Connect with us

Berita

Peletakan Batu Pertama Ureka Mart

Published

on

ureka

Pekalongan, Jatman.or.id: Acara Peletakan Batu Pertama (Groundbreaking) Ureka Mart dan Edukasi Peningkatan Inklusi Keuangan bagi UMK dan Pondok Pesantren dilaksanakan secara hybrid, yaitu dengan pelaksanaan secara langsung dan juga disaksikan melalui zoom meeting (Rabu, 11/8/2021).

Acara dihadiri oleh berbagai kalangan, di antaranya dari anak perusahaan BUMN seperti Direksi PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk, Direksi PT. Pegadaian (Persero) UUS, Direksi PT. Telkom Indonesia, Pimpinan Cabang PT. Bank Mandiri Pekalongan dan Pimpinan Cabang PT. Bank Mandiri Area Tegal. Selain itu juga dihadiri oleh JATMAN dan Koperasi serta Mitra Ureka. Tanpa terkecuali, kehadiran paling berharga adalah dengan hadirnya Maulana Habib Lutfi bin Yahya (Rais ‘Aam JATMAN).

Acara dilaksanakan dengan dua sesi, yaitu sesi pagi dan siang. Pada sesi pertama acara dipimpin oleh Gus Saiful sebagai MC yang kemudian dilanjutkan dengan pembukaan yaitu sambutan Asdep KIKS Kemenko Perekonomian yang disampaikan oleh Dr. Erdiriyo. Kemudian acara dilanjutkan dengan pembacaan Manaqib yang dipimpin oleh Dr. KH. Mashudi., M. Ag.

Memasuki acara inti yaitu pemaparan materi Edukasi Keuangan Inklusif bagi Santri Pondok Pesantren yang terbagi ke dalam tiga materi penting. Pemaparan yang pertama oleh PT. Pegadaian Syariah dengan tema Nabung Emas dan Agen Pegadaian Syariah yang disampaikan oleh saudara Aldo dan Doni. Dalam penyampaiannya, Pegadaian telah bertranformasi tidak hanya sebagai tempat gadai, melainkan juga sebagai tempat investasi. “Memang Pegadaian itu dulu hanya produk gadai saja, tapi pada saat ini sudah bertranformasi tidak hanya menawarkan gadai saja, tapi ada juga investasi salah satunya investasi emas,” tutur Aldo.

Dalam penyampaiannya Pegadaian Syariah menekankan pada investasi emas sebagai produk utama, karena dinilai sangat cocok dengan pelaku UMK untuk melakukan investasi emas dengan mekanisme membeli emas secara berencana dan menabung di tabungan emas. Dimana beberapa kurun waktu belakangan ini harga emas semakin naik. Selain itu juga karena sifat emas yang mudah disimpan, barangnya nyata, sangat likuid dan zero inflasi. “kenapa si harus investasi emas? karena emas itu mempunyai sifat yang pertama barangnya real, mudah disimpan dan dibawa, sangat likuid atau mudah dijual dan zero inflasi atau tidak terpengaruh oleh naik turunnya rupiah,” imbuhya.

Kemudian penyampaian materi dilanjutkan oleh Doni mengenai Agen Pegadaian Syariah. Nantinya Ureka Mart akan menjadi bagian dari agen pegadaian syariah, yang mana mempunyai tugas utama sebagai tangan kanan Pegadaian Syariah dalam menjalankan transaksi yang berkaitan dengan investasi emas. Sehingga memudahkan para nasabah yang akan berinvestasi tanpa harus datang langsung ke outlet Pegadaian Syariah. “Agen Pegadaian Syariah ini nantinya mengajarkan kepada teman-teman di pesantren supaya berinvestasi emas, agen pegadaian syariah ini ada tiga jenis yaitu agen pemasaran, pembayaran dan gadai. Ketiga agen ini mempunyai fungsi dan tugas sendiri-sendiri,” jelas Doni kepada peserta. Diakhir penyampaiannya Doni menekankan bahwa tujuannya untuk memberikan edukasi kepada teman-teman di Pesantren dalam hal pengelolaan keuangan dan juga mengajak untuk berinvestasi emas.

