Connect with us

Artikel

Nazar dalam Pandangan Tasawuf

Published

on

Ungkapan nazar seringkali kita dengar ketika seseorang yang memiliki hajat berkomitmen melakukan sesuatu ketika hajatnya terkabul. Lalu bagaimanakah proses nazar dan hukumnya menurut pandangan syariat dan tasawuf?

Jumhur ulama mengatakan, hukum asal nazar adalah mubah. Tetapi melaksanakan nazar tersebut adalah wajib karena kedudukan nazar sama dengan sumpah sehingga ketika melanggar nazar ada konsekuensi yang harus dipenuhi sebagaimana yang terdapat dalam Surat Al Maidah ayat 89:

لَا يُؤَاخِذُكُمُ ٱللَّهُ بِٱللَّغْوِ فِىٓ أَيْمَٰنِكُمْ وَلَٰكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ ٱلْأَيْمَٰنَ ۖ فَكَفَّٰرَتُهُۥٓ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَٰكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ ۖ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَٰثَةِ أَيَّامٍ ۚ ذَٰلِكَ كَفَّٰرَةُ أَيْمَٰنِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ ۚ وَٱحْفَظُوٓا۟ أَيْمَٰنَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya:

“Allah Swt. tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah Swt. menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur

Dari ayat di atas, ada beberapa konsekuensi yang harus dijalankan apabila seseorang tidak bisa memenuhi nazarnya, antara lain:

  1. Memberi makan sepuluh orang miskin dengan ketentuan setiap orang mendapatkan 1 mud beras yaitu sekitar ¾ liter
  2. Memberi pakaian 10 orang miskin (berupa baju, celana dan dapat menutup aurat bagi perempuan)
  3. Memerdekakan budak (poin ketiga ini sudah tidak relevan pada kondisi masa kini)
  4. Puasa berturut-turut selama tiga hari

Konsekuensi di atas dilakukan berdasarkan kemampuan orang yang bernazar. Jika orang yang bernazar tidak mampu melaksanakan tiga poin utama, maka alternative yang paling terakhirlah yang wajib dikerjakan. Apabila seluruh konsekuensi tersebut tidak bisa dilakukan, maka orang yang bernazar dihukumi dosa.

Nazar wajib dipenuhi ketika orang yang bernazar mengucapkan dengan perkataan (bil lafdzi). Jika hanya terbesit dalam hati, maka hukumnya tidak sah karena ada objektivitas yang akan dituju. Nazar bisa dilakukan dengan ibadah seperti shalat, puasa, sedekah dan lain-lain.

Kedudukan Nazar dalam Pandangan Tasawuf

Meskipun hukum asal nazar adalah mubah, sebagian ulama mengatakan bahwa hukum nazar adalah makruh karena membebani sesuatu yang semestinya tidak dibebankan pada dirinya.

Secara syariat, hukum agama memperbolehkan nazar. Tapi dari sisi tasawuf, nazar sangat tidak dianjurkan karena orang yang melakukan nazar seolah-olah dapat mengubah takdir Allah Swt. dan menyebabkan hajatnya terpenuhi. Sehingga jika dilihat dari lubuk hati yang paling dalam, terbesit pikiran bahwa ia menghendaki Allah Swt. untuk mengikuti keinginannya. Berarti segala ibadahnya hanya bergantung kepada tercapainya apa yang diinginkan. Bahkan orang yang bernazar disebut orang yang pelit karena ibadahnya disesuaikan dengan hajatnya. Dan dalam konteks tasawuf, perilaku semacam ini merupakan su’ul adab kepada Allah Swt.

Seperti contoh:

“jika saya memiliki anak laki-laki, saya akan bersedekah sebanyak 1 milliyar”

Ucapan tersebut sejatinya membebani orang yang bernazar. Padahal, cukup memohon kepada Allah Swt. tentang apa yang diinginkan dan apabila keinginannya terkabul serta memiliki rizki lebih, maka bisa digunakan untuk bersedekah.

