Connect with us

Pustaka

Pohon Kejadian Syaikh Ibnu ‘Araby

Published

on

Syaikh Muhyiddin Ibn ‘Arabi (1165–1240) adalah bentangan teks-teks spiritual yang sedemikian luas dan malah nyaris tak terhingga. Bahkan, konon kitab-kitab karya para sufi yang lain hanyalah ibarat catatan-catatan kaki bagi karya-karya beliau. Beliau menuliskan begitu banyak pengalaman-pengalaman rohaninya ke dalam berbagai macam pemahaman yang seringkali terasa rumit untuk sepenuhnya dicerna oleh para pembaca kitab-kitabnya.

Ilmu pengetahuan spiritual berkelindan secara apik dan solid dengan penghayatan dan pengamalan yang tulus pada diri beliau. Mula-mula ilmu pengetahuan spiritual, lalu penghayatan dan pengamalan, atau kebalikannya: keduanya sama-sama dimungkinkan bagi beliau. Dan ilmu beliau itu kebanyakan diperoleh secara langsung dari Allah Ta’ala.

Barangkali pemahaman kita akan tersaruk-saruk di saat menyusuri rimba ilmu rohani di dalam buku ini. Tapi kita juga tidak boleh menyerah untuk mendapatkan kebeningan dan kedalaman telaga yang bersemayam di dalamnya. Dengan cahaya petunjuk melalui syafa’at Sang Nabi Saw dan barakah Sang Wali sendiri, sangat dimungkinkan bagi kita untuk memahami sekaligus mengalami percikan-percikan ilmu rohani tertinggi. [Kontinum]

Continue Reading

Pustaka

Thariqat Sufi Empat Imam Madzhab

“Di, aku lagi puyeng juga, ditanya banyak orang, apakah Imam-imam besar yang menjadi imam mazhab, Seperti Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’I dan Imam Hambali, itu berthariqat? Bagaimana aku menjawab, tentang mereka saja saya nggak begitu kenal, apalagi ketemu, Di.”

Published

on

By

“Siapa yang tanya kamu?”

“Yah, kalau yang tanya sesama kawan makelar, tukang ojek dan tukang becak, saya nggak ambil pusing. Senasib lah dengan saya. Lho yang bertanya ini seorang kyai pada saya… Weleh-weleh, apa nggak mumet saya…”

Dulkamdi mencoba memahami kemumetan Pardi. Kira-kira kalau yang bertanya itu seorang kyai pada Pardi, bisa pertanyaannya dilatari apakah si Pardi itu ngerti apa nggak. Atau sebaliknya kyai tadi memang tidak berthariqat sufi, lalu mencoba menggugat lewat pertanyaan seperti itu. Atau bahkan kyai itu penasaran, mencari informasi sungguhan, karena para ulama besar seperti Imam-imam itu tidak mengarang kitab tasawuf.

Okeoke….”

Oke oke apanya, Dul.”

“Maksudku oke itu, aku faham kenapa ndhasmu ngelu…”

“Jawabnya?”

“Sama dengan kamu, ndhasku ngelu pisan, Di….”

Dua sahabat itu tiba-tiba dikejutkan oleh Kyai Mursyid yang mendatangi kedai Cak San bersama Kang Soleh. Pardi dan Dulkamdi agak rikuh, buru-buru cium tangan kyainya.

Sang kyai langsung memesan kopinya Cak San yang konon ceshpleng mak greng!

Pardi menyenggol-nyenggol kakinya Dulkamdi, sembari mengisyaratkan agar disampaikan kegelisahannya.

“Minuman kopi ini, di zaman Nabi SAW. belum ada,“ celetuk Kyai Mursyid.

“Weh, kalau begitu apa haram hukumnya, Pak Kyai?” timpal Pardi.

Kyai Mursyid tersenyum lembut.

“Untung saja tidak dibahas oleh MUI, mestinya dibahas juga ya?” jawabnya sembari disambut gerr.

“Wah kalau sampai diharamkan, saya mau bikin label Halal untuk nandingi labelnya MUI, Pak Kyai…” timpa Pardi.

“Tasawuf juga belum ada istilahnya di zaman Nabi. Makanya tasawuf dianggap bid’ah oleh orang-orang yang model pikirannya dangkal….”

“Apa kalau para imam mazhab empat itu juga berthariqat sufi, Kyai?” tanya Pardi mumpung wacananya mengalur.

“Oh ya… Semua mujtahidin dan para ulama salaf itu sekaligus juga seorang sufi dan berthariqat, kecuali para ulamanya penguasa model MUI-nya para khalifah waktu zaman-zaman Abbasiyyah, yang justru banyak menentang tasawuf….”

Semua penghuni kedai itu terdiam. Lalu Kyai Mursyid melanjutkan.

“Misalnya, Imam Abu Hanifah ra, seorang imam mazhab dari empat mazhab terkenal, ternyata juga seorang mursyid thariqah sufi. Diriwayatkan oleh seorang faqih Hanafi al-Hashkafi, menegaskan, bahwa Abu Ali ad-Daqqaq ra, berkata, “Aku mengambil thariqah sufi ini dari Abul Qasim an-Nashr Abadzy, dan Abul Qasim mengambil dari Asy-Syibly, dan Asy-Syibly mengambil dari Sary as-Saqathy, beliau mengambil dari Ma’ruf al-Karkhy, dan beliau mengambil dari Dawud ath-Tha’y, dan Dawud mengambil dari Abu Hanifah ra.”

