Menuai Berkah di Sepuluh Awal Dzulhijjah

Selaku kader MATAN dan murid dari para masyaikh, Majelis Dzikir PC. MATAN Pinrang mencari berkah dan perlindungan melalui pembacaan Ratib Al-Aththas setiap malam Jumat.

Ustadz Abdurrahim Hadi memimpin langsung dari “Posasiq Pustaka” salah satu perpustakaan yang ada di Desa Lero Kecamatan Suppa.

Pembacaan Ratib Al-Aththas tidak hanya dihadiri oleh sahabat-sahabat MATAN. Tetapi dihadiri pula oleh berbagai organisasi dan seringkali dihadiri BABINKANTIBMAS Desa.

Usai pembacaan Ratib Al-Aththas, seperti biasa dilanjutkan dengan diskusi keagamaan. Ketua PC Matan Pinrang Ustadz Hardianto menyampaikan tentang keutamaan bulan-bulan yang diharamkan Allah Swt, khususnya sepuluh awal bulan Zulhijjah.

“Tradisi para ulama dan orang-orang shalih di sepuluh awal bulan Zulhijjah adalah senantiasa menghidupkan kondisi rohani dengan melaksanakan amalan-amalan ibadah, seperti memperbanyak shalawat, target menghatamkan Al-Qur’an, memperbanyak dzikir dengan target tertentu dan ibadah lain nya,” ucapnya (Kamis 23/07/2020).

Tujuannya adalah memperoleh kemuliaan dan keberkahan. Jamaah majelis dzikir dianjurkan agar istiqamah membaca Ratib Al-Aththas walaupun belum memperoleh substansi dan faedahnya.

Amalan kecil jika dilakukan terus menerus hasilnya akan besar. Diibaratkan api unggung yang awalnya api kecil, jika terus menerus ditambahkan kayu maka apinya akan semakin membesar. Yang bisa memberikan manfaat kepada manusia serta dikelilingi oleh orang banyak.

Begitupun dengan pembacaan Ratib Al-Aththas, jika diistiqamahkan sesuai dengan pesan para masyaikh, insyaAllah akan muncul ketenangan, hati akan terasa nyaman serta memberikan manfaat untuk diri sendiri dan orang lain.

Pesan Rasulullah Saw,

وَإِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ

Artinya: Dan sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dikerjakan secara kontinyu (berkelanjutan) walaupun sedikit.” (HR Bukhari No: 5413).

Wajib bagi seorang muslim dalam setiap amalan dan konsep pemikiran ke-thariqahan untuk menjaga dan melestarikan praktik amalan. Walaupun dipadati dengan berbagai macam aktivitas dan kesibukan maupun timbulnya sifat manusiawi, seperti bosan dan merasa jenuh.

Inilah pesan yang selalu disampaikan oleh para masyayikh tarekat. Jika timbul kemalasan dan pikiran berat, maka amalan tersebut tidak ditinggalkan keseluruhannya. Seorang salik dapat mengurangi kuantitas ibadah wirid maupun zikir sesuai dengan instruksi mursyid.

Jamaah Ratib Al-Aththas merespon baik diskusi malam itu. Sehingga sahabat Haris Ali, Reza, dan Dedi ikut mengkonfirmasi dan menuangkan hasil bacaannya sebagai bahan perbandingan.

Ustadz Abdurrahim Hadi, M. Pd. I selaku pimpinan dzikir berharap kepada sahabat PC Matan Pinrang, Sahabat HPMIL, Sahabat PC IPNU dan IPPNU Suppa, Relawan Posasiq Pustaka serta masyarakat setempat untuk tetap Istiqamah. Melaksanakan pembacaan Ratib Al-Aththas seraya mengharapkan berkah dari Mursyid dan ulama-ulama.

Kegiatan ini terselenggara berkat kolaborasi sahabat MATAN Pinrang dengan sahabat-sahabat sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan penuh khidmat dan sukses.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...