Connect with us

Berita

Pintu-Pintu Tarekat: Muzakarah Jatman Ke-13 Idarah Wustha JATMAN Sulsel

Published

on

Photo: Hardianto

Jam’iyyah Ahlith Thariqah aI-Mu’tabarah an-Nahdliyah (JATMAN) Idarah Wustha Sulawesi Selatan (Sulsel) kembali mengadakan muzakarah JATMAN yang ke-13 secara virtual pada senin (28/09). Kegiatan ini dimulai pukul 20.00 WITA yang dihadiri oleh narasumber Syekh Dr. KH. Ali Masykur Musa, M.Si, M.Hum (Mursyid dan Pengasuh Pondok Pesantren Pasulukan Tarekat Naqshabandiyah Khalidiyah, pernah menjabat Ketum PB PMII, Ketua Umum PP ISNU). Syekh Puang Makka dan Prof. Dr. H. Abd. Kadir Ahmad turut hadir dalam rangka muzakarah virtual tersebut.

Kiyai Ali Masykur Musa mengawali tausiyahnya dengan menyampaikan tiga pandangan terkait tidak menariknya tarekat, yaitu:

  1. Berislam tidak harus bertarekat, cukup dengan bersyariat dan akhir kalam la ilaha illa llah.
  2. Tarekat itu kaum fatalis zindiq, dengan kriteria anti dunia, pakaian gembel, tidak berprofesi, dan hidupnya dikampung atau pegunungan. Orang tarekat dianggap patah hati terhadap dunia dan bahkan ajaran tarekat mengingkari akidah. Tidak hanya kalangan intelektual pada umumnya, bahkan ada pula dikalangan Nahdhiyin.
  3. Tarekat idealnya diamalkan pada usia senja.

Tiga pandangan tersebut dapat disanggah, bahwa tidak ada seorangpun yang mampu menjamin mengucapkan kalimat tauhid, jika tidak membiasakan diri berzikir. Pelaku-pelaku tarekat mampu bersinergi dengan kemajuan zaman dan beradaptasi dengan masyarakat, dan umur dalam kekuasaan Allah.

Manusia terkadang memiliki orientasi lebih keduniawian, maka akhirat dianggap kecil, sebab cinta dunia. Maka cinta dunia inilah awal terjadinya penyimpangan tugas selaku khalifah di bumi.

Abu Bakar As-Siddiq ra. pernah berkata: حب الدنيا ظلمة والسراج لها التقوى “kegelapan terjadi akibat dari terlalunya cinta manusia kepada kehidupan dunia, dan cahaya yang menghilangkannya adalah taqwa”. Terlalu mencintai kehidupan dunia (hubbud dunya) akan menyebabkan seseorang menghampiri perkara-perkara syubhat.  Al Baihaqi dalam kitab Syu’ab Al Iman meriwayatkan hadis berbunyi, حب الدنيا رأس كل خطيئة “Hubbuddunya ra’su kulli khathi’ah” (cinta dunia adalah biang semua kesalahan).

Mursyid Tarekat Naqshabandiyah Khalidiya melanjutkan paparannya bahwa kaum sufi menyatakan ada tiga penyakit utama cinta dunia adalah:

1. Takabbur; melupakan esensi hak pemberi Allah dan merasa dirinya lebih dari segala -alanya.

2. Riya’; tidak meyakini Allah yang akan membalasnya, tetapi lebih membutuhkan pujian dan hormatnya manusia.

3. Hasad; tidak menginginkan Allah memberikan sesuatu kepada umat lainnya.

Orang masih hasad padahal Allah memberikan nikmat adalah haknya, dan bahkan tidak rela, maka orang itu mengajak demonstrasi kepada Allah. Dan mengajukan pemberontakan kepada kerajaan Allah.

Hadis yang cukup populer disebutkan;

“Dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. bersabda: “Jauhilah hasad (dengki), karena hasad dapat memakan kabaikan seperti api memakan kayu bakar.” (HR Abu Dawud, No. 4257).