“Wah, ladhala kersaning ngalah, berarti ini jawaban yang jelas Dul,” celethuk Pardi.

Kyai Mursyid melanjutkan.

“Abu Hanifah dikenal sebagai fuqaha ulung, ternyata tetap memadukan antara syari’ah dan haqiqah. Dan Abu Hanifah terkenal zuhud, wara’ dan ahlu dzikir yang begitu dalam, ahli kasyf, dan sangat dekat dengan Allah Ta’ala, berkah tasawuf yang diamalkannya.”

“Jika ada pertanyaan, kenapa para mujtahidin itu tidak menulis kitab khusus mengenai tasawuf, jika mereka mengikuti aliran sufi?” tanya Dulkamdi.

“Imam Asy-Sya’rany, mujtahid dan ulama besar mengatakan, “Para mujtahidun itu tidak menulis kitab khusus mengenai tasawuf, karena penyakit-penyakit jiwa kaum muslimin di zamannya masih sedikit. Mereka lebih banyak selamat dari riya’ dan kemunafikan. Mereka yang tidak selamat jumlahnya kecil. Hampir-hampir cacat mereka tidak tampak di masa itu. Sehingga mayoritas mujtahidin di masa itu lebih konsentrasi pada bidang ilmu dan mensistematisir pemahaman pengetahuan yang tersebar di kota dan desa, dengan para tabi’in dan tabi’it tabi’in, yang merupakan sumber materi pengetahuan, sehingga dari mereka dikenal timbangan seluruh hukum, disbanding berdebat soal amaliyah qalbiyah sebagian orang yang tidak banyak muncul.”

“Kalau Imam Malik, Pak Kyai?” tanya salah seorang pengedai di sana.

“Wah, malah beliau mengatakan soal tasawuf ini dengan kata-kata yang sangat popular hingga saat ini. Siapa yang bersyariat atau berfiqih tanpa bertasawuf, benar-benar menjadi fasiq. Dan siapa yang bertasawuf tanpa bersyariat (berfiqih) benar-benar zindiq. Siapa yang mengintegrasikan fiqih dan tasawuf benar-benar menapaki hakikat kebenaran.”

Suasana jadi hening.

“Sekalian Imam Syafi’i…? Daripada kalian masih nggrundel…”

“Betul Pak Kyai…”

“Imam Syafi’i Ra. Malah mengatakan, “Aku diberi rasa cinta melebihi dunia kalian semua: yaitu meninggalkan hal-hal yang makruh, bergaul dengan sesama penuh dengan kelembutan, dan mengikuti thariqat ahli tasawuf.”

“Nah, saya dengar pengikut aliran Hambali banyak menolak dunia thariqat ini, bagaimana sebenarnya….”

“Memang, awalnya Imam Hambali menolak dunia sufi. Bahkan banyak muridnya juga demikian. Tokoh-tokohnya yang bermazhab Hambali seperti Ibnu Taymiyah, Ibnul Qoyyim, dan mereka yang lebih cenderung mendalami hadits Nabi saja, kebanyakan menolaknya…. Kalau menerima kayaknya malu-malu gitu.”

“Lalu?”

“Akhirnya malah Imam Hambali ikut thariqah sufi…. Sebelum belajar tasawuf, Imam Ahmad bin Hambal menegaskan kepada putranya, Abdullah ra. “Hai anakku, hendaknya engkau berpijak pada hadits. Anda harus hati-hati bersama orang-orang yang menamakan dirinya kaum sufi. Karena kadang di antara mereka sangat bodoh dengan agama.”

“Namun ketika beliau berguru kepada Abu Hamzah al-Baghdady as-Shufy, dan mengenal perilaku kaum sufi, tiba-tiba dia berkata pada putranya “Hai anakku hendaknya engkau bermajelis dengan para sufi, karena mereka bias memberikan tambahan bekal pada kita, melalui ilmu yang banyak, muroqobah, rasa takut kepada Allah, zuhud dan himmah yang luhur kepada Allah.”

Beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih utama ketimbang kaum Sufi.” Lalu Imam Ahmad ditanya, “Bukanlah mereka sering menikmati sama’ dan ekstase?” Imam Ahmad menjawab, “Dakwah mereka adalah bergembira bersama Allah dalam setiap saat….”

“Kelak, Ibnu Qayyim pun, juga menulis kitab tasawuf. Banyak yang tidak paham pada Imam Ahmad bin Hambal, lalu berubah jadi radikal.”

Kyai Mursyid lalu berdiri, usai meminum secangkir kopi Cak San. Beliau keluar diikuti oleh Kang Soleh.

“Nah, Dul, beres kalau begitu… hehehe….” bisik Pardi.

(Dari Buku Kedai Sufi, Jalan Hakikat, KHM Luqman Hakim)

Continue Reading
Advertisement

Facebook

Trending