainnya milik Nahdlatul Ulama.
  11. Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU),
    Bertugas melaksanakan kebijakan di bidang kesehatan guna mewujudkan suatu tatanan masyarakat yang sehat jasmani dan sosial serta berkemampuan untuk memelihara dan menanggulangi kesehatannya secara optimal.
  12. Lembaga Zakat, Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU),
    Bertugas menghimpun, mengelola dan mentasharufkan zakat, infaq dan shadaqah. Berkhidmat memfasilitasi para muzakki/donatur untuk ikut berbagi dengan masyarakat yang kurang mampu.
  13. Lembaga Bahsul Masail (LBMNU),
    Bertugas membahas dan memecahkan masalah-masalah yang maudlu’iyah (tematik) dan waqi’iyah (aktual) yang memerlukan kepastian hukum.
  14. Lembaga Seniman dan Budayawan Muslim Indonesia (LESBUMI),
    Bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang pengembangan seni dan budaya, bertujuan memajukan seni dan kebudayaan.
  15. Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU),
    Sebagai bagian integral dari seluruh rakyat Indonesia yang tinggal disegenap penjuru nusantara. Nahdlatul Ulama merasa berkewajiban untuk melindungi seluruh rakyat dan bangsa dari berbagai ancaman, termasuk dari berbagai bencana alam dan perubahan iklim.
  16. Lembaga Pengembangan Aset Nahdlatul Ulama (LPANU),
    Sebagai institusi yang beranggotakan puluhan juta warga, Nahdlatul Ulama memiliki aset yang tidak terhingga di setiap level kepengurusan. Bertugas mengurusi aset-aset kebendaan Nahdlatul Ulama terkait dengan sertifikasi dan legalitas hukum.
Ada Berapa Lajnah dalam Organisasi Nahdlatul Ulama?

Lajnah dalam organisasi Nahdlatul Ulama ada dua, meliputi:

  1. Lajnah Falaqiyah Nahdlatul Ulama (LFNU), bertugas mengurus masalah hisab dan ru’yah serta pengembangan ilmu falaq.
  2. Lajnah Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNU), bertugas mengembangkan penulisan, penerjemahan dan penerbitan kitab/buku serta media informasi menurut faham Ahlussunah wal Jamaah.
Ada Berapa Badan Otonom dalam Organisasi Nahdlatul Ulama?

Badan Otonom dalam organisasi Nahdlatul Ulama ada 12, meliputi:

  1. Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (JATMAN),
    Badan otonom yang berfungsi membantu melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama pada pengikut thariqah yang mu’tabar di lingkungan Nahdlatul Ulama serta membina dan mengembangkan seni hadrah.
  2. Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz,
    Badan otonom yang berfungsi membantu melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama pada kelompok qari/qariah dan hafidz/hafidzah di lingkungan Nahdlatul Ulama, bertujuan melahirkan generasi qur’ani.
  3. Muslimat Nahdlatul Ulama,
    Badan otonom yang berfungsi membantu melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama pada anggota perempuan Nahdlatul Ulama. Bertujuan mewujudkan masyarakat Indonesia khususnya perempuan yang sadar beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bertaqwa kepada Allah Swt.
  4. Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor),
    Badan otonom yang berfungsi membantu melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama pada anggota Nahdlatul Ulama
  5. Fatayat Nahdlatul Ulama,
    Badan otonom yang berfungsi membantu melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama pada anggota perempuan muda Mahdlatul Ulama. Bertujuan membentuk pemudi atau wanita muda Islam yang bertaqwa kepada Allah Swt, berakhlakul karimah, bermoral, cakap, bertanggungjawab, berguna bagi agama, nusa dan bangsa.
  6. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU),
    Badan otonom yang berfungsi membantu melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama pada pelajar laki-laki dan santri laki-laki. Mempunyai misi mengembangkan potensi generasi muda melalui ranah pendidikan guna mewujudkan pelajar bangsa yang berprestasi, berkepribadian, berwawasan kebangsaan dan siap menjadi pemimpin yang dapat membawa perubahan Indonesia kepada kondisi yang dicita-citakan, religius, makmur dan sejahtera.
  7. Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU),
    Badan otonom yang berfungsi membantu melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama pada pelajar perempuan dan santri perempuan. Mempunyai misi mengembangkan potensi perempuan muda melalui ranah pendidikan guna mewujudkan perempuan bangsa yang berprestasi, berkepribadian, berwawasan kebangsaan dan siap menjadi pemimpin yang dapat membawa perubahan Indonesia kepada kondisi yang dicita-citakan, religius, makmur dan sejahtera.
  8. Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU),
    Badan otonom yang berfungsi membantu melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama pada kelompok sarjana dan kaum intelektual di kalangan nahdlatul Ulama. Memiliki fungsi sebagai motivator dan pembaharu dalam pengembangan konsep-konsep perjuangan Nahdlatul Ulama sebagai wadah intelektual untuk terus meningkatkan dan memberdayakan masyarakat, baik dalam hal pemberdayaan maupun dalam pengembangan wacana.
  9. Pagar Nusa,
    Badan otonom yang berfungsi membantu melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama pada pengembangan seni bela diri. Mengusahakan pelestarian, pembinaan dan pengembangan pencak silat baik seni bela diri, mental spiritual maupun olahraga / kesehatan khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama maupun di lingkunan masyarakat lainnya.
  10. Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU),
    Badan otonom yang beranggotakan para tenaga pendidik di bawah kepengurusan Nahdlatul Ulama yang berkedudukan di semua level kepengurusan. Senantiasa memperjuangkan nasib para tenaga pengajar di dunia pendidikan, khususnya para guru agama dan para guru swasta di lingkungan Nahdlatul Ulama agar dapat diperhatikan nasibnya dan ditingkatkan kesejahteraan ekonominya.
Kapan JATMAN didirikan?

