Connect with us

KH. Ali M. Adbdillah

Ngaji Ihya Ulumiddin: Enam Manfaat Uzlah

Published

on

Ngaji Ihya: Enam Manfaat Uzlah

Kajian ini disampikan oleh Dr. KH. Ali M. Abdillah, M.A. dalam Ngaji Ihya Ulumiddin pada 21 Juni 2021 di Al-Rabbani Islamic College Cikeas. Uzlah merupakan bagian dari suluk yang mengharuskan salik untuk mengasingkan diri atau menarik diri dari keramaian. Imam al-Ghazali menjelaskan beberapa manfaat uzlah antara lain :

1. Dapat khusyuk dalam beribadah

Bagi orang yang uzlah, ia akan mendapatkan ke-khusyuk-an dalam beribadah, karena hati dan difikirannya hanya difokuskan kepada Allah SWT.

2. Dapat merasakan nikmat ibadah

Untuk meraskan kenikmatan ibadah ini, sebelum uzlah seorang salik harus mampu mengukur kemampuan diri. Uzlah membutuhkan kemapanan lahir-batin. Misalnya seorang pekerja profesional dan sudah berkeluarga, ia harus sudah menyelesaikan pekerjaannya dan mendapatkan izin dari tempatnya bekerja serta sudah memenuhi kebutuhan keluarga saat hendak ditinggal uzlah.

3. Selamat dari kemaksiatan yang berpotensi muncul ketika bergaul dengan banyak orang seperti fitnah dan permusuhan

Uzlah bermanfaat bagi seseorang yang tinggal di dalam lingkungan yang berkarakter buruk. Ini juga relevan pada saat Indonesia sedang menyelenggarakan pemilu biasanya banyak bertebaran informasi yang simpang siur dan mengandung fitnah, uzlah adalah solusi agar terhindar dari pemikiran yang tidak perlu. Uzlah pada saat kondisi seperti itu tidak harus uzlah fisik tapi uzlah berdiam diri jangan sampai tergoda merespon informasi yang kurang jelas dan dapat menimbulkan perseteruan.

4. Selamat dari koneksi dengan manusia yang berkarakter buruk

Jiwa manusia dapat saling mempengaruhi. Jika ia tidak memiliki prinsip yang kuat maka ia akan mudah terbawa oleh orang lain. Saat berada di lingkup pertemanan yang buruk, biasanya ia akan mengalami satu fase berikut: ghibah/bergosip, kemudian su’uzan/mencurigai, kemudian ikut nyinyir dengan kebaikan orang lain. Setelah itu, ia ikut memprovokasi dan bicara bohong, sehingga timbullah adu domba sampai menjelekkan apa yang dilakukan orang lain karena ketidakpahaman diri. Akibatnya, timbullah permusuhan.

Timbulnya fase tersebut disebabkan oleh frekuensi ruhani seseorang berbeda. Maka dianjurkan untuk menjaga jarak lingkar pertemanan dengan orang yang kapasitas intelektual dan spiritual senjang dengan diri kita. Sebab kesenjangan ini dapat menimbulkan salah paham dan meruntuhkan keyakinan kita terhadap sesuatu yang dilakukan padahal ia sudah dijalur yang benar. Seperti salik berteman dengan orang yang membenci ajaran tasawuf sedang salik tersebut sedang tertarik belajar tasawuf lalu orang ini membujuk salik agar tidak usah belajar tasawuf. Yang seperti demikian lebih baik dihindari.

5. Terputus dari rasa tamak (berharap sesuatu dari makhluk)

Jika salik berharap kepada manuisa, ia juga harus berani menanggung kekecewaan. Karena bagi seorang salik yang Maha Memberi adalah Allah Yang Maha Kaya. Sebagai contoh, jika seseorang berkerja dan mendapatkan gaji dari pimpinannya. Di dalam hatinya, ia bersyukur dan meyakini bahwa rezeki datang dari Allah tapi wujud lahirnya ia mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang memberi. Ini disebut sebagai adab batiniah dan syariah.

