Connect with us

Artikel

Pondok Pesantren dalam Lintasan Sejarah

Published

on

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Jauh sebelum mengenal sekolah dan madrasah, bangsa Indonesia telah mengenal lembaga pendidikan pondok pesantren. Ditinjau dari segi bahasa, kata “pondok” berasal dari bahasa Arab “funduq” (فندق) yang berarti tempat tinggal, penginapan atau hotel. Sedangkan “pesantren”  berasal dari kata santri yang mendapat awalan “pe” dan akhiran “an” (pe-santri-an), yang berarti tempat tinggal santri. Adapun kata santri sendiri berasal dari bahasa Tamil  (India) shastri yang berarti guru mengaji atau orang yang paham tentang buku-buku suci (shastri merupakan turunan dari kata shastra yang berati buku-buku suci, buku-buku agama atau buku-buku ilmu pengetahuan).[1] Dalam perkembangannya di Indonesia, kata santri bermakna orang yang mempelajari ilmu-ilmu agama, sementara sang guru disebut kyai. Selain itu, santri juga sering diartikan sebagai suatu masyarakat Islam yang taat dalam menjalankan ajaran agama Islam. Lawan katanya adalah masyarakat abangan yang berarti “merah”, karena masyarakat abangan kurang taat menjalankan ajaran agama Islam, tetepi lebih terikat dengan ajaran kejawen atau adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang.  

Tidak diketahui secara pasti, kapan pertama kali lembaga pendidikan pesantren ini mulai muncul. Menurut Martin van Bruinessen, pondok pesantren dalam bentuknya seperti yang ada sekarang ini, baru mulai muncul setelah abad ke-18.[2] Akan tetapi menurut ahli sejarah yang lain, pondok pesantren telah hadlir sesaat sesudah penyebaran agama Islam di Nusantara, khususnya di Jawa yang dilakukan oleh para ulama dan pendakwah (du’at) yang dikemudian dikenal dengan nama Walisongo. Sebuah survey yang dilakukan oleh pemerintah Belanda menunjukkan bahwa pada tahun 1819, ada sekitar 300 buah lembaga pendidikan Islam yang tersebar di pulau Jawa.

Pada awalnya pondok pesantren hanya berfungsi sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam dan media transfer ilmu pengetahuan agama Islam untuk mendidik kader-kader ulama yang kelak diharapkan menjadi pendakwah (du’at). Selain itu, pesantren juga berfungsi sebagai pusat penyebaran agama (dakwah) Islam. Dalam perkembangannya, pada masa penjajahan, pondok pesantren juga berfungsi sebagai lembaga perjuangan yang paling resisten (bertahan) dari serbuan budaya kolonialisme, termasuk westernisasi dan kristenisasi. Bahkan pondok pesantren juga terlibat aktif dalam serangkaian perjuangan fisik melawan penjajahan. Oleh karena itu, pondok pesantren mempunyai konstribusi yang sangat besar terhadap lahirnya semangat nasionalisme yang mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan. Hal ini tercermin dari Nasyid Syubbanul Wathon (Ya lal wathon – Ya lal wathon – Ya lal wathon) karya KH. Abdul Wahab Chasbullah pada tahun 1936.

Pondok Pesantren juga terlibat aktif dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Konstribusi terbesar Pondok Pesantren dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan adalah keputusan fatwa para ulama dan para pengasuh Pondok Pesantren di bawah pimpinan Hadlratus Syeh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari yang telah membuat Resolusi Jihad pada tangal 22 Oktober 1945. Fatwa tersebut antara lain berisi kewajiban mempertahankan kemerdekaan Negara Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Bahwa Umat Islam yang wafat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan adalah dinilai sebagai mati syahid. Berkat Resolusi Jihad ini, umat Islam Indonesia, khususnya Jawa termotivasi untuk turut serta berjuang mempertahankan kemerdekaan di Surabaya di bawah komando Bung Tomo. Perjuangan ini telah melahirkan Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 Nopember. Dapat dipastikan bahwa tanpa Resulosi Jihad, maka tidak akan ada Hari Pahlawan. Oleh karena itu, pada tahun 2014, pemerintah Republik Indonesia telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional (HSN).       