Secara pelaksanaan mungkin terlihat sama. Tetapi secara hakikat, nazar terkesan memaksa Allah Swt. dan enggan bersedekah ketika hajatnya tidak terkabul. Sedangkan jika orang tersebut tulus meminta kepada Allah Swt., kemudian Allah Swt. mengabulkannya, ia bisa dengan sukarela menyedekahkan apa yang dimilikinya tanpa mematok besaran harta yang dikeluarkan.

Oleh sebab itu, KH. Muhammad Danial Nafis seringkali berpesan:

“jangan membebani sesuatu yang tidak dibebankan secara syariat”

Wallahu a’lam

Laporan: Khoirum Millatin

Artikel

Macam-macam Shalawat dan Keutamaannya

Published

on

Shalawat dan Keutamaannya

Bershalawat kepada Nabi Muhammad adalah salah satu bukti cinta kepadanya dan bernilai ibadah, Bahkan dalam Surat Al Ahzab ayat 56 Allah berfirman:

إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Wahai orang-orang yang beriman, Bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya”

Sementara itu, shalawat yang kita kenal sampai hari ini banyak sekali jumlahnya dan sangat beragam faedahnya. Beberapa shalawat yang sering kita baca berikut faedahnya:

Shalawat Munjiyat

Keagungan shalawat munjiyat sama seperti setengah dari besarnya arasy. KH. Musta’in Ramli, Khadim Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah dalam kitabnya, Al Risalah al Khawashiyyah menjelaskan keutamaan shalawat munjiyat yaitu:

“Barangsiapa yang membaca shalawat munjiyat pada tengah malam sebanyak 1000 kali, kemudian memohon kepada Allah Swt. apapun yang yang menjadi kebutuhannya baik dalam urusan dunia maupun akhirat, maka insyaa Allah keinginannya akan segera terkabulkan”

Berikut adalah lafaz shalawat Munjiyat:

اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْآفَاتِ، وَتَقْضِيْ لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ، وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ، وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ، وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِيْ الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ

Allāhumma shalli ‘alā Sayyidinā Muhammadin wa ‘alā āli Sayyidinā Muhammadin shalātan tunjīnā bihā min jamī’il ahwāli wal āfāt wa taqdhī lanā bihā jamī’al hājāt wa tuthahhirunā bihā min jamī’is sayyiāt wa tarfa’unā bihā ‘indaka a’lad darajāt wa tuballighunā bihā aqshal ghāyāt min jamī’il khairāti fil hayāti wa ba’dal mamāt

Artinya: “Ya Allah limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan shalawat itu, Engkau akan menyelamatkan kami dari semua keadaan yang menakutkan dan dari semua cobaan; dengan shalawat itu, Engkau akan mengabulkan hajat kami; dengan shalawat itu, Engkau akan menyucikan kami dari segala keburukan; dengan shalawat itu, Engkau akan mengangkat kami ke derajat paling tinggi; dengan shalawat itu pula, Engkau akan menyampaikan kami kepada tujuan yang paling sempurna dalam semua kebaikan, ketika hidup dan setelah mati.”

Shalawat al-Fatih

Shalawat al fatih bisa menjadi wasilah bagi siapapun yang membacanya, baik untuk memperbaiki kehidupannya ataupun sebagai doa agar hajatnya terkabul. KH. Muhammad Ma’ruf Zuhdi, Pengasuh Pondok Pesantren Khadijatul Kubra, Tuban mengatakan salah satu keutamaan shalawat al fatih yaitu bisa segera dipertemukan oleh jodohnya sebagaimana dawuhnya:

“Apabila ada seseorang yang ingin segera dipertemukan jodohnya, maka bacalah shalawat al fatih sebanyak 100 kali setiap pukul 12 malam sampai pukul 3 pagi selama 41 hari berturut-turut, maka Insya Allah jodohnya akan segera dipertemukan.

