Nyirih Kebiasaan Orang Myanmar

0

YANGON – Budaya nyirih ternyata bukan hanya terjadi di Indonesia pada masa lalu, tetapi budaya tersebut sampai sekarang di Myanmar masih bertahan. Ketika anda jalan-jalan di Myanmar, anda pasti akan menemukan orang-orang muda makan sirih, bahkan dipinggiran jalan banyak sekali para penjual sirih berjejer.

Nyirih ini ternyata memiliki banyak khasiat bagi tubuh, salah satu khasiat dari kebiasaan menyirih adalah mennguatkan gigi. Lihat saja orangtua kita dulu yang terbiasa nyirih giginya lebih kuat dan masih utuh, dibandingkan dengan yang tidak terbiasa nyirih.
Nenek moyang kita telah mengetahui cara untuk memperkuat gigi dengan nyirih, sebelum ditemukannya pasta gigi. Tapi tau kah anda? Jauh sebelum nenek moyang kita menemukan sirih, Rasulullah saw telah menganjurkan untuk bersiwak.

Siwak adalah dahan atau akar dari pohon salvadora persica yang digunakan untuk membersihkan gigi, gusi dan mulut. Jika saja bersiwak ini tidak memberatkan niscaya Nabi akan mewajibkan umatnya untuk memakai siwak, maka dari itu hukum memakai siwak adalah sunnah dan sangat dianjurkan.

Bagaimana ketika bulan puasa?
Yang benar adalah disukainya penggunaan siwak setiap saat, baik bagi yang berpuasa maupun lainnya, dan dibolehkan bagi yang berpuasa untuk menggunakan siwak setelah tergelincirnya matahari dan sebelumnya.

Dalilnya adalah hadits Amir bin Rabi’ah yang disebutkan dalam kitab-kitab sunan, ia mengatakan, “Aku melihat Rasulullah saw berkali-kali menggunakan siwak ketika beliau sedang berpuasa.” Ia tidak membedakan apa yang dilihatnya itu, apakah sebelum tergelincirnya matahari atau setelahnya, ia menyebutkannya secara global. Biasanya yang dilihat itu adalah setelah tergelincirnya matahari, karena shalat siang hari itu semuanya setelah tergelincirnya matahari. Sementara siwak itu sendiri sangat dianjurkan penggunaannya sebelum shalat.

Adapun orang-orang yang memakruhkan penggunaannya bagi yang sedang menjalankan puasa, mereka berdalih dengan hadits, “Jika kalian berpuasa, hendaklah kalian bersiwak di awal hari dan janganlah kalian bersiwak di akhir hari.” Tapi hadits ini lemah jadi tidak bisa dijadikan hujjah.

Oleh: Ust. Budy Budiman
TIDIM (Tim Inti Dai Internasional & Media) JATMAN, yang bertugas selama Ramadhan di Myanmar

Comments
Loading...