Muzakarah Tarekat ke-4 JATMAN Sulsel

Ust. Asep Saefullah, MA., selaku Sekertaris JATMAN Sulsel kembali mengarahkan acara muzakarah ke-4 JATMAN, Selasa, (02/06/2020).

Mudir JATMAN SULSEL dalam sambutannya, masa pandemic covid-19 tidak jadi penghalang kegiatan JATMAN, dan akan tetap berlangsung kegiatan yang mengaktifkan roda organisasi JATMAN.

Pengurus idarah Syu’biyah JATMAN yang telah menerima SK kepengurusan seyogyanya dapat membuat perencanaan pelantikan kepengurusan idarah syu’biyah JATMAN melalui via online.

Program JATMAN yang akan menjadi fokus kegiatan adalah kajian kitab tasawuf yang relevan dengan tarekat mu’tabarah, dan istilah yang telah disyarahkan oleh para masyaikh.

Syekh K.H. Sahib Sultan Karaeng Nompo (Rais Syuriah Idarah Wustha JATMAN SULSEL dan Mursyid Tarekat Khalwatiyah Yusufiyah) selaku pembawa tausiyah muzakarah diawali dengan firman Allah Swt.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ ﴿٧٢﴾

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al-Ma’dah: 72).

Tausiyahnya menjelaskan istilah yang dicetuskan oleh Asy- Syekh Al-Haj Yusuf Abul Mahasin Asy Syafii Al Asy’ariy Aliyatullah Taj Al-Khalwatiyah Al-Makassari yaitu istilah “Wahdatus Sama”.

Wahdatus Sama adalah terpusatnya kebergantungan kesadaran batin hanya kepada Allah Swt dan akhirnya fana’ dalam Allah dan baqa’ dengan-Nya.

Beberapa ahli pernah berkata; “siapa yang tidak merasakannya, tidaklah merasakan khasiat Tuhan yang diberikan kepada hamba-Nya diantara orang-orang arif yang sempurna makrifatnya.”

Kitab Taj Al-Asrar menjelaskan bahwa “hamba itu tetap hamba meskipun ia fana’ dalam Allah dan Baqa’ pada-Nya dan disifati dengan sifat keTuhan-an, dan bahwa Tuhan tetap Tuhan meskipun zahir di dalam hamba-Nya dan disifati dengan sifat-sifat kehambaan. Maka pahamilah dan jangan keliru, karena Allah disifati dengan sifat.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ ﴿١١﴾

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11).

Ajaran fana’ Syekh Yusuf menunjukkan adanya wahdah (Kesatuan), dengan tetap menafikan kesatuan wujud antara hamba dengan Tuhan (Wahdatul wujud oleh Ibn Arabi), bukan pula bersatunya hamba dengan Tuhan (al-Ittihad oleh Abu Yazid Al-Busthani), bukan pula Tuhan turun mengambil tempat dalam diri manusia (Al Hulul oleh Al Hallaj), bukan pula penyinaran sinar atau pancaran cahaya (Al-Isyraq oleh Suhrawardi).

Syekh Yusuf memiliki konsep dan argumentasi tersendiri, hamba tetap hamba dan Tuhan tetap Tuhan (al-’Abdu ‘abdun, al-Rabbu Rabb). Ajaran Syekh Yusuf menunjukkan ketidak samaan dengan 4 sufi besar di atas, berdasarkan pemahaman QS. Al-Maidah ayat 7.

Menurut Syekh Yusuf, nabi Muhammad Saw adalah manusia yang paling sempurna dan yang tertinggi makamnya, dan berakhlak dengan akhlak-Nya. Tidak pernah mengaku “ana al-Haq/aku Yang Maha Benar, hanya mengucapkan yang Allah wahyukan kepadanya.

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً ﴿١١٠﴾

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al-Kahfi: 110).

Jadi tidak boleh ada hamba yang mengakui dirinya sebagai Tuhan. Firman Allah Swt:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي ﴿١٤﴾

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaha: 14).

Seorang hamba mampu mencapai maqam fana’, walaupun tidak mengucapkan syatahat yang khariqul adat (ungkapan sufi yang diluar kebiasaan/adat), maka hamba tersebut tetap disebut mencapai insan al-kamil, al-‘arif billah melalui jalur syariat, tarekat, hakekat dan ma’rifat.

Perjalanan spiritual Syekh Yusuf Al-Makassari dimulai dengan mendalami tarekat Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Ba’lawiyah, Syattariyah dan Khalwatiyah (memperoleh gelar Taj Al-Khalwati/mahkota Khalwatiyah). Munculnya klaim nama tarekat Taj Al-Khalwatiyah Puang La’lang perlu ditolak, karena tidak memiliki jalur sanad yang sahih dan sumber ajaran yang menyimpan dari konsep ajaran Tasawuf Syekh Yusuf.

Saat ini Tarekat Khalwatiyah jalur Syekh Yusuf ada jalur dari Syekh Sayyid Abd. Rahim Assegaf Puang Makka, Syekh KH. Sahib Sultan Karaeng Nompo, dan Syekh Sayyid Muhammad Rijal Assegaf Puang Awing.

Kata penutup dari Syekh KH. Sahib Sultan Karaeng Nompo dan juga keturunan Syekh Yusuf Al-Makassari, adalah sebaiknya penggemar, pecinta dan penempuh jalan tasawuf agar supaya ikut bergabung di JATMAN. Acara diakhiri dengan doa oleh khadim tarekat Muhammadiyah Indonesia Syekh Puang Dr. KH. Baharuddin, MA.

Kontributor: Hardianto

Baca Lainnya
Komentar
Loading...