Berikut adalah lafaz shalawat al-Fatih:

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ وَالنَّاصِرِ الحَقَّ بِالحَقِّ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ

Allāhumma shalli wa sallim wa bārik ‘alā sayyidinā Muhammadinil Fātihi limā ughliqa, wal khātimi limā sabaqa, wan nāshiril haqqā bil haqqi, wal hādī ilā shirātin mustaqīm (ada yang baca ‘shirātikal mustaqīm’). Shallallāhu ‘alayhi, wa ‘alā ālihī, wa ashhābihī haqqa qadrihī wa miqdārihil ‘azhīm.  

Artinya :“Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada junjungan kami, Nabi Muhammad SAW, pembuka apa yang terkunci, penutup apa yang telah lalu, pembela yang hak dengan yang hak, dan petunjuk kepada jalan yang lurus. Semoga Allah melimpahkan shalawat kepadanya, keluarga dan para sahabatnya dengan hak derajat dan kedudukannya yang agung.”

Shalawat Nariyah

Shalawat ini mungkin tidak asing lagi dikalangan pecinta shalawat karena sering sekali dibaca baik dikalangan orang dewasa sampai anak kecil.

KH. Musta’in Ramli menjelaskan, “Barangsiapa membaca shalawat nariyah sebanyak 10 kali setelah shalat fardhu dan tidak pernah terputus, maka akan diberikan derajat yang tinggi oleh Allah Swt dan dimudahkan dalam mencari rizki. Jika dibaca sebanyak 40 kali setelah shalat subuh tanpa putus, maka apa yang diharapkannya akan segera terwujud. Jika dibaca sebanyak 100 kali setiap hari tanpa putus, maka apa yang diharapkannya akan segera terwujud lebih cepat. Jika dibaca sebanyak 313 kali setiap hari tanpa putus, maka dapat mempertajam mata hati. Jika dibaca 1000 kali setiap hari tanpa putus, maka akan mendapatkan karamah dari Allah Swt.

Berikut adalah lafaz shalawat nariyah:

أللّهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

“Allāhumma shalli shalātan kāmilatan wasallim salāman. Tāman ‘alā sayyidinā Muhammadi llādzi tanhallu bihil ‘uqadu wa tanfariju bihil kurabu. Wa tuqdhā bihil hawāiju wa tunna lu bihirragha ibu wa husnul khawātimi wa yustasqal ghamāmu biwajhihil karīm wa ‘alā ālihī wa shahbihī fī kulli lamhatin wa nafasim bi’adadi kulli ma’lu min laka.

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat dirinya yang mulia hujanpun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau”

Shalawat Tibb Qulub

Shalawat tibb qulub secara bahasa adalah obat hati. Shalawat ini bisa menjadi bentuk ikhtiar untuk menyembuhkan segala macam penyakit, baik penyakit jasmani maupun rohani karena sejatinya yang mampu menyembuhkan hanyalah Allah Swt.  

Habib Sagaf Baharun mengisahkan keutamaan shalawat tibb qulub melalui walitullah dari Mesir yaitu Imam Dardiri, ia berkata: Imam Dardiri adalah seorang wali di Mesir yang membaca shawalat tibb qulub 4000 kali, dalam riwayat lain sebanyak 400 kali. Atas wasilah tersebut, penyakit apa aja selain kematian akan sembuh.

Habib Abdurrahman Bilfaqih juga menceritakan, “Dari Habib Anis Lawang yang ketika itu hadir di 7 hari wafatnya ayah saya, ia mengatakan bahwa dulunya ia adalah seorang pedagang. Ketika ia berusia 9-10 tahun, ia dibawa oleh ayahnya kepada Imam Al Habr Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih. Ayahnya meminta ijazah shalawat dan diberikan shalawat tibb qulub untuk dibaca sebanyak 313 kali. Peristiwa ini membekas di hati Habib Anis dan diamalkan. Ketika rambutnya mulai memutih, pada suatu hari ia diundang untuk berceramah. Meskipun tidak memiliki kemampuan berceramah, karena berniat membahagiakan orang lain, ia menyanggupi. Sewaktu berceramah, hadirin yang datang menangis mendengar ceramah beliau karena merasuk ke hati mereka. Kejadian itu berulang setiap kali ia berceramah. Menurutnya, Ini adalah barakah ijazah Imam Al Habr Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih yang dilakukan dengan istiqamah.

 Berikut adalah lafaz shalawat tibb qulub:

أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا وَعَافِيَةِ الأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا وَنُوْرِ الأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا وَعَلَى آَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Allāhuma shalli ‘alā sayyidinā Muhammadin thibbil quluubi wadawā-iha wa‘āfiyatil abdāni wasyifā-ihā wanuuril ab-shāri wadhiyā-ihā wa’alā ālihī washahbihī wasallim.

Artinya: “Ya Allah, berilah rahmat ke atas penghulu kami, nabi Muhammad saw, yang dengan berkat baginda, Engkau menyembuhkan hati, menjadi penawar dan menyehatkan tubuh juga memberi kesembuhan penyakit, serta mengurniakan cahaya penglihatan. Dan karuniakanlah rahmat keberkatan dan kesejahteraan keatas keluarga dan sahabat baginda Nabi saw.”[Khoirum Millatin]

Continue Reading

Artikel

Juru Kunci Makam, Gus Dur: “Makam Sunan Kalijaga yang Asli Ada di Tuban”.

Oleh: Khoirum Millatin, S.Hum

Published

on

Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga adalah satu dari sembilan wali penyebar Agama Islam di tanah Jawa. Sebagaimana diketahui oleh kebanyakan orang di Indonesia, bahwa ia dikebumikan di Kadilangu, Demak. Namun berdasarkan bukti sejarah lain, terdapat makam serupa atas nama Sunan Kalijaga yang terletak di Desa Medalem, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban. Makam ini berada di tengah sawah dan agak jauh dari pemukiman penduduk.

Menurut Abdul Ghani, juru kunci setempat, keberadaan Makam Sunan Kalijaga atau dengan nama asli Raden Syahid sebelumnya tidak diketahui sama sekali oleh warga. Makam tersebut pertama kali ditemukan oleh Mulyadi yang membangun sebuah gubuk di tengah sawah untuk ditinggali. Suatu malam ia didatangi seorang lelaki berbaju serba hitam dengan mengatakan, “jika anda ingin kembali hidup enak, maka peliharalah Makam Sunan Kalijaga.” Lelaki tersebut kemudian mengajaknya ke komplek Makam Ploso 9 dan menunjukkan letak Makam Sunan Kalijaga. Sejak hari itu, Mulyadi rutin berziarah setiap setelah Salat Isya kurang lebih selama satu tahun.

Karena penasaran dengan apa yang dialaminya, Mulyadi lantas menceritakan hal tersebut kepada gurunya, Kiai Jubaidi Tuban. Kiai Jubaidi yang tidak mengetahui apapun perihal makam itu kemudian mengajaknya sowan kepada Kiai Hamid Pasuruan. Kiai Hamid membenarkan adanya Makam Sunan Kalijaga di Desa Medalem. Bahkan, sebelumnya Kiai Hamid pernah menyepi di tempat itu selama satu minggu.

Selanjutnya, pada tahun 1979, Kiai Hamid memberikan nama tempat tersebut dengan “Makam Sunan Kalijaga Raden Syahid Moroteko” yang kemudian diresmikan oleh Kiai Jubaidi. Nama Moroteko diambil karena makam yang sebelumnya tidak ada, kini menjadi ada. Awalnya, makam tersebut ingin dipopulerkan oleh pihak juru kunci tetapi tidak diizinkan oleh Pemerintah Orde Baru karena khawatir menimbulkan konflik dan kebingungan disebabkan sudah lebih dulu ada nama Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak.