Setelah masa kemerdekaan, pondok pesantren mengalami masa transisi yang sulit. Sesuai dengan perkembangan masyarakat yang telah berubah dari orientasi keilmuan dan keshalehan menuju orientasi kerja, maka banyak calon santri yang memilih menempuh pendidikan pada sekolah-sekolah umum karena lebih menjanjikan lapangan pekerjaan dan masa depan, dibandingkan menempuh pendidikan di pondok pesantren. Akibatnya, pondok pesantren harus  melakukan penyesuaian-penyesuaian. Banyak pondok pesantren yang mulai mengadopsi pendidikan Barat yang diperkenalkan oleh Belanda dan menjadi tuntutan profesi. Di samping itu, banyak pula pondok pesantren yang tetap mempertahankan tujuan utama pendidikan pondok pesantren, yaitu mendidik kader-kader ulama yang menguasai ilmu agama Islam, sekaligus mengamalkan dan menyebar-luaskannnya dengan ikhlas.

Dalam perkembangannya, lembaga pendidikan pondok pesantren terbagi ke dalam 3 (tiga) jenis atau type sbb. :

Pertama, Pondok Pesantren yang tetap mempertahankan pola lama dengan hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama dalam arti sempit (Aqidah, Syari’ah dan Akhlak (Tasawuf) beserta ilmu-ilmu alat seperti Nahwu, Shorof dan Balaghah); menolak bentuk-bentuk pendidikan dan keterampilan baru di luar model klasik yang telah berjalan dengan stabil. Type ini biasanya dikenal dengan sebutan Pondok Pesantren Salaf yang hingga sekarang masih dapat dijumpai di daerah Kediri, seperti Lirboyo, Ploso dan Kemayan. Demikian juga Sarang Rembang, Tegalrejo Magelang dan sebagainya.

Kedua, Pondok Pesantren yang mengajarkan ilmu-ilmu tentang agama Islam secara modern dengan kurikulum yang mengacu pada isu-isu dan kajian-kajian secara modern sehingga sama sekali tidak menjadikan kitab-kitab turats (kitab kuning) sebagai bahan kajian atau referensi, serta dikelola dengan manajemen modern (berpedoman pada sistem dan tidak tergantung kepada wibawa figur kyai). Type ini biasanya dikenal dengan sebutan Pondok Modern (Ma’had al-‘Ashr) seperti Pondok Pabelan Magelang, Pondok Karya Pembangunan Takeran Magetan dan Pondok Modern Gontor Ponorogo beserta cabang-cabangnya yang tersebar di seluruh Indonesia.  

Ketiga, Pondok Pesantren yang berusaha menggabungkan kedua type di atas. Type ketiga ini, satu sisi mempertahankan nilai-nilai dan tradisi pondok pesantren salaf yang dianggap masih relevan. Seperti adanya kyai sebagai pemimpin tertinggi pondok pesantren, kajian-kajian kitab  turats (kitab kuning), tradisi shalat berjamaah dan berdzikir, serta methode sorogan dan weton dalam mengkaji kotab-kitab kuning. Akan tetapi pada sisi yang lain, pondok pesantren type ketiga ini juga mengadopsi nilai-nilai modern yang dianggap lebih baik. Dengan kata lain, Pondok Pesantren type ketiga ini berbasis salaf dan masih tetap mempertahankan kajian-kajian kitab-kitab kuning, tetapi pada yang sama juga meyesuaikan diri dengan kemajuan sains dan teknologi serta tuntutan zaman dengan mengadopsi sistem sekolah dan memasukan disiplin ilmu sosial, ilmu alam serta keterampilan di lingkungan lembaga pendidikannya. Type pondok pesantren semacam ini, biasanya disebut ma’had salafiyah-‘ashriyah  (pondok pesantren salaf yang memadukan dengan kemodernan) seperti Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Tambak Beras Jombang, Denanyar Jombang dan Rejoso Jombang. Mereka berpegang teguh pada prinsip atau kaidah :

اَلْمُحَافَظَةُ عَلىَ اْلقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالْاَخْذُ بِالْجَدِيْدِ اَلْاَصْلَحِ

