Pengertian Ekstremisme dan Penyebabnya

0

Dalam bahasa Arab, ada tiga term terkait dengan masalah ini, yaitu ghuluw, tatharruf dan tasayaddud. Tatharruf adalah term yang tersebar dan dikenal luas karena banyak beredar di media massa Arab dan non-Arab. Sedangkan yang dimaksud dengan tatharruf adalah ghuluw dan tasyaddud yang diperingatkan oleh Islam agar dihindari.

Ghuluw dan tatharruf sendiri adalah dua kata yang sepadan. Tatharruf berarti: ‘melanggar batas keseimbangan’, sedang ghuluw adalah ‘condong dan menyimpang’. Dari sini, ghuluw dan tatharruf memiliki satu makna, yaitu ‘melanggar batas’, maksudnya ‘melanggar batas-batas ketengahan dan keseimbangan.’

Atas dasar ini, saya katakan, bahwa ghuluw, tatharruf, dan tasyaddud dalam agama adalah “tindakan menambah dan berlebih-lebihan dalam urusan agama, juga memasukkan sesuatu yang bukan bagian dari agama ke dalam agama, sehingga ini merupakan pelanggaran batas-batas yang sah”. Tasyaddud dalam ibadah adalah berlebih-lebihan, kaku dan menyimpang dari yang sebenarnya diminta, sedang tasyaddud dalam muamalat adalah menyimpang dari batas kepatutan secara konvensi dan legal secara agama.

Sebab-sebab yang mendorong terjadinya sikap ekstrem dan berlebih-lebihan dapat dirangkum sebagai berikut:

  1. Pemahaman yang salah terhadap ayat-ayat al-Qur’an, hadis-hadis Nabi, dan kitab kitab klasik.
  2. Menafsirkan teks-teks keagamaan berdasarkan hawa nafsu dan jauh dari pemahaman yang benar terhadap agama yang bertolak dari prinsip menjaga urusan-urusan agama dan dunia secara bersamaan.
  3. Memasukkan agama secara paksa ke dalam aliran aliran politik yang beraneka ragam, dan sembunyi di balik jargon-jargon keagamaan untuk mempengaruhi manusia dan menarik simpati mereka.
  4. Kurangnya pendekatan kepada khalayak, para Dai kehilangan bahasa untuk mempengaruhi.
  5. Membiarkan ruang luas kepada para dai tendensius di stasiun-stasiun televisi (media), terutama pada beberapa waktu belakangan ini.
  6. Masuknya banyak orang yang memiliki afiliasi dan pemikiran yang memusuhi negara dan umat manusia ke dalam lapangan dakwah.
  7. Berlebih-lebihan dalam berselisih, sehingga menimbulkan sikap fanatik dan perpecahan.
  8. Berlebih-lebihan dalam masalah cabang (furu’) baik yang berkaitan dengan fiqih maupun aqidah, dan berkobarnya perselisihan di dalamnya, sehingga menyebabkan kerancuan berpikir di kalangan pemuda. Perselisihan dalam masalah-masalah cabang tempatnya adalah kajian-kajian akademik saja, bukan materi yang disampaikan dalam media massa kepada masyarakat.
  9. Terpisahnya sebagian Dai dari problematika masyarakat, dan tidak dipertalikannya agama dengan kenyataan.
  10. Kurangnya wawasan keagamaan di kalangan pemuda, akibat sedikitnya program dan kurikulum agama yang mencakup wawasan ke moderatan dan keseimbangan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, sehingga menjadikan pemikiran pemuda ladang yang subur untuk menerima segala pikiran sakit yang datang kepadanya, terutama yang terjadi akhir-akhir ini dan akibatnya masih kita rasakan hingga saat ini.
  11. Dominasi bahasa uang dan pembelian kata sehingga menjadikan kelompok-kelompok ekstrem keluar menunjukkan diri kepada khalayak melalui stasiun-stasiun televisi untuk menjual pikiran-pikiran sakit yang mengajak kepada kekacauan dan perpecahan umat.
  12. Penyebaran pemikiran kelompok melalui stasiun-stasiun televisi tendensius, padahal Islam tidak mengenal apa yang dinamakan dengan pemikiran kelompok atau kelompok-kelompok. Sebaliknya, hanya mengenal apa yang dinamakan dengan kemaksuman kata umat, kesatuan barisannya, dan apa yang menjaga aqidah, pemahaman dan warisan pemikirannya

Pengalaman dan bukti menunjukkan bahwa ekstrimitas dan sikap-sikap berlebihan terlahir dari kelompok-kelompok itu, karena pemahaman yang keliru terhadap agama dan pembatasan agama hanya pada diri mereka saja, sehingga membuat mereka menyangka bahwa kebenaran dalam hidup hanya milik mereka sendiri, dan mereka adalah orang-orang merdeka sedang yang lain adalah hamba sahaya budak belian.

Oleh: Syaikh Abdul Hayyi ‘Izb Abdul ‘Al (Rektor Universitas Al Azhar Dalam “Jihad Melawan Teror”)

Comments
Loading...