Para Dai Semangat Ikuti Sesi ‘Teknik Dakwah Terbaik’

0

MEDAN – Pelatihan Dakwah Transformatif (PDT) yang diadakan JATMAN bekerja sama dengan Dompet Dhuafa (DD) dan Djalaluddin Pane Foundation (DPF) masih berlangsung. Para dai dan muballigh yang berasal dari berbagai daerah di Sumatera Utara terlihat masih bersemangat mengikuti tiap sesi pelatihan, terutama materi ‘Teknik Dakwah Terbaik’ yang disampaikan pada hari kedua PDT di Aula Siti Banun, Medan, Sumut (20/3).

Para peserta disuguhkan tantangan yakni bagaimana dakwah itu bukan sekedar menyampaikan pesan-pesan kebaikan tapi juga membuat orang lain ikut mengalami dan melakukan yang dipesankan. Alasannya, berdasarkan sebuah penelitian, bahwa setelah 24 jam apa yang didengar seseorang hanya bisa melekat 10%. Namun apa yang dilihat masih tertinggal 30%. Sementara jika didengar dan dilihat bisa mencapai 50%. Sedangkan orang yang melakukan, mengalami masih bisa melekat hingga 70%. Demikian penjelasan Mudir Aam JATMAN yang menjadi narasumber pada sesi tersebut.

“Supaya mudah membuat orang belajar maka dakwah bukan hanya menyampaikan namun juga membuat orang mengalami dan melakukan,” singkat Mudir Aam.

Dalam paparannya, sejatinya saat ini manusia tengah berada di era visual, sehingga ia lebih mudah terseret dengan apa yang dilihat dari pada apa yang didengar. Maka dakwah yang disertai keteladanan adalah rahasia dari dakwah sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

Dalam sebuah ilustrasi, orang tua tidak cukup hanya menyampaikan ajakan shalat kepada anaknya. “Nak ayo shalat sudah masuk waktu maghrib.” Sementara orang tua masih sibuk dengan gawainya. Akan lebih baik jika orang tua itu meletakkan gawainya lalu bangkit mengambil air wudhu, sambil mengajak anaknya. Karena dakwah bukan hanya mengajak namun membelajarkan.

Harapannya, dalam berdakwah pun demikian, para dai yang biasa tampil di masyarakat bisa menggunakan LCD proyektor dan layar sehingga sasaran dakwah ikut hanyut belajar secara audio visual yang akan berdampak dakwah jadi lebih efektif dan efisien. Bukan hanya itu, tools dan media yang lain juga bisa digunakan, seperti, karton, gambar dan benda lainnya. Setidaknya ada yang bisa dilihat dan didengar. Ini lebih baik dari pada ceramah yang hanya verbal saja.

Untuk membuktikan bahwa teknik pembelajaran yang terbaik adalah Learning by Doing, para peserta yang berjumlah 14 orang tersebut kemudian diajak untuk belajar hadis tentang berwudhu dengan mempraktekannya.

“Dengan mempraktekkan kami jadi lebih mudah menangkap pesan hadis karena kami mendengar, melihat dan mengalami,” ujar Ustadz Anwar peserta dari Toba Samosir. (Idn/Eep)

Comments
Loading...