Pemaparan materi kedua berkenaan dengan Kemandirian Ekonomi Pesantren Melalui Ureka Mart Digital yang disampaikan oleh H. Gunawan sebagai development dari I Pesantren. Pada kesempatan ini penyamampaian materi diawali dengan pentingnya inklusi keuangan bagi masyarakat karena masih banyaknya masyarakat yang belum mengetahui tentang inklusi keuangan. “inklusi keuangan masih didapatkan oleh kalangan-kalangan tertentu, masyarakat bawah jarang mendapatkan kesempatan atau informasi jasa keuangan,” tutur H. Gunawan. Untuk mengatasi hal tersebut perlu adanya inovasi agar masyarakat mendapatkan informasi tentang inklusi keuangan salah satunya dengan melalui Ureka Mart. “contohnya tukang siomay, setiap harinya ia dagang siomay. Dari pagi ia belanja kemudian membuat siomay, siangnya dagang dan malamnya istirahat, itu akan begitu terus. Ketika dia mendapatkan akses jasa keuangan atau inklusi keuangan maka sebenarnya dia bisa mengembangkan usahanya.” tandas H. Gunawan.

Permasalahan-permasalahan lain juga muncul dari banyaknya sumber daya manusia di pesantren khususnya para santri yang pada dasarnya mereka mempunyai kesempatan untuk berkecimpung secara langsung di masyarakat, sehingga mereka juga dapat mengembangkan diri dibidang-bidang yang lain. Jadi nantinya selain santri belajar dalam bidang pendidikan juga dapat mengembangkan diri dalam bidang ekonomi. “itulah beberapa kendala, apa yang bisa kita lakukan ? nah kami membuat konsep Ureka Mart yang salah satunya menjadi pusat daripada inklusi keuangan untuk pondok pesantren. Hal ini bertujuan agar pondok pesantren mendapat informasi tentang keuangan,” tambahnya.

Dalam penyampaiannya, diakhir H. Gunawan menekankan bahwa Ureka Mart nantinya tidak hanya melayani usaha secara langsung. Namun juga akan dilakukan pengembangan secara online, yang nantinya akan dibuatkan e-comerce Ureka Mart. Tujuan utamanya agar memudahkan penjualan, dan produk-produk pesantren dikenal oleh masyarakat luas serta juga memberi lapangan pekerjaan bagi masayarakat sekitar sebagai jasa pengantar barang yang dipesan melalui online di Ureka Mart. Nantinya mereka akan dibuatkan aplikasi semacam gojek untuk melayani transaksi delivery di Ureka Mart. Ureka Mart juga nantinya menyediakan fasilitas pelatihan, bimbingan dan monitoring untuk menjadi seorang entrepreneur yang handal.

Di sesi pemaparan materi pada pagi hari ditutup dengan penyampaian materi yang disampaikan oleh PT. Telkom Indonesia yang memaparkan materi dengan judul Pesantren Go Digital dan Kartu Santri Telkom. Pada kesempatan ini materi disampaikan oleh Ibnu Arif selaku perwakilan dari PT. Telkom. Dalam penyampaiannya diawali dengan mempelihatkan data yang didapat dari Kemenag yang berkaitan dengan jumlah pondok pesantren di Indonesia secara keseluruhan yang mencapai ribuan pondok pesantren dengan jumlah santri mencapi empat juta lebih, dan jumlah ini akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu.

Dari banyaknya pondok pesantren tersebut, banyak kendala-kendala yang dihadapi oleh pesantren didalam beberapa hal, utamanya ditengah pandemi pesantren juga dituntut untuk tetap produktif dalam menjalankan kegaiatn-kegiatan pesantren. Kendala-kendala tersebut diantaranya terkait dengan konektivitas dan infrastruktur terbatas, masyarakat masih kesulitan dalam mengakses infromasi pesantren, administrasi dilakukan secara manual, pembelajaran masih secara konvensional dan kesulitan dalam memajukan UKM binaan pesantren. Dengan adanya permasalahan tersebut PT. Telkom memberikan solusi dengan melakukan kerjasama dengan pesantren untuk melakukan pengembangan Pesantren go digital. “Maka dari itu kami dari PT. Telkom Indonesia melalui Pesantren Go Digital berkomitmen untuk membantu dan mendukung proses digitalisasi pesantren dari mulai infrastruktur dan konektivitas, pembinaan talenta, sumber daya di pesantren, serta strategi pemasaran produk-produk pesantren. Sehingga dengan adanya digitalisasi semua itu akan menjadi mudah dan terintegrasi,” kata Ibnu Arif.

Lebih detail, Ibnu Arif menjelaskan bahwa Pesantren Go digital adalah solusi yang dikembangkan oleh PT. Telkom Indonesia untuk digitalisasi segmen lembaga pesantren. Di dalamnya terdapat beberapa layanan-layanan yang telah dikembangkan berkaitan dengan konektivitas internet, website builder, dakwah digital, platform belajar digital, e-commerce, dan kartu santri. Yang kesemuanya dapat digunakan oleh pihak pesantren dalam mengelola kegiatan pesantren dari yang bersifat administratif hingga kegiatan-kegiatan pesantren.

Di akhir penjelasannya Ibnu Arif juga menyampaikan tentang kartu santri, dimana kartu santri selain sebagai kartu identitas dapat digunakan juga untuk memudahkan santri dalam melakukan transaksi yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan di pesantren. Kartu santri dikembangkan atas dasar beberapa permasalahan seperti orang tua santri kesulitan dalam memantau keuangan santri, ketidaktahuan santri dalam mengelola keuangan dan administrasi kegiatan yang belum dikelola dengan rapi. “Oleh karenanya pesantren go digital membuat solusi digital untuk pesantren dan juga bermanfaat untuk orang tua santri dan santri yaitu kartu santri dengan fitur di dalamnya,” tegas Ibnu Arif.

Dipenghujung acara pada pagi hari, terdapat penyampaian berupa arahan yang dilakukan oleh KH Aship Kholbihi, SH., M.Si selaku ketua Ureka Mart. Dalam penyampaiannya beliau memberikan informasi bahwa berdirinya Ureka Mart dilatarbelakangi dawuh Maulana Habib Lutfi bin Yahya bahwa di zaman sekarang kalangan pesantren harus bekerja sama dengan seluruh kekuatan yang ada untuk memberdayakan dan melengkapi serta memperkuat apa yang belum tersedia di pesantren. “Upaya seperti ini menjadi visi Ureka untuk mengelaborasi dawuh guru kita semua Maulana Habib Lutfi bin Yahya bahwa hari ini kita harus bekerja sama dan menjalin jaringan terhadap seluruh kekuatan bangsa ini dalam rangka garis besarnya adalah pemberdayaan ekonomi umat,” ujar Kiai Aship.

Selain itu, beliau juga menegaskan bahwa kerja sama pemerintah dengan pesantren tidak dapat dipisahkan. “Sekali lagi kita tidak bisa mendikotomi antara wilayah kerja pemerintah dengan wilayah kerja agama. Oleh karena itu harus ada pendekatan BUMN dengan pesantren agar dapat bersinergi dengan baik,” tambah Kiai Aship.

Pada sesi kedua acara dilanjutkan dengan peletakan batu pertama yang akan dilakukan secara simbolis oleh Maulan Habib Lutfi bin Yahya. Namun sebelum sampai pada acara tersebut, diawali dengan pembukaan yaitu pembacaan ummul kitab secara bersama-sama, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan dan laporan ketua Ureka yang disampaikan oleh KH. Aship Kholbihi, SH.,M.Si. Dalam penyampaiannya beliau menegaskan kembali bahwa Koperasi Ureka Mart bertujuan dalam upaya membangun ekonomi umat.

Kemudian, acara dilanjutkan dengan sambutan Bank Mandiri area Tegal yang dibawakan oleh Bapak Mahfud Efendi. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa Bank Mandiri terus memperkuat komitmen dalam mendukung pertumbuhan ekonomi berbasis pondok pesantren melalui kerja sama dengan Koperasi Ureka. “Selain itu dukungan kami untuk mendukung inklusi keuangan bagi pesantren dengan mengerahkan bantuan pembangunan lima unit Ureka Mart yang akan dibangun di Pekalongan, Jepara dan Bekasi,” Ujar Mahfud Efendi.

Tentunya Bank Mandiri sebagai BUMN tidak hanya berperan dalam menjalankan bisnis utamanya namun turut berkontribusi melalui program pemberdayaan UMK dan pesantren. “Kerja sama ini diharapkan agar mampu memberikan dampak nyata dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat,” tambah Mahfud Efendi.

Hingga telah sampailah kepada acara yang dinanti yaitu tausiah yang disampaikan oleh Maulana Habib Lutfi bin Yahya. Dalam tausiahnya, Beliau menyampaikan kepada seluruh peserta yang hadir agar melihat sejarah para leluhur bangsa dalam misi rahmatan lil alamiin. Lebih lanjut Beliau menegaskan para leluhur kita mempunyai manajemen yang rapi dalam hal ekonomi, pertanian dan kedokteran. Utamanya dalam perekonomian yang sangat membutuhkan relasi, kolaborasi dan saling sinergi dari segala instansi yang akan menjadi sarana pendukung perkembangan-perkembangan. “Mari kita menengok sejarah dari para pendiri bangsa, beliau-beliau para wali sembilan tentunya bukan yang tidak mempunyai manajemen yang rapi dalam menata bukan hanya ekonomi saja, namun juga ahli pertanian dan kedokteran. Lain dari pada itu pasti dalam dunia perekonomian memerlukan beberapa hal, terutama dalam berhubungan dengan segala instansi yang akan menjadi sarana pendukung perkembangan-perkembangan,” dawuh Maulana Habib Lutfi.

Lebih jelas lagi beliau menjelaskan bagaimana pengaruh kehadiran para wali dari dahulu hingga sekarang. Walaupun sudah tiada akan tetapi kehadirannya masih dapat dirasakan dalam menjaga ekonomi rakyat. “Makam wali sembilan mana yang tidak rame ? dari mulai Malik Ibrahim hingga sampai Sunan Gunung Jati, sampai sekarang masih dapat membangun ekonomi kerakyatan. Bahkan selain itu Maulana Syarif Hidayatullah mencontohkan bagaimana kebhinekaan di dalam makamnya, separuh muslim dan separuhnya non-muslim,” ujar Rais ‘Aam Jatman di dalam tausiahnya. Diakhir sebelum menutup tausiahnya Maulana Habib Lutfi juga menekankan pentingnya melanjutkan perjuangan para pendiri bangsa dalam memperkokoh persatuan negara republik Indonesia, dengan semangat yang tinggi beliau menegaskan bahwa NKRI HARGA MATI.

Setelah selesai menyampaikan tausiahnya beliau kemudian melanjutkan dengan melakukan simbolisasi peletakan batu pertama Ureka Mart yang didampingi oleh Bank Mandiri, Asdep KIKS Kemenko, Jatman dan Koperasi Ureka.

Di pungkasan acara, ditutup dengan barokah doa yang dipimpin secara langsung oleh Maulana Habib Lutfi bin Yahya.[Irfan]

Artikel

Model Manajemen Kepemimpinan Transformasional di Bidang Pendidikan

Published

on

By

Jakarta, JATMAN Online – Mutu proses pendidikan dianggap baik apabila sumber daya sekolah mampu mentransformasikan multi jenis masukan dan situasi untuk mencapai derajat nilai tambah tertentu bagi peserta didik. Hal-hal yang termasuk kerangka mutu proses pendidikan ini adalah kesehatan, keakraban, saling menghormati, kepuasan, dan lain- lain.

Hasil pendidikan dikatakan bermutu jika mampu melahirkan keunggulan akademik dan ekstrakurkuler pada peserta didik yang dinyatakan lulus untuk satu jenjang pendidikan atau menyelesaikan program pembelajran tertentu. Selain itu, mutu pendidikan dapat dilihat dari tertib administrasi.

Salah satu model kepemimpinan pendidikan yang diprediksi mampu mendorong terciptanya efektifitas institusi pendidikan adalah kepemimpinan transformasional. Jenis kepemimpinan ini menggambarkan adanya tingkat kemampuan pemimpin untuk mengubah mentalitas dan perilaku pengikut menjadi lebih baik dengan cara menunjukkan dan mendorong mereka untuk  melakukan  sesuatu yang kelihatan mustahil.

Konsep kepemimpinan ini menawarkan perspektif perubahan pada keseluruhan institusi pendidikan, sehingga pengikut menyadari eksistensinya untuk membangun institusi yang siap menyongsong perubahan bahkan menciptakan perubahan. Sejalan dengan yang diungkapkan O’ Leary (2021) menyatakan bahwa Kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang digunakan oleh seorang manager bila ia ingin suatu kelompok melebarkan batas dan memiliki kinerja melampaui status quo atau mencapai serangkaian sasaran organisasi yang sepenuhnya baru.

Seiring dengan perubahan kepemimpinan kepala sekolah atau madrasah dalam hal ini pondok pesantren, karena aturan regulasi dari pemerintah melalui peraturan kementrian agama yang ada, maka manajemen kepemimpin juga akan mengalami perubahan. Pondok pesantren adalah salah satu model pendidikan Islam Khas Nusantara.

Secara garis besar metode pendidikan di Pesantren adalah penggabungan antara metode pendidikan modern dan tradisional. Penggabungan dua metode ini didasarkan pada tuntutan zaman, bahwa, kita tidak dapat mengelak dari tantangan, perkembangan, dan kemajuan zaman dengan segala perniknya, tetapi juga kita sepatutnya tidak melepaskan nilai-nilai tradisional yang biasanya mengajarkan tentang nilai-nilai luhur budaya dan agama.