Sebelum diberi nama Makam Sunan Kalijaga Raden Syahid Moroteko, komplek makam ini bernama Makam Ploso 9. Nama ini berasal dari adanya sembilan pohon ploso yang terletak di area pemakaman. Adapun sembilan pohon ploso dimaknai sebagai sembilan wali yang juga tumbuh di komplek pelataran makam lainnya yakni di Sebelah Barat Makam Sunan Kalijaga yaitu Syeikh Badawi, Kyai Abdurrahman, Dewi Amirah (Istri Sunan Kalijaga), Abdul Aziz Abdul Basith (Saudara Syeikh Abdul Jabbar Nglirip), Mpu Supo (Adik Ipar Sunan Kalijaga yang juga pembuat keris), Patih Wonosalam dan Abdul Qadir (Putera Raden Patah). Adapun 1 Km dari lokasi tersebut ada Makam Dewi Rosowulan atau Nyai Tembogo yaitu adik Sunan Kalijaga.

Pada tahun 1999, ketika Gus Dur hendak mencalonkan diri sebagai Presiden RI, Ia beserta rombongan dari Surabaya hendak menuju ke Demak. Di Tengah perjalanan ia mampir ke Tuban untuk mengunjungi Gus Riyad putra KH. Moertadji yang kemudian mengantarkan Gus Dur berziarah ke Kadilangu, Demak. Ketika di sana, Gus Dur mendapat petunjuk bahwa jika ia ingin negaranya tentram dan aman, maka ia harus berziarah ke Makam Sunan Kalijaga yang ada di Tuban. Dengan diantar Gus Riyad, untuk pertama kalinya, Gus Dur menziarahi makam tersebut pada 17 ramadhan 1999 dan mengatakan bahwa Makam Sunan Kalijaga yang asli berada di Tuban. Adapun yang di Demak adalah petilasannya.

Setelah terpilihnya Gus Dur menjadi Presiden RI pada tahun 1999, makam ini mulai dibuka secara terang-terangan dan sedikit demi sedikit mengalami perbaikan. Dan pada awal tahun 2021, pengusaha asal Banten yang berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat merombak seluruh bangunan makam dan merenovasinya menjadi seperti sekarang ini. Setiap harinya, selalu ada saja pengunjung yang berziarah ke makam. Rata-rata berasal dari Jawa Barat dan Yogyakarta yang biasanya datang pada malam Jumat Legi. Sedangkan dari Jawa Timur kebanyakan peziarah berasal dari Sidoarjo, Pasuruan, Ponorogo dan Madiun.

Sebelum mengakhiri pembicaraan, juru kunci memberikan ijazah yang ia dapatkan langsung dari Sunan Kalijaga melalui mimpi, “Apabila ingin terkabul segala hajatnya, maka bacalah Ya Qahhar dan Ya Jabbar, masing-masing sebanyak sebelas kali sehabis Salat Magrib atau Salat Isya’”.

Wallahu a’alam.

Continue Reading

Artikel

Syeikh Marwani Angin; Ulama Kharismatik Asal Rancailat, Tangerang

Oleh: Khoirum Millatin, S.Hum

Published

on

Syeikh Marwani

Rancailat adalah nama desa yang terletak di perbatasan Kecamatan Kresek dan Kronjo. Nama tersebut berasal dari kata “Ranca” yang berarti Rawa dan “Ilat” yang berarti lidah. Pemberian diksi “Rawa” ditafsirkan sebagai kobangan air yang disekitarnya dipenuhi flora dan fauna.

Desa Rancailat terbagi menjadi beberapa kampung seperti Kampung Kandang, Pecung, Tonjong, Bojong, Cayur dan Rancailat Utara. Cikal bakal Desa Rancailat ada di kampung Rancailat Utara yang tepat berada di ujung utara Desa Rancailat. Pemberian nama desa tersebut juga berkaitan dengan letak wilayahnya yang dikelilingi oleh sawah. Sehingga, desa ini diumpamakan seperti lidah dan giginya sebagai sawah. Jadi, Desa Rancailat adalah gambaran lidah yang dikelilingi oleh gigi.

