Portal Berita & Informasi JATMAN

Mudir Idarah Wustha JATMAN DKI Jakarta Sepakati 2 Hal Dengan Mursyid Idrisiyyah

0 201

Jakarta, JOL – Sebagai rumah bersama bagi tarekat-tarekat Mu’tabarah di Indonesia, JATMAN selalu memastikan komunikasi dan koordinasi antar tarekat terjalin dengan baik. Ahad pagi kemarin (8/7) ditemani sekretaris Awwal-nya, Mudir JATMAN Idarah Wustha DKI Jakarta KH. Danial Nafis, M.Si bersilaturahim kepada Syekh Muhammad Fathurahman, M.Ag yang sedang melakukan kegiatan tarbiyah kepada murid-muridnya di Jakarta.

Disela-sela rangkaian pengajian rutin bulanan  Arba’in sesaat sebelum kajian tasawuf dilangsungkan, mudir yang akrab disapa Kyai Nafis berbincang seputar perkembangan pergerakan JATMAN dengan mursyid tarekat Idrisiyyah itu. Pertemuan dihelat di meeting room kantor zawiyah Idrisiyyah cabang utama Jakarta dan dihadiri beberapa pengurus zawiyah.

Keduanya sepakat selalu membangun kebersamaan dan menyamakan persepsi dalam dakwah islamiyyah yang berlandaskan akhlak, menghargai perbedaan dan mengutamakan selalu menghormati umat lainnya. Syekh Fathurahman mengatakan bahwa sesuai penamaannya tarekat adalah sebagai jalan atau metode, maka jalan-jalan bisa saja satu sama lain berbeda metode, namun tujuannya sama menuju Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam. 

“Kita bukan ingin mengangkat (menyiarkan) produk sendiri-sendiri, akan tetapi kita (tarekat) sedang mengemban amanah yang suci, Diinul khalis, maka jangan dicederai oleh tingkah laku kita,” ujarnya menjelaskan.

Lebih lanjut Guru mursyid yang lazim disapa Syekh Akbar oleh murid-muridnya itu mengatakan bahwa para ahli tarekat identik dengan dzikrullah kapanpun dan dimanapun. Hal itu dilakukan sebagai ekspresi kerinduannya kepada Allah. Beliau menjelaskan sejarah para nabi dahulu pun melakukan hal yang sama.

“Para nabi terdahulu ketika ingin mengekspresikan kerinduan kepada Allah, mereka sesekali ber-uzlah untuk berdzikir. Mereka mengasingkan diri di gua-gua atau tempat terpencil supaya lebih fokus dalam berdzikir dan bebas meluapkan kerinduannya, tanpa mengganggu kenyamanan masyarakat. Hal ini dilakukan tidak terus menerus tapi sesekali saja, dan setelah itu (uzlah) cukup hatinya yang istiqomah berdzikir,” ucapnya.

Lebih lanjut beliau menerangkan para pengamal tarekat mesti memahami situasi yang terjadi dilingkungannya. Ada kalanya kondisi bersifat umum, ada saatnya kondisi khusus, maka tempatkan kondisi-kondisi sesuai yang diperlukan agar tidak terjadi gesekan di antara umat yang tingkat pemahamannya berbeda-beda.

Pada kesempatan itu Kyai Nafis menyampaikan 2 progam besar JATMAN DKI Jakarta yakni mendukung kegiatan syu’biyah di 5 wilayah dan setiap kegiatan zawiyah turuqus sufiyyah dari anggota JATMAN.

”Jadi misalnya dari Idrisiyyah ada acara momen besar diharapkan (info) itu masuk sehingga kita bisa publish, di website atau jejaring sosmed kita agar yang ingin mengenal tasawuf bisa mengikutinya”, ucapnya kepada Syekh Fathurahman.

Hal lainnya mudir menyampaikan undangan mudzakarah kepada Syekh pada haul akbar tarekat Syaziliyyah Darqawiyyah dikarenakan melihat Idrisiyyah juga bersanad kepada Syekh Abu hasan Asy-Syadzili.

Di ujung pertemuan Kyai Nafis mengapresiasi dakwah kajian tasawuf Syekh Fathurahman di TVRI. Menurutnya selama ini belum pernah ada tokoh tarekat yang tampil di media televisi nasional dan memaparkan ilmu tasawuf. “Jarang sekali tokoh tarekat, mursyid atau muqaddam yang menampilkan diri memberikan pemahaman tasawuf kepada masyarakat”, pujinya yang dijawab oleh Syekh dengan harapan dapat menghadirkan tarekat-tarekat lain mengenalkan diri di televisi nasional. (rz)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

six − four =