Beliau juga menegaskan ujung dari seluruh penyakit adalah cinta dunia, cinta dunia adalah induk dari seluruh penyakit hati. Maka, sangat diperlukan tazkiyatun nafs (nafsu lawwamah dan nafsu ammarah) dengan zikrullah. Zikrullah dimulai dari riyadhah, mujahadah, muraqabah, musyahadah, mukasyafah, tajalli, wushul ila llah. Allah swt. berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung.” (Q.S. al-Maidah/ 5: 35)

Wasilah dimaknai dengan ilmu dan bertarekat. Wajahidu dipahami harus bersungguh-sungguh mencari ilmu dan hikmah dari syekh. Proses selanjutnya adalah muraqabah (proses Pendidikan diri kepada Allah).Muraqabah terdiri atas muraqabah af’al (Allah yang menggerakkan pekerjaan manusia), muraqabah sifat (mendekatkan diri kepada Allah karena kesempurnaan Allah), muraqabah ma’iyah (tidak ada pertolongan sedikitpun kecuali Allah), muraqabah Zat (wushul ilallah)

Penamaan Syariat, tarekat dan Hakekat

Esensi dari nilai syariat, dijalankan oleh tarekat, dan ujungnya adalah ihsan. Inilah yang dinamakan: As syariat ma qaal (wahyu menjadi tuntunan kehidupan), wat tariqiatu af’ali (kegiatan menjalankan pedoman hidup), wal haqiqatu haali (segala sesuatu yang semuanya dalam diri rasul adalah haali). Asy syariatu at-tadlil (kumpulan seperangkat aturan), At-Tariqatu ta’lil (suatu hal yang menunjukkan sibuk menghadap pada Allah), Wal-Haqiqatu tausil (hasil dari semua proses).

“Seorang ahli tarekat merasa senang mengamalkan sunnah-sunnah rasul” ungkap Ketum PP ISNU.

Bertarekat memenuhi undangan Allah

Kiyai Ali Masykur Musa menjelaskan ketika seseorang tertarik memasuki dunia tarekat disebabkan karena timbul kecemasan dan ketakutan merasa masih jauh dari Allah. Hal itu menunjukan orang tersebut mendapat undangan Allah. Maka, seharusnya memenuhi panggilan Allah, jika tidak hadir memenuhi undangan Allah, diibaratkan hanya sekedar mengetuk pintu namun tidak masuk kedalamnya ketika terbuka pintu inayah Allah. Patut direnungi, bahwa undangan belum tentu hadir kedua kali. Inti semua proses kehidupan ada pada dunia tarekat. Kenikmatan hidup bukan karena kehebatan, harta, jabatan dan ketenaran. Namun, yang indah adalah ketika mendekatkan diri kepada Allah, misalnya menangis di malam hari merasakan sentuhan Allah dalam penyaksikan mahabbah kepada Allah.

Diakhir tausiyah dipertegas oleh beliau, bahwa tarekat menurutnya harus memiliki sanad bersambung kepada nabi dan kuat dalam pengamalan syariat serta kaifiyat amaliyah yang tertib. (Hardianto/Arip)

Berita

Gelar Kirab Merah Putih, Purwakarta Rayakan Hari Lahir NU ke-98

Published

on

Purwakarta, JATMAN.OR.ID: Kirab merah putih dalam rangka tasyakur harlah NU ke 98, Haul Syekh Muhammad Jauhari, Syekh Ibnu Ma’sum al-Hajj, KH Ma’mun Munawwar, sekaligus pengukuhan Idaroh Ghusniyyah JATMAN se-Kab. Purwakarta, Pengurus Komisariat MATAN UPI dan MATAN Al Muhajirin, Sabtu, 27 Februari 2021 / 16 Rajab 1442 H yang lalu, bertempat di lingkungan Ponpes Al-Muhajirin 3 Citapen, Sukajaya, Sukatani, Purwakarta.

Walau dalam kondisi seperti saat ini, JATMAN Purwakarta beserta keluarga besar Al-Muhajirin tetap menyelenggarakan acara tersebut dengan memperhatikan prokes dan membatasi tamu undangan.

