Connect with us

Kolom Abah

Peringati Hari Pahlawan, Habib Luthfi: Jangan Kecewakan!

Published

on

Pekalongan, JATMAN.OR.ID – Peringatan Hari Pahlawan dan Tasyakuran tahun 2020 dengan tema “Pahlawan Sepanjang Masa” bertempat di Gedung Kanzus Sholawat Jl. Dr Wahidin No.70 Kelurahan Nonyontaansari Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan (10/11).

Acara ini dalam rangka memperingati hari pahlawan 10 November 2020 sekaligus tasyakuran hari lahirnya Rais ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thariqah al Mu’rabarah an Nahdliyyah (JATMAN) Maulana Habib Luthfi bin Yahya yang ke 73 tahun.

Dalam sambutannya, Habib Luthfi bin Yahya mengatakan, Peringatan Hari Pahlawan adalah untuk tidak melupakan sejarah, untuk berterima kasih kepada para pahlawan dan mensyukuri hasil jerih payah perjuangan para pendahulu.

Kemudian Habib Luthfi menjelaskan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, subur, makmur dan harus bisa memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat bahkan dunia.

“Bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang subur makmur gemah ripah loh jinawi, harus memberikan percontohan ekonomi kepada dunia,” jelas Habib.

Lanjut Habib Luthfi walaupun saat ini masih dalam pandemi Covid-19, dirinya juga mengingatkan agar jangan sampai kalah dan terus berjuang untuk selalu menjaga kesehatan, baik itu jasmani dan rohaninya.

“Kita jangan kalah dengan Covid-19, sebagai bangsa yang besar harus bisa menjaga kesehatan jiwa, pola pikir dalam wawasan agama, berbangsa dan bernegara hatinya, jiwanya sehat sesuai lagu Indonesia Raya, bangunlah jiwanya bangunlah badannya. Bangunlah badannya didalam perekonomian dalam sehat jasmani dan lain sebagainya,” jelasnya.

Dijelaskan, dengan adanya Covid-19 jangan sampai melenturkan imun kita, mental kita di dalam menghadapi situasi ini, harus tetap berjuang dalam menjaga kesehatan dan memajukan perekonomian Indonesia.

“Kita harus maju di dalam ekonomi. Malu rasanya negara yang subur hijau seperti Indonesia ini, kok kalah dengan Corona. Kita harus menjaga tentang kesehatan, tapi kita tidak boleh kalah, dan jangan sekali-kali memberikan kesempatan kepada oknum bangsa lain, artinya terpuruknya ekonomi Indonesia,” kata Habib Luthfi Rais ‘Aam JATMAN.

Ketua Forum Ulama Sufi Dunia tersebut menegaskan agar bangkit dan menjawab problematika serta selalu bersyukur dan berterima kasih kepada sang pencipta.

“Kita harus bangkit, kita harus menjawab. Indonesia hijau tanah airnya, dan InsyaAllah atas apa yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa untuk kami semuanya, tunjukkanlah kami bangsa yang mengerti terima kasih kepada Sang Pencipta. Tapi tidak cukup dengan ungkapan terima kasih, tapi buktikan kalau kita orang yang mengerti terima kasih,” tegas Habib Luthfi.

Habib Luthfi melanjutkan, tunjukkan buah terima kasih adalah mensyukuri dan mau membangun tinggalan / peninggalan apa yang telah diperjuangkan oleh para leluhur dan pendiri bangsa ini. Jerih payahnya, keringat yang telah diteteskan, bahkan tidak cukup keringat yang diteteskan dan darah yang diteteskan.

Diakhir sambutannya Habib Lutfi juga mengajak untuk membangun perekonomian dan selalu bersyukur serta berterima kasih dengan apa yang telah diperjuangkan oleh para pendiri bangsa sehingga kita sebagai bangsa Indonesia tetap bisa berdiri kokoh hingga saat ini.

“Mari kita bangun ekonomi! Jangan sampai kita mengecewakan kepada pendiri bangsa, kita galang kesatuan, kita galang persatuan, rapatkan jajaran, jangan kecewakan para beliau, jangan beri kesempatan oknum-oknum manusia yang ingin memecah belah atau menggoyahkan NKRI”, ungkapnya.

Berita

Jangan Pernah Kosong Seharipun Ndalem Tanpa Maulid

Sejarah Maulid di Ndalem Abah Luthfi bin Yahya

Published

on

By

Pekalongan, JATMAN.OR.ID: Bulan Rabi’ul awal sangatlah identik dengan maulid Nabi SAW dan sangat bersejarah bagi ummat islam pada khususnya. Salah satunya kegiatan maulid nabi di kediaman (ndalem) Maulana al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya (7/11), bagaimanakah sejarahnya? Mari kita simak wawancara berikut ini.

Untuk memperingati bulan dimana Nabi Muhammad SAW lahir, salah satu cara mengekspresikannya yaitu diantarannya dengan memperbanyak sholawat, mempelajari kisah-kisah kenabian, membaca kitab-kitab maulid seperti: al-Barzanji, ad-Diba’i, Shimtudduror, Dliyaullami’ dan masih  banyak yang lainnya. Begitu pula maulid Nabi di kediaman Abah Luthfi bin Yahya, biasannya ba’da maghrib diawali dengan membaca rotibul haddad lalu disambung dengan kitab maulid shimtudduror hingga selesai.