“Mempertahakankan nilai-nilai lama yang masih relevan, pada saat yang sama bersedia mengadopsi nilai-nilai baru (modern) yang lebih relevan)”

Disadur dari Ponpes Baitul Hikmah Depok


[1] Zamakhsyari Dhofir, Tradisi Pesantren, (Jakarta, LP3ES, 1982), h. 18

[2] Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, (Bandung, Mizan, 1995), h. 23-26. Dhofir, Op. Cit, h. 35

Artikel

Tokoh-Tokoh Tarekat Di Aceh Dan Biografinya

Published

on

Dari banyak ulama di Aceh, ternyata ada empat ulama besar yang sangat berpengaruh. Riwayat empat ulama ini bersumber dari Buku ‘Paham Wujudiah’ karya Abuya Syekh Prof. Dr. Tgk H. Muhibbuddin Muhammad Waly yang dirangkum dalam ‘Sejarah Aceh’. Berikut nama dan kisah singkat empat ulama masyhur tersebut:

1. Syekh Hamzah Fansuri

Syekh Hamzah Fansuri adalah tokoh sufi terkenal di Aceh. Ia lahir di Fansur Singkil, Aceh. Ia hidup pada zaman pemerintahan Sultan Alaiddin Riayatsyah IV (1589 -1604 atau 997-1011 Hijriyah) hingga awal pemerintahan Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam.

Ia merantau untuk menuntut ilmu hingga ke Jawa, Semenanjung Tanah Melayu, India, Parsi dan Semenanjung Arab. Ia ahli dalam ilmu fiqh, tasawuf, falsafah, sastra, mantiq, sejarah dan lain-lain, serta fasih berbahasa Arab, Urdu, Parsi di samping bahasa Melayu dan Jawa.

Syekh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani merupakan dua tokoh sufi yang sepaham dan hidup lebih dahulu dari dua ulama terkemuka lainnya yang pernah hidup di Aceh, yakni Abdurrauf Singkil Fansuri dan Nuruddin Ar-Raniry.

Riwayat hidupnya tidak banyak diketahui. Ia diperkirakan telah menjadi penulis pada masa kesultanan Aceh Sultan Alaiddin Riayatsyah IV. Ia menyebutkan Sultan Alaiddin selaku sultan yang ke-4 dengan Sayyid Mukammil sebagai gelarnya. Syahr Nawi mengisyaratkan, bahwa ia lahir di tanah Aceh. Konon saudara Hamzah Fansuri bernama Ali Fansuri yakni ayah dari Abdurrauf Singkil Fansuri.

Ketika pengembaraannya selesai dari Kudus, Banten, Johor, Siam, India, Persia, Irak, Makkah dan Madinah, untuk mencari ilmu makrifat terhadap Allah Swt, Ia kembali ke Aceh dan mengajarkan ilmunya. Mula-mula ia berdiam di Barus, lalu di Banda Aceh yang kemudian ia mendirikan Dayah (pesantren) di Oboh Simpang Kanan Singkil. Di pesantren itulah (ada yang mengatakan antara Singkil dengan Rundeng) ia dimakamkan tepatnya di sebuah pekuburan di desa tersebut.

2. Syekh Syamsuddin As-Sumatrani

Ia adalah tokoh ulama besar dan pengarang kenamaan di Aceh. Nama lengkapnya ialah Syekh Syamsuddin bin Abdillah As-Sumatrani. Sering juga disebut Syamsuddin Pasee. Dia adalah ulama besar yang hidup di Aceh pada beberapa dasa warsa (sepuluh tahun) terakhir abad ke-16 dan tiga dasa warsa pertama abad ke-17.

Gurunya ialah Hamzah Fansuri dan pernah belajar dengan Pangeran Sunan Bonang di Jawa. Ia menguasai bahasa Melayu-Jawa, Parsi dan Arab. Antara cabang ilmu yang dikuasainya ialah ilmu tasawuf, fiqh, sejarah, mantiq, tauhid, dan lain-lain.

Pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Riayatsyah IV dan Sultan Iskandar Muda, Ia memegang jabatan yang tinggi dalam Kerajaan Kesultanan Aceh. Ia dilantik sebagai penasehat kepada kedua sultan tersebut.