Acara dihadiri Mudir Wustho JATMAN Jawa Barat Dr. KH. Eep Nuruddin M.Pdi., Ketua PBNU KH. Manan selaku inpektur upacara. Pada kesempatan itu beliau memberikan arahan akan pentingnya meneladani para mu’assis NU, baik dalam perjuangan dan pembangunan bangsa negara Indonesia tercinta, menyebarkan kasih sayang dan akhlak yang senantiasa terpancar dalam setiap tingkah laku, akhlak yang terbentuk dari keilmuan secara intelektual dan spiritual. Pada saat yang sama hadir pula Ketua PCNU Drs.KH. Bahir Muhlis M.Pd.

Pimpinan Ponpes Al-Muhajirin Dr. KH. Abun Bunyamin MA dalam sambutannya berterima kasih kepada seluruh keluarga besar Al-Muhajirin 3 di bawah asuhan KH. Anang Nasihin MA (Katib Awal Syu’biyyah) yang selalu siap bersedia dalam menyelenggarkan rutinitas jatman baik amaliah ataupun kajian ilmiah.

Hadir pula Ketua Yayasan Al-Muhajirin DR. Hj. Ifa Faizah Rohmah, S.Th.I, M.Pd dengan membagikan tumpeng kepada para tamu undangan, sebagai simbol rasa syukur, menjaga hasanah tradisi kebudayaan dan mau berbagi dengan sesama.

Rois Syu’biyyah Purwakarta, KH Anhar Haryadi berharap para pengurus tetap semangat dalam mensyiarkan thoriqoh karena semangat tinggi (himmah ‘aliyyah) ialah salah satu dasar utama thoriqoh sebagimana yang disampaikan oleh para guru mursyid terutama Syeikh Sulthon Auliya Abdul Qodir al-Jaelani QS. “Iman dan imunitas tinggi bisa tetap terjaga di antaranya dengan dzikir thoriqoh mu’tabaroh,” imbuhnya.

Acara dimulai dengan iringan bendera merah putih, serah terima bendera pusaka Merah Putih, bendera Pataka JATMAN, bendera Pataka NU oleh 30 pasukan baris berbaris BANSER, Pagar Nusa dan tim drumband, dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya, pembacaan teks Pancasila, pembacaan sholawat thoriqiyyah, dzikir tawasul dan doa.[Kontributor Purwakarta]

Continue Reading

Berita

KenDURIAN MATAN di Bandar Lampung

Published

on

KenDURIAN

Bandar Lampung, JATMAN.OR.ID: Pengurus Organisasi Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah PW MATAN dan beberapa PC MATAN se-provinsi Lampung mengadakan acara Kendurian MATAN di Bandar Lampung.

Acara silaturahim penuh keakraban, sharing santai dan diskusi ke-MATAN-an ini sebenarnya merupakan ngiras ngirus dari acara resmi DR. M. Hasan Chabibie, M.Si yg merupakan Kepala Pusdatin Kemendikbud yang juga Ketua PP MATAN Indonesia sebagai pembicara di Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL).

KenDURIAN

Kendurian MATAN ini di laksanakan di Ponpes An-Noor Korpri Jaya Sukarame Kota Bandar Lampung, 27 februari 2021 yang dihadiri Warek 1 UIN, Dekan dan Dosen UIN RIL dan IAIN Kota Metro, Para Pengasuh Pondok pesantren serta Ketua & Sekretaris PW dan PC MATAN Provinsi Lampung.

Gus Hasan Chabibie dalam sambutannya memberi motivasi kepada seluruh kader MATAN Lampung, agar terus semangat berkhidmah di NU melalui MATAN, “Akan tetapi jangan lupa untuk berkarya dan membangun kualitas diri. Dan jangan hanya bangga dengan pencapaian dari khidmah kakek atau orang tua kita di NU. Kita sendiri harus berkarya,” pesannya.

Sebagai shahibul bait pengasuh pondok pesantren An-Noor Gus Abdul Ghofur mengingatkan agar kader MATAN juga berhasil dalam program ekonomi, baik untuk pribadi, maupun organisasi. Seorang da’i harus mapan, terutama segi ekonomi, agar fokus berkhidmah dan tidak salah niat.

