Pesantren dan Santri

0

Pesantren berarti tempat “santri”. Kata ini secara literal berarti manusia yang baik-baik. Kata santri mungkin diturunkan dari kata Sansekerta “Shastri” yang berarti ilmuwan Hindu yang pandai menulis. Ia merupakan lembaga pendidikan awal di negeri ini, sebelum lembaga-lembaga pendidikan modern sebagaimana dikenal sekarang ini. Penggunaan istilah pesantren dan santri yang diadopsi dari istilah agama lain tersebut tidak menjadi persoalan bagi mereka.

Di Pesantren, Kiyai dan para santri mengenakan kain sarung dalam kehidupan sehari-harinya. Mereka tidak mengenakan pakaian Arab yang dikenal sebagai “gamis” itu dan bukan pula celana panjang, ala orang-orang di Barat, atau dulu populer disebut pantalon. Sarung dalam bahasa Arab disebut “izar”. Sarung sebenarnya telah lebih dahulu menjadi tradisi pakaian masyarakat di berbagai tempat di dunia. Sarung juga dipakai oleh dalam sejumlah suku yang ada di masyarakat. Ia bukan menjadi identitas pakaian agama. Konon, Sarung pertama kali masuk ke Indonesia pada abad ke 14, dibawa oleh para saudagar Arab dan Gujarat (India).

Di Indonesia, berabad lamanya, sarung menjadi salah satu pakaian kehormatan dan menunjukkan nilai kesopanan yang tinggi. Para Kiyai dan santri dari dulu sampai sekarang selalu mengenakan sarung untuk shalat, mengaji, menghadiri acara-acara keagamaan dan dalam kehidupan di rumahnya sehari-hari. Memakai sarung ketika shalat dipandang lebih sopan dan terhormat daripada celana panjang.

Inilah prototipe kearifan yang ditunjukkan para ulama pesantren. Mereka mau menyerap tradisi apapun ke dalamnya tanpa harus kehilangan jati dirinya, atau tanpa harus mengikuti keyakinan agama atau ajaran-ajarannya yang dianggap bertentangan. (Menyambut hari santri nasional)

Pesantren: NKRI ITU FINAL

Muktamar NU 1984 di Situbondo, telah berhasil mengambil keputusan keagamaan yang bersejarah. Para ulama pesantren menerima Pancasila sebagai ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan status final. Penerimaan NU atas Pancasila dan NKRI benar-benar telah dipikirkan secara matang,  mendalam dan berdasarkan teks-teks keagamaan.

K.H. Ahmad Siddiq dalam makalahnya yang disampaikan pada Muktamar mengatakan bahwa “Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mencerminkan pandangan Islam tentang ke-Esa-an Allah, yang dikenal pula dengan sebutan Tauhid” dan bahwa “pencantuman anak kalimat “Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa” pada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, menunjukkan kuatnya wawasan keagamaan dalam kehidupan bernegara kita sebagai bangsa”. K.H. Ahmad Siddiq pada akhirnya menyimpulkan: “Dengan demikian, Republik Indonesia adalah bentuk upaya final seluruh nasion teristimewa kaum Muslimin untuk mendirikan negara di wilayah Nusantara. Para ulama meyakini bahwa penerimaan Pancasila ini dimaksudkan sebagai perjuangan bangsa untuk mencapai kemakmuran dan keadilan sosial.

Jauh sebelum itu, dalam Muktamar NU tahun 1935 di Banjarmasin, para ulama sepakat menyatakan bahwa mempertahankan kawasan Kerajaan Hindia Belanda adalah wajib. Ini didasarkan pada pemikiran bahwa kaum muslimin merdeka dan bebas menjalankan Islam, dan karena pada awalnya kawasan ini adalah Kerajaan Islam.

Para ulama pesantren berdasarkan keputusan Muktamar Banjarmasin itu dapat menerima realitas tentang kedudukan negara dalam pandangan Islam menurut paham organisasi tersebut. Mereka lebih berpikir substantive dari pada berpikir formalistic. Bagi mereka yang paling utama bukannya nama agama bagi sebuah negara, melainkan implementasi ajarannya dalam kehidupan Negara-bangsa. Gus Dur menyebutkan paling tidak tiga alasan utama atas keputusan ini. Pertama bahwa Negara ini secara factual dan real dihuni oleh masyarakat bangsa yang plural dan heterogen. Kedua, secara real Islam tidak memiliki ajaran formal yang baku tentang Negara. Ketiga, pelaksanaan ajaran-ajaran agama  Islam menjadi tanggungjawab masyarakat, bukan menjadi tanggungjawab Negara.

Pesantren Eksis dan Cerdas
Pesantren sudah lama dikenal sebagai institusi pendidikan keagamaan yang sangat unik, indigenius, khas Indonesia, dan sangat mandiri. Telah beratus tahun lahir, tetapi ia masih eksis sampai hari ini, meski tanpa dukungan financial langsung dari negara/pemerintah sekalipun. Dulu kala ia sering dicap sebagai lembaga pendidikan tradisional. Ia juga sering disebut dengan nyinyir sebagai lembaga keagamaan konservatif dan statis. Sebuah pandangan sekilas dan sama sekali tidak kritis. Realitasnya Pesantren tetap eksis dalam dinamika modernitas dan terus mengalami pembaruan. Dalam perkembangannya juga telah melahirkan banyak generasi muslim dengan pikiran-pikiran modern bahkan progresif.

Pesantren telah mampu menunjukkan dirinya sebagai lembaga pendidikan yang bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas dirinya sendiri. “Orang cerdas adalah dia yang bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman, tanpa kehilangan jati dirinya”. Pesantren pada sisi lain, memiliki khazanah intelektual klasik, karya para sarjana Islam terkemuka dan otoritatif di bidangnya masing-masing. Di dalamnya mengandung pikiran-pikiran pluralistic yang semuanya dihargai. Para santri sangat akrab dengan terma-terma : “Fihi Aqwal”( dlm hal ini ada banyak pendapat), “fihi Qawlani” (dlm hal ini ada dua pendapat), “Al-Mu’tamad” (pendapat yang kuat), “Al-Shahih”, “Al-Ashah”, “al-Rajih”, “Al-Arjah”, dll. Karena itu pesantren sangat toleran terhadap pandangan yang lain, dan tidak mengklaim pendapatnya sebagai kebenaran satu-satunya.

Oleh: KH. Husein Muhammad

Comments
Loading...