Connect with us

Dawuh

Pimpin Upacara Proklamasi, Habib Luthfi: Bangkitkan Nasionalisme

Rais Aam Idarah Aliyah Jam’iyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya menggelar peringatan detik-detik Proklamasi Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Republik Indonesia di rumahnya Jalan dr Wahidin Gang 7, Noyontaan, Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Senin (17/8).

Published

on

Photo: NU Online

Dengan menggunakan pakaian serba putih, Habib Luthfi yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) menggelar upacara yang diikuti oleh berbagai komponen berjalan cukup khidmat.

Diawali dengan pengibaran bendera merah putih oleh petugas, dilanjutkan pembacaan teks Proklamasi dan Pancasila oleh Inspektur Upacara Habib Luthfi dan diikuti oleh seluruh peserta upacara.

Dalam amanahnya Habib Luthfi berpesan, peringatan detik-detik proklamasi yang kita lakukan saat ini seharusnya membangkitkan kita semua untuk munculnya rasa memiliki bercermin kepada para leluhur dan pendiri bangsa ini.

“Apakah kita menjadi bangsa yang memiliki nasionalisme yang luntur, dan menjadi bangsa yang mengecewakan dan memalukan para leluhur dan pendiri bangsa ini,” kata Habib Luthfi.

Kecintaan Habib Luthfi kepada bangsa dan negara senantiasa menggemakan persatuan dan kesatuan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dapat disaksikan dalam berbagai kesempatan.

Di majelis Peringatan Maulid Nabi Muhammad misalnya, berbagai spanduk, kata-kata mutiara, hingga lagu merah putih selalu menghiasi even yang yang dihadirinya.

Meski peringatan maulidurrasul merupakan kegiatan keagamaan, tokoh-tokoh lintas agama selalu nampak hadir dalam perhelatan yang dihadiri puluhan ribu pengunjung.

“Abah Luthfi bukan lagi menjadi tokoh milik umat Islam saja. Akan tetapi, sudah menjadi milik lintas agama,”ungkap Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan, KH Zakaria Absor.

Dikatakan, untuk mengajak semua komponen bangsa, Habib Luthfi sempatkan keliling kunjungi masjid, gereja, vihara, hingga klenteng untuk bertemu para pemimpin agama menggelorakan semangat kebangsaan.

“Terakhir, Habib Luthfi berkeliling di Jawa Barat didampingi Gubernur Ridwan Kamil bertemu seluruh elemen masyarakat untuk cinta NKRI,” paparnya.

Wakil Ketua PCNU Kota Pekalongan, H Zainal Muhibbin menyebut, sosok Habib Luthfi adalah tokoh panutan yang layak kita contoh dalam menggelorakan semangat persatuan demi keutuhan NKRI.

“Saking cintanya terhadap NKRI, Habib Luthfi mendirikan organisasi kemasyarakatan (Ormas) Pecinta Tanah Air Indonesia (Petanesia) yang dalam waktu dekat akan meresmikan jajaran pengurusnya,” ungkap nya.

Hal ini tidak lain, lanjut dia, Habib Luthfi menanamkan pentingnya Hubbul Wathan minal iman agar bangsa ini tidak terpecah belah dalam keberbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan. “Habib Luthfi ingin Indonesia tetap utuh,” pungkasnya.

Sumber: NU Online

Dawuh

Ratib dan Hizb perlu Ijazahkah dalam Mengamalkannya?

Habib Luthfi menjelaskan ratib berasal dari kata rataba yang maknanya susunan. Hizb dan ratib, dilihat dari susunan­nya, sebenarnya sama dari hadist. Yakni, sama-sama kumpulan ayat, dzikir; dan doa yang dipilih dan disusun oleh ulama salafush shalih yang termasyhur sebagai waliyullah (Kekasih Allah).

Published

on

By

Menurutnya yang membedakan suatu ratib dengan ratib lain, atau hizb dengan hizb lainnya, adalah asrar atau rahasia-rahasia yang terkandung dalam setiap rangkaian ayat, doa, atau kutipan hadits, yang disesuaikan dengan waqi’iyyah (latar belakang penyusunan)-nya.

Namun, meski muncul pada waqi’ yang sama dan oleh penyusun yang sama, ratib sejak awal dirancang oleh para awliya untuk konsumsi umum, meski tetap mustajab. Semua orang bisa mengamalkan untuk memperkuat benteng dirinya, bahkan tanpa perlu ijazah. Meski tentu jika dengan ijazah lebih afdhal.

Rois ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al Mu’tabarah (JATMAN) menjelaskan sementara dengan hizb, sejak awal dirancang untuk kalangan tertentu yang oleh sang wali (penyusun) dianggap memiliki kemampuan lebih, karena itu mengandung dosis yang sangat tinggi. Hizb juga biasanya mengandung banyak sirr (rahasia) yang tidak mudah dipahami oleh orang awam, seperti kutipan ayat yang isinya terkadang seperti tidak terkait dengan rangkaian do’a sebelumnya padahal yang terkait adalah asbabun nuzul-nya. Hizb juga biasanya mengandung lebih banyak Ismul A’zham (asma Allah yang agung), yang tidak ada dalam ratib.