KenDURIAN

Selanjutnya sesi tanya jawab dibuka, dimulai dari ketua PW MATAN provinsi Lampung Ja’far Shodiq dan di sambung pertanyaan dari Ketua PC MATAN Balam Herry Miftah. Semua pertanyaan dijawab dengan lugas dan penuh solutif oleh Gus Hasan, sambil ngopi dan makan bakso.

Sesi akhir adalah do’a yang dipimpin oleh Wakil Rektor 1 UIN RIL, DR. Alamsyah. Dan sebagai penutup acara adalah makan durian bersama. Inilah acara KenDURIAN sesungguhnya, celoteh sahabat MATAN Lampung disambut senyum dan tawa seluruh hadirin.[Kontributor Bandar Lampung]

Baca juga Jalan Hamba Menuju Pintu Takwa

Continue Reading

Berita

Usai Dilantik, LWPNU Tangsel Lanjut Rapat Kerja

Published

on

By

Bojongsari, JATMAN.OR.ID: Setelah dilantik pada Sabtu (27/2), Pengurus Cabang Lembaga Wakaf dan Pertanahan (LWP) Nahdlatul Ulama (NU) Tangerang Selatan mengadakan rapat kerja untuk setahun kedepan di Serua Village, Bojongsari, Depok.

Acara ini dihadiri oleh pembina LWP NU Prof. Dr. Asep Saepudin Jahar dan Ketua PCNU Tangerang Selatan H. Abdullah Mas’ud serta para pengurus baru LWP NU Tangsel.

Perlu diketahui, Lembaga Wakaf dan Pertanahan Nahdlatul Ulama adalah Perangkat Departemenisasi Organisasi NU yang berfungsi sebagai pelaksana kebijakan NU berkaitan dengan kelompok Masyarakat tertentu dan/atau yang memerlukan penanganan khusus bidang pertanahan dan perwakafan. Dilansir dari jabar.nu.id, Sabtu, (27/2).

LWP merupakan salah satu badan otonom NU tertua yang memiliki peluang besa namun belum terlihat pergerakannya.

“Sejatinya LWP salah satu lembaga tertua dinaungan NU namun pergerakanya belum terlalu kelihatan maka dari itu kita (LWP NU Tangsel) harus bergerak untuk menaungi warga nahdliyyin yang ingin berwakaf” kata H. Abdullah Mas’ud.

Kyai Mas’ud mengungkapkan potensi filantropi di Indonesia sangat besar dan lembaga filantropi di NU hanya memiliki 2 lembaga, oleh karenanya warga nahdliyyin harus memanfatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.

“Kesempatan filantropi di Negara kita sangat besar dan perlu diketahui lembaga filantropi ini di naungan NU hanya ada 2 lembaga, Lazis dan LWP” Ungkapnya.

Sebagai lembaga filantropi, LWPNU Tangsel diharapkan mampu bekerjasama dengan lembaga lainnya, seperti Lazis NU yang notabene ada di naungan NU.

Prof. Dr. Asep Saepudin Jahar

“LWP harus terkoneksi dengan Lazis NU sebagai kerabat dekat yang sama-sama bergerak dibidang filantropi”, ujar Direktur Sekolah Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Asep Saepudin Jahar dalam sambutannya pada Sabtu (27/2).

Ia juga berharap LWP NU Tangsel memiliki focus utama yaitu sertifikatisasi tanah terutama milik warga nahdliyyin dan menghimpun wakaf uang dikalangan pengurus atau anggota NU di Tangerang Selatan.

“Program unggulan yang harus LWPNU fokuskan ialah sertifikatisasi tanah dan wakaf uang” harapnya.

Selain itu, Prof. Asep menekankan goal utama dari program jangka pendek LWPNU Tangsel adalah penggalangan wakaf untuk pembangunan Gedung Aswaja (Sekretariat PCNU Tangsel) di Kota Tangerang Selatan.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending