Pentingkah Bermursyid?

Mursyid atau guru spiritual dalam tarekat sebagai pembimbing ruhani belum diterima sebagian ulama. Mereka yang belum menerima (orang-orang pintar, ilmuwan, cendekiawan agama) menurut teorinya merasa mampu menembus jalan ruhani dengan metodenya sendiri tanpa mursyid. Bahkan menurut pengalamannya mampu sampai kepada Tuhan tanpa bimbingan mursyid.

Itu secara teori, namun kenyataannya, sepintar-pintarnya seorang mahasiswa S1, S2, S3 tanpa pembimbing skripsi, tesis atau disertasi, mahasiswa tersebut tidak bisa menyelesaikan tugas akhir sebagai syarat untuk menyelesaikan studinya.

Sepintar dan secerdas apapun mahasiswa yang bersangkutan harus mendapat ilmu khusus dari pembimbingnya untuk naik tingkat dari proposal ke hasil, promosi sampai wisuda.

Nah, itu baru sekedar untuk sampai mencapai sukses dalam studi. Lantas bagaimana kalau mau sukses di dunia bahkan sampai ke Tuhan? Tentulah harus ada mursyid yang membimbing dan menuntunnya.

Setidaknya, mursyid merupakan jendela dengan keinginan luhur untuk tembus ke hadirat Tuhan, ibarat ruangan yang tertutup serta berlubang lantainya dan gelap gulita. Maka mursyid adalah jendela yang dengan perantara jendela itu ruangan akan memperoleh cahaya. Maka penghuni ruangan bisa selamat seandainya di ruangan itu ada lubang atau sesuatu yg membahayakan.

Demikianlah hati seseorang jika gelap atau kotor, dipastikan muncul pada perbuatannya kesalahan dan dosa. Agar hati menjadi terang atau mendapat cahaya Ilahi, seharusnya orang tersebut mencari mursyid agar tertuntun ke jalan yang benar.

Mursyid sebagai sumber ruhaniah, bersama dengan mursyid hati menjadi tenang. Ibarat bersama penjual minyak wangi, maka walaupun kita tidak memakai minyak wangi, kita tetap harum, atau berada di samping api walaupun tidak terkena api kita merasa kepanasan.

Oleh: H. Anwar Abubakar
Korwil MATAN Sulselbar

Komentar
Loading...