Kegiatan maulid ndalem Abah ini sendiri sudah ada sejak tahun 2001, namun hanya diikuti oleh tim-tim hadroh ternama pekalongan saja, itupun belum terstruktur dan terorganisir seperti sekarang ini. Barulah semenjak tahun 2017, kegiatan maulid dikediaman (ndalem) Abah Luthfi bin Yahya ini mulai terorganisir, setelah sebelumnya ada pihak dari ndalem Abah (khodim/abdi ndalem beliau), yang meminta agar dibantu oleh rekan-rekan PC IPNU Kota Pekalongan untuk mengisi kegiatan maulid selama 30 hari mulai dari tanggal 1 Rabi’ul Awal sampai 30 Rabi’ul Awal. Bahkan selain PC IPNU/IPPNU Kota Pekalongan, ada pula sahabat-sahabati dari PC PMII Pekalongan yang ikut berpartisipasi.

Seperti yang diungkapkan Ketua PC IPNU Kota Pekalongan M. Amsa Khalla Isnadi, “Di tahun pertama (2017) dari kami membagi tugas membaca kitab maulid pada pimpinan ranting (PR) dan pimpinan komisariat (PK) saja, kemudian di tahun kedua (2018) yang diikuti oleh PR, PK, PC, IPNU Kota Pekalongan, ditambah beberapa pimpinan anak cabang (PAC) IPNU dari Kabupaten Pekalongan (Buaran, Tirto, Wiradesa) dan Kabupaten Batang (Warungasm), lalu ditahun ketiga (2019) sudah mulai merambah ke PAC Kabupaten Pemalang (Ulujami dan Comal), dan tahun keempat (2020) ada penambahan peserta pengisi maulid, dari Kabupaten Pekalongan ada PAC Kedungwuni dan Wonopringgo, juga dari Kabupaten Batang ada PAC Wonotunggal dan Bandar.

Beliau melanjutkan bahwasannya ada satu kisah yang didapat dari teman-teman pihak ndalem, suatu hari pernah di ndalem kosong beberapa hari tanpa ada yang mengisi maulid, seketika itu pula Abah mengetahui, lantas koordinator/ketua abdi ndalem ditakzir untuk membaca maulid di kamar pribadi beliau sebanyak hari yang kosong tadi. Abah kemudian berpesan, “Jangan pernah kosong seharipun di ndalem tanpa maulid”.

“Maulid di ndalem ini sudah ada sejak 2001 mas, Abah Luthfi dan Ummi Salma pun ikut mengapresiasi ketika teman-teman dari IPNU ikut andil dalam membantu kegiatan maulid ini,  jadi sebelum maulid akbar Kanzus Sholawat diselenggarakan, kegiatan maulid ndalem ini harus ada, hukumnya wajib, karena sebagai pra-acara dari maulid  akbar kanzus, dan puncak acara dari maulid ndalem itu sendiri adalah maulid akbar Kanzus Sholawat Pekalongan.” ujar Kang Rois yang merupakan salah satu abdi ndalem Abah.[Arif]

Continue Reading

Artikel

Hijrah Saat Ini adalah Meningkatkan Keilmuan, Perekonomian dan Persatuan

Published

on

By

Saat ini marak istilah hijrah di kalangan umat Islam. Istilah yang digunakan sebagai ungkapan dari fenomena seseorang yang baru mengenal atau memperhatikan Islam setelah sebelumnya kurang memperhatikannya.

Di antara yang ramai mengenai fenomena hijrah ini dari semua kalangan baik di kalangan menengah samapai atas. Di sisi lain, gairah hijrah juga melanda kaum muda, pelajar, mahasiswa dan kalangan professional, bahkan artis.

Hijrah berasal dari bahasa Arab yang berarti meninggalkan, menjauhkan dari, dan berpindah tempat. Dalam konteks sejarah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersama para sahabat beliau dari Makkah ke Madinah.

Oleh karena itu peristiwa tersebut dijadikan penentuan awal mula kalender hijriah. Kalender hijriah pertama kali digunakan pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam hijrah pada 622 masehi lalu.

Habib Luthfi mengingatkan bahwa Rasulullah hijrah bukan karena takut, bukan tuntutan perut, tapi karena wahyu. Hijrahnya Rasulullah bukan karena perlakukan kafir Quraisy. Seandainya tidak ada perlakuan seperti itu, Kanjeng Nabi akan tetap hijrah.

Rais ‘Aam Idarah Aliyah Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman) melanjutkan penjelasannya.

“Hijrah di sini bukan ke negara-negara di Semenanjung Arab, kultur yang sudah setapak lebih maju, tapi malah ke Yastrib. Ada apa?  Kota tua yang pada 3000 tahun yang lalu sebelum masehi sudah ada yang menghubungkan ekonomi, kemudian dirintis kembali oleh Rasulullah menjadi jalan sutera. Jalan sutera ini menghubungkan ke timur jauh, melalui India hingga masuk ke Indonesia,” jelasnya. 