Legenda Musafir Sakti yang Dikecewakan

Ada semacam legenda di desa ini yang menyebabkan rasa air di Desa Rancailat menjadi asin dan hambar. Zaman dahulu ada seorang musafir beristirahat di Desa Rancailat. Ia merasa sangat lapar dan haus. Ia meminta makanan warga setempat tetapi warga disana tidak ada yang memberinya makan dan minum sedikitpun. Akhirnya dengan rasa kesal dan amarah musafir itu mengutuk seluruh penduduk Desa Rancailat agar terjadi kemarau sehingga menyebabkan kekeringan yang berkepanjangan. Kemudian lambat laun, sedikit demi sedikit mata air di Desa Rancailat mulai mengucur. Sayangnya, rasa air tersebut telah berubah menjadi asin dan hambar. Di sisi lain, secara geografis, rasa air yang asin itu sangat wajar karena jarak antara Desa Rancailat menuju laut lumayan dekat sebagaimana tempat wisata dan ziarah Pulo Cangkir dan Tanjung Kait.

Syeikh Marwani; Ulama Besar Setempat yang dilupakan Generasi Milenial

Wilayah Desa Rancailat menurut penduduk setempat adalah wilayah agamis. Banyak sekali hal-hal menakjubkan yang terdapat di sini diantaranya adalah cerita tentang Syeikh Marwani Angin. Menurut cerita, Syeikh Marwani tidak memiliki garis keturunan yang istimewa. Namun berkat ketaatannya yang dalam serta tirakatnya yang kuat, Syeikh Marwani menjadi salah satu ulama hebat di wilayahnya pada masa itu.

Syeikh Marwani hanyalah rakyat biasa yang seumur hidupnya tidak pernah makan nasi. Ia hanya memakan oncom tanpa garam yang dibungkus dengan aci sebagai pengganti makanan pokoknya. Perjalanan rohaninya bermula ketika ia frustasi disebabkan kematian anaknya yang tercebur sumur. Setelah itu, ia memutuskan untuk melalang buana hingga wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Selatan. Ia sempat dianggap gila oleh sebagaian penduduk setempat. Namun kenyataannya yang mengatakannya gila justru kehidupannya tidak berkah. Menurut informasi, apa yang pernah ia ucapkan dulu, kini menjadi kenyataan. Konon, ketika ia dan rombongannya kehujanan dalam suatu perjalanan, baju orang-orang yang ikut serta basah karena kehujanan, sedangkan ia tidak.

Dalam mengemban misi dakwah, ia mendirikan Masjid Al-Aqsha dengan usahanya sendiri tanpa meminta sepeserpun dari warga. Demikian juga warga setempat, tidak ikut menyumbangkan hartanya untuk membangun masjid ini. Padahal selama hidupnya, ia hanya tinggal di sebuah gubuk. Masjid Al-Aqsha mulai dibangun pada tahun 1990 dan selesai dibangun pada tahun 2002. Masjid ini berasitektur Arab-Jawa.

Syeikh Marwani wafat pada tahun 2007 dan dimakamkan di bangunan yang berseberangan dengan Masjid Al-Aqsha yang berdekatan dengan kediaman keluarga. Sampai saat ini, setiap malam jumat banyak sekali jamaah yang menziarahi pesareannya. Menurut cerita, siapa saja yang memiliki masalah kehidupan kemudian dan datang bertaqarrub serta melaksanakan shalat di lima masjid di Rancailat yang salah satunya adalah Masjid Al-Aqsha ini, maka Insyaa Allah permasalahannya akan segera terselesaikan.

Berdasarkan cerita lain, ada tamu dari Arab yang mengaku bertemu dengan Syeikh Marwani dan diminta untuk datang ke Desa Rancailat. Padahal pada waktu itu sang ulama sudah meninggal. Wallaahu a’lam.[]

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending