Perempuan-perempuan “Pencari Tuhan”

Jalan spiritual adalah hak semua orang, baik laki-laki maupun perempuan. “Mencari Tuhan” merupakan fitrah bagi setiap anak manusia. Demikian pula dalam sufisme atau tasawuf. Di antara banyak literatur tentang tasawuf atau tarekat, memang tidak banyak karya yang secara khusus membahas keterlibatan kaum perempuan. Tapi ini bukanlah alasan untuk mengabaikan peran perempuan dalam dunia tasawuf atau tarekat.

Dalam Alquran surah Ali Imran ayat 195, Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amalan orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan.”

Sufisme sendiri lahir karena meneladani sosok Nabi Muhammad Saw. Tidak mengherankan jika perempuan yang mendampingin beliau, Khadijah, dianggap sebagai perempuan pertama yang memiliki peran penting dalam sufisme. Pada masa-masa awal kenabian Rasulullah Saw, Khadijah tidak hanya berperan sebagai seorang istri yang baik, tetapi juga menjadi seorang teman spiritual, yang terus menerus mendukung dan menyemangati Nabi Saw menapaki tangga kenabian.

Khadijah-lah yang meyakinkan Nabi Saw di saat mengalami kebingungan dan kebimbangan akibat wahyu pertama yang diterimanya. Khadijah pula orang pertama yang mengakui kenabian Muhammad Saw.

Khadijah lalu mewariskan bakat spiritualnya kepada putrinya, Fatimah Zahra. Sebagai putri Nabi dan istri Ali ibn Abi Thalib, wajar jika Fatimah memiliki kecenderungan yang kuat terhadap sufisme. Ali bin Abi Thalib sendiri sering disebut sebagai Mursyid dalam silsilah tarekat, selain Abu Bakar Shiddiq. Sementara Nabi Saw merupakan mursyid dalam puncak silsilah tarekat. Fatimah Zahra, juga kerap disebut sebagai sufi wanita pertama.

Pada perkembangan selanjutnya, lahir nama-nama sufi perempuan yang meskipun tidak sebanyak sufi dari kalangan laki-laki, tapi namanya cukup dikenal dan dikagumi di kalangan penganut tarekat atau pengamal tasawuf.

Foto: moeslimchoice.com.

Tersebutlah nama Rabiah Al-Adawiyah, dialah yang paling dikenal sebagai sufi perempuan hingga saat ini. Rabiah dikenal karena kerinduannya yang sangat mendalam kepada Allah, dan karena ketinggian pengetahuannya tentang Allah. Seorang penyair Arab, Fariduddin Attar menyebutnya sebagai perempuan yang sangat dihormati oleh semua sufi pada zamannya.

Rabiah diperkirakan lahir pada 714 atau 717 M dan wafat di Basrah pada tahun 801 M. Ia dilahirkan dari keluarga miskin, dan kemudian diculik lalu dijual sebagai budak. Tapi kemudian ia dimerdekakan karena kesalehannya. Setelah itu Rabiah menjalani kehidupan sebagai sufi perempuan di Basrah. Ia tidak menikah hingga akhir hayatnya.

Ia banya didatangi oleh para murid dan sufi sezamannya, yang datang untuk mendengarkan ajarannya atau untuk berdoa bersamanya. Di antara yang pernah mendatanginya adalah tokoh-tokoh seperti Abdul Wahid bin Zayd, Malik bin Dinar, Rabah al-Kaysi, Sufyan Tsauri, dan Shakik al-Balkh.

Rabiah berpandangan bahwa cinta kepada Allah harus dimanifestasikan dalam bentuk yang paling murni, sebuah cinta yang diimplementasikan karena Allah itu sendiri, bukan karena faktor-faktor lain. Ini terlihat pada sebuah bait puisi yang ditulisnya:

“Ya Allah, kalau aku mencintai-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya, kalau aku mencintai-Mu karena mengharap surga, jauhkanlah aku darinya, tapi kalau aku mencintai-Mu karena Diri-Mu semata, janganlah jauhkan keindahan-Mu dari pandanganku.”

Nama sufi perempuan lainnya, Aishah al-Ba’uniyyah. Ia merupakan seorang penulis, penyair dan guru sufi yang hidup di Mesir dan Syiria pada masa Dinasti Mamluk. Aishah wafat di Damaskus sekitar tahun 1517 M. Ia menulis banyak karya dalam bentuk prosa dan puisi, dan merupakan penulis wanita Muslim yang paling produktif sebelum abad ke-20.

Berbeda dengan Rabiah, Aishah berasal dari keluarga kaya dan ternama al-Ba’uniyyah. Keluarga ini banyak melahirkan qadhi dan ulama di negerinya. Ayahnya Yusuf, lahir pada 1402 di Jerusalem, dan belajar di Damaskus, Hebron, Ramalah, dan Kairo, lalu menjadi qadhi di Sefed, Tripoli, Aleppo dan Damaskus. Aishah mempelajari Alquran dan ilmu keislaman lainnnya dari sang ayah. Di usianya kedelapan tahun ia sudah menghafal Alquran.

Aishah mempelajari sufisme juga dari keluarga besarnya. Namun dalam tulisan-tulisannya ia secara terbuka memuji dua guru sufi Tarekat Qadiriyyah, Jamaluddin Ismail al-Hawwari dan Muhyiddin Yahya al-Urmawi, yang ia akui sebagai guru spiritualnya.

Di luar kedua nama tersebut, sejarah sufisme juga mencatat perempuan-perempuan berpengaruh lainnya. Seperti dikutip dari M. Iqbal Maulana dalam penelitian ilmiah “Spiritualitas dan Gender: Sufi-Sufi Perempuan”, bahwa di Persia ada nama Jahan Malek Khatun, seorang putri bangsawan dan penyair sufistik yang hidup sezaman dan bersahabat dengan sufi-penyair hafizh.

Sufi perempuan dari Persia lainnya adalah Mahsati Ganjavi, hidup sekitar abad ke-11 hingga 12 Masehi. Nama dan karyanya disebut dalam berbagai naskah sufi, salah satunya “Ilahi Namah” karya Fariduddin Attar.

Di India ada perempuan bernama Habba Khatoon, penyair dan sufi yang hidup di abad ke-16 Masehi. Ia dikenal dengan julukan Si Bulbul dari Kashmir. Awalnya Habba Khatoon menikah dengan Yusuf Shah Chak yang menjadi penguasa Kashmir. Namun setelah suaminya ditangkap dan dibuang oleh Raja Mughal ia menjalani kehidupan sebagai sufi.

Sufi perempuan lainnya, juga berasal dari India adalah Jahanara Begum, putri raja Mughal, Shah Jahan, yang hidup pada abad ke-17. Bersama saudaranya, sang putri menjadi murid spiritual Mullah Shah Badakhshi dan dibaiat sebagai pengikut Tarekat Qadiriyyah.

Di luar nama-nama tersebut, tentu masih banyak sufi perempuan yang mewarnai dunia sufisme dan tarekat sepanjang sejarah. Kehadiran nama-nama besar dari kalangan perempuan tersebut menunjukkan bahwa perempuan memiliki kesempatan dan peran yang sama dalam menempuh jalan menuju kepada-Nya.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...