Portal Berita & Informasi JATMAN

Mudir Aam Jelaskan Tasawuf dan Tarekat di Bandung Barat

0 223

Bandung – Dalam acara Ataqoh Kubro Jelang Ramadhan Sabtu (12/5) di Kabupaten Bandung Barat, Mudir Aam Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) KH. Wahfiudin Sakam menyampaikan kajian tentang dzikrullah.

Acara yang diadakan oleh Masjid Jami Baitul Amanah Cikamuning Sadang, Ciburuy, Padalarang ini dimulai selepas shalat Isya berjamaah. Menurut ketua penyelenggara H. Supadi, sekitar 2000 jamaah dari berbagai kecamatan di Bandung Barat hadir untuk menyimak kajian dari Kyai Wahfiudin.

“Alhamdulillah setiap tahun beliau selalu mengunjungi kami untuk memperkenalkan tasawuf dan tarekat,” ujarnya.

Dalam paparannya Kyai Wahfiudin menjelaskan pentingnya menata qalbu menuju Ilahi dengan dzikrullah. Ia menjelaskan dzikir mempunyai dua makna. Yang pertama adalah bermakna menyebut. “Bisa menyebut dzat, sifat, martabat maupun ayat. Yang namanya menyebut terdengar suara dan terlihat mulut mengucapkan. Inilah yang dikenal dengan dzikir jahri,” ujarnya.

“Sementara makna dzikir yang kedua adalah mengingat, mengenang, merasakan, menyadari. Inilah yang kita kenal dengan dzikir sirri,” lanjut ia menjelaskan.

Wakil Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat ini mengutip surat al-Mulk ayat 13 yang artinya, “Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.

Selanjutnya Kyai Wahfiudin menyampaikan jika dzikir dan fikir adalah proses yang berbeda. Dalam surat Ali Imran ayat 191 dikatakan bahwa “(yaitu) orang-orang yang mendzikirkan Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka berfikir tentang penciptaan langit dan bumi ……”

Ia menguraikan dalam ayat tersebut jelas disampaikan bahwa dzikir itu arahnya ke Allah sedangkan fikir ke fenomena alam.

“Dzikir itu menggunakan rasa dan kesadaran, proses yang transcendental metafisik serta seringkali bersifat impulsif dan ritmik. Sedangkan berfikir menggunakan indera dan logika, sifatnya rasional dan empirik serta sistematik,” terangnya.

“Jadi saat dzikir jangan mikir. Stop thinking biarkan kita hanyut dalam rasa dan kesadaran,” katanya. Acara ditutup dengan talqin dzikir. (Idn)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.