Pengajian Jum’at Kliwon, Habib Luthfi Ingatkan Orang Shaleh Itu Dimulai dari Hatinya

0

PEKALONGAN – Dalam pengajian Rutinan Jumat Kliwon di Kanzus Sholawat Kota Pekalongan. Seperti biasanya Habib Muhammad Luthfi bin Yahya memimpin dzikir dan memberikan tausiah pada pagi Jum’at (23/8) atau bertepatan dengan 22 Dzulhijjah 1440 H.

Dalam kesempatan itu, Rais Aam JATMAN tersebut mengatakan bahwa syaikh Ahmad pengarang kitab Jami’ul Ushul Fil Auliya’ telah menghimpun ayat, hadits, fatwa, serta qaul ulama yang menjelaskan tentang keshalehan. Kata Habib Luthfi, yang pertama shaleh dari orang-orang shaleh tersebut adalah shaleh hatinya.

“Orang-orang yang shaleh yang pertama kali adalah solehussudur. Para beliau itu mampu menyelamatkan hatinya dari sifat sifat seperti ujub, kibir, sum’ah dan lain sebagainya,” ucapnya.

Habib Luthfi juga menegaskan pentingnya dzikrullah untuk taqarrub dan membersihkan karatnya hati yang menjadi hijab (penghalang) untuk dekat kepada Allah.

“Sehingga yang sepantasnya hiasan hati itu bi dzikrillah (dengan dzikrullah) yang akan menjadi sebab mengajak kita semua taqarrub kepada Allah terhalanglah oleh karatan-karatan hati yang merupakan, kibr, takabbur, sum’ah, merasa sok pinter, merasa sok alim, merasa sok bener ndewe, ini semua menjadi hijab setiap hati-hati manusia,” ungkapnya.

Orang-orang shaleh tidak mau tertipu oleh perilaku-perilaku yang mengotori hati. Menurut ulama asal Pekalongan ini, keshalehan seseorang lahir dari keshalehan qalbunya.

“Sehingga para beliau mampu menshalehkan setelah hatinya yang shaleh, pola fikirnya pun shaleh, perilakunya pun shaleh, tangannya pun ikut shaleh, kakinya pun ikut shaleh, sehingga shaleh itu tidak terletak pada hati saja tapi buahnya keshalehan yang tertanam di hati akan terpancar kepada semua anggota badan,” paparnya.

Khadim Kanzus Sholawat tersebut menambahkan bahwa orang shaleh selalu menghindari prasangka yang buruk. Orang shaleh selalu husnudzan, berprasangka yang baik kepada Allah swt.

“Walaupun keadaan dalam faqir yang luar biasa tetap menerima kefakiran itu dengan prasangka yang baik kepada Allah swt. Itulah tanda atau alamat orang yang mempunyai hati yang selamat,” jelasnya. (eep)

Comments
Loading...