JATMAN didirikan pada atanggal 16 Rabi’ul Awal 1377 H, bertepatan dengan tanggal 10 Oktober 1957 M di Ponpes Tegalrejo Magelang Jawa Tengah, disahkan oleh Muktamar Nahdlatul Ulama XXVI di Semarang bulan Rajab 1399H, bertepatan bulan Juni 1979 M sebagai badan Otonomi Jam’iyyah Nahdlatul Ulama dengan Surat Keputusan PBNU Nomor :  137/Syur.PB/V/1980.

Siapa Pendiri JATMAN?

Tokoh pendiri JATMAN ialah:
KH Abdul Wahab Hasbullah
KH Bisri Syamsuri
KH Idham Cholid
KH Masykur
KH Muslih
KH Nawawi

Mengapa JATMAN Diperlukan?

JATMAN diperlukan:
Sebagai wadah pengamal ajaran Thariqah Al Mu’tabarah yang merupakan salah satu pilar dari ajaran Islam Ala Ahlussunah wal Jamaah yang telah dirintis dan dikembangkan oleh para salafus shalihin, yang bersumber dari Rasulullah Saw, Malaikat Jibril ‘Alaihis Salam atas petunjuk Allah Swt dengan sanad yang muttasil.

JATMAN merupakan suatu sarana bagi para Mursyidin/Khalifah, untuk lebih mengefektifkan pembinaan terhadap murid yang telah berbaiat sekaligus sebagai forum untuk menjalin ukhuwah antar sesama penganut ajaran Thariqah dalam rangka meningkatkan kualitas keimanan, ketaqwaan dan keihklasan di dalam amaliyah ubudiyah serta meningkatkan rabithah terhadap guru Mursyid/Khalifah.

Apa Asas dan Tujuan JATMAN?

Asas JATMAN ialah Islam Ala Ahlussunah wal Jamaah dengan menganut salah satu dari madzhab 4: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali dalam bidang fiqihl mengantu ajaran Al Asy’ariyah dan Al Maturidiyah dalam bidang aqidah dan menganut faham Al Khusyairi, Hasan Al Basri, Juned Al Baghdadi dan Al Ghazali dan sesamanya dalam bidang Tasawuf/Thariqah.

Tujuan JATMAN:
Mengupayakan berlakunya Syari’at Islam Ala Ahlussunah wal Jamaah secara konsisten dalam bidang syari’at, Thariqah, Hakikat dan Ma’rifat di tengah masyarakat dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menyebarluaskan dan mengembangkan ajaran Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah melalui kegiatan-kegiatan khususiyyah Thariqiyyah/Tawajjuhan.

Mengembangkan, mempercepat, mempergiat dan memelihara ukhuwah Thariqah An Nahdliyyah sesama pengamal Thariqah dan meningkatkan ilmu nafi’ dan amal shalih dhahir dan batin menurut Ulama Shalihin dengan bai’at yang shahih.

Bagaimana Usaha JATMAN di Bidang Agama?

Di bidang agama, JATMAN berusaha mensyi’artkan dan mempergiat pelaksanaan ajaran Islam utamanya mu’taqad dalam Islam menurut faham Ahlussunah wal Jamaah.

Bagaimana Usaha JATMAN di Bidang Akhlak?

Di bidang akhlak, JATMAN berusaha mengembangkan Takhalli, Tahalli dan Tajalli dalam rangka tercapainya akhlaqul karimah.

Bagaimana Usaha JATMAN di Bidang Ukhuwah?

Di bidang ukhuwah Islamiyyah, JATMAN berusaha mempercepat dan memperkuat tali persaudaraan sesama penganut dan pengamal ajaran thariqah utamanya hubungan antara Mursyid/Muqaddam, Khalifah, Badal dan Muridin/Muridat.

Bagaimana Usaha JATMAN di Bidang Thariqah?

Di bidang thariqah, JATMAN berusaha tercapainya Asy Syari’atul Gharra wath Thariqathul Baidlo’, yakni syari’at Islamiyyah dan thariqah Muttasil sanaduha ila Rasulillah Shalallahu Alaihi Wasallam.

Bagaimana Usaha JATMAN di Bidang Sosial?

Di bidang sosial, JATMAN berusaha meningkatkan amar ma’ruf dan nahi munkar kepada umat dengan hikmah dan mau’idlah hasanah serta menghindari upaya kekerasan.

Bagaimana Usaha JATMAN di Bidang Wathaniyah?

Di bidang wathaniyah, JATMAN berusaha meningkatkan kecintaan tanah air, menjaga tetap tegaknya negara Kesatuan Republik Indonesia.

KEANGGOTAAN

Siapa yang dapat diterima sebagai Anggota JATMAN?

Setiap muslim yang berfaham Ahlussunnah wal Jama’ah, dapat menjadi anggota dengan
ketentuan:

  1. Sudah mubaya’atidz dzikir dihadapan guru Mursyid/Muqaddam atau yang sudah dapat
    diperkenankan mem-Bai’at.
  2. Menyatakan persetujuan akan asas dan tujuan serta sanggup menaati PD-PRT Jam’iyyah
    Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah.
Bagaimana Kewajiban Anggota JATMAN?

Anggota JATMAN wajib:

  1. Taat, patuh kepada Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah.
  2. Mendukung dan membantu segala langkah dan merealisasikan tujuan dan usaha
    Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah.
  3. Berakhlak karimah seperti sifat syafaqah, rahmah kepada bawahan dan bersifat tauqier
    (ta’dzim) hormat kepada atasan serta ber-ta’awun ‘alal birri wattaqwa wal ihsan lil
    ahya’ wal amwat.
  4. Memberi infaq kepada Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah.
Bagaimana Hak Anggota JATMAN?

Anggota JATMAN berhak:

  1. Menghadiri rapat-rapat anggota dan mengemukakan pendapat serta memberi suara.
  2. Memilih dan dipilih menjadi anggota Idarah atau jabatan lain yang ditetapkan baginya.
  3. Mengunjungi ceramah-ceramah, kursus-kursus dan pengajaran-pengajaran atau
    pengajian-pengajian khusus yang diselenggarakan Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al
    Mu’tabarah An Nahdliyyah.
  4. Memberikan peringatan dan koreksi kepada idarah dengan cara dan tujuan baik.
  5. Mendapat pembelaan dan pelayanan dari Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An
    Nahdliyyah.
Bagaimana Ketentuan Anggota JATMAN?

Anggota JATMAN tidak diperbolehkan merangkap menjadi anggota organisasi lain yang
mempunyai asas dan tujuan yang bertentangan dengan asas dan tujuan Jam’iyyah, serta berjiwa
guru, yakni mengajar atau berjiwa murid yakni belajar dalam lapangan Thariqah masing-masing.

Bagaimana Anggota JATMAN Bisa Berhenti?

Anggota JATMAN bisa berhenti karena:

  1. Mengundurkan diri atas permintaan sendiri dengan alasan yang wajar dan dapat
    diterima.
  2. Diberhentikan karena berbuat sesuatu yang mencemarkan agama Islam atau Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah atau melanggar disiplin anggota.

KEPENGURUSAN / IDARAH

Bagaimana Syarat Menjadi Pengurus JATMAN?

Syarat menjadi pengurus JATMAN:

  1. Telah berbaiat kepada salah satu aliran Thariqah.
  2. Menyatakan kesediaan secara tertulis atau lisan untuk duduk pada kepengurusan dan
    menandatangani baiat sebagai pengurus.
Bagaimana Kewajiban Pengurus JATMAN?

Kewajiban menjadi Pengurus JATMAN:

  1. Menaati ajaran Thariqah
  2. Menaati Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT)
  3. Menjalankan kewajiban sesuai dengan kedudukan dan jabatan
  4. Memenuhi kewajiban sesuai dengan baiatnya sebagai pengurus.
Bagaimana Sanksi bagi Pengurus yang Melanggar Aturan?

Setiap Pengurus yang melanggar atau tidak menaati kewajiban di atas akan dikenakan sanksi
sebagai berikut:

  1. Peringatan lisan
  2. Peringatan tertulis
  3. Pemberhentian dengan hormat
  4. Pemberhentian dengan tidak hormat

PENGELOLAAN ORGANISASI

Bagaimana Struktur Organisasi JATMAN?

Struktur Organisasi JATMAN terdiri dari:

  1. Idarah Aliyah untuk tingkat pusat
  2. Idarah Wustha untuk tingkat Provinsi/Daerah Istimewa/Daerah Khusus
  3. Idarah Syu’biyyah untuk tingkat Kabupaten/Kota
  4. Idarah Ghusniyyah untuk tingkat Kecamatan
  5. Idarah Sa’afiyyah untuk tingkat Desa atau Kelurahan. Yang terdiri dari Majelis Ifta’, Ifadliyyah, Imdla’iyyah dan Imdadiyyah.
Apa yang dimaksud Majlis Ifta’?

Majelis Ifta’ Thariqah adalah badan tertinggi dalam Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An
Nahdliyyah yang anggotanya terdiri dari para mursyid dari masing-masing Thariqah Al
Mu’tabarah An Nahdliyyah se-Indonesia, secara Ex of Oficio Rais Am sebagai Ketua Majelis Ifta’.
Keputusan Majelis Ifta’ mengikat secara organisatoris bagi Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al
Mu’tabarah An Nahdliyyah dalam semua tingkatan.

Majelis Ifta’ dapat meninjau keputusan hasil muktamar, atau musyawarah atau keputusan
idarah apabila dipandang berlawanan dengan kaidah-kaidah Thariqiyah. Majelis Ifta’ memiliki
kewenangan untuk meneliti dan membatalkan keberadaan Mursyid Badal / Khalifah maupun
aliran-aliran thariqah yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah Thariqah Al Mu’tabarah. Majelis
Ifta’ dibentuk pada setiap tingkatan Idarah, mulai Idarah Aliyah sampai Idarah Ghusniyyah.

Apa yang dimaksud Ifadliyyah?

Ifadliyyah adalah lembaga di bawah Majelis Ifta’ yang bertugas untuk memberikan pengarahan
dan pengawasan dalam bidang Thariqiyah serta garis-garis kebijakan kepada Imdlaiyyah dan
Imdadiyah.

Apa yang dimaksud Imdlaiyyah?

Imdlaiyyah adalah badan eksekutif (pelaksana) harian Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah
An Nahdliyyah.

Apa yang dimaksud Imdadiyyah?

Imdadiyyah adalah badan pembantu untuk melancarkan program Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al
Mu’tabarah An Nahdliyyah.

Apa yang dimaksud dengan MATAN?

MATAN adalah singkatan Mahasiswa Ahlith Thariqah An Nahdliyyah, dideklarasikan pada
tanggal 9-11 Oktober 2009 / 20-22 Syawal 1430 H di gedung Kanzus Shalawat, Jalan Wahidin 70,
Pekalongan, Jawa Tengah, oleh Idarah Aliyah JATMAN.

