Pesan Habib Luthfi di Hari Pahlawan

Pekalongan – Pada (10/11) bertempat di kediamannya, Maulana al Habib Luthfi bin Yahya menggelar Peringatan Hari Pahlawan. Beliau menyampaikan rasa syukur dan pesan kebangsaan di hadapan tamu undangan yang hadir, baik dari kalangan ulama, TNI-POLRI, pejabat pemerintah dan tokoh masyarakat. Dalam tasyakuran hari ulang tahunnya, beliau tampak mengenakan batik berlengan panjang. “Hari ulang tahun saya, dan saya ingin masuk dalam jajaran orang yang berjuang dalam 10 November. Dalam agama numpang nama kebesaran 10 November itu disebut tafaulan”. Beliau berharap kita menjadi menjadi penerus bangsa yang tidak memalukan.

Dalam kesempatan tersebut beliau menyampaikan, “Melihat keadaan sekarang ini sangat memprihatinkan bukan karena akan menghadapi pilpres saja. Karena jembatan emas untuk bangsa kita yang harus kita titi masih sangat panjang. Jangan kita bangga dengan pembangunan-pembangunan yang ada sekarang ini, (perjuangan) masih panjang sekali, masih berlanjut untuk mengisi daripada pejuang.”

Beliau melanjutkan, “Yang pasti para beliau (pendahulu dan pendiri bangsa) seandainya mampu berbicara kepada publik kepada bangsa ini, para beliau mungkin akan berbicara sekeras kerasnya, apa diantaranya?” Wahai bangsaku yang kubanggakan! Keringat telah kami teteskan, darah telah kami kucurkan. Kami persatukan kalian dari Sabang sampai Merauke, berkibarlah kembali sangsaka merah putih. Pesan kami kepada kalian, ‘jangan kecewakan kami!’ Itu harapan para pejuang. Mampukah kita menyampaikan amanat tersebut kepada anak bangsa ini, (dengan) tidak memberikan satu celah, kesempatan atas oknum-oknum manusia dari manapun.

Menurut penilaian beliau, Indonesia yang subur makmur tidaklah cukup, Indonesia juga kaya dengan orang orang shaleh dan orang orang baik, yang tertanam bagaikan mutiara terpendam menghiasai kepulauan yang ada di Indonesia, menyinarkan suri ketauladanan, membawa misi misi al amin al amin (orang-orang yang bisa dipercaya).

“Namun dalam benak hati saya sendiri terkadang bertanya, kemana al amin al amin sekarang, orang-orang yang bisa dijadikan tuntunan panutan, memberikan suatu ketauladanan, keukhwahan di persatuan?” papar Rais ‘Am Jatman yang pada hari itu genap berusia 71 tahun.

Menurut Rais ‘Am Jatman tersebut, 10 November bukan milik pemerintah, tapi milik bangsa dan republik yang kaya akan sejarah di dalamnya. Beliau menyayangkan bahwa anak anak sekarang hampir tak mengenal sejarah bangsanya atau dalam istilah beliau kepareman obor atau kepaten obor. “Jangankan mengetahui dari Sabang sampai Merauke, berapa desa dalam satu kecamatan saja tidak hafal. Ini keprihatinan yang sangat mendalam khususnya untuk pribadi saya,” beliau mengungkapkan keprihatinannya.

Pesan kedua beliau dalam acara yang bertajuk “10 Nov 2018: Merah Putih Tidak Melupakan Sejarah” ialah tentang pendidikan nilai-nilai sejarah, baik sejarah agama, sejarah bangsa tentang perjuangan memerdekakan bangsa dari belenggu penjajah dan kebodohan.

“Anak anak kita apabila ditanya kenalkah foto dan gambar pahlawan yang dipampang? sejarahnya bagaimana? apakah bangsa ini tidak mengkhawatirkan yang akan datang, kalau kita sudah melupakan sejarah?” gugah beliau melalui pertanyaan sederhana.

Menurut pembacaan beliau, apabila anak-anak sudah melupakan sejarah, tidak mengetahui dan menghayati sejarah bangsanya, maka kemerdekaan Indonesia yang sudah diraih ini serta berkibarnya sangsaka merah putih hanya akan dianggap sebagai hadiah belaka bukan tanpa darah, fiktif bahkan dongeng. Kalau sudah demikian sulit kita mengandalkan generasi tersebut untuk mempertahankan NKRI harga mati. “Maka kepedulian kita bersama dalam menghidupkan kembali sejarah para pendahulu bangsa”, tegas beliau mengingatkan.

Beliau kembali menerangkan bahwa, “Tugas kita adalah mengisi kemerdekaan sebagai tanda terima kasih kepada para beliau. Bangsa yang kuat itu karena kefanatikan terhadap bangsanya, dan itu adalah benteng yang paling luar biasa. Yang saya khawatirkan, melentur kefanatikan ini, melentur handarbeni (rasa memiliki) kepada republik, kepada bangsa ini”.

Jika rasa memiliki kian luntur maka “menghancurkan indonesia tidak perlu pakai bom, cukup pakai hoax, hancurlah bangsa ini”.

Wahai bangsaku yang kubanggakan, relakah negeri ini terpecah belah?” tanya beliau. “Tidaak…” jawab hadirin dengan tegas. “Mestinya harus kita buktikan kalau kita mengatakan tidak. Presidennya boleh siapapun, tapi indonesia cuma satu, jangan dipelintir. Partai boleh bubar, Indonesia tak akan bubar, silahkan bendera banyak dari golongan, ormas atau partai tapi ingat merah putih cuma satu. Mari kita jaga tegaknya sangsaka merah putih. Tunjukkan kami putera putri patriotisme bangsa yang mulia ini, tunjukkan!” beliau menutup pesannya. (Eep)

Komentar
Loading...