Seseorang yang terjangkit penyakit tamak, maka ia dapat menjadikan seorang berkarakter munafik. Uzlah merupakan solusi untuk menghilangkan rasa tamak. Menghilangkan pemikiran tentang pandangan, penilaian, dan perlakuan seseorang pada diri salik adalah bagian dari riyadhah bagi salik. Tahapannya antara lain, pertama adalah menghilangkan riya (melakukan sesuatu karena ingin dipuji) dan kedua adalah menghilangkan rasa tamak kepada makhluk. Menguatkan ruhani lebih utama bagi salik.

6. Selamat bergaul dari orang bodoh dan keras hatinya

Jenis orang seperti ini hobinya adalah mencaci orang lain dan saat melakukannya ia tidak merasa menyakiti orang lain. Sering bergaul dengan mereka menyebabkan kita terbawa mengucapkan kata-kata mereka.

Demikian manfaat uzlah yang dari sisi maknawi adalah dapat menahan diri dari hal-hal di atas. [SBN]

Baca juga: Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Continue Reading

Artikel

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Published

on

By

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Manfaat Uzlah/Suluk adalah selamat dari segala bentuk kemaksiatan. Sebagaimana orang yang melakukan mukhalatah (hidup di tengah masyarakat namun tahan pada pengaruh buruk). Imam al-GHazali menerangkan ada empat penyakit kronis yang dapat dihindari saat seorang Uzlah yaitu: ghibah (bergosip), namimah (fitnah), riya (terpesona dengan kehendak diri sendiri) dan suqut anil amri wa nahi ala munka (diam dari perintah berbuat benar dan melarang kemungkaran).

Dalam bab riya, Imam al-Ghazali menjelaskan riya adalah melakukan sesuatu untuk mencari perhatian makhluk bukan karena Allah. Biasanya pelakunya jika melakukan sesuatu akan semangat apabila dilihat dan disanjung banyak orang. Riya ini termasuk penyakit kronis yang sulit dihilangkan. Bahkan wali abdal dan autad merasa kesulitan menghadapinya.

Riya termasuk syirik yang tersembunyi (syirik khafi). Rasulullah saw. telah mengingatkan bahwa yang paling beliau takutkan dari umatnya adalah bila seorang terjangkit syirik asghar yaitu riya. Riya bisa dihilangkan dengan mengamalkan ilmu tarekat yakni riyadhah mujahadah dan dzikir nafi isbat لا إلهَ إِلاَّ اللهُ

Jika sudah memahami makna substansi zikir nafi isbat, maka riya akan tergeser. Setelah istikamah dzikir nafi isbat kita juga akan memahami siapa diri kita dan mudah mengucapkan لاحول ولاقوة الا بآلله العلي العظيم

Selain itu, manfaat istikamah zikir nafi isbat, riyadhah dan mujahadah (suluk) adalah menguatkan ruhani sehingga memiliki filter bagi diri dari pengaruh lingkungan buruk. Karena karakter seseorang terbentuk dari keadaan lingkungannya. Maka ada ungkapan kalau kita berteman dengan tukang abu kita akan ketiban abunya dan bila kita berteman dengan tukang minyak wangi maka kita juga akan wangi.

Penyakit buruk akan menjadi penyakit yang terpendam. Maka sedikit sekali orang yang mengerti, apalagi dia orang yang ghofilin atau lalai. Jika orang yang istikamah zikir dan ia memiliki power saat berkumpul dengan orang yang karakter buruk, maka efek dari zikir ini akan bisa menjaga kita dari ketularan tabiat buruknya. Seolah-olah kita diberi penjagaan Allah untuk tidak mengikuti. Ini jika memiliki tameng ruhani. Jika kita tidak istikamah maka akan mudah mengikuti.

Selanjutnya Imam al-Ghazali mengutip sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda bahwa kamu akan menemukan manusia yang paling buruk yaitu yang memiliki dua wajah, dia datang kepada satu kelompok dengan satu wajah dan pada yang lain dengan satu wajah. Inilah ciri oraang yang terjangkit riya, yaitu mudah menjadi orang munafik. Dia tidak memiliki prinsip.