Ia juga pernah diangkat menjadi Qadi Malikul Adil yaitu satu jabatan yang terdiri dalam Kerajaan Aceh (orang yang kedua penting dalam kerajaan). Ia mengetuai Balai Gading (balai khusus yang dianggotai oleh tujuh orang ulama dan delapan orang ulee balang), di samping menjadi Syekh pusat pengajaran Baiturrahman.

Sekalipun mengikut faham aliran tasawuf wahdatul wujud, namun ia berlaku adil dalam menjalankan hukum-hukum yang difatwakannya. Keahliannya diakui oleh semua pihak termasuk Syekh Nuruddin. Ia meninggal dunia pada tahun 1630 M di zaman Sultan Iskandar Muda. Banyak karangan-karangan dan fatwa-fatwa yang ia tinggalkan. Di antaranya Syarah Ruba’i Fansuri (uraian terhadap puisi Hamzah Fansuri), dan lain-lain.

Ia adalah seorang ulama besar fiqh dan tasawuf. Seorang pelaut Belanda bernama Frederick de Houtman (1599 M/1008 H) yang ditawan di Banda Aceh, menyebutkan dalam bukunya tentang Syamsuddin Sumatrani adalah seorang syekh dan juga penasehat agung raja.

3. Syekh Nuruddin Ar-Raniry

Nama lengkapnya ialah Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasani bin Muhammad Hamid ar-Raniry al-Quraisyi asy-Syafi’ie. Ia wafat pada 22 Zulhijjah 1069 H/21 September 1658 M di kota kelahirannya di Kota Pelabuhan Ranir (Rander) Gujarat India. Sayang, tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti.

Ia seorang ulama besar, penulis, ahli fikir di India yang merantau dan menetap di Aceh. Ia lahir sekitar pertengahan ke dua abad ke-16. Pendidikan awalnya dalam masalah keagamaan ia peroleh di tempat kelahirannya sendiri.

Kemudian ia melanjutkan pendidikan ke Tarim, Yaman. Tarim adalah pusat studi ilmu agama pada masa itu. Setelah menunaikan ibadah haji dan ziarah ke makam Nabi saw. pada 1621 M (1030 H), ia kembali ke India.

Setelah kembali ke India dan mengajar, di samping sebagai Syekh Thariqah Rifa’iyyah ia merantau ke Nusantara dan memilih Aceh sebagai tempat menetap. Ia datang ke Aceh karena mengetahui Aceh menjadi pusat perdagangan, kebudayaan dan politik serta pusat studi agama Islam di kawasan Asia Tenggara menggantikan Malaka yang jatuh ke tangan Portugis.

Berkat kesungguhannya ia berhasil menjadi ulama besar yang berpengatahuan luas dan tercatat sebagai Syekh Thariqat Rifa’iyyah dan bermazhab Syafi’i. Hubungan baik Syekh Nuruddin dengan Sultan Iskandar Tsani di Aceh memberi peluang kepadanya untuk mengembangkan ajaran yang dibawanya.

Ia pernah menentang Paham Wujudiyah yang berkembang di Aceh pada masa itu. Untuk menyanggah Paham Wujudiyah yang dinilainya sesat itu ia sengaja menulis beberapa kitab.

Al Quraisyi pada laqab namanya menunjukkan bahwa ia berasal dari kabilah terhormat yaitu Quraisy. Ia berthariqah Rifa’iyyah menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara dirinya dengan Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani dan Abdurrauf Al-Fansuri. Sebab, semuanya sama-sama pengikut thariqah suffiyah dan bermazhab Imam Syafi’i.

4. Syekh Abdurrauf As-Singkili

Ia adalah salah satu dari empat ulama terkemuka yang pernah lahir di Aceh pada abad ke-17. Sedangkan tiga ulama lainnya adalah Syekh Hamzah Fansuri, Syekh Syamsuddin Sumatrani dan Syekh Nuruddin Ar-Raniry. Para ahli sejarah memperkirakan bahwa ia lahir sekitar 1615 M (1035 H) di Singkil yang terletak di ujung paling selatan pantai barat Aceh, sekampung dengan Syekh Hamzah Fansuri dan juga putera dari saudara Syekh Hamzah Fansuri sendiri.