Tujuan MATAN:

  1. Menumbuhkan semangat nasionalisme dan wawasan kebangsaan di kalangan
    mahasiswa
  2. Membendung laju dan tumbuh suburnya gerakan ekstrimis di lingkungan Perguruan
    Tinggi Indonesia
  3. Mengisi ruang-ruang batin yang kosong dari spiritual di lingkungan mahasiswa.

MENGENAL TINGKATAN-TINGKATAN IDARAH

Bagaimana Idarah Aliyyah?
  1. Idarah Aliyah adalah pucuk Pimpinan (Pengurus Pusat) Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah.
  2. Idarah Aliyah dipilih untuk masa jabatan 5 (lima) tahun oleh Muktamar Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah.
  3. Idarah Aliyah mempunyai susunan Idarah (Pengurus) sebagai berikut:
    • Majlis Ifta’ terdiri dari perwakilan Mursyid pada masing-masing aliran yang ada di Indonesia
    • Ifadliyyah
    • Imdloiyyah
  4. Kewajiban Idarah Aliyah
    • Melaksanakan keputusan/keputusan / amanat Muktamar dan Keputusan Musyawaran Kubro termasuk melaksanakan asas dan tujuan PD / PRT Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah dan melaksanakan program kerja serta melaksanakan dan menindaklanjuti / menyampaikan rekomendasi dan memantau realisasinya.
    • Memberikan bimbingan, pimpinan dan petunjuk serta kebijaksanaan kepada semua Idarah baik Idarah Wustha, Idarah Syu’biyyah, Idarah Ghusniyyah maupun Idarah Sa’afiyyah baik dengan rapat, instruksi, juklak pelaksanaan tugas, dan lain sebagainya.
    • Menyelenggarakan Muktamar dan Musyawarah Kubro dengan membentuk panitia dan membuat rancangan tata tertib Muktamar dan Musyawarah Kubro, serta menyiapkan materi Muktamar, Musyawarah Kubro dan mengundang pesertanya.
  5. Hak Idarah Aliyah
    • Membuat peraturan-peraturan dan instruksi-instruksi serta juklak yang tidak bertentangan dengan Peraturan Rumah Tangga Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah.
    • Mengusahakan berdirinya Idarah Wustha dan Idarah Syu’biyyah di daerah-daerah yang dipandang perlu untuk mengangkat dan mengesahkan ke-Idarahannya.
    • Mengangkat, memberhentikan dan menonaktifkan anggota Idarah bawahannya sampai dengan berhak membubarkan ke-Idarahannya sesudah musyawarah bersama.
Bagaimana Idarah Wustha?
  1. Di dalam daerah propinsi atau daerah istimewa dan daerah khusus ibukota dan atau daerah yang disamakan, dapat didirikan Idarah Wustha Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah, apabila sekurang-kurangnya sudah terbentuk 5 (lima) Idarah Syu’biyyah untuk se Jawa-Madura dan  3 (tiga) Idarah Syu’biyyah dan pengesahan Idarah Wustha disampaikan kepada Idarah Aliyah dengan masa persiapan satu bulan.
  2. Idarah Wustha mempunyai susunan Idarah (Pengurus) sebagai berikut:
    • Majlis Ifta’ terdiri dari para Mursyid yang ada pada wilayah Kabupaten sekurang-kurangnya terdiri dari 7 (tujuh) orang apabila dalam satu kecamatan tidak terdapat Mursyid dari aliran Thariqah tertentu, sementara di wilayah tersebut terdapat pengamal alirah Thariqah Al Mu’tabarah tersebut maka kedudukannya dapat diisi oleh seorang ulama yang telah berbai’at pada aliran Thariqah itu.
    • Ifadliyyah
    • Imdhoiyyah
  3. Idarah Wustha dipilih untuk masa jabatan 5 (lima) tahun oleh musyawarah Idarah Wustha dan disahkan oleh Idarah Aliyyah.
  4. Idarah Wustha berhak:
    • Membuat keputusan / peraturan kebijaksanaan yang tidak bertentangan dengan PD / PRT
    • Memberikan sumbangan pikiran dan pendapat kepada Idarah Aliyyah demi kemajuan Jam’iyyah Ahlith Thariqah dengan cara sebaik-baiknya.
    • Memperingatkan dan meminta pertanggungjawaban atas kebijaksanaan yang ditempuh oleh Idarah Aliyah dengan cara bijaksana.
  5. Idarah Wustha mempunyai kewajiban:
    • Harus taat dan setia kepada Idarah Aliyah.
    • Memimpin, mengawasi, mengusahakan dan menjalankan atas terlaksananya asas dan tujuan Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah.
    • Memberi laporan kepada Idarah Aliyah tentang kegiatan dan perkembangan serta hal-hal yang berkaitan dengan Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah.
    • Menyelenggarakan pengajian khusus (Thariqah) atau umum (Syari’ah) atau semacamnya (istighatsah) dan lain sebagainya.
    • Menampung semua penganut bermacam-macam Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah di daerahnya.
    • Melindungi Thariqah yang ada di daerahnya dan mewaspadai di daerahnya agar tidak kemasukan Thariqah Bathiliyyah.
    • Mengadakan pendekatan-pendekatan kepada orang yang mengaku guru Thariqah Mu’tabarah yang dianggap belum memenuhi syarat, dengan cara-cara yang bijaksana.
    • Membina Idarah Syu’biyyah maupun Idarah Ghusniyyah dalam wilayah kerjanya.
    • Berusaha melaksanakan keputusan Muktamar maupun instruksi dari Idarah Wustha maupun Idarah Aliyah.
Bagaimana Idarah Syu’biyyah?
  1. Dalam suatu daerah baik Kabupaten atau Kota dapat didirikan Idarah Syu’biyyah, apabila sudah berdiri sedikit-sedikitnya 3 (tiga) Idarah Ghusniyyah untuk Jawa-Madura dan 2 (dua) Idarah Ghusniyyah untuk di luar Jawa.
  2. Permohonan untuk mendirikan Idarah Syu’biyyah disampaikan kepada Idarah Aliyah setelah mendapat rekomendasi dari Idarah Wustha yang bersangkutan.
  3. Idarah Syu’biyyah mempunyai susunan Idarah (pengurus) sebagai berikut:
    • Majelis ifta’ terdiri dari para mursyid yang ada pada wilayah Kabupaten/Kota sekurang-kurangnya terdiri dari 6 (enam) orang, apabila dalam satu Kabupaten/Kota tidak terdapat Mursyid dari aliran Thariqah tertentu, sementara di wilayah tersebut terdapat pengamal aliran Thariqah Al Mu’tabarah tersebut maka kedudukannya dapat diisi oleh seorang ulama yang telah berbai’at pada aliran thariqah itu
    • Ifadliyyah
    • Imdloiyyah
  4. Idarah Syu’biyyah dipilih untuk masa jabatan 4 (empat) tahun oleh musyawarah syu’biyyah dan disahkan oleh Idarah Aliyah setelah mendapat rekomendasi dari Idarah Wustha yang bersangkutan.
  5. Kewajiban Idarah Syu’biyyah:
    • Harus taat dan setia kepada Idarah yang lebih tinggi (Idarah Wustha/Idarah Aliyah).
    • Memimpin, mengawasi, mengusahakan dan menjalankan atas terlaksananya aqidah, asas dan tujuan Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah.
    • Memberi laporan kepada Idarah Wustha dan Idarah Aliyah tentang kegiatan dan perkembangan serta hal-hal yang berkaitan dengan Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah.
    • Menyelenggarakan pengajian khusus (Thariqah) atau umum (Syari’ah) atau semacamnya (istighotsah) dan lain sebagainya.
    • Menampung semua penganut bermacam-macam Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah.
    • Melindungi Thariqah yang ada di daerahnya dan mewaspadai di daerahnya agar tidak kemasukan Thariqah Bathiliyyah.
    • Mengadakan pendekatan-pendekatan kepada orang yang mengaku guru
      Thariqah Mu’tabarah yang dianggap belum memenuhi syarat, dengan cara-cara
      yang bijaksana.
    • Membina Idarah Ghusniyyah maupun Idarah Sa’afiyyah dalam wilayah
      kerjanya.
  6. Idarah Syu’biyyah berhak:
    • Mengusulkan pengangkatan/pemberhentian anggotanya kepada Idarah Aliyah lewat Idarah Wustha.
    • Membuat keputusan/peraturan tidak bertentangan dengan PD/PRT.
    • Meminta pertanggung jawaban kepada Idarah yang lebih tinggi dan menegurnya apabila Idarah dimaksud melalaikan kewajibannya dengan cara sebaik-baiknya.
Bagaimana Idarah Ghusniyyah?
  1. Dalam suatu kecamatan dapat didirikan Idarah Ghusniyyah, apabila sudah berdiri sedikit-sedikitnya 3 (tiga) Idarah Sa’afiyyah untuk Jawa-Madura dan 2 (dua) Idarah Sa’afiyyah untuk di luar Jawa.
  2. Permohonan untuk mendirikan Idarah Ghusniyyah dilaksanakan oleh Idarah Syu’biyyah yang bersangkutan.
  3. Idarah Ghusniyyah mempunyai susunan Idarah (pengurus) sebagai berikut:
    • Majelis ifta’ terdiri dari para mursyid yang ada pada wilayah Kecamatan sekurang-kurangnya terdiri dari 5 (lima) orang, apabila dalam satu kecamatan tidak terdapat Mursyid dari aliran Thariqah tertentu, sementara di wilayah tersebut terdapat pengamal aliran Thariqah Al Mu’tabarah tersebut maka kedudukannya dapat diisi oleh seorang ulama yang telah berbai’at pada aliran thariqah itu.
    • Ifadliyyah
    • Imdloiyyah
  4. Idarah Ghusniyyah dipilih untuk masa jabatan 4 (empat) tahun oleh musyawarah Ghusniyyah dan tembusannya disampaikan kepada Idarah Wustha yang bersangkutan dan Idarah Aliyah.
  5. Kewajiban Idarah Ghusniyyah:
    • Taat dan setia kepada Idarah yang lebih tinggi.
    • Mengusahakan terlaksananya asas dan tujuan Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah.
    • Melaksanakan kebijaksanaan Idarah yang diatas.
    • Selalu mengawasi dan menyelidiki wilayahnya agar tidak kemasukan Thariqah Bathiliyyah dengan cara yang bijaksana.
    • Laporan tentang kegiatan dan perkembangan dengan Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah serta hal-hal lain kepada Idarah di atasnya.
  6. Hak Idarah Ghusniyyah:
    • Membuat keputusan dan ketentuan yang tidak bertentangan PD/PRT.
    • Menghadiri musyawarah/pertemuan yang diselenggarakan oleh Idarah Syu’biyyah.
Bagaimana Idarah Sa’afiyyah?
  1. Dalam suatu Desa atau kelurahan apabila terdapat anggota Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah sedikitnya 15 orang maka dapat didirikan Idarah Sa’afiyyah untuk Jawa-Madura dan 9 orang untuk luar Jawa.
  2. Idarah Sa’afiyyah mempunyai susunan sebagai berikut:
    • Ifadliyyah
    • Imdloiyyah
    • Imdadiyyah dibentuk sesuai dengan kebutuhan sekurang-kurangnya terdiri dari 2 (dua) badan.
  3. Idarah Sa’afiyyah dipilih untuk masa jabatan 3 (tiga) tahun oleh rapat anggota yang disahkan oleh Idarah Syu’biyyah dengan rekomendasi Idarah Ghusniyyah.
  4. Kewajiban Idarah Sa’afiyyah:
    • Taat kepada Idarah yang lebih tinggi.
    • Mengusahakan terlaksananya asas dan tujuan Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah.
    • Menyampaikan laporan tentang kegiatan dan perkembangan dengan Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah kepada Idarah yang lebih tinggi.
    • Mendaftar anggota di dalam buku induk.
    • Memberi bimbingan dan perlindungan kepada seluruh anggotanya.
  5. Hak Idarah Sa’afiyyah:
    • Membuat keputusan dan ketentuan yang tidak bertentangan PD/PRT.
    • Menghadiri musyawarah/pertemuan yang diselenggarakan oleh Idarah Ghusniyyah dan Idarah Syu’biyyah.
Bagaimana Ketentuan Berhenti dari Anggota Idarah?

Anggota idarah berhenti disebabkan:

  1. Meninggal dunia.
  2. Atas permintaan sendiri dengan alasan wajar dan dapat diterima.
  3. Tidak dapat menjalankan tugas atau telah melalaikan tugasnya sebagai idarah.
  4. Diberhentikan karena perbuatannya yang menodai atau mencemarkan agama Islam/Jam’iyyah/melanggar disiplin anggota.
  5. Habis masa jabatannya/demisioner.

PERMUSYAWARATAN JATMAN

Bagaimana Tingkatan-tingkatan Permusyawaratan JATMAN?

Permusyawaratan di dalam Jami’iyyah Thariqah Nahdliyyah terdiri atas:

  1. Muktamar
  2. Musyawarah Kubro
  3. Musyawarah Idarah Wustha
  4. Musyawarah Idarah Syu’biyyah
  5. Musyawarah Idarah Ghusniyyah
  6. Musyawarah Idarah Sa’afiyyah
  7. Musyawarah Kerja Idarah Wustha
  8. Musyawarah Kerja Idarah Syu’biyyah
  9. Musyawarah Kerja Idarah Ghusniyyah
  10. Musyawarah Kerja Idarah Sa’afiyyah
Bagaimana Ketentuan Muktamar JATMAN?
  1. Muktamar selambat-lambatnya diadakan 5 tahun sekali.
  2. Peserta Muktamar terdiri dari Idarah Aliyah, Idarah Wustha, Idarah Syu’biyyah dan undangan khusus.
  3. Muktamar dianggap sah apabila dihadiri oleh sekurang-kurangnya seperdua lebih satu dari jumlah Idarah yang ada.
  4. Muktamar diatur dengan tata tertib dan peraturan tersendiri.
  5. Undangan Muktamar dikeluarkan oleh Idarah Aliyah.
  6. Pelaksanaan Muktamar oleh Idarah Aliyah, dilakukan oleh panitia yang dibentuk oleh Idarah Aliyah.
  7. Segala materi Muktamar dibuat oleh Idarah Aliyah.
Bagaimana Ketentuan Musyawarah Kubro JATMAN?
  1. Musyawarah Kubro diadakan minimal antara dua Muktamar.
  2. Peserta Musyawarah Kubro terdiri dari Idarah Aliyah, Idarah Wustha dan undangan khusus.
  3. Musyawarah Kubro dianggap sah apabila dihadiri oleh sekurang-kurangnya seperdua lebih satu dari jumlah yang ada.
  4. Musyawarah Kubro diatur dengan tata tertib dan peraturan tersendiri.
  5. Undangan Musyawarah Kubro dikeluarkan oleh Idarah Aliyah.
  6. Pelaksanaan Musyawarah Kubro dilakukan oleh panitia yang dibentuk oleh Idarah Aliyah, dilakukan oleh panitia yang dibentuk oleh Idarah Aliyah.
  7. Segala materi Musyawarah Kubro dibuat oleh Idarah Aliyah.
Bagaimana Wewenang Musyawarah Idarah Wustha?
  1. Musyawarah Idarah Wustha berwenang:
    • Menilai Laporan pertanggungjawaban Idarah Wustha.
    • Membahas Masa’il Diniyyah terutama Thariqiyyah.
    • Menentapkan keputusan-keputusan yang dianggap perlu.
    • Menentapkan/memilih Idarah Wustha, yang dipimpin oleh Idarah Aliyah.
  2. Rancangan Materi Idarah Wustha termasuk peraturan tata tertibnya disiapkan oleh Idarah Wustha.
  3. Musyawarah Idarah Wustha dipimpin oleh Idarah Wustha yang bersangkutan.
Bagaimana Wewenang Musyawarah Idarah Syu'biyah?
  1. Musyawarah Idarah Syu’biyyah berwenang:
    • Menilai Laporan pertanggungjawaban Idarah Syu’biyyah.
    • Membahas Masa’il Diniyyah terutama Thariqiyyah.
    • Menentapkan keputusan-keputusan yang dianggap perlu.
    • Menentapkan/memilih Idarah Syu’biyyah, yang dipimpin oleh Idarah Wustha.
  2. Rancangan Materi Musyawarah Idarah Syu’biyyah dan tata tertibnya disiapkan oleh Idarah Syu’biyyah.
  3. Musyawarah Idarah Syu’biyyah dipimpin oleh Idarah Syu’biyyah yang bersangkutan.
Bagaimana Wewenang Musyawarah Idarah Gusniyyah?
  1. Musyawarah Idarah Ghusniyyah berwenang:
    • Menilai Laporan pertanggungjawaban Idarah Ghusniyyah.
    • Membahas Masa’il Diniyyah terutama Thariqiyyah.
    • Menentapkan keputusan-keputusan yang dianggap perlu.
    • Menentapkan/memilih Idarah Ghusniyyah, yang dipimpin oleh Idarah Syu’biyyah.
  2. Rancangan Materi Musyawarah Idarah Ghusniyyah dan tata tertibnya disiapkan oleh Idarah Ghusniyyah.
  3. Musyawarah Idarah Ghusniyyah dipimpin oleh Idarah Ghusniyyah yang bersangkutan.
Bagaimana Wewenang Musyawarah Idarah Sa’afiyyah?
  1. Musyawarah Idarah Sa’afiyyah berwenang:
    • Menilai Laporan pertanggungjawaban Idarah Sa’afiyyah.
    • Membahas Masa’il Diniyyah terutama Thariqiyyah.
    • Menentapkan keputusan-keputusan yang dianggap perlu.
    • Menentapkan/memilih Idarah Sa’afiyyah, yang dipimpin oleh Idarah Ghusniyyah.
  2. Rancangan Materi Musyawarah Idarah Sa’afiyyah dan tata tertibnya disiapkan oleh Idarah Sa’afiyyah.
  3. Musyawarah Idarah Sa’afiyyah dipimpin oleh Idarah Sa’afiyyah yang bersangkutan.
Bagaimana Tentang Hak Suara?
  1. Idarah Aliyah, Idarah Wustha dan Idarah Syu’biyyah masing-masing mempunyai satu suara dalam muktamar.
  2. Idarah Wustha dan Idarah Syu’biyyah masing-masing mempunyai satu suara dalam Musyawarah Idarah Wustha.
  3. Idarah Syu’biyyah dan Idarah Ghusniyyah masing-masing mempunyai satu suara dalam Musyawarah Idarah Syu’biyyah.
  4. Idarah Ghusniyyah dan Idarah Sa’afiyyah masing-masing mempunyai satu suara dalam Musyawarah Idarah Ghusniyyah.
  5. Dalam Musyawarah Idarah Sa’afiyyah masing-masing anggota mempunyai hak suara.

