Mutiara Ajaran Islam Dalam Kitab Sullam Taufiq

Islam adalah agama yang sangat mencintai ilmu pengetahuan. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya nash Al Quran atau pun hadis yang memuliakan ilmu pengetahuan.

Allah berfirman dalam Al Quran surat al-Mujadalah ayat 11 yang artinya, “Allah mengangkat (beberapa) derajat orang-orang beriman dan yang berilmu di antara kalian”.

Sedang dalam hadis Nabi Muhammad Saw bersabda, “Tuntutlah ilmu pengetahuan sejak engkau di llahirkan hingga engkau meninggal dunia.”

Dalam perkembangan peradaban agama Islam, banyak sekali hasil karya kitab para ulama terdahulu yang sangat terkenal dan dilestarikan sampai sekarang. Terutama di dunia pesantren, kitab-kitab itu diajarkan secara turun temurun dan tradisional. Kitab-kitab itu di dunia pesantren dikenal dengan sebutan ‘kitab kuning’.

Isi kitab itu bermacam pelajaran-pelajaran tentang agama Islam, mulai dari fiqh, aqidah, akhlaq/tasawuf, tata bahasa arab (ilmu nahwu dan ilmu sharaf), hadits, tafsir, ulumul Qur’an, hingga pada ilmu sosial dan kemasyarakatan (mu`amalah).

Salah satu kitab yang diajarkan pondok pesantren di Indonesia adalah kitab Sullam Taufiq. Nama lengkap kitab ini adalah “Sullamu At-Taufiq Ila Mahabbatillah ‘Ala At-Tahqiq” (سلم التوفيق إلى محبة الله على التحقيق). Terjemahan dari judul kitab ini adalah “Tangga (untuk memperoleh) pertolongan (Allah) menuju cinta Allah secara pasti dan meyakinkan”.

Kitab ini dikarang oleh Syekh Abdullah bin Husain Ba’alawi, yang mempunyai nama lengkap Sayyid Abdullah bin al-Husain bin Thohir Al-A’lawi al-Hadromi, lahir di Tarim Hadramaut pada bulan Dzulhijjah tahun 1191 H atau 1778 M. Beliau dikenal sebagai ulama yang ahli dalam bidang ilmu fikih dan ilmu nahwu.

Ilmu Pengetahuan yang ditekankan dalam kitab ini mengenai kewajiban dan larangan yang harus dilaksanakan oleh umat Islam. Hal yang wajib dan haram dijabarkan secara gamblang oleh Syekh Abdullah Ba’alawi.

Pertama, hal yang diwajibkan oleh Allah adalah Syahadat. Kewajiban pengucapan dua kalimat syahadat ini harus dilakukan oleh setiap umat Islam, agar senantiasa mengingat bahwa tidak ada tuhan selain Allah yang patut disembah dan Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya.

Esensi dari pengucapan ini bahwa umat Islam wajib mengetahui, memantapkan keyakinan dan menerima segala hal yang telah ditentukan atas dirinya oleh Allah.

Menjaga agama, tujuan dari keharusan umat Islam ini untuk lebih berhati-hati dalam bertindak dengan tetap berpegang teguh pada Al Quran dan Hadits.

Setiap orang Islam mempunyai kewajiban untuk menjaga keyakinannya agar jangan sampai terdapat hal yang merusak, membatalkan dan memutus keyakinannya tersebut sebagai umat muslim.

Keyakinan yang tidak kuat dan rusak bisa menyebabkan seseorang menjadi murtad, dijelaskan dalam surat al Baqarah ayat 217 bahwa seseorang yang mati dalam kekafiran, maka seluruh amalnya di dunia akan sirna dan akan kekal di neraka.

Oleh karena itu kewajiban bagi orang yang murtad adalah segera bertaubat dan kembali ke jalan Allah untuk memeluk agama Islam kembali dan menjalankan semua syariatnya.

Mukallaf adalah orang yang dibebani syariat, menjalankan kewajiban dan meninggalkan larangan sesuai yang diajarkan dalam agama Islam. Seseorang yang yang sudah mengucapkan syahadat maka ditetapkan kewajibannya untuk menjalankan perintah Allah sesuai dengan rukun maupun syariatnya, dan menjauhi segala larangan Allah.

Ibadah shalat merupakan rukun Islam setelah syahadat yang harus dilakukan oleh umat Islam. Termasuk bagi anak-anak baik laki-laki maupun perempuan yang telah berusia tujuh tahun mempunyai kewajiban yang sama dengan umat muslim dewasa. Apabila anak yang sudah berusia sepuluh tahun tapi masih tidak mau mengerjakan shalah, hendaknya orangtua memberi peringatan akhir dengan memukulnya.

Wudhu adalah salah satu syarat sah melaksanakan Shalat

Bersuci, kewajiban ini dilaksanakan dengan tujuan menghilangkan najis, membersihkan diri dari hadas besar maupun kecil. Membersihkan najis merupakan syarat sah shalat baik badan, pakaian, tempat maupun barang yang dibawa untuk shalat.

Menutup aurat, Allah telah memerintahkan dalam Al-Quran Surat Al-Ahzāb ayat 59, yang artinya “Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Kewajiban terhadap jenazah, kewajiban yang harus dilakukan seorang muslim terhadap jenazah umat muslim lainnya memandikan, menyalati, dan mengubur jenazah.

Nafkah, bagi umat muslim yang mampu wajib memberikan nafkah kepada kedua orang tuanya yang tidak mampu meskipun mereka bisa bekerja, selain itu juga umat muslim berkewajiban memberikan nafkah pada anaknya yang belum bekerja karena masih kecil atau karena lumpuh/cacat.

Selain pembahasan tentang berbagai macam kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang muslim, Syekh Abdullah Ba’alawi juga membahas mengenai Zakat, Puasa Ramadhan, dan Ibadah Haji dalam kitabnya tersebut sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam syariat Islam.

Hal-Hal Yang Dilarang

Sedangkan pembahasan kedua adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah swt dalam kitab Sullam Taufiq.

Pertama, larangan bagi yang batal wudhu. Orang yang batal wudhunya haram mengerjakan salat, haram tawaf, dan haram membawa dan menyentuh mushaf, kecuali anak kecil yang membawa mushaf untuk belajar. Sedangkan ketentuan untuk orang yang orang yang junub, wanita haid dan nifas diharamkan untuk membaca Alquran dan diam di dalam masjid. Orang yang haid atau nifas, sebelum darah usai haram berpuasa dan haram memperkenankan suami atau tuannya (jika budak) untuk bersuka-suka di antara lutut dan pusar (jimak) jika belum mandi (sekalipun darah telah usai).

Kemudian larangan riba, Islam memperbolehkan jual beli, namun mengharamkan riba karena dapat merugikan orang-orang bersangkutan. Sebagai umat muslim hendaknya menjauhi hal-hal yang berbau riba. Sebagaimana telah ditulis dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 275, yang artinya “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.

Ayat ini dipertegas penjelasan Syekh Abdullah dalam kitab Sullam Taufiq bahwa umat islam yang berperkara wajib mengetahui terlebih dahulu hal yang diharamkan dan dihalalkan dalam berniaga. Lebih lanjut dijelaskan bahwa haram menjual barang yang belum diterima (oleh si penjual). Diharamkan pula hutang ditukar dengan hutang.

Begitu pula menjual fuduly (si penjual bukan pemilik barangnya dan juga bukan sebagai wakil), menjual barang yang tidak dapat dilihat atau jual belinya orang yang tidak mukallaf, menjual barang yang tidak ada manfaatnya, menjual barang yang tidak bisa diserahkan, tanpa ijab qabul, menjual barang yang tidak di bawah hak milik (seperti tanah mati atau orang merdeka), menjual barang yang samar atau najis (seperti anjing) dan menjual barang yang memabukkan atau yang diharamkan. Semua adalah haram

Kesimpulan

Hasil pembahasan tentang kitab Sullam Taufiq di atas memberikan pengertian tentang mutiara dan kemuliaan ajaran syariat atau hukum Islam yang dapat dijadikan pedoman umat Islam.

Syekh Abdullah Ba’alawi pengarang kitab menekankan kewajiban umat muslim dalam hal pengucapan kalimat syahadat, kewajiban menjaga agama, kewajiban bagi orang murtad, kewajiban orang mukallaf, kewajiban mengenai shalat, ketentuan syarat-syarat dalam bersuci, kewajiban menutup aurat, kewajiban terhadap jenazah, kewajiban memberi nafkah, dan kewajiban setiap mukmin lainnya seperti zakat, puasa dan ibadah haji.

Sedangkan perkara yang haram dilaksanakan oleh umat muslim yaitu larangan bagi yang batal wudhu, dan larangan riba.

Penulis: Chalida Zia (Mahasiswi Fakultas Ushuluddin Jurusan Ilmu Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Baca Lainnya
Komentar
Loading...