Mudzakarah Tarekat: Sepuluh Kaedah Penetapan Vonis Sesat MUI

JATMAN Sulawesi Selatan kembali menggelar Mudzakarah Tarekat pada Senin, 20 Juli 2020 sejak pukul 20.00 WITA melalui Video Conference.

Ada dua pembicara utama dalam acara tersebut yakni, Prof. Dr. H. Abdul Kadir Ahmad, MS (Mudir Idarah Wustha JATMAN Sul-Sel) dan Prof. Dr. KH. Muhammad Galib, MA.

Prof. Muhammad Galib yang merupakan Sekretaris MUI Prov. Sulawesi Selatan mengawali tema “Thariqah dalam Perspektif Majelis Ulama Indonesia (MUI)” dengan menjelaskan bagaimana visi, misi, orientasi serta peran, fungsi dan tugas pokok MUI.

Sepuluh Kaedah Penetapan Vonis Sesat MUI

Prof. Muhammad Galib menuturkan bahwa MUI mengakui pembagian tarekat mu’tabarah dan ghairu mu’tabarah. Sedangkan penetapan kesesatan suatu aliran, berdasarkan pertimbangan sebagai berikut:

  1. Penetapan kesesatan sebuah aliran berdasarkan Al Qur’an, hadis, ijma dan ijtihad.
  2. Merespon antisipasi terhadap persoalan yang muncul
  3. Dilakukan secara kolektif (jama’i)
  4. Berdasarkan pertimbangan akidah dan syariat,

Jadi sebelum adanya penetapan kesesatan sebuah aliran, komisi penelitian dan pengkajian MUI melakukan kajian. Setelah itu meminta pendapat kepada para pakar. Jika terkait dengan tokoh maka diundang tokoh tersebut untuk memberikan penjelasan tentang paham keagamaan.

Hasil kajian tersebut akan dibawa kepada komisi fatwa. Jika hanya sebuah persepsi, maka tidak sampai ada pengeluaran fatwa.

Selain itu, Prof. Muhammad Galib juga menyatakan bahwa ada sepuluh kaedah penetapan vonis sesat versi MUI.

  1. Mengingkari rukun iman dan rukun Islam.
  2. Meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i, yakni Al Quran dan Sunnah.
  3. Meyakini turunnya wahyu setelah Al Quran.
  4. Mengingkari otentisitas dan kebenaran Al Quran.
  5. Menafsirkan Al Quran yang tidak berdasar kaidah-kaidah tafsir,” ujarnya.
  6. Mengingkari kedudukan hadis sebagai sumber ajaran Islam.
  7. Melecehkan atau mendustakan nabi dan rasul.
  8. Mengingkari Nabi Muhammad Saw sebagai nabi dan rasul terakhir.
  9. Mengurangi atau menambahkan pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah.
  10. Mengkafirkan sesama muslim hanya karena bukan kelompoknya
Komentar
Loading...