LAMBANG

Bagaimana Susunan dan Bagian-bagian Lambang JATMAN?

Lambang JATMAN terdiri atas 4 susunan warna dan 7 bagian, yaitu:

  1. Susunan warna hijau,
  2. Susunan warna hitam,
  3. Susunan warna putih,
  4. Susunan warna biru

Kemudian 7 bagaian sebagai berikut:

  1. Bintang sembilan,
  2. Tampar melingkar,
  3. Kitab ditumpuk berdiri
  4. Ka’bah di tengah berdiri tegak,
  5. Kapal / perahu besar,
  6. Lautan bergelombang,
  7. Tulisan huruf Arab.
Bagaimana Isi dan Bentuk Lambang serta Warna Lambang JATMAN?

Lambang Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah terdapat:

  1. Bintang sembilan diluar tampar dan terletak di atas kapal, 5 buah dan yang atas sendiri paling besar, serta di bawah kapal 4 buah, yang mana bintang sembilan tersebut berwarna putih.
  2. Tampar berwarna putih melingkar di dalam bintang sembilan dan diikat wangsal dengan tidak erat.
  3. Kitab sebanyak 45 buah ditumpuk berdiri melingkari ka’bah dan berada di bawah tampar, kapal di atas dan berwarna hitam putih.
  4. Ka’bah berdiri tegak dan di tengah-tengah, serta kelihatan pintunya, dan berwarna hitam diatas dasar putih.
  5. Kapal / perahu besar berwarna itam berada di atas lautan, yang ditengahnya dituliskan “JAM’IYYAH AHLITH THARIQAH” dengan huruf Arab berwarna putih.
  6. Lautan bergelombang dan berwarna hitam biru dan berada di bawah kapal/perahu besar.
  7. Tulisan “AL MU’TABARAH AN NAHDLIYYAH” dengan huruf Arab berbentuk melengkung, berwarna putih di atas dasar hijau dan berada dibawah lautan.
Apa Arti Warna dan Bagian Lambang JATMAN?

Di dalam lambang Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah terdapat 4 warna:

  1. Warna Hijau, warna hijau sebagai dasar yang mempunyai arti hidup dan berkembang.
    Maksudnya: bahwa Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah adalah hidup dan berkembang di mana-mana daerah / kota maupun desa, untuk menuju Ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  2. Warna Hitam, warna hitam terdapat pada Kitab, Ka’bah dan Kapal/perahu yang mempunyai arti; Teguh, Abadi dan Istiqamah.
    Maksudnya: bahwa pengikut-pengikut Thariqah Mu’tabarah Nahdliyyah selalu berusaha meningkatkan  keteguhan Iman dan Islam, mengabdikan Amal Shalih dan pembangunan serta Istiqamah ‘ala tha’atil-Lah wa tha’atir-Rasul wa ‘ulil Amri.
  3. Warna Putih, warna putih terdapat pada bintang 9 (sembilan), dasar ka’bah dan kitab serta tulisan huruf arab yang mempunyai arti; bahwa pengikut-pengikut Thariqah Mu’tabarah Nahdliyyah selalu meningkatkan kebersihan dhahir dan bathin dari sifat madzmumat (tercela) menuju kepada sifat mahmudat (terpuji), baik kepada Allah sebagai Khaliqnya atau kepada manusia sebagai sesama mahluk-Nya.
  4. Warna Biru, warna biru hanya terdapat di dalam lautan, yang mempunyai arti damai dan dalam.
    Maksudnya: bahwa pengikut-pengikut Thariqah Mu’tabarah Nahdliyyah selalu melaksanakan dan meingkaykan serta menggalang persatuan dan perdamaian, untuk mengamalkan syari’at Islamiyyah ‘ala Ahli Sunah Wal Jama’ah dan Thariqiyyah menurut ajaran ‘Ulama’ Salafus Shalihin secara berhati-hati dan bijaksana.