Ia tumbuh dan berkembang sebagai calon ulama di Aceh pada masa negeri itu sedang berada dalam puncak kejayaan di bawah pimpinan sultannya yang terbesar, Sultan Iskandar Muda. Untuk memperdalam pengetahuan agamanya, ia berangkat ke Saudi Arabia sekitar tahun 1643 M (1064 H) pada saat negeri Aceh dipimpin oleh Sultanah Safiatuddin yang berada dalam kekacauan politik dan pertentangan paham keagamaan.

Syekh Abdurrauf tidak segera langsung menuju Mekkah, tapi terlebih dahulu bermukim pada banyak tempat yang menjadi pusat-pusat pendidikan agama di sepanjang jalur perjalanan haji. Setelah Ia sampai di Mekkah dan Madinah Ia melengkapi ilmu lahir (ilmu Al-Qur’an, tafsir, hadits, fiqh) yang telah dimilikinya dan dilengkapi pula dengan ilmu, yakni tasawuf dan thariqat.

Setelah belajar di Madinah pada Syekh Thariqah Syatthariyah Ahmad Al Qusyasyi (wafat 1661 M/ 1082 H) dan kemudian pada khalifah atau penggantinya Ibrahim al-Qur’ani, ia memperoleh ijazah dari pimpinan thariqah tersebut. Banyak guru-guru besar yang memberikan ijazah ilmu pengetahuan kepadanya selama 19 tahun menuntut ilmu. Ketika pulang ke Aceh, Syekh Abdurrauf menjadi ulama besar yang memiliki ilmu yang luas. Menurut perkiraan para ahli sekitar tahun 1662 M (1083 H), peranannya sebagai pengajar Thariqah Syatthariah telah dimulainya di Madinah, menjelang pulang ke Aceh.

Penulis: Budi Handoyo (Dosen STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Artikel

Karomah Sampai Wafatnya Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 3)

Published

on

Ilustrasi

Nasehat, Akhlak dan Karomah Syaikh an-Naqsyabandî

Di antara akhlak Syaikh an-Naqsyabandî adalah apabila menjenguk salah seorang temannya, pasti akan menanyakan kabar keluarga dan anak-anaknya serta menghiburnya dengan hiburan yang sepantasnya. Bukan hanya itu saja, Syaikh an-Naqsyabandî juga menanyakan apa yang berhubungan dengannya sampai bertanya tentang ayam-ayam peliharaannya. Ditampakkan rasa belas-kasihan kepada semuanya seraya berkata, “Abu Yazid al-Busthâmî sekembalinya dari laut berdzikir, melakukan hal seperti ini.”

Meski sangat sempurna dalam kezuhudannya, Syaikh an-Naqsyabandî senantiasa memberi dan mendahulukan orang lain. Bila ada orang memberinya, diterimanya. Lalu membalasnya dengan pemberian yang berlipat ganda. Demikian itu karena Syaikh an-Naqsyabandî mengikuti jejak Rasulullah Shalallu ‘Alaihi Wassalam yang sangat terkenal kedermawanannya. Keberkahan akhlaknya yang mulia ini menular kepada murid-muridnya.

Di antara karamahnya adalah sebagaimana yang telah disampaikan oleh Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar. Suatu ketika Syaikh ‘alâ`uddîn al-Aththar bersama dengan Syaikh an-Naqsyabandî. Ketika itu udara diliputi oleh mendung. Lalu Syaikh an-Naqsyabandî bertanya, “Apa waktu dzuhur sudah masuk?” Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar menjawab, “Belum” Lalu Syaikh an-Naqsyabandî berkata, “Keluarlah dan lihatlah langit.”

Lalu Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar keluar dan melihat ke atas langit. Tiba-tiba tersingkaplah hijab alam langit sehingga Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar dapat melihat seluruh malaikat di langit tengah melaksanakan shalat Dzuhur. Lalu Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar masuk dan langsung ditanya oleh Syaikh an-Naqsyabandî, “Bagaimana pendapatmu, bukankah waktu dzuhur tiba?”

Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar malu dibuatnya dan membaca istighfar dan sampai beberapa hari masih terbebani dengan kejadian tersebut.

Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar berkata, “Ketika Syaikh an-Naqsyabandî akan meninggal, aku dan yang hadir pada saat itu membaca surah Yasîn. Ketika bacaan surah Yasin sampai di tengah-tengah, tiba-tiba tampak seberkas cahaya menyinari seisi ruangan. Maka aku membaca kalimat laa ilaaha illa Allah, lalu Syaikh an-Naqsyabandî wafat.”

Wafatnya Syaikh an-Naqsyabandî

Syaikh an-Naqsyabandî wafat pada malam Senin tanggal 3 Rabi’ul awal tahun 791 Hijriyah. Kemudian dimakamkan di kebun miliknya yang memang sudah ditentukan oleh Syaikh an-Naqsyabandî sendiri. Para pengikutnya mem-bangun kubah di atas makamnya dan di kebunnya dibangun masjid yang luas.

Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh

Continue Reading

Artikel

Nasab Keilmuan dan Keturunan Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 2)

Published

on

Ilustrasi

Syaikh an-Naqsyabandî berguru ilmu tarekat kepada Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî kemudian kepada Sayyid ‘Amîr Kulâl. Sedangkan Sayyid ‘Amir Kulal berguru kepada Syaikh Muhammad Baba as-Sammâsî. Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî berguru kepada ‘Ali ar-Râmîtanî yang lebih dikenal dengan nama Syaikh al-‘Azîzân. Syaikh al-Azîzân berguru kepada Syaikh Mahmud al-‘Anjîr Faghnawî.

Syaikh Mahmud al-‘Anjîr Faghnawi berguru kepada Syaikh ‘Ârif ar-Rîwakirî yang berguru kepada Syaikh ‘Abdul Khalîq al-Ghuzduwânî yang berguru kepada Syaikh Abi Ya’qûb Yûsuf al-Hamadânî yang berguru kepada Syaikh Abi ‘Ali al-Fadhal bin Muhammad ath-Thusi al-Fâramadî yang berguru kepada Syaikh Abil Hasan ‘Ali bin Abi Ja’far al-Kharqânî.

Syaikh Abil Hasan ‘Ali berguru Kepada Abi Yazid Thaifur bin ‘Îsa al-Busthâmî yang berguru kepada Syaikh Imam Ja’far ash-Shâdiq yang berguru kepada kakeknya Sayyid al-Qâsim bin Muhammad bin Abi Bakar ash-Shiddiq yang dari Salmân al-Farîsî yang memperoleh dari Abi Bakar ash-Shiddîq yang memperoleh dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Syaikh an-Naqsyabandî juga berkata, “Di antara pertolongan Allah yang diberikan kepadaku adalah kopiah kakek guruku (Syaikh al-‘Azîzân) telah sampai kepadaku sehingga keadaanku semakin baik dan harapanku semakin kuat. Yang demikian itu membuatku dapat mengabdi kepada Sayyid ‘Amîr Kulâl dan memberi tahuku bahwa Syaikh as-Sammâsî mewasiatkan diriku kepadanya.”

Semakin hari Sayyid ‘Amîr Kulâl semakin memperhatikan dan bersungguh-sungguh dalam membimbingnya. Setelah bekal bimbingan yang diberikan dirasa sudah cukup, Sayyid ‘Amîr Kulâl berkata, “Wahai anakku, aku telah melaksanakan wasiat Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî untuk membimbingmu.”

Seraya menunjuk ke arah susunya, Sayyid ‘Amîr Kulâl berkata, “Engkau telah menyusu pendidikan kepadaku. Tingkat penyerapanmu terhadap apa yang aku ajarkan sangat tinggi dan keyakinanmu sangat kuat. Oleh karena itu, aku mengizinkan engkau mencari ilmu ke beberapa orang guru. Engkau dapat mengambil ilmu dari mereka sesuai dengan kemauanmu yang besar.”

“Sejak saat itu, aku terus menerus mendatangi ulama untuk memetik ilmu syariat dan mencari ilmu Hadis serta akhlak Rasulullah dan para sahabat sebagaimana telah diperintahkan kepadaku,” papar Syaikh an-Naqsyabandî.



Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending