Connect with us

Artikel

Merdeka dari Teori dalam Suluk

Oleh Fuad al-Athor

Published

on

Suluk
Foto: https://www.facebook.com/bang.m.524/posts/1111715942514774

“Dalam sulukmu janganlah banyak membaca teori!” Itu nasihat Mursyid kami, pada suatu kesempatan suluk yang kebetulan tengah berbarengan dengan anak-anak muda trengginas yang terbiasa bergumul dengan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-harinya. Mereka ahli ilmu. “Sebab apa yang engkau baca itu akan membentuk suatu imej dalam ruang imajinasimu.” (suatu konstruksi pemahaman atau konsepsi). “Ketika Guru tengah memperjalankan ruhanimu, engkau diminta untuk berfokus pada apa yang kau alami dan rasakan, engkau akan mendapat pelajaran dari apa yang engkau temui dalam perjalanan ruhanimu. Jika Guru bertanya padamu, apa yang engkau rasakan dalam perjalanan suluk ini, maka engkau akan bisa menjawabnya dengan apa yang engkau temui/alami,” lanjut beliau memperjelas nasihatnya.

“Jika engkau baca teori kemudian engkau ditanyakan itu, maka jawabanmu nanti akan mencocok-cocokkan dengan teori yang kau baca tadi. Ibarat engkau membaca tentang Teh, Teh adalah minuman yang dibuat dari larutan daun teh yang rasanya sepet dan wangi serta enak jika ditambahi gula.” Ketika engkau ditanya, Guru telah memberimu minuman (ruhani), apa yang engkau rasakan? Maka engkau akan mencoba menyesuai-sesuaikan dengan konsep (yang sebelumnya telah tertanam dalam ruang imajinasi) tentang teh tersebut, meskipun sebenarnya yang kamu rasakan, misalnya pahit, sebagaimana kamu meminum larutan daun brotowali.” Padahal, hal itu sebenarnya menunjukkan suatu kondisi yang lebih krusial dalam proses pendidikan rohani ini, apakah jiwamu berstatus sehat atau sedang sakit sehingga tidak mampu merasakan manisnya gula dalam minumanmu,” demikian beliau semakin mendetailkan kepada kami.

Suluk sejatinya adalah proses pendidikan dengan metode “nurun ‘ala nurin.” Sebuah metode iluminasi ruhaniyah dari hati guru pada hati murid yang bersumber dari segela sumber cahaya itu sendiri (Rasulullah SAW). Sehingga dalam proses pencahayaan itu pastinya akan ada aksi dan reaksi kimiawi dalam hati sang murid. Di sinilah titik konsentrasi salik harusnya difokuskan. Hal ini hanya akan bisa dilakukan jika tanpa dicampuri oleh apapaun itu, baik berupa keinginan-keinginan/khowatir ala  hawa nafsu ataupun gambaran-gambaran ala nafsun natiqhoh (pikiran).

Dari sinilah akan lahir ilmu-ilmu hakikat yang akan mengokohkan perjalanan ruhani kita setelah di-tashih-kan pada sang Mursyid atau pembimbing ruhani salik. Dan dalam konteks ini pulalah setiap murid diwajibkan untuk melaporkan “haal/ahwal” kondisi ruhani murid pada Mursyid setiap waktu diperlukan.

Dengan penjelasan ini Guru hendak melatih kita agar selalu berkonsentrasi pada ruhani kita, pada apa yang terjadi dalam ruhani kita sepanjang pelaksanaan riyadhoh/mujahadah suluk ilahiyah itu. Itulah tawajjuh. Suatu disiplin rohani yang didawamkan secara terus-menerus dalam ruhani kita. Termasuk di dalamnya, adalah; melihat, mengawasi dan mewaspadai apapun yang terjadi pada ruhani kita selama penempuhan suluk ilahiyah. Jangan sampai ada suatu apapun yang mendistraksi kita, mengalihkan konsentrasi ruhani kita, hatta jika ia berupa pengetahuan, ilmu, teori atau konsepsi kita yang terkait dengan ajaran tasawuf sekalipun. Bukankah dikatakan bahwa hijab ruhani tidak hanya berupa kegelapan nafsani akan tetapi juga bisa berupa cahaya, nur, atau ilmu itu sendiri.

Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda:

إنّ الله سبعین ألف حجاب من نور و ظلمة

“Sesungguhnya Allah mempunyai tujuh puluh ribu hijab-hijab dari cahaya dan kegelapan.” (Allamah Majlisi, Biharul anwar, jld. 55. hal. 45)

Dalam sebagian hadis dijelaskan juga jumlah lain hijab-hijab antara Tuhan dan makhluk, antara Tuhan dan Rasulullah SAW, antara Tuhan dan ‘Arsy, serta antara Tuhan dan malaikat-malaikat. Di antaranya tujuh puluh hijab, tujuh hijab, delapan belas hijab, sembilan puluh hijab, delapan belas ribu hijab, dan tiga ratus enampuluh ribu hijab, serta bahkan jumlahnya yang tanpa batas.

Maka benar adanya bagi salik untuk mentaati apa yang diasaskan oleh mursyidnya, bahwa hendaklah ia tidak salah berkonsentrasi. Hal ini juga sebagai salah satu pelaksanaan dari adab Nadhor bar Qodam (melihat pada kaki) dalam perjalanan ruhani. Yakni, agar tidak melihat hal-hal yang tidak perlu, tidak terlalu banyak menoleh, tidak juga melihat pada jarak yang jauh. Sehingga memberi efek yang bisa mewarnai hati dengan warna-warni yang talwin, tidak konsisten dan membawa pada kelalaian.

Memfokuskan konsentrasi pada haal-ahwal ruhani dalam perjalanan suluk adalah salah satu bentuk praktik melihat pada tapak kaki (nadhor bar qodam). Dalam hal ini adalah upaya mendisiplinkan pikiran kita agar tidak terlalu menyerap (mengkonstruksi) gambaran-gambaran yang tidak diperlukan bagi perkembangan ruhaniayah kita. Dengan demikian kita akan mudah terbebas dari kungkungan teoritis atau paradigma yang selalu membungkus pemikiran manusia akibat terbiasanya ia dengan cara berpikir tertentu dalam kehidupannya. Akhirnya, salik akan mudah memetik pelajaran-pelajaran yang muncul dalam pengalaman ruhaninya sendiri. Artinya penjelasan yang hadir berpusat pada hatinya, pada apa yang terbit dari cahaya hatinya bukan berpusat pada konsepsi luaran yang meskipun itu kebenaran. Kebenaran yang haqiqi (telah ditahqiq) adalah yang terbit dari hati salik yang bening dan akan muncul dengan cara-cara yang sahih! Karena tugas salik adalah mengalami kebenaran itu sendiri bukan sekadar mengetahui secara informatif.

Hal ini sejalan dan senafas dengan tuntunan Mursyid kita, bahwa “Jika engkau membaca manaqib atau ajaran-ajaran Guru-guru itu untuk mengetahui keadaanmu, maqommu, posisimu ada di mana.” Jadi, dengan demikian kita membaca bukan untuk terserap dan tenggelam dalam sebuah konsepsi/pengetahuan akan tetapi melampauinya dengan menjadikannya sebagai pepadang guna memperjelas keadaan atau posisi ruhani kita.

Maka, merdekalah!

Continue Reading

Artikel

Firasat Murid ke Gurunya

Published

on

Firasat Murid ke Gurunya

Mursyid Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy, al-Habib Syekh Sayyid Abd Rahim Assegaf Puang Makka atau yang kerap disapa dengan Habib Puang Makka, memiliki sejumlah guru tarekat.

Ada tiga gurunya di Makassar yang sangat berjasa, abahnya sendiri yakni Habib Puang Ramma, Habib Thahir Assegaf dan Allamah Nashirus Sunnah AG. KH. Muhammad Nur.

Saat haul ke-10 AGH. Muhammad Nur (29/06/2021) puang Makka masih di Jakarta, Duren Sawit kediaman gurunya juga, maulana Habib Luthfi bin Yahya. Selama seminggu Puang Makka di Jakarta dan kemarin (kamis/01/07) Puang sudah tiba di Makassar, Alhamdulillah.

Puang Makka mengenang 10 tahun gurunya Allahuyarham AGH. M. Nur dengan doa khusus dan kembali mengingat momen-momen kebersamaanya antara lain saat bersama di Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Situbondo.

Saat puang makka hendak mengantar jamaah umrah tahun 2011, seminggu sebelumnya ada firasat dalam hati akan kepergian sang guru ahli hadis dengan gelar Nashirus Sunnah ini sehingga Puang Makka bergegas ke RS Faisal Makassar menjenguk gurunya, AGH. M. Nur

Tabe Puang Anre gurukku, “kidoakan nga”. Demikian kata puang Makka di hadapan AGH. M. Nur sambil digenggamnya tangannya tanpa bicara tapi ada isyarat khusus yang disampaikan.

Setelah didoakan dan izin pamit, Puang Makka berangkat umrah keesokan harinya dan saat tiba di Mekka, Puang Makka mendapat berita tentang wafatnya sang guru AGH. Muhammad Nur. [Dr. K. M. Mahmud Suyuti, MAg.]

Continue Reading

Artikel

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Published

on

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Manfaat Uzlah/Suluk adalah selamat dari segala bentuk kemaksiatan. Sebagaimana orang yang melakukan mukhalatah (hidup di tengah masyarakat namun tahan pada pengaruh buruk). Imam al-GHazali menerangkan ada empat penyakit kronis yang dapat dihindari saat seorang Uzlah yaitu: ghibah (bergosip), namimah (fitnah), riya (terpesona dengan kehendak diri sendiri) dan suqut anil amri wa nahi ala munka (diam dari perintah berbuat benar dan melarang kemungkaran).

Dalam bab riya, Imam al-Ghazali menjelaskan riya adalah melakukan sesuatu untuk mencari perhatian makhluk bukan karena Allah. Biasanya pelakunya jika melakukan sesuatu akan semangat apabila dilihat dan disanjung banyak orang. Riya ini termasuk penyakit kronis yang sulit dihilangkan. Bahkan wali abdal dan autad merasa kesulitan menghadapinya.

Riya termasuk syirik yang tersembunyi (syirik khafi). Rasulullah saw. telah mengingatkan bahwa yang paling beliau takutkan dari umatnya adalah bila seorang terjangkit syirik asghar yaitu riya. Riya bisa dihilangkan dengan mengamalkan ilmu tarekat yakni riyadhah mujahadah dan dzikir nafi isbat لا إلهَ إِلاَّ اللهُ

Jika sudah memahami makna substansi zikir nafi isbat, maka riya akan tergeser. Setelah istikamah dzikir nafi isbat kita juga akan memahami siapa diri kita dan mudah mengucapkan لاحول ولاقوة الا بآلله العلي العظيم

Selain itu, manfaat istikamah zikir nafi isbat, riyadhah dan mujahadah (suluk) adalah menguatkan ruhani sehingga memiliki filter bagi diri dari pengaruh lingkungan buruk. Karena karakter seseorang terbentuk dari keadaan lingkungannya. Maka ada ungkapan kalau kita berteman dengan tukang abu kita akan ketiban abunya dan bila kita berteman dengan tukang minyak wangi maka kita juga akan wangi.

Penyakit buruk akan menjadi penyakit yang terpendam. Maka sedikit sekali orang yang mengerti, apalagi dia orang yang ghofilin atau lalai. Jika orang yang istikamah zikir dan ia memiliki power saat berkumpul dengan orang yang karakter buruk, maka efek dari zikir ini akan bisa menjaga kita dari ketularan tabiat buruknya. Seolah-olah kita diberi penjagaan Allah untuk tidak mengikuti. Ini jika memiliki tameng ruhani. Jika kita tidak istikamah maka akan mudah mengikuti.

Selanjutnya Imam al-Ghazali mengutip sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda bahwa kamu akan menemukan manusia yang paling buruk yaitu yang memiliki dua wajah, dia datang kepada satu kelompok dengan satu wajah dan pada yang lain dengan satu wajah. Inilah ciri oraang yang terjangkit riya, yaitu mudah menjadi orang munafik. Dia tidak memiliki prinsip.

