Muzakarah JATMAN Sulsel ke-12: Konsep, Bingkai dan Trik Bertarekat

Ada tiga posisi seseorang terhadap tarekat. Level satu mempelajari tarekat (ta’allamut thariqah). Pada level ini seseorang baru belajar membaca, menganalisa dan meneliti tentang tarekat. Misalnya, hasil penelitian terkait tarekat yang jumlahnya sangat banyak. Demikian ungkap Dr. KH. Afifuddin Harisah, M. Ag dalam acara Muzakarah JATMAN Sulsel ke 12 pada Senin (07/09/20).

Selanjutnya, Katib Awwal Ifadliyyah Idarah Wustha JATMAN Sulsel tersebut menjelaskan bahwa setelah mempelajari tarekat, level keduanya adalah mengamalkan.

Tidak cukup hanya mempelajari tarekat tetapi mulai mengaplikasikannya. Pada level ini seseorang memungkinkan untuk memperoleh kebaikan ataupun ketidak cocokan terhadap tarekat.

Sedangkan pada level ketiga, kiai Afifuddin mengatakan bahwa tarekat sudah menjadi bagian dari dirinya. Dengan kata lain dia sudah bertarekat yang kemudian mewarnai setiap aktivitas dalam kehidupannya.

Dalam kesempatan itu pula disampaikan apa yang dijelaskan oleh Syekh Abi Bakar ad Dimyati tentang suluk. Pertama, bertarekat itu menjalani hidup dengan penuh kewaspadaan (wara’) dengan menjauhi hal yang haram, yang syubhat maupun perbuatan yang sia-sia.

Sebagaimana dalam hadis, dari Abu Hurairah ra, nabi Saw bersabda,“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976)

Kedua, bertarekat juga memilih al-’azimah, yakni melakukan segala hal yang berat walaupun bertentangan dengan hawa nafsu. Mendisiplinkan diri dengan qiyamul lail, mendisiplinkan diri dengan puasa, wirid atau ratib. Hal ini untuk melatih diri demi menciptakan akhlak yang tinggi dan mulia.

Selain itu, Kiai Afifuddin menyampaikan juga tiga hal yang bisa menunjukkan penghayatan beragama.
“Pertama tidak makan kecuali rasa lapar yang sangat. Kedua, tidak tidur kecuali sangat mengantuk. Ketiga, tidak berbicara kecuali sangat penting,” ujar Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU Sulsel tersebut.

Trik dan Bingkai Bertarekat

Dalam Muzakarah yang bertemakan: Pemaparan Hasil Kajian Tasawuf: Konsep, Bingkai dan Kiat Bertarekat, dijelaskan bahwa para sufi memiliki beraneka macam trik bertarekat.

Setiap pesuluk akan memilih jalan yang diinginkan dan itulah yang menjadi wasilah mencapai tujuan. Ada banyak cara orang sukses menjalankan kehidupan dengan bertarekat. Sesuai kondisi, profesi dan aktivitasnya. Semua bisa berhasil dalam bertarekat.

Misalnya, ada yang istiqamah duduk bersama murabbi, ada yang menjadi guru, ada yang istiqamah menjalani tarekat dengan wirid dan menghidupkan sunnah, ada pula yang jalan tarekatnya dengan melayani sesama, berkhidmah melakukan hal yang bermanfaat untuk orang banyak. Ada pula yang mengambil kayu bakar kemudian ditukarkan (dijual) sehingga menghasilkan uang atau sembako yang kemudian disedekahkan.

Guru tarekat juga memiliki aneka trik dalam bertarekat. Diantara para masyaikh misalnya mengambil trik bertarekat dengan cara duduk di kalangan masyarakat awam dan membimbing mereka menuju akhlak yang mulia. Adapula masyaikh yang memperbanyak wirid, menjalankan ibadah fardhu dan sunnah.

Sebagian masyaikh ada yang memilih untuk melayani para ulama dan masyaikh. Aktif mengurusi organisasi agama termasuk mengurusi JATMAN. Sesungguhnya hal yang demikian ini lebih afdhal dari ibadah sunnah, karena memperoleh pahala ibadah sekaligus mengurusi kebutuhan urusan muslim.

Mengutip perkataan Syekh Abdul Qadir Jaelani, “saya mencapai derajat tinggi kepada Allah Swt, bukan karena qiyamul lail, puasa dan sunnah lainnya. Akan tetapi sampai kepada Allah adalah karena kedermawanan, tawadhu, banyak bersabar, dan bertoleransi dengan orang lain.”

Artinya setiap komunitas sufi memiliki jalur yang dipilih untuk dijalani demi pencapaian kepada Allah Swt. Namun yang perlu ditekankan ialah bagaimana dalam aktivitas apapun yang dijalani tetap menjaga adab-adab sebagai pesuluk.

Kendatipun trik (maslak) atau cara bertarekat itu beraneka macam harus lah tetap sesuai dengan bingkai tarekat. Bingkai pertama ialah masuk ke dalam lembaga tarekat mu’tabarah. Bingkai kedua adalah terikat pada ketaatan kepada mursyid.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...