Pernyataan Imam Asy’ari dan Imam Ibnu Taimiyah tentang Takfiri

RABAT – Takfiri artinya kelompok yang suka mengkafirkan kelompok lain tanpa dasar yang jelas. Takfiri ada dua macam, takfiri ideologi dan takfiri haraki atau takfiri aksi. Takfiri yang pertama biasanya berkutat di perang pemikiran (ghazwul fikri) saja sementara takfiri kedua melampaui yang pertama, mereka tidak segan-segan mengebom dan memenggal kelompok lain yang berseberangan dengan manhaj dan ideologi kelompoknya yang dianggap paling benar sendiri dan paling suci, pewaris ajaran Nabi sejati. Yang lain, kelompok kaleng-kaleng, kafir, halal darahnya, halal hartanya.

Setelah membahas definisi dan corak Takfiri, kini saatnya kita kemukakan dua pendapat tokoh besar yang masing-masing memiliki pengikut besar di kalangan muslimin mulai dulu hingga saat ini dan sampai yaumil qiyamah.

Massa pengikut kedua tokoh tersebut yakni; Abul Hasan Al-Asy’ari (w. 324 H/936 M) dan Ibnu Taimiyah (w. 728 H/1328 M), sebagiannya ada yang terjerumus dalam kefanatikan, acap kali berhadap-hadapan bukan hanya di tataran ideologi, mereka sampai saling membid’ahkan, menyesatkan, menjahmiyahkan, ujung-ujungnya mensyirikkan dan mengafirkan, bahkan sampai adu jotos. Ini yang disayangkan.

Oleh karena itu dipandang perlu menghadirkan pernyataan kedua tokoh tersebut dalam artikel ini yang sama-sama mengafirmasi di akhir hayatnya bahwa mereka tidak pernah mengafirkan Ahli Kiblat atau umat Islam meskipun mereka saling berdebat sengit dan silang pendapat dalam hal ideologi, akidah maupun ibadah. Karena semuanya menyembah sesembahan yang sama, perbedaan mereka sekedar perbedaan redaksi, cara berlogika dan berdialektika.

Yuk kita simak pernyataan Imam Al-Asy’ari yang diriwayatkan oleh Al-Hafidz Ibnu Asakir (w. 571 H/1176 M) berikut ini:

..قال أبو علي زاهر بن أحمد السرخسي: لما قرب حضور أجل أبي الحسن الأشعري في داري ببغداد دعاني فأتيته، فقال:

“إشهد علي أني لا أكفر أحدا من أهل القبلة، لأن الكل يشيرون إلى معبود واحد، وإنما هذا كله اختلاف العبارات”.

Zahir bin Ahmad As-Sarakhsi mengkisahkan: Ketika Al-Asy’ari sakaratul maut di rumahku di Baghdad, ia memanggilku, aku mendatanginya, lalu beliau berkata:

“Saksikanlah bahwa aku tidak pernah mengafirkan Ahli Kiblat/Kaum Muslimin (lintas kelompok), karena masing-masing menuju ke Tuhan yang sama/Esa, sejatinya perbedaan di antara mereka hanya perbedaan cara pandang”.

(Tabyin Kadzibil Muftari, Ibnu Asakir, hal. 305, Darut Taqwa, 2018).

Pernyataan Imam Al-Asy’ari di atas membuat decak kagum Imam Adz-Dzahabi (w. 748 H/1348 M) ketika ia menulis biografi Al-Asy’ari dalam kitab Siyar A’lamin Nubala’, sembari menambahkan keterangan bahwa pernyataan Al-Asy’ari tersebut valid, diriwayatkan juga sebelumnya oleh Imam Al-Baihaqi (w. 458 H/1066 M) dalam As-Sunan Al-Kubra-nya.

Kemudian Imam Adz-Dzahabi melanjutkan komentarnya sebagai sikap cara dia beragama dan berpolemik dalam madzahib. Ia menegaskan mengikuti pesan terakhir Imam Al-Asy’ari di atas dan pesan terakhir Imam Ibnu Taimiyah sebagaimana berikut:

قلت: وبنحو هذا أدين، وكذا كان شيخنا ابن تيمية في أواخر أيامه يقول:

“أنا لا أكفر أحدا من الأمة”

ويقول: قال النبي صلى الله عليه وسلم: “لا يحافظ على الوضوء إلا مؤمن، فمن لازم الصلوات بوضوء فهو مسلم”.

Saya tegaskan (Adz-dzahabi): Seperti pendapat Al-Asy’ari lah aku bersikap. Demikian halnya guru kami Ibnu Taimiyah di akhir hayatnya menyatakan:

“Saya tidak mengafirkan seorang pun dari umat Islam”

Lantas beliau berkata: Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidak menjaga wudhu’ kecuali dia orang yang beriman, dan barang siapa yang istiqamah shalat lima waktu dengan wudhu maka dia seorang muslim”.

(As-Siyar 15/89).

Artinya Syekh Ibnu Taimiyah rahimahullah di akhir hayatnya bersikap sama dengan sikap Imam Al-Asy’ari rahimahullah; tidak mudah mengafirkan kelompok lain yang berbeda pendapat dengan kelompoknya.

Selama ia masih shalat menghadap kiblat, selama ia masih rajin menjaga wudhu’ maka ia masih mukmin dan muslim. Demikian kata Hadis Nabi.

Sementara sabda Kanjeng Nabi yang kerap diutarakan Gus Baha’ di pengajiannya dalam konteks ini adalah:

(من قال لا إله إلا الله دخل الجنة (الحديث

“Siapa saja yang mengatakan La Ilaha Illallah maka ia akan masuk surga”.

Semudah itu orang masuk surga, Nabi tidak mempersempit surga hanya untuk golongan tertentu atau mempersulit syarat-syarat memasukinya. Terkadang akal kerdil kita yang mempersempit dan mempersulitnya. Padahal jalan-jalan menuju surga Allah sangat luas, banyak dan mudah.

Semua berkat rahmat Allah. Nabi diutus sebagai rahmat semesta alam. Siapa yang menyayangi akan disayangi. Siapa yang mengasihi akan dikasihi.

Oleh: Alvian Iqbal Zahasfan

Komentar
Loading...