Habib Luthfi melanjutkan pembahasannya, dan yang pasti, hizb tidak disusun berdasarkan keinginan sang ulama, karena hizb rata-rata merupakan ilham dari Allah SWT: Ada juga yang mendapatkannya langsung dari Rasulullah SAW seperti Hizbul Bahr, Hizbul Nasr, Hizbul Khofi, yang disusun oleh Syaikh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili ; Hizb Nawawi, yang disusun oleh Imam an Nawawi. Karena itulah, hizb mempunyai fadhilah dan khasiat yang luar biasa.

Selanjutnya, Habib Luthfi ketika menjelaskan hizb dan ratib mengibaratkannya seperti kapsul, atau tablet, tentu tidak mempunyai dosis yang sama. Demikian juga dosis obat antibiotik dan vitamin. Jika yang satu bisa diminum sehari tiga kali, yang lain mungkin hanya boleh diminum satu kali dalam sehari. Bahkan vitamin, yang jelas-jelas berguna pun jika diminum melebihi dosis yang ditentukan dokter; efeknya akan berakibat buruk bagi tubuh. Badan bisa meriang atau bahkan kera­cunan. Begitu pula halnya dengan hizb dan ratib bukan langsung mengambil dari maknanya yang baik dan hebat saja agar nantinya tidak over dosis.

Habib Lutfi juga menejelaskan bahwa ratib itu dosisnya sudah direndahkan karena diambil langsung dari lisan baginda Rasulullah supaya siapapun boleh membaca dan mengamalkannya. Misalnya Ratib Al Hadad, Ratib Al Athas. Setiap ratib juga memiliki keistimewahan tersendiri dan saling melengkapi serta tidak saling berebut. Jadi, jangan sekali-kali merendahkan salah satu ratib, karena itu mencakup tentang akhlak dan adab. Ada juga Ratibul Kubra, kenapa dinamakannya seperti itu? Karena fatihah didalamnya waliyul kutub semuanya maka disebut ratibul kubra, jadi ini bukan ratib kubra.

Menurutnya sedangkan dalam hizb, ada syarat usia yang cukup bagi pengamal hizb. Sebab orang yang sudah mengamalkan hizb biasanya tidak lepas dari ujian. Ada yang hatinya mudah panas, sehingga cepat marah. Ada yang, karena Allah SWT, menampakkan salah satu hizbnya dalam bentuk kehebatan, lalu pengamalnya kehilangan kontrol terhadap hatinya dan menjadi sombong. Ada juga yang berpengaruh ke rezeki, yang selalu terasa panas sehingga sering menguap tanpa bekas, dan sebagainya.

Karena itu pula diperlukan ijazah dari seorang ulama yang benar-benar mumpuni dalam arti mempunyai sanad ijazah hizb tersebut yang bersambung dan mengerti dosis hizb. Selain itu juga diperlukan guru yang shalih yang mengerti ilmu hati untuk mendampingi dan ikut membantu si pengamal dalam menata hati dan menghindari efek negatif hizb.

Habib Lutfhi mengingatkan dalam pengamalan ratib atau hizb bisa dilaksanakan secara istiqamah karena istiqamah sangat penting dan sangat sulit untuk melakukannya.

Continue Reading

Dawuh

Dakwah JOL seperti Petani di Pegunungan

“Jadilah seperti petani di pegunungan,” pesan Abah, panggilan akrab Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Yahya kepada JATMAN Online saat berkunjung ke dalem Beliau di Pekalongan, Rabu (7/10) kemarin.

Published

on

By

Silaturrahmi yang diwakili oleh Pemimpin Umum JATMAN Online, Ir. H. Aman Subagio ini hendak meminta izin dan nasehat Abah tentang pengelolaan media online JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah) yang sering disebut JOL.

Abah dawuh agar dakwah JOL seperti petani di pegunungan, berbeda dengan dakwah yang dilakukan PBNU, seperti petani modern, walaupun kedua-duanya, hasilnya untuk PBNU.

Lihatlah petani di pegunungan, ia mengerti manajemen air, kapan hujan turun dan kapan ia menggunakan air dari sungai, ia mengerti keterbatasan jumlah air yang ada.

Sawah dan ladang akan mendapat air dari sawah dan ladang yang ada di atasnya. Tidak bisa sebaliknya. Maka ambillah hikmah dari perumpamaan ini.

“Jika sawah atau ladang di pegunungan hijau dan berhasil maka penduduk pesisir akan berkaca kepada petani di pegunungan,” jelas Abah.

Air hujan yang turun, air sungai di pegunungan yang masih jernih dan bersih ini ibarat ilmu yang murni. Ilmu yang kemudian diajarkan secara berjenjang seperti sawah dan ladang, dari atas ke bawah. Jadilah seperti petani di pegunungan.[Aman]

Continue Reading

Dawuh

Lentera Islami – Dakwah Habib Luthfi Bin Yahya

Lentera Islami – Dakwah Habib Luthfi Bin Yahya Seolah Bisa Dirasakan Dalam Langkahnya

Published

on

By

Continue Reading
Advertisement

Facebook

Trending