Ada satu cara lain untuk merubah watak yang buruk yaitu dengan sering mendengarkan kebaikan maupun keburukan, terlebih menyaksikan perbuatan itu langsung. Kalau kita berkumpul dengan orang yang biasa bohong maka bisa dilihat kalau ia sehari tidak bohong rasanya kurang lengkap. Kalau berkumpul dengan orang baik, ia akan mengambil banyak hikmah darinya.

Inilah rahasia sabda Rasulullah saw. bawa ketika kita duduk bersama-sama mengingat orang salleh dan ilmunya maka akan turun rahmat pada kita. Yang bentuknya kita diberi pemahaman baik buruk sehingga tidak melakukannya. Dan masuk ke dalam surga dan berjumpa dengan Allah.

Dengan mengkaji ilmu orang saleh dan mengingatnya dalam diri kita akan muncul sifat rahmat dan tergerak memiliki kesungguhan untuk mengikuti langkah mereka dalam melakukan kebaikan.           Maka dari itu penting untuk istikamah mengkaji ilmu tasawuf dan praktek suluk tarekat (zikir, riyadhah mujahadah) agar kita dapat menaikkah vibrasi positif di dalam diri dan memulai untuk melakukan kebaikan. Tentu saja dengan proses yang tidak sebentar dan tahan dengan segala dinamika perjalanan pengamalannya. [Silvia Bidayah Nafsani]

Al-Rabbani Islamic College Cikeas, 10 Juni 2021

Continue Reading

Artikel

Fase Kehidupan di Alam Dunia (3)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Fitrah dan Potensi Manusia

Fitrah dan Potensi Manusia

Agar manusia mampu melaksanakan berbagai tugas dan tanggungjawab yang telah diamanahkan kepada mereka sesudah aqil baligh (dewasa), maka sejak lahir di alam dunia, bahkan sejak hidup di alam ruh, setiap manusia telah diberikan fitrah (potensi) keyakinan terhadap adanya Allah SWT, Dzat Yang Maha Esa, Tuhan yang Maha Mencipta, Mengatur kehidupan dan Menganugerahkan seluruh kebutuhan manusia inilah yang disebut fitrah beragama.

Sebagaimana difirmankan dalam surat Ar-Rum ayat 30;

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Pengertian fitrah pada ayat di atas adalah naluri yang diciptakan oleh Allah SWT. Yakni manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan memiliki naluri beragama, yaitu agama tauhid, agama yang mengakui keesaan Allah SWT. Oleh karena itu, kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar dan merupakan penyimpangan dari fitrahnya. Mereka tidak beragama tauhid tersebut hanyalah semata-mata karena pengaruh lingkungan hidup mereka, terutama pendidikan yang ditanamkan oleh kedua orang tua mereka. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits shahih:

“Setiap bayi yang dilahirkan pasti membawa fithrah (agama Islam). Kedua orang tuanya-lah yang menjadikan bayi tersebut memeluk agama Yahudi , Nasrani atau Majusi”.

Selain membawa potensi agama Islam, setiap bayi yang dilahirkan juga telah dilengkapi dengan berbagai potensi jasmani dan rohani yang dalam perkembangannya berbagai potensi tersebut teraktualisasi dalam bentuk pendengaran, penglihatan, daya berpikir dsb. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Nahl (16) ayat 78:

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberikamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.

Dalam mengarungi kehidupan di alam dunia ini, manusia tumbuh dan berkembang mulai dari bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, masa setengah baya, masa tua dan tua renta, akhirnya wafat. Sungguh pun demikian ada di antara manusia yang wafat dalam usia muda belia atau sangat tua renta. Sebagaimana difirmankan dalam surat al -Nahl (16) ayat 70:

“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu. Dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”.

Jadi pada dasarnya, masa kehidupan manusia di alam dunia ini sangat relatif. Akan tetapi pada umumnya, kehidupan umat Nabi Muhammad SAW di alam dunia ini, rata-rata berkisar antara 60 (enam puluh) hingga 70 (tujuh puluh) tahun. Ada yang kurang ada pula yang lebih. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW:

“Umur umatku (rata-rata) adalah berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun.”[]

Bersambung….

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending