Mudir Aam JATMAN Ajak Pelaku Ekonomi Libatkan ‘Ihsan’ dalam Setiap Transaksi

JAKARTA – Mudir Aam JATMAN, KH. Wahfiudin Sakam menjadi salah satu narasumber pada acara Talk Show Sustainable Finance dalam ajang Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) yang dibuka oleh Wakil Presiden Republik Indonesia KH. Ma’ruf Amin di Jakarta Convention Centre (JCC), Jakarta, Rabu (13/11).

Kiai Wahfiudin menyampaikan bahwa dalam Islam, ibadah mencapai kualitas tertinggi saat ia mencapai Ihsan.

“Apa itu ihsan? dalam kamu beribadah engkau merasa melihat tuhanmu, kalaupun kau tidak bisa merasa melihat tuhanmu, engkau merasa dilihat oleh tuhan,” ujar pimpinan eksekutif asosiasi pengamal tarekat di bawah Nahdlatul Ulama itu.

Kiai Wahfi, menyebut bahwa dunia setelah perang dunia kedua terpecah secara ekonomi menjadi dua, ekonomi kapitalistik liberal di barat, ekonomi sosialisme di timur.

Narasumber lain Alyssa Soebandono.

“Tujuan dua ekonomi itu adalah menyejahterakan rakyat, tapi ujung-ujungnya kedua sistem itu gagal menyejahterakan rakyat. Apa sebab? karna proses ekonominya berjalan tanpa melibatkan nilai-nilai spiritual. Oleh sebab itu hati-hati bagi para pelaku ekonomi Islam, pelaku ekonomi syariah. Masalah ihsan, masalah ibadah, masalah iman, masalah bahwa kita hidup dilihat oleh Allah itu harus menjadi dasar bagi pelaksanaan transaksi-transaksi ekonomi,” papar wakil Talqin Abah Anom tersebut.

Apabila transaksi-transaksi ekonomi, transaksi-transaksi keuangan tidak melibatkan kesadaran bahwa tuhan menyaksikan kita, maka tetap saja akan terjadi kedzaliman-kedzaliman ekonomi. Sehingga Dewan Syariah Dompet Dhuafa itu mengingatkan bahwa prinsip nilai-nilai spiritual, keimanan, ekonomi, politik, itu segitiga yang tak dipisahkan.

“Kalau tidak melibatkan ‘values’ tidak melibatkan iman, tidak melibatkan spiritual, maka instrument-instrumen ekonomi itu hanya berjalan instrumental saja, tetap saja kecurangan terjadi, keserakahan terjadi, kezaliman terjadi,” tegas Wakil Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat itu.

Sering kali, kata Kiai Wahfi, apa yang disebut ‘ekonomi syariah’, itu hanya memberesi aspek akad saja, cuma akad diislamkan, tapi yang lain-lain belum tentu menimbulkan rasa adil dan pertolongan terhadap kelompok-kelompok yang termiskinkan.

Mubaligh asal Jakarta ini juga mengajak yang hadir untuk menghidupkan budaya wakaf karena wakaf ini termasuk shadaqah jariyah, yang terus mengalir tanpa henti pahalanya. Terlebih Islam mengecam orang yang hanya menimbun harta tanpa membelanjakannya demi kebaikan sesama.

Dalam gelaran ke 6 ini, ISEF sebagai salah satu festival pelaku ekonomi syariah terbesar mengusung tema “Embracing Sharia Economics as a New Engine towards a Stronger and Sustainable Growth”.

Festival ini rutin digelar oleh Bank Indonesia (BI) yang didukung oleh Stake holders baik internasional dan lokal di antaranya Islamic Financial Services Board, International Islamic Financial Market, Organization of Islamic Cooperation (OIC), Association of National Development Finance Institutions in the Member Countries of the Islamic Finance (ADFIMI), The National Islamic Finance Committee (Komite Nasional Keuangan Syariah), The Financial Services Authority (Otoritas Jasa Keuangan/ OJK), Kementerian Keuangan, Kementerian Luar Negeri, Badan Pengelola Keuangan Haji/ BPKH), Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal/ BPJPH, LPPOM – MUI, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), Badan Wakaf Indonesia (BWI), Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC). (eep)

Baca Lainnya
Komentar
Loading...