Kemudian di dalam Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah terdapat 7 (tujuh) bagian.

  1. Bintang Sembilan, mempunyai arti sebagai berikut:
    • Bahwa Thariqah Mu’tabarah Nahdliyyah di Indonesia ini, pertama-tama dibawa / diajarkan oleh Walisongo (wali 9).
    • Bintang 5 (lima) di atas melambangkan bahwa Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah selalu berpegang dan mengamalkan ajaran Rasulullah serta ajaran Khulafa’ur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali) dan melaksanakan Pancasila.
    • Bintang 4 buah di bawah menunjukkan bahwa Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah selalu berpegang Al-Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas serta berhaluan Ahlus Sunah Wal Jama’ah ‘ala Ahadi Madzahibil ‘Arba’ah (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) dan melaksanakan UUD’45 (4, terdapat empat buah bintang di bawah dan 5, terdapat lima buah bintang di atas).
  2. Tampar melingkar dan diikat wangsal dengan tidak erat, memunyai arti sebagai berikut:
    • Bahwa Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah selalu berpegang teguh pada Hablullah (Agama Allah / Agama Islam).
    • Bahwa Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah selalu menggalang persatuan dan kesatuan yang kokoh dan sentosa.
    • Bahwa Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah selalu terbuka untuk semua orang Islam Ahlus Sunah wal Jama’ah ‘ala Ahadi Madzahibil Ar’ba’ah, yang berminat.
  3. Kitab sebanyak 45 buah yang ditumpuk berdiri melingkari Ka’bah mempunyai arti sebagai berikut:
    • Bahwa jumlah Thariqah Mu’tabarah Nahdliyyah sebanyak 45 macam (berbeda namanya tetapi sama tujuannya).
    • Penganut-penganut Thariqan Mu’tabarah Nahdliyyah selalu taat dan melaksanakan hukum-hukum Allah Swt dan Rasul-Nya dan Peraturan-peraturan Pemerintah Republik Indonesia, selama tidak bertentangan dengan Syari’at Islam.
    • Tokoh-tokoh Thariqah Mu’tabarah Nahdliyyah secara ikhlas dan gigih banyak yang ikut memperjuangkan Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945.
  4. Ka’bah berdiri tegak di tengah-tengah, mempunyai arti sebagai berikut:
    • Ke-Tauhidan, maksudnya: peserta Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah selalu ma’rifat atas ke-Esaan Allah Swt.
    • Keabadian, maksudnya: peserta Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah tidak akan goyah Iman, Islam dan Ihsannya karena sesuatu hal.
    • Istiqamah, maksudnya: pesertaJam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah selalu melaksanakan amal shalih dimana saja berada dan pada waktu kapan saja.
  5. Kapal/perahu besar mempunyai arti sebagai berikut:
    • Syari’at Islam, maksudnya bahwaJam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah tidak dapat dipisahkan dengan syari’at Islam dan bangsa Indonesia yang tersebar memeluk Agama islam.
    • Sebagai alat untuk menuju keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
    • Bercita-cita besar dan tinggi serta mulia untuk mohon ridha Allah.
  6. Lautan bergelombang, mempunyai arti sebagai berikut:
    • Ilmu Thariqah lebih dalam daripada ilmu Syari’at.
    • Ilmu Thariqah adalah salah satu jalan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt dan untuk perdamaian bangsa.
    • Amalan Thariqah adalah amalan yang sangat terpuji baik bagi Allah Swt maupun bagi manusia.
  7. Tulisan huruf arab yang berbunyi JAM’IYYAH AHLITH THARIQAH AL MU’TABARAH AN NAHDLIYYAH” bermaksud sebagai berikut:
    • Bahwa Thariqah Mu’tabarah Nahdliyyah ini adalah organisasi Islam yang menjadi salah satu niven Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’ (Keputusan Muktamar NU ke-26 di Semarang pada bulan Rajab 1399 H. Bertepatan dengan bulan Juli 1979 M) yang dikukuhkan oleh Pengurus Besar Syuriyah Nahdlatul Ulama dengan Surat Keputusan nomor: 13/Syur.PB/V/1980 tertanggal 21 Rabi’ul Akhir 1400 H. bertepatan dengan tanggal 6 Mei 1980 M.
    • Bahwa Thariqah Mu’tabarah Nahdliyyah ini sambung menyambung sampai kepada Nabi Besar Muhammad Saw, Beliau dari Malaikat Jibril As, Malaikat Jibril dari Allah ‘Azza wa Jalla.
    • Bahwa Jam’iyyah ini selalu bergerak dan melaksanakan pembangunan fisik / material dan mental / spiritual.

BENDERA

Bagaimana Ukuran, Warna dan Logo Bendera JATMAN?

Ukuran, warna dan logo bendera JATMAN adalah sebagai berikut:

  1. Ukuran bendera sesuai dengan ukuran bendera Negara kita Republik Indonesia yaitu 2 banding 3.
  2. Warna bendera hijau.
  3. Gambar/logo bendera yaitu logo Thariqah dengan tanpa tulisan ayat Al Qur’an.