Pekalongan, Kota Sufi Internasional

0

Jika Irak memiliki Baghdad, Maroko memiliki Fez, India memiliki Ajmer Sharif, Turki memiliki Konya, Spanyol memiliki Mursia, Yaman memiliki Tarim, Mesir memiliki Kairo, Indonesia memiliki Pekalongan sebagai Kota Sufi Internasional.

Di Mesir terdapat UU No. 118 Tahun 1976 yang mengatur Lembaga Umum Tarekat Sufi (al-Masyikhakh al-Ammah li al-Thuruq al-Shufiah) yang kini diketuai oleh Dr. Abdul Hadi al-Qashabi. Di Indonesia terdapat lembaga Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An Nahdliyyah (JATMAN) yang dinahkodai oleh Habib Muhammad Luthfi bin Yahya.

Maulana Habib Luthfi dikenal luas oleh masyarakat Indonesia terutama melalui majelis kliwonan, majelis maulid Nabi, dan tentu saja sebagai ulama tasawuf. Kiprah beliau dalam dunia sufi tak perlu diragukan lagi baik secara nasional maupun internasional. Melalui berbagai majelisnya beliau senantiasa mengajarkan cinta kasih dan nasionalisme.

Dahulu saat nyantri di Darul Chasan Janpor bisa dibilang tak pernah absen mengunjungi majelis maulid beliau yang digelar secara keliling di Pekalongan bahkan majelis maulid Kanzus Shalawat kini telah berkembang di Indonesia.

Saya ingat beliau selalu mengajarkan untuk mencintai sesama. Dengan menyampaikan surat al-Hujurat ayat 13 beliau menekankan lita’arafu sebagai bentuk perintah untuk saling menghormati. Tak heran, ada pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak sayang. Adanya berbagai suku bangsa dan budaya di Indonesia adalah kekuatan untuk saling mencintai, saling menghormati, dan saling mengasihi.

Selain itu, hal yang paling saya ingat dari majelis maulid yaitu beliau senantiasa menekankan pentingnya mencintai Nabi Muhammad Saw. Sebab dari beliaulah kita mengetahui Iman, Islam, dan Ihsan, dari beliaulah kita mengetahui Laa Ilaha Illallah. Majelis maulid perlu digalakkan dimana-mana sebagai ungkapan terimakasih dan syukur kita atas diutusnya Tuan semesta raya.

Muntada Sufi Internasional Jimat Umat Islam
Menurut Rais Aam Idarah Aliyah JATMAN, Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, pertemuan ulama sufi tingkat dunia merupakan rekomendasi dari Multaqa Sufi di Malang awal 2012. Pertemuan ini menjadi penting untuk menyebarkan misi Islam santun penuh kedamaian. Mengutip dari Chris Kanthan, penulis buku Deconstructing the Syrian War (2018), bahwa terdapat pihak tertentu yang menciptakan Islam sebagai senjata paling ampuh untuk berperang.

Menurut Kanthan, “Kelompok teror atas nama Islam adalah alat yang hebat untuk digunakan dalam perang proksi [perang dengan menggunakan kaki-tangan pihak lain]. Mereka dengan biaya sedikit mau berperang tanpa rasa takut. Mereka adalah sumber daya global yang dapat dibawa ke dalam konflik lokal manapun. Mereka juga dapat dibuang. Kita dapat menggunakan mereka bila diperlukan dan membunuh mereka bila tak diperlukan.”

Islam yang kehilangan esensi sebagaimana dijelaskan Kanthan adalah Islam yang ‘murtad’ dari misi azalinya sebagai agama rahmatan lil ‘alamin. Misi kasih-sayang seluruh alam inilah ‘manifesto’ yang mestinya dipegang oleh seluruh muslim. Habib Luthfi menjelaskan bahwa tujuan manusia diciptakan bersuku-suku bangsa dan budaya supaya mereka saling terkoneksi.

Kondisi geopolitik global ini pula yang sepertinya mengilhami agenda besar para sufi untuk mengadakan pertemuan internasional. Islam yang semestinya adalah agama rahmah ditampakkan oleh kelompok teror sebagai agama angkara murka melalui aksi-aksi menghilangkan nyawa. Selain kelompok teror, adapula kelompok transnasional yang mengusung paham neo revivalis yang bercorak fundamental. Sebagian paham dari gerakan ini menolak nasionalisme negara bangsa sehingga muncul militansi gerakan radikal.

Agaknya, pertemuan sufi internasional ini membawa misi cinta untuk mengembalikan gerakan Islam pada jalur kasih-sayang. Persis yang termaktub dalam surat QS al-Anbiya [21]: 107.

“Dan tidaklah Kami mengutus Engkau (Nabi Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam”.

Sufi: Islam Mazhab Cinta
Kini, ketika nilai kebenaran semakin kabur (post-truth) tak ada obat yang mujarab selain menggabungkan diri ke dalam barisan orang-orang salih. Merekalah yang senantiasa memberikan nutrisi ruhani di era ketika sense of cozy tak dapat diakses hanya melalui swafoto. Sehingga menjadi niscaya untuk mengikuti ulama salih yang salik untuk mengobati berbagai penyakit yang tak dapat dideteksi oleh peralatan medis. Melalui berbagai aliran tarekat penyakit kronis ruhani akan ditangani oleh seorang syaikh.

Banyak ulama yang menerangkan penyakit hati adalah sumber malapetaka. Menangani hati menjadi kebutuhan yang mendesak supaya ia kembali cemerlang sehingga cinta memancar darinya.

Inilah doktrin paling dasar yang diamalkan oleh para Sufi. Nama-nama besar seperti Ibnu Arabi dan Maulana Jalaludin Rumi paling familiar untuk diingat oleh kita mengenai pentingnya Islam kasih-sayang. Alih-alih mengeksploitasi muslim untuk membuat kerusakan, para sufi agung justru mengajarkan cinta-kasih pada sesama.

Muntada Sufi Internasional 2019
Indonesia semakin meneguhkan diri sebagai pusat Islam ramah—bukan Islam marah—dengan digelarnya agenda besar Muntada As Sufy Al ‘Alamy (World Sufi Forum) atau Pertemuan Sufi Tingkat Dunia Ke-3 tahun 2019 yang akan diselenggarakan di Pekalongan pada tanggal 8-10 April 2019.

Hal ini dapat dipahami dalam dua hal. Pertama, sebagai bukti bahwa pemerintah Indonesia dan ulama saling terkoneksi dalam satu ruang dalam menguatkan ajaran Islam kasih-sayang. Kedua, adanya pandangan bahwa sufi ketinggalan zaman keliru total dan perlu meng-upgrade pemahamannya.

Rangkaian acara diselenggarakan atas kerjasama antara pemerintah (Kementerian Pertahanan) dan Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An Nahdliyyah (JATMAN) dan direncanakan akan dihadiri oleh para pimpinan organisasi dan mursyid tarekat se-Indonesia dan para ulama tarekat dari puluhan negara di dunia.

Tokoh-tokoh ulama Sufi Internasional yang digendakan akan hadir di antaranya Syaikh Muhammad Adnan Al-Afyouni (Suriah); Syaikh Riyadh Bazo (Libanon); Syaikh ‘Aun Mu’in Al-Qaddumi (Jordan); Syaikh Muhammad Al-Muhanna (Mesir); Syaikh Sholahuddin Siirul Khatm (Sudan); Syaikh Anwar Kasyu (Tunisia); Syaikh Ahmad bin Idris Bu Khurayshoh (Maroko); KH. Ali Mas’adi (Indonesia); Syaikh Idris Al-Fasi Al-Fihri (Maroko); Syaikh Abdulkadir Al-Kattani (Maroko); Syaikh Ibrahim Al-Yasin (Albania); dan pembicara lainnya.

Beruntunglah masyarakat Pekalongan, semoga membawa berkah bagi bangsa dan memancar ke seluruh dunia. Selamat datang para tamu agung di kota tercinta. Semoga limpahan nazrah dan madad tercurahkan di bumi Indonesia. Selamat Bermuntada.

Oleh: Muhammad Fairuz Rosyid
https://mjscolombo.com/2019/04/07/pekalongan-kota-sufi-internasional/

Comments
Loading...