Dr. Suryadi selaku Koordinator Program studi S3 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, mengadakan Pengabdian Kepada Masyarakat di Pondok Pesantren Al-Ashiriyyah Nurul Iman Parung Bogor, memberikan pelatihan terhadap kepala sekolah, guru, santri dan mahasiswa/I dari pondok pesantren tersebut, yang berjumlah 400 peserta via zoom (22/09).

“Ekspektasi pelatihan ini adalah Menjadikan pondok pesantren Sebagai role model dalam menerapkan model kepemimpinan transformasional bidang Pendidikan,” ungkap Suryadi.

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini diawali dengan Paparan secara Umum oleh Dr. Suryadi, dilanjutkan oleh dr. Santi Anugerahsari, SpM, M.Sc, FISQua (Kepala SMF Mata RSUD Koja)  menyampaikan materi tentang manajemen kepemimpinan di era covid: cara hidup sehat di era pandemic, dilanjutkan oleh  Nining Parlina, S.Pd. Gr., M.Si (Han) menyampaikan materi tentang Manajemen Kepemimpinan : praktik Mindfullness sebagai strategi Manajemen Stress dikalangan pendidik di era disrupsi.

Materi dilanjutkan oleh Rihlah Nur Aulia,MA (Dosen dan peneliti Fakultas Ilmu Sosial UNJ) memperkuat materi  dengan tema Karakteristik Kepemimpinan Transformasional di Lembaga Pendidikan Islam.  Sesi selanjutnya dilanjutkan oleh pemateri dari kepala sekolah SMAN 36 Jakarta bapak Drs. Moch Endang Supardi, M.Si., M.Pd menyampaikan Materi tentang Kepemimpinan Transformasional kepala sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan di persekolahan. Selanjutnya pemateri pamungkas dari kepala Sekolah SMAN 109 Jakarta menyampaikan materi tentang Kepemimpinan Transformasional dalam manajemen kesiswaan.

Pelatihan ini mendapatkan apresiasi dan antusiasme yang tinggi dari semua peserta, dibuktikan adanya pertanyaan mendalam dari tiap materi yang disampaikan oleh pemateri.

Continue Reading

Berita

JATMAN dan Warung Kebangsaan Gelar Diskusi Pencegahan Korupsi

Published

on

Jakarta, JATMAN Online: Lajnah Advokasi Hukum Idaroh Aliyyah JATMAN, bekerjasama dengan MATAN DKI Jakarta, Fakultas Hukum Universitas Esa Unggul dan Warung Kebangsaan, menyelenggarakan Diskusi Interaktif dengan tema “Peran Nilai-nilai Tasawuf dalam Upaya Pencegahan Tindak Pidana Korupsi”, Jumat (17/09). Kegiatan tersebut bertujuan untuk memahami problematika kejahatan korupsi di Indonesia, bagaimanan perspektif kriminologis terhadap kejahatan korupsi, serta sejauhmana nilai-nilai tasawuf dan praktik thoriqoh dapat dijadikan instrumen atau pendekatan dalam rangka pencegahan tindak pidana korupsi. Diskusi yang diselenggarakan secara virtual itu menghadirkan tiga narasumber yakni; Dr. Nurul Ghufron, SH.,MH. (Wakil Ketua KPK), Dr. Ajid Thohir, MA. (Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung), dan Anatomi Muliawan, SH., L.LM. (Dosen Fakultas Hukum Universitas Esa Unggul).

Dalam sambutannya, Idris Wasahua, SH.,MH., selaku Wakil Ketua MATAN DKI Jakarat sekaligus Koordinator Lajnah Advokasi Hukum Idaroh Aliyyah JATMAN mengatakan bahwa gerakan tasawuf dan kaum Thoriqoh memiliki peran penting dalam sejarah pergerakan kemerdakaan melawan penjajah Belanda. Hingga kini, kaum thoriqoh tetap berperan aktif mengisi kemerdekaan melalui berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.  Dalam perspektif tasawuf, pelaku kejahatan korupsi adalah orang yang sedang mengalami kekeringan jiwa, kekeringan ruhani, serta buta mata bathin sehingga tidak mampu menahan hawa nafsunya dari perbuatan terlarang yang semestinya wajib dihindari. Cinta dunia yang berlebihan (hub ad-dunya) sehingga meletakan dunia sebagai puncak pencarian dengan menghalalkan segala cara serta menerobos nilai-nilai agama seolah lupa adanya pengawasan dari Sang Maha Pencipta Allah SWT. Apalagi, mayoritas pelaku kejahatan korupsi adalah kalangan cerdik pandai yang menyandang sejumlah kedudukan, jabatan, status sosial serta memiliki kemapuan finansial yang cukup memadai. Untuk itu, upaya pencegahan perilaku korupsi tidak dapat mengandalkan pendekatan hukum semata,  namun memerlukan pula pendekatan non hukum, salah satunya  dengan mendayagunakan peran nilai-nilai agama, salah satunya adalah melalui pengamalan nilai-nilai tasawuf  berorientasi pada pensucian jiwa yang diharapkan dapat mencegah seseorang dari perilaku korupsi.

Sementara itu, Dr. Irmanjaya, SH., MH., selaku Ketua Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Esa Unggul, dalam sambutannya mengatakan bahwa aturan-aturan hukum pidana yang ada saat ini termasuk hukum pidana korupsi sudah sangat cukup memadai. Akan tetapi, korupsi saat ini terlihat telah membudaya, dan hal ini akan merusak generasi bangsa kita. Apalagi, jika melihat modus dan reaksi para pelaku kejahatan korupsi baik ketika ditangkap, berada dalam tahanan/penjara dan ketika keluar menjalani hukuman pidana penjara,  tidak mencerminkan adanya rasa penyesalan akibat perbuatan korupsi yang telah dilakukan. Menurutnya, niilai-nilai kejujuran, integritas saat ini sudah mulai luntur dari generasi kita.  “Pendidikan anti korupsi itu harus dimulai dari rumah, tidak saja di masyarakat, tetapi harus dari rumah, orang tua harus menanamkan, guru harus menanamkan, dosen harus menanamkan, dan harus memberi contoh bahwa apapun yang dilakukan harus semata-mata bersih, jadilah anak yang sholeh dan sholehah yang tidak pernah mengambil hak orang lain, dan ketahuilah bahwa Allah melihat segala sesuatu, dan nilai-nilai inilah merupakan  nilai-nilai thoriqoh dan nilai-nilai tasawuf”, pungkas Irmanjaya.

Diskusi yang berlangsung selama lebih dari dua jam tersebut dimoderatori oleh Dr. Wasis Susetio, SH.,MH., selaku Ketua Warung Kebangsan.

Dalam pemaparannya, Anatomi Muliawan, SH., L.LLM, mengatakan bahwa dalam teori klasis tentang segitiga yang menjadi faktor terjadinya kecurangan (Fraud). Korupsi terjadi karena tiga hal; Pertama, adanya tekanan, seperti gaya hidup, tuntutan kebutuhan. Kedua, Rasionalisasi, yakni seseorang akan mencari  pembenaran mengapa ia harus korupsi. Ketiga, kesempatan. Faktor tekanan dan rasionalisasi berkaitan dengan faktor internal (Subyektif) pelaku kejahatan. Sedangkan faktor kesempatan ini berkaitan dengan sistem yang bersifat objektif atau faktual. Pada faktor subyektif itulah dapat menjadi domain dan peran tasawuf. Hanya saja, tasawuf tidak dapat mencegah korupsi jika tidak didukung dengan perbaikan sistem. Dalam kaitannya dengan faktor tekanan dan rasionalisasi yang dapat menjadi peran tasawuf itu, maka  disinilah aparat negara harus memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi organisasi-organisasi keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, dan organisasi keagamaaan di agama-agama lainnya untuk membantu meningkatkan integritas, dan disitulah  padu padan (Sinergitas) antara tasawuf dan perbaikan sistem, pungkasnya.

Untuk menanggulangi kejahatan korupsi termasuk pencegahannya, tidak cukup dengan melakukan perbaikan integritas, namun juga perlu aspek lain antara lain perbaikan sistem. Disisi lain menurut Anatomi, suatu sistem tidak akan efektif, jika sistem yang dibangun tidak diinternalisasikan kepada seluruh stake holder dalam suatu lembaga. Sebaliknya, jika sistem diinternalisasikan dengan baik, maka akan jauh lebih efektif daripada jika sistem itu tidak diinternalisasikan.

Sementara itu, menurut  Dr. Ajid Thohir, MA., kejahatan korupsi termasuk perbuatan munkar karena merugikan orang banyak dan ini sangat dibenci Allah. Dikatakan Ajid, Imam Al-Ghazhali membagi penyakit manusia menjadi dua jenis, yakni penyakit fisik dan penyakit ruhani.

Korupsi merupakan masalah kemanusiaan yang merupakan problematika yang ada dalam diri manusia sebagaimana problematika lainnya. Para pelaku korupsi adalah mereka yang sedang mengalami penyakit jiwa/ruhani,  dan hal itu hanya dapat diobati melalui pensucian jiwa melalui pengamalan nilai-nilai tasawuf. Hanya saja, tasawuf saja tidak cukup tanpa thoriqoh. Menurutnya, tasawuf berada pada wilayah epistemologi atau tataran konseptual, sedangkan thoriqoh berada pada tataran aksiologi atau praktik. Karenanya, tasawuf tanpa thoriqoh bagaikan ilmu tanpa amal.  Lebih lanjutnya dikatakan, pada asalnya manusia diciptakan dalam keadaan ma’rifah (kenal) kepada Allah. Hanya saja, dalam kehidupannya, dia harus berusaha melawan tipu daya syetan yang selalu mendorongnya ke jalan yang menyimpang termasuk perilaku korupsi. Untuk itu,  dengan pengamalan nilai-nilai tasawuf melalui berbagai praktik atau amaliah-amaliah yang ada dalam thoriqoh, diharapkan seseorang dapat kembali kepada jati dirinya yang sesungguhya.

Wakil Ketua KPK, Dr. Nurul Ghufron, SH.,MH., selaku pemateri ketiga mengemukakan bahwa kondisi korupsi di Indoenesia saat ini bukan hanya seperti fenomena gunung es yang tampak di permukaan. Namun yang terjadi di Indonesia lebih dari itu. Pelaku korupsi yang ditangkap KPK dan penegak hukum lainnya hanya terbatas pada pucuknya saja dari gunung es, yang tidak ditangkap yang di atas bongkahan lebih banyak lagi. Bahkan yang dibawah bongkahan gunung es yang berupa kepalsuan-kepalsuan jauh lebih banyak lagi yang sesungguhnya termasuk bentuk koprupsi dalam arti yang substantif.                                

Lebih lanjut dikatakan, saat ini  semua elemen bangsa mengalami disorientasi hidup, bukan hanya penyelenggara negara tapi semua elemen bangsa. Menurtnya, korupsi secara formil memang perbuatan yang melanggar norma undang-undang. Akan tetapi, ada lagi korupsi yang tidak melanggar hukum, namun hal itu termasuk korupsi dalam arti yang sesungguhnya.  Gufron lalu memberikan contoh seperti ketika seseorang yang mengalami masalah hukum datang ke seorang lawyer, maka idealnya semestinya insting seorang lawyer adalah  masalah ketidakadilan yang sedang dihadapi sehingga perlu didampingi untuk mendapatkan keadilan. Yang terjadi malah sebaliknya, yang mendominasi fikirannya adalah  seberapa besar uang yang akan didapat dari kasus tersebut. Fenomena seperti ini tidak saja terjadi di dunia hukum, namun terjadi pula di lingkungan lain, antara laian seperti di kedokteran, pendidikan, dan politik.   

Khusus di bidang pendidikan, dunia pendidikan mengalami disorientasi oleh karena  sistem pendidikan kita lebih menekankan pada kebutuhan pasar (link and match), dan kurang menekankan pada pengembangan kapasitas untuk menjadi individu yang dapat memberikan pelayanan dan kemanfaatan pada manusia dan alam raya secara baik. Akibatnya, indikator kesuksesan lebih dilihat dari aspek materialistis, kekayaan dan kemewahan. Selama sistem pendidikan kita tetap seperti itu,   maka dunia pendidikan hanya akan mencetak kader-kader koruptor, dan permasalahan  korupsi tidak akan pernah dapat dicegah secara maksimal, pungkasnya.

Diskusi berjalan cukup antusias dengan peserta yang kebanyakan berlatarbelakang pendidikan hukum, baik mahasiswa, akademisi, praktisi, aparat penegak hukum, pemerhati hukum, aktivis thoriqoh (Pengurus/anggota MATAN dan JATMAN seluruh Indonesia), termasuk pemerhati ilmu tasawuf dan pengamal thoriqoh, yang berasal dari berbagai daerah.[Idris]

Continue Reading

Berita

Pelantikan Idarah Syu’biyah Kota Makassar Periode 2020/2025

Published

on

Syu’biyah Kota Makassar

Makassar, JATMAN Online: Momentum bersejarah kembali terukir di Kota Daeng. Hari Sabtu, tanggal 18 September 2021, pelantikan pengurus Idarah Syu’biyah Jam’iyah Ahli Thariqah al-Muktabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) Kota Makassar berlangsung khidmat di Aula Angin Mamiri Rujab Walikota Makassar.

Panitia mengangkat tema “Thariqah al-Mu’tabarah Bangkit, Indonesia Damai dan Berkah”. Tema ini seakan-akan menitip pesan, bahwa keberadaan pengamal tarekat dengan pesan dakwahnya akan memberikan kontribusi besar bagi bangsa, yaitu menciptakan kedamaian dan menurunkan berkah Allah SWT. di Indonesia, khususnya di Kota Makassar.

Secara resmi kepengurusan Idarah Syu’biyah JATMAN Makassar dilantik oleh Drs. K. H. Sahib Sultan Karaeng Nompo (Rais Idarah Wustha JATMAN Prov. Sulawesi Selatan) kemudian dilanjutkan penandatangan berita acara oleh Mudir Idaroh Wustha JATMAN SULSEL (Prof. Dr. H. Abd. Kadir Ahmad, MS. APU), dengan Mudir Idarah Syu’biyah JATMAN Makassar (Drs. H. Misbahuddin Salamu, MA.), Rais Awal JATMAN Pusat Syeikh Sayyid Abd. Rahim Assegaf Puang Makka dan Rais Ifadliyah JATMAN SULSEL dan Makassar, turut menyaksikan Pejabat Walikota Makassar, Pejabat Kepala Kantor Kemenag Kota Makassar, Ketua Tanfiziyah NU Makassar.

Mudir Idarah Syu’biyah JATMAN Kota Makassar dan juga Kepala Kantor Kemenag Luwu Timur, Drs. H. Misbahuddin Salamu, MA. menyampaikan dalam pidato pembukanya, bahwa JATMAN adalah organisasi keagamaan yang mewadahi pengamal tarekat mu’tabarah dengan menganut paham Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah sesuai yang dibawa oleh para masyaikh dan ulama al-‘Amilin. Dakwah JATMAN selain menebar Islam Rahmatan lil ‘alamin dalam bingkai Ke-Indonesiaan juga berupaya menguatkan generasi yang berakhlak dan memiliki kekuatan ruhani berdasarkan iman dan taqwa.

Pelantikan kali ini dihadiri dari pejabat pemerintah Kota Makassar, para masyaikh dan ulama, pejabat Kepala Kantor Kemenag Kota Makassar. Diantaranya Syeikh Sayyid Abd. Rahim Assegaf Puang Makka (Mursyid Tarekat Khalwatiah Syekh Yusuf al-Makassari dan Rais Awwal Idaroh Aliyah JATMAN Pusat, Syeikh K. H. Sahib Sultan Karaeng Nompo (Mursyid Tarekat Khalwatiyah Yusufiyah al-Makassari), Dr. K. H. Abd. Muttalib, M.Ag. (Rais Ifadliyah Idarah Syu’biyah JATMAN Makassar), Drs. K.H. Alwi Nawawi, Ketua Tanfidziah NU Kota Makassar Dr. K.H. Kaswad Sartono, MA., Dr.K.H. Amirullah Amri, MA. (Ketua Majelis Ikhwan Tarekat Al-Muhammadiyah Indonesia), Dr. K. M. Mahmud Suyuti, M. Ag. (Ketua PW. MATAN SULSEL) dan sejumlah Ulama lainnya, Kabag Kesra Kota Makassar, Kepala Kantor Kemenag Kota Makassar Dr. H.M. Arsyad Ambo Tuo, M. Ag., Dandim, Kapolrestabes, dan pengurus JATMAN Kota Makassar yang ikut dilantik.

Acara kemudian dilanjutkan dengan menggelar Raker Perdana pertama dengan kesepakatan diantaranya adalah pembentukan pengurus Gusniyah (Kecamatan) JATMAN di semua Kecamatan Kota Makassar dengan harapan terakomodir tahun 2021 ini.

Acara pelantikan ini terselenggara dengan sukses berkat Kerjasama ketua panitia H. Ambo Sakka Ambo, M. Ag., sekertaris panitia H. Hasan Pinang, M. Th. I dan seluruh panitia dengan bekerjasama Walikota Makassar. Pelaksanaan Acara mengikuti standar protokol Kesehatan.[Har]

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending