Mitos-mitos tentang Gerhana Matahari

Matahari dan bulan adalah bagian dari benda langit yang beredar sesuai dengan hukum alam masing-masing. Peredaran keduanya merupakan ketetapan Sang Pencipta, Allah Swt.

Di antara peristiwa yang terjadi akibat dinamisnya pergerakan benda-benda langit tersebut adalah gerhana, baik matahari maupun bulan.

Gerhana matahari misalnya, merupakan peristiwa ketika bulan menghalangi sinar matahari ke bumi sehingga matahari pun menjadi tidak nampak terlihat dari bumi.

Namun pada sebagian masyarakat tertentu peristiwa gerhana matahari dipercaya memiliki kaitan dengan kejadian-kejadian dalam kehidupan masyarakat. Misalnya, dikaitkan dengan kematian atau kelahiran seseorang.

Berikut ini beragam mitos yang dipercaya masyarakat sejak dahulu kala terkait gerhana matahari:

Pertama, bagi sebagian masyarakat Indonesia, terutama Pulau Jawa, gerhana matahari dipercaya terjadi karena adanya sosok raksasa besar bernama Buto yang sedang berusaha menelan matahari.

Oleh karena itu, dalam kepercayaan penduduk, agar raksasa itu memuntahkan kembali matahari yang ditelannya, maka orang-orang diperintahkan untuk menabuh berbagai macam peralatan, seperti kentongan, bedug, bambu atau bunyi-bunyian lainnya.

Kedua, kepercayaan lain meyakini bahwa matahari dan bulan adalah sepasang kekasih, sehingga apabila mereka saling berdekatan akan saling memadu kasih, maka terjadi lah gerhana sebagai wujud percintaan mereka.

Ketiga, masih ada sebagian masyarakat yang meyakini bahwa wanita yang sedang hamil diharuskan bersembunyi di bawah tempat tidur atau bangku saat terjadi gerhana matahari agar bayi yang dikandungnya tidak lahir dalam keadaan cacat.

Keempat, masyarakat Cina sekitar 20 abad yang lalu mempunyai keyakinan bahwa gerhana matahari terjadi karena adanya seekor naga yang tidak terlihat oleh mata sedang memakan matahari.

Maka ketika gerhana matahari terjadi mereka membuat kegaduhan dengan menabuh drum serta melepaskan anak panah ke langit. Hal ini dilakukan agar sang naga ketakutan dan sinar matahari muncul kembali.

Saking kuatnya mitos ini, suatu ketika ada dua ahli astronomi bernama His dan Ho. Mereka gagal memperkirakan datangnya gerhana. Kaisar yang berkuasa saat itu sangat marah karena ia tidak bisa mempersiapkan apa-apa untuk mengusir sang naga. Meskipun akhirnya hari kembali terang, Kaisar tetap memerintahkan agar kedua astronom itu dihukum mati karena dianggap telah gagal.

Kelima, bagi masyarakat di Asia Tengah, gerhana matahari yang terjadi pada tanggal 28 Mei 585 M telah mengakhiri perang antara dua negara di timur tengah. Selama pertempuran, hari-hari menjadi gelap gulita seperti malam. Gerhana matahari telah menyebabkan kedua negara tersebut menyatakan perdamaian serta menghentikan pertempuran.

Keenam, masyarakat Jepang mempercayai bahwa racun telah jatuh dari langit selama terjadi gerhana matahari. Untuk mencegah racun tersebut jatuh ke dalam air, mereka menutupi seluruh sumur dan mata air selama terjadinya gerhana tersebut.

Ketujuh, sementara di India, masyarakatnya mempercayai bahwa seekor naga bertanggung jawab atas terjadinya gerhana matahari. Selama gerhana, masyarakat India membenamkan diri mereka ke dalam air sampai sebatas leher, dengan harapan matahari dapat menyelamatkan dirinya dari sang naga.

Masih adakah mitos tentang gerhana matahari itu di tengah masyarakat? Sampai saat ini masih ada, meskipun tidak sekuat dulu. Salah satunya, karena ilmu pengetahuan telah menjelaskan logika-logika tentang terjadinya gerhana matahari.

Gerhana matahari yang dalam bahasa Arab disebut kusuf atau solar eclipse dalam bahasa Inggris. Kusuf artinya menutupi, ini menunjukkan adanya fenomena alam bahwa jika diobservasi dari bumi, bulan sedang menutupi matahari, sehingga terjadilah gerhana matahari. Gerhana matahari terjadi pada saat ijtima, yaitu ketika matahari, bulan dan bumi berada pada suatu garis lurus.

Ajaran agama Islam meluruskan mitos-mitos itu dan mengarahkannya pada keyakinan serta ilmu pengetahuan yang benar. Terjadinya gerhana matahari, tak lain menunjukkan kebesaran sang Maha Pencipta Allah Swt. Sebab itu, Islam mendorong untuk mendirikan ibadah pada saat terjadi gerhana, yaitu salat gerhana.

Diriwayatkan, putra Nabi Saw sendiri, yang bernama Ibrahim (putra dari Maria al-Qibtiya) meninggal saat usianya masih belia dan pada saat itu sedang terjadi gerhana

matahari. Tapi Nabi, melarang orang-orang mengait-ngaitkan dengan kematian anaknya.

“(Diriwayatkan) dari al-Mughirah bin Syu’bah ra., ia berkata, terjadi gerhana matahari pada masa Rasulallah Saw pada hari meninggalnya Ibrahim (putra Nabi Saw.). Orang-orang berkata bahwa gerhana itu terjadi karena kematian Ibrahim.

Maka Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan tidak menjadi gerhana karena mati dan hidupnya seseorang, jika kalian mengalaminya maka berdoalah kepada Allah dan kerjakanlah salat hingga selesai gerhana.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Para ulama berbeda pendapat soal hukum salat gerhana. Mayoritas ulama berpendapat salat gerhana matahari itu hukumnya sunah muakad. Namun, Imam Abu Hanifah menghukuminya wajib, demikian juga Imam Malik yang menyamakan salat gerhana matahari seperti salat Jumat.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...