Ada satu cara lain untuk merubah watak yang buruk yaitu dengan sering mendengarkan kebaikan maupun keburukan, terlebih menyaksikan perbuatan itu langsung. Kalau kita berkumpul dengan orang yang biasa bohong maka bisa dilihat kalau ia sehari tidak bohong rasanya kurang lengkap. Kalau berkumpul dengan orang baik, ia akan mengambil banyak hikmah darinya.

Inilah rahasia sabda Rasulullah saw. bawa ketika kita duduk bersama-sama mengingat orang salleh dan ilmunya maka akan turun rahmat pada kita. Yang bentuknya kita diberi pemahaman baik buruk sehingga tidak melakukannya. Dan masuk ke dalam surga dan berjumpa dengan Allah.

Dengan mengkaji ilmu orang saleh dan mengingatnya dalam diri kita akan muncul sifat rahmat dan tergerak memiliki kesungguhan untuk mengikuti langkah mereka dalam melakukan kebaikan.           Maka dari itu penting untuk istikamah mengkaji ilmu tasawuf dan praktek suluk tarekat (zikir, riyadhah mujahadah) agar kita dapat menaikkah vibrasi positif di dalam diri dan memulai untuk melakukan kebaikan. Tentu saja dengan proses yang tidak sebentar dan tahan dengan segala dinamika perjalanan pengamalannya. [Silvia Bidayah Nafsani]

Al-Rabbani Islamic College Cikeas, 10 Juni 2021

Continue Reading

KH. Ali M. Adbdillah

Ngaji Kitab Bidayah al-Hidayah (1)

Bersama KH. Ali M. Abdillah

Published

on

Bidayah al-Hidayah

Kitab Bidayahal-Hidayah. Kitab ini adalah risalah mendapatkan petunjuk. Ditulis oleh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali at-Thusi, lahir di kota Thus didekat kota Masyhad Iran, lahir pada tahun 1058 M dan wafat pada tahun 1111 M. Imam al-Ghazali mendapatkan gelar Hujjjatul Islam yakni sang pembela Islam karena ketinggian akhlaknya dan kedalaman ilmunya. Kitab Bidayah al-Hidayahh ini sebagai modul perkenalan untuk mendalami kitab Ihya Ulumidddin.

Kajian kitab Bidayah al-Hidayah di Pondok Pesantren al-Rabbani Islamic College asuhan Dr. KH. Ali M. Abdillah ini diijazahi langsung oleh ulama Sufi asal Damaskus yakni Syeikh Yasir al-Qadhmani. Syeikh Yasir menyarankan untuk mengkaji kitab Bidayah al-Hidayah dan Ihya Ulumiddin. Karena tujuan dari Imam al-Ghazali saat menulis kitab ini jelas. Yakni sebagai panduan menuju Allah Taala. Maka bagi para Salik pemula dianjurkaan untuk mempelajari kitab ini agar mendapatkan pemahaman yang utuh dan dasar pengetahuan yang kokoh. Sebab bila Salik yang dasar pemahamannya belum kokoh akan mudah tergelincir oleh godaan hawa nafsu sehingga sulit mencapai tujuan utama.

Setelah mempelajari kitab Bidayah al-Hidayah ini insyaallah Salik dapat mengamalkan ilmu Tasawuf dengan tertib. Sebagaimaana dawuh Ulama Muhaqqiqin bahwa pratik syaruat, hakikat dan makrifat dapat diamalkan sekaligus tanpa dipilah-pilah. Sering kali terjadi, seorang yang mengaku mempelajari ilmu Hakikat hanya mempraktikkan hakikatnya saja dan meninggalkan syariat, tentu ini keliru. Dan orang yang hanya mengamalkan syariat tanpa hakikat tidak dapat merasakan nikmat dalam beribadah.

