Portal Berita & Informasi JATMAN

Pesan Habib Luthfi di Jumat Kliwon

0 291

Pekalongan – Jum’at pagi (16/11) Habib Luthfi bin Yahya kembali menyampaikan mauidzah hasanah-nya pada acara rutin jum’at kliwon setiap bulan. Bertempat di gedung Kanzus Sholawat, seperti biasa ribuan jamaah hadir sejak pagi bahkan sebagian sudah sejak semalam tiba. Ratusan kendaraan bermotor terparkir rapi memadati jalan Dr. Wahidin, Pekalongan, Jawa Tengah.

Usai pembacaan shalawat dan zikir serta pembacaan kitab. Habib Luthfi langsung menyampaikan penjelasan kitab yang tengah membahas tentang haqiqatul musyahadah wa haqiqatul fikri. Beliau menjelaskan bahwa, “orang menyaksikan kebesaran Allah, menyaksikan apa yang telah diciptakan Allah paling tidak akan menambah kedekatan dirinya kepada Allah Swt. Bukan sekedar pandangan, bukan sekedar apa yang dilihat, tapi kalau kita mau berfikir, manfaatnya berfikir itu tadi yang mengajak kita berzikir kepada Allah. Semakin kita banyak berzikir kepada Allah, semakin tauhid kita semakin tebal. Artinya jadikanlah cita-cita kita orang min ahlith tauhid (termasuk ahli tauhid) bukan label tapi min ahlith tauhid.”

Beliau menerangkan tentang hakikat musyahadah, bahwa kalau orang min ahlith tauhid begitu mendengar kalimat suara Allah, mendengarkan asmaillah (nama-nama Allah) itu akan terhentak wajilat qulubuhum. Karena apa? Hatinya terus kembali kepada Allah. Amal perbuatan apa yang kita lakukan di alam dunia kelak akan dimintai pertanggungan jawab oleh Allah swt, itu haqiqatul musyahadah.

Beliau memberi contoh seperti dalam al Qur’an alif lam mim dzalikal kitabu la raiba fih hudan lil muttaqin, yang pertama alladzina yu’minunan bilghaibi. Kita percaya dengan hal yang gaib, dan yang gaib bukan ruh, bukan berarti yang tidak nampak oleh mata. Gaib itu seperti adanya surga dan neraka, adanya mizan, adanya shiratul mustaqim. Kita wajib beriman dengan adanya itu semua. Kelak kita akan berhadapan mizan-Nya Allah Swt, pengadilan agung-Nya Allah Swt, siapapun akan mempertanggungjawabkan.

“Bilamana kita selalu ingat dengan tauhidnya yang selalu berkembang pasti kita akan menjauhkan dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya. Karena apa? selalu merasa ingat kepada Allah merasa didengar oleh Allah merasa dilihat oleh Allah Swt.” tegas beliau.

Beliau kembali menerangkan bahwa “tidak cukup hatinya saja yang berlukiskan atau mempunyai ukiran kalimah jalalah. Tapi nurul ma’rifah wa nurul musyahadah ini bisa mewarnai lisannya bisa mewarnai matanya bisa mewarnai telinganya. Menjadi filter terhadap mulutnya, filter atas telinganya, filter untuk matanya.” ungkap Rais ‘Am JATMAN tersebut.

Menurut beliau orang yang mendapatkan nurul ma’rifah dan nurul musyahadah tidak akan mudah memandang dan mengecam orang seenaknya. Justru ia akan menutupi aib saudara-saudaranya. Ia juga menambahkan bahwa di Indonesia itu ada dua persaudaraan. Satu, saudara seagama sebangsa setanah air. Dua, saudara sebangsa setanah air. “Mau agamanya apapun para beliau adalah saudara kami sebangsa setanah air. Kalau mereka sakit, kita sakit tidak?”, tanya beliau, “sakit,” jawab jamaah yang hadir kompak. “Kalau kita sakiti mereka kita sakit kok”, singkat beliau.

Rais Am juga mengungkapkan bahwa tali ukhwah dan tali persaudaraan itu sudah diajari Allah swt al mukmin akhul mukmin (mukmin sudaranya mukmin) al muslim akhul muslim (muslim suadaranya muslim). “Kalau kita sudah tahu kalau mereka saudara-saudara kita saudara mukmin kita, (lalu) apa yang paling tepat mulut kita untuk berbicara kepada saudara kita akhunal mukmin akhul mukmin al muslim akhul muslim. (yaitu) Akan menjaga tutur kata jangan sampai menyakiti pribadinya apalagi membuka aibnya. itu kan paling tidak begitu”, tegas beliau memaparkan.

“Apakah kita akan mengeluarkan kalimah yang seolah-olah kita lupa kepada Allah. Kemana tauhid kita? Seneng kalau melihat orang fitnah, seneng kalau orang itu sakit? dsb. Karena apa? Karena tutur kata yang tidak terkontrol oleh tauhidnya dan musyahadah-nya kepada Allah Swt,” singgung beliau.

Salamatul insan fi hifdzil lisan (orang yang menjaga lisannya pasti selamat)”, tegas beliau.

Tapi kalau orang min ahlith tauhid akan mempunyai filter, begitu juga matanya. Kita melihat aibnya saudara mukmin kita khususnya, apakah kita harus jual beli aib na’udzubillah min dzalik. Seharusnya kita saling menutupi kekurangannya, bukan berarti diam terhadap orang yang ma’ashi (melakukan maksiat) atau orang yang cacat. Masih banyak cara-cara yang menyentuh hatinya, yang mudah menyadarkan bukan untuk membuka aib di atas podium ini umpamanya kita mengolok-olok orang lain, itu tidak berikan contoh yang baik.

Selain mata beliau menilai telinga juga memiliki punya filter. “Karena kita selalu musyahadah kepada Allah Swt. Telinga kita itu bisa memisahkan, ini suara yang akan memecah belah umat beragama yang akan memecah belah antar bangsa atau tidak. Kalau timbul tidak mempunyai filter di telinganya lalu langsung plos sana plos sini. Ini telinga ini pentingnya filternya disini, bisa kita filteri dengan tauhid, mujahadah, musyahadah kepada Allah Swt”, kembali beliau menerangkan pentingnya filter melalui musyahadah.

“Ingat tulung! jaga tutur mulut kita tutur omongan kita, jaga telinga kita mata kita,” beliau berpesan.

Beliau kembali berpesan, “Jangan sampai memberikan celah kepada oknum-oknum manusia yang akan menghancurkan umat islam khusunya umat beragama pada umumnya akan menghancurkan Indonesia. Ini tinggal tunggu saja kalau celah terbuka oknumnya masuk bleng mau ngomong apa. Indonesia bisa dibagi-bagi nanti. Kira-kira kalau indonesia pecah belah terima gak kira-kiranya?” tanya beliau “tidak,” jawab hadirin serentak.

Di akhir tausiyahnya beliau berpesan “Jaga persatuan, keukhwahan, kesatuan. Tunjukkan! Jangan takut untuk menunjukkan. Tunjukkan saya bangga menjadi bangsa Indonesia, bangga menjadi anak Indonesia yang beragama Islam, dan saya bangga mempunyai tanah air Indonesia serta NKRI harga mati,” pungkas beliau. (Eep)

Comments
Loading...