Dari sini sudah jelas bahwasannya Rasulullah hijrah bukan karena hawa nafsunya semata, tapi semuanya itu atas perintah Allah. Dimana banyak pelajaran yang dapat di ambil dari dibalik hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah kala itu bernama Yastrib.

Menurut Habib Luthfi hijrahnya Rasulullah membangun marketing, membangun ekonomi, membangun pendidikan, membangun sarana-sarana ibadah, menjalin persatuan-persatuan yang luar biasa atau ukhuwah, sampai timbul perjanjian deklarasi Madinah dan lain sebagainya.

Habib Luthfi menjelaskan juga ketika Rasulullah hijrah bukan yang penting mengangkat pedang saja. Tapi begitu hijrah diangkatnya pedang oleh kanjeng Nabi, pedang apa? Pedang intelektual, pedang keilmuan, pedang pertanian, pedang ekonomi, itulah yang dibangkitkan Rasulullah 

Banyak pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa hijrah tersebut, bukannya ketika ada orang mengaku-ngaku hijrah lalu menyalahkan amaliah umat Islam yang lainnya atau hijrahnya dengan kekerasan. Tapi dengan adanya hijrah ini bisa meningkatkan persatuan, perekonomian, dan keilmuan.

Continue Reading

Dawuh

Meneladani Kisah Sebutir Nasi

Ketika menempuh perjalanan mencari ilmu, Maulana Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan berjumpa dengan seorang Kiai sepuh. Habib Luthfi muda terkagum dengan akhlak Kiai sepuh yang luar biasa.

Published

on

By

Habib Luthfi menyaksikan Kiai Sepuh ketika sedang dhahar (makan), ada butiran nasi yang terjatuh lalu dipungut dan dikembalikan ke piring untuk dimakan kembali. Habib Luthfi bertanya kepada Kiai Sepuh “Kenapa harus diambil Yai? kan cuma sebutir nasi?” Kiai Sepuh dengan tegas menjawab “Lho… Jangan kita lihat nasi yang sebutir itu Yik. Apakah kamu akan bisa membuat nasi satu butir saja, atau bahkan jika seperseribu menir saja?”. Deg…Habib Luthfi Muda seketika terdiam.

Kiai Sepuh melanjutkan, “Ketahuilah Yik, saat kita memakan sebuah nasi, sesungguhnya Gusti Allah telah menyatukan berbagai peran orang lain di dalamnya. Nasi itu namanya Sego bin Beras bin Gabah al-Pari. Mulai dari mencangkul, menggaru, meluku, menanam benih, memupuk, menjaga dari serangan hama hingga memanen, ada banyak sekali jasa orang lain, dari beras menjadi nasi juga banyak sekali peran hamba Allah disana”.

“Ketika ada satu butir nasi, atau menir sekalipun yang jatuh ambillah. Jangan mentang-mentang kita masih punya cadangan nasi, sebutir nasi itu kita buang begitu saja, karena hal itu termasuk salah satu bentuk takabbur, dan Gusti Allah tidak suka dengan manusia yang takabbur. Jadi, selama sebutir nasi itu terjatuh tidak kotor dan tidak membawa mudharat bagi kesehatan kita, maka ambillah, satukanlah dengan nasi lainnya, sebagai bagian dari syukur kita”. Habib Luthfi menyimak lebih dalam.

“Karena itulah ketika akan makan, diajarkan doa: Allahumma bariklana (Ya Allah, semoga Engkau memberkahi kami). Bukan Allahumma barikli (Ya Allah semoga Engkau memberkahiku) walaupun sedang makan sendirian.

Lana itu maknanya untuk semuanya. Mulai dari petani, pedagang, pengangkut, pemasak hingga penyaji, semuanya termaktub dalam doa tersebut. Ini sebagai salah satu ucapan syukur serta mendoakan semua orang yang berperan dalam kehadiran nasi yang kita makan”.

“Satu lagi, mengapa orang makan kok ada doa: waqina ‘adzabannar (Jagalah kami dari siksa api neraka). Terus, apa hubungannya antara makan dengan neraka? kan tidak nyambung?” “Iya Yai, kok bisa ya?” Tanya Maulana Habib Luthfi muda dengan penasaran.

“Begini Yik, makan itu sebenarnya hanya sebuah wasilah. Kenyang itu yang memberikan hanya Gusti Allah saja. Jadi, kalau kita makan dan menganggap bahwa yang membuat kenyang adalah makanan yang kita makan, maka takutlah! karena hal itu akan menjatuhkan kita ke dalam kemusyrikan. Dosa terbesar bagi orang beriman”.

Astaghfirullahal’adhim…” batin Habib Luthfi muda yang tidak menyangka bahwa maknanya akan sedalam itu.

“Bayangkan saja Yik. Demikian juga ketika kita makan dan minum tapi tidak dijadikan untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga kita karena Gusti Allah tidak menghendaki, apalah jadinya?”. [Irsyad Maulana]

Continue Reading

Facebook

Trending