NU Garis Lucu, Model Dakwah Santuy di Medsos

Nahdlatul Ulama (NU) memasuki usia ke-94 pada 31 Januari 2020, sudah hampir seabad. Saat ini NU masih merupakan ormas Islam terbesar di Indonesia. Dengan usia yang matang, tentu NU telah melewati berbagai macam dinamika, di dalam organisasi NU sendiri maupun dengan organisasi luar. Begitu pun model dakwah.

Kemunculan istilah “garis-garis” di dalam NU, meskipun bukan istilah resmi dan diakui oleh organisasi NU sendiri, namun ini mencerminkan adanya dinamika tersebut. Ada istilah NU garis lurus, garis keras, garis miring, hingga garis lucu.

Yang disebut terakhir ini menjadi fenomena tersendiri, karena dianggap mewakili kelompok milenial NU di era sosial media. Dan dakwah NU sendiri, terutama yang dilakukan para kiai dan santri sebetulnya terkenal disampaikan dengan kelucuan dan banyolan, seperti yang dilakukan almarhum Gus Dur, misalnya.

Kenapa kelompok yang menamakan diri NU Garis Lucu ini menjadi fenomena di medsos?

Kita tahu, identitas keagamaan menjadi salah satu yang menarik untuk dipertentangkan di dalam perdebatan di media sosial. Ambil misal, saat Pilkada DKI Jakarta 2017, identitas dan ideologi keagamaan begitu tampak secara vulgar dipertentangkan.

Jubah dan batik dipertentangkan, celana cingkrang dan tidak cingkrang dipertentangkan, sampai soal jenggot panjang dan tidak panjang pun menjadi bahan olok-olokan.

Tapi bagi sebagian kelompok, khususnya kaum milenial, isu-isu tersebut kian tidak menarik. Sehingga ketimbang larut dalam pertentangan mereka lebih memilih kelucuan. Lalu muncullah NU garis lucu.

Akun NU garis lucu (@NUgarislucu) sudah aktif di Twitter sejak Mei 2015, namun mulai meramaikan jagat media sosial sekitar tahun 2017-an. Mereka hadir membawa narasi kelucuan dari fenomena keagamaan maupun kebangsaan dalam kehidupan media sosial. Tidak melulu mempertentangkan perbedaan, tapi menyikapi perbedaan itu dengan candaan.

Karena dianggap menjadi oase di tengah gersangnya media sosial yang kadang terlalu kaku dan bahkan keras membahas soal ideologi agama, akun-akun garis lucu bermunculan dari organisasi lain. Sebut saja, Muhammadiyah garis lucu dengan akun @MuhammadiyahGL, @LdiiLucu), @HizbutTahrirGL), @WahabiLucu), @TasawufGL), @GontorGarisLucu).

Semua akun tersebut mempunyai kemiripan, yaitu membahas perbedaan penafsiran agama dengan cara “santuy” dan menghibur.

Bahkan belakangan muncul pula akun-akun serupa dari agama di luar Islam, semisal @KatolikGL, @BuddhisGL), @ProtestanGL) dan @KonghucuGL).

Memang tidak ada konfirmasi resmi bahwa akun-akun ini terkait atau terafiliasi dengan organisasi keagaamaan atau penganut agama-agama tersebut, tapi paling tidak ini menunjukkan bahwa sebagian besar penganut agama menginginkan cara yang santai dalam menyampaikan keyakinan atau ajaran agama.

Cuitan ini misalnya, @NUgarislucu yang menyindir @MuhammadiyahGL: “Saat mudik, tempat favorit buat istirahat adalah masjid NU. Selain kamar mandinya luas juga tersedia spot wisata religi yakni wahana kolam renang gratis di kobokan kaki. Di masjid @MuhammadiyahGL mana ada”.

Cuitan dibalas oleh @MuhammadiyahGL: “Setelah dari Masjid NU, berikutnya mampirlah ke rest area Kami yang disupport Lazismu dan RS PKU. Di sana biasanya ada pemeriksaan kesehatan. Bukan apa-apa, khawatir kalo anaknya gatal-gatal setelah berenang di kolam gratisan, misalnya. Maaf sekadar mengingatkan”.

Media sosial kerap menjadi wadah perang wacana keagamaan, dari mulai yang radikalis, salafi, hingga moderat. Masing-masing tentu berupaya berebut pengaruh. Di tengah kekakuan adu wacana tersebutlah, akun-akun garis lucu mampu mencairkannya. Mereka membawa oase tentang keberagamaan baru dengan narasi yang minim namun menonjolkan kekuatan kelucuan.

Mungkin saja, metode NU garis lucu ini bisa digunakan sebagai referensi bagi para dai, guru, ustaz, kiai atau siapapun sebagai alternatif dakwah di tengah masyarakat, khususnya di kalangan milenial yang tengah gandrung dengan media sosial. Tentu saja tetap dilatarbelakangi dengan kemampuan keilmuan yang memadai.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...