Di Mukamddimah, Imam al-Ghazali menuliskan kalimat  بسم الله الرحمن الرحيم . Dalam tradisi ulama salaf saat menulis kitab pasti diawali dengan menulis kalimat بسم الله. Penulisan ini bukan tanpa alasan. Sebab bila diurai, kalimat  بسم الله  memiliki makna yang dalam.

بسم الله terdiri dari huruf ب kata اسم dan الله. Jika dijumlah seluruh kalimat بسم الله الرحمن الرحيم terdapat 20 huruf. Dari 20 huruf ini ada satu huruf yang nyata namjn tersembunyi. Yaitu huruf ا (alif). اسم kemasukan huruf ب yang menjadi mudhof dan mudhof ilaih الله jadilah بسم الله yang huruf alifnya hilang.

Sedang dalam kalimat lain اقرأ باسم, hurut alifnya nampak. Ini maksudnya ialah bahwa dibalik tidak adanya huruf alif dalam بسم الله sebagai simbol tentang wujud Allah Taala nyata dan madhar-Nya di alam semesta yang kita saksikan. Jadi ketika seseorang membaca بسم الله artinya ia mengembalikan semuanya hanya kepada Allah Taala.

Lalu الرحمن bermakna Allah Taala memiliki kasih sayang tiada batas. Wujud alam semeta ini sebagai wujud rahman-Nya. Sekalipun bentuknya beragam. Maka jika seorang dapat memahaami ini, ia akan mudah ingat dan mengembalikan semua terjadi atas kehendak Allah sebagai tajalli sifat rahman-Nya Allah. Allah tidak memilih-milih dalam berkehendak. Orang yang ahli dzikir tidak dikehendaki kaya raya oleh Allah dan orang yang tidak ahli dzikir dikehendaki kaya raya oleh Allah, misal.

Kemudian الرحيم bermakna sifat Allah ini diperuntukkan pada orang yang dipilih oleh Allah. Allah menurunkan hidayah hanya pada yang dipilih. Maka hamba ini dapat mengimani rukun iman dan menjalankan rukun Islam. Dan di akhirat kelak Allah akan menampakkan sifat rahim-Nya. Seorang yang di dunia taat pada Allah akan diberi fasilitas dan kenikmataan surga. Sedabg ahli maksiat akan diberi balasan yang setimpal.

Jika seorang dapat membaca بسم الله dengan keyakinan yang kokoh maka apabila sedang makan nasi, misalnya. Orang ini akan merasakan betapa nikmatnya dapat makan nasi. Sebab ia ber-tafakkur tentang Allah Taala. Bahwa proses nasi yang ada dihadapannya melibatkan banyak jiwa dan kini dengan mudah ia dapatkan. Dan hasil dari tafakkur ini ia tak pernah menyia-nyiakan apapun yang ada dihadspannya dan mudah bersyukur.

Kemudian Imam al-Ghazali menulis puji syukur kepada Allah Taala. Imam al-Ghazali menerangkan seorang hamba harus memuji Allah dengan kesadaran dan kesungguhan. Karena semua yang terjadi dalam kehidupan digerakkan oleh Allah Taala dan hamba tidak memiliki daya upaya. Juga sebagai mencari perlindungan Allah agar dijauhkan dari sum’ah dan ujub perangkap halus dari Iblis.

Selanjutnya Imam al-Ghazali menuliskan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.  Imam al-Ghazali menerangkan bahwa Nabi Muhammad adalah sosok manusia biasa yang butuh makan dan minum. Namun Nabi Muhammad adalah seorang Rasul yang memiliki daya ruhani yang tinggi. Jadi umat Nabi Muhammad SAW harus memiliki adab yang tinggi terhadap beliau.[SBN]

Bersambung…

Continue Reading

Artikel

Ajaran Martabat Tujuh, Mutiara Hilang yang Ditemukan Kembali

Hamzah Alfarisi, Redaktur JATMAN Online

Published

on

By

JATMAN.OR.ID – Sabtu, 17 April 2021 pukul 20.30 WIB, PW MATAN DKI Jakarta menyelenggarakan pengajian ramadhan yang bertajuk “Kajian manuskrip kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah” karya Syekh Fadhl Allah al-Burhanpuri via Zoom. Kajian ini merupakan bagian dari program Kajian Sufi Ramadhan yang diselenggarakan di bulan ramadhan kali ini. Sebagai anak kandung dari JATMAN, MATAN memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan tarekat di kalangan anak muda dan kajian ini dalam rangka mewujudkan tanggung jawab tersebut. Selain kajian manuskrip ini, MATAN DKI Jakarta juga menyelenggarakan kajian kitab “Bidayatul Hidayah” karya sufi besar Imam Al-Ghazali setiap Kamis dan Jum’at pukul 20.20 WIB.

Kajian manuskrip ini diampu oleh Dr KH Ali M Abdillah, yang merupakan ketua PW MATAN DKI Jakarta sekaligus Sekretaris Komisi Pengakajian, dan Penelitian MUI Pusat. Dalam kajiannya, beliau memaparkan bahwa kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah adalah penafsiran dari Tauhid Wujudiah Ibnu Arabi, yang bercorak tasawuf falsafi. Ajaran tasawuf falsafi yang berkembang di Nusantara bersumber dari ajaran Ibnu Arabi, yang diantaranya adalah ajaran Martabat Tujuh dalam kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah karya Syekh Fadl Allah al-Burhanpuri (w 1630) dari Gujarat India.

Dalam perkembangannya, ajaran Martabat Tujuh ini mengalami pasang surut. Pada masa Syekh Syamsuddin al-Sumatrani, ajaran martabat tujuh mengalami puncak kejayaannya karena mendapat dukungan dari Kesultanan Aceh Iskandar Muda (1607-1636). Namun pada masa Syekh Nuruddin Al-Raniri yang saat itu menjadi Mufti Kesultanan Iskandar Tsani yang menggantikan Syekh Syamsuddin, beliau mengeluarkan fatwa sesat terhadap ajaran Martabat Tujuh yang dianggap menyimpang (ilhad).

Tuduhan sesat yang dialamatkan oleh Syekh Nuruddin Al-Raniri kepada ajaran Martabat Tujuh diselesaikan secara dialogis oleh ulama muda Sayfurrijal. Akhirnya, beliau mendapat simpati dari Sultanah Safiyyat al-Din (1641-1674), kemudian diangkat sebagai mufti menggantikan Syekh Nuruddin Al-Raniri. Sejak saat itulah, ajaran Martabat Tujuh berkembang kembali di tanah Aceh. Perkembangan ajaran Martabat Tujuh di Nusantara tidak dapat dipisahkan dari Syekh Abdul Rauf Al-Sinkili yang memiliki murid diantaranya Dawud Al-Jawi al-Rumi, Burhanudin Ulakan, Muhyi Pamijahan, dan Abdul Malik Trengganu.

Ajaran Martabat Tujuh pada zaman kolonial Belanda ditumpas habis berdasarkan fatwa sesat oleh Mufti Betawi. Ulama-ulama yang mengajarkan Martabat Tujuh dilarang mengajarkannya atau jika mengajarkannya akan ditangkap. Selain itu, manuskrip ulama-ulama yang mengembangkan ajaran Martabat Tujuh ini dibawa oleh Kolonial Belanda. Akhirnya, kini kita hanya dapat berziarah, namun tidak bisa mempelajari ilmu dari Syekh Muhyi Pamijahan, karena manuskrip-manuskrip beliau dibawa ke Belanda.

Di akhir sesi, Kyai Ali menuturkan: “Ini (ajaran Martabat Tujuh) adalah mutiara yang hilang, yang sekarang pada abad ke-21, kita temukan kembali. Mari kita pelajari kembali karena sekarang sudah tidak ada lagi hambatan untuk mempelajarinya”.

Sumber tambahan: Sufisme Jawa: Ajaran Martabat Tujuh Sufi Agung Mangkunegaran Kyai Muhammad Santri.

Baca juga: Launching Buku Sufisme Jawa: Kyai Muhammad Santri Mitos atau Fakta?

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending