Portal Berita & Informasi JATMAN

Menteri Agama Hadiri Maulid Nabi di Majelis Al Habib Abu Bakar

0 73

Depok – Ahad sore (04/11) ribuan jamaah berbusana putih nampak membanjiri jalan Karya Bakti Kel. Tanah baru, Kec. Beji, Depok. Tepatnya di sekitaran kediaman Habib Abu Bakar bin Hasan Al Athathas Az Zabidi. Sesuai dengan namanya Majelis Ta’lim Al Habib Abu Bakar bin Hasan Al Athathas Az Zabidi membuat perayaan maulid Nabi Muhammad saw yang dihadiri oleh alim ulama, habaib dan tokoh masyarakat. Pada kesempatan tersebut hadir pula Menteri Agama Republik Indonesia bapak H. Lukman Hakim Saifudin dan Mustasyar PBNU Prof. KH. Ma’ruf Amin memberikan sambutan.

Pada saat memberikan sambutan, Kiyai Ma’ruf menekankan pesannya melalui hadis Nabi “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). “Oleh karena itu perlu regenerasi dan kaderisasi ulama harus terus dilakukan,” tegas beliau sampaikan.

Menurut beliau tugas ulama sebagai pewaris para nabi ialah selain mengajak masyarakat mendekat kepada Allah (ad da’wah ila Allah), ialah kaderisasi ulama (i’dad al mutafaqqhin), di samping itu ulama sebagai pelanjut perjuangan Nabi juga mengemban tugas untuk menjaga agama (himayatu ad din), menjaga umat (himayatu al ummah), serta menjaga bangsa dan negara (himayatu ad daulah) agar tetap aman dan damai.

Menag dalam sambutannya bersyukur bisa hadir di majelis peringatan maulid Nabi saw. Menurutnya maulidan adalah sebuah acara yang sakral, bagian dari tradisi yang senantiasa kita jaga dan pelihara. “Peringatan ini adalah tahaduts bin ni’mah bukan untuk jumawa atupun sombong, sungguh rasa syukur ini muncul atas benih yang ditanam para orang tua dan guru guru kita,” ungkap Lukman Hakim mengawali sambutannya.

Beliau melanjutkan bahwa syukur itu juga karena kita memahami dan berpegang pada kaedah al muhafadzah ala qodimi sholih wal ahdzu bil jadidil ashlah, kita senantiasa menjaga warisan, tradisi masa lalu yang baik dan terus berinovasi serta mewujudkan yang lebih baik (ashlah) sesuai dengan kebutuhan dan situasi yang kita hadapi.

Peringatan maulid utamanya ialah mempelajari, menelaah dan meneladani Nabi saw, dan hal itu tak kunjung akan selesai. Ada dua hal yang senantiasa beliau tunjukkan pada umatnya, bagaimana cara beliau mengatasi persoalan hidup, dua hal itu adalah syukur dan sabar, keduanya sifat dominan yang mewarnai Rasul saw. Syukur saat merasakan kebahagiaan dan kegembiraan serta bersabar dalam menghadapi cobaan dan musibah. Sebab hakikat hidup hanya ada dua senang atau susah.

Kesabaran Rasul luar biasa, dalam sejarah beliau jarang sekali menunjukkan kemarahannya, bahkan terhadap orang yang berbuat dzalim kepadanya, beliau mampu mengendalikan emosi dan tidak membalasnya, tapi justru mendoakannya. Sebagaimana sejarawan mencatat saat beliau datang ke Thaif, masyarakat saat itu tidak hanya menolak tapi melempari beliau dengan batu. Beliau malah berdoa, “Ya Allah berikanlah petunjuk kepada meraka karena mereka sesungguhnya tidak mengerti.”

Sebelum menutup sambutannya, beliau menyampaikan bahwa, “tidaklah rasul diutus kecuali sebagai rahmat bagi semesta”. Islam juga berarti damai, dan dalam kondisi damai tidak dibenarkan merendahkan harkat derajat dan eksistensi kemanusiaan. Islam hadir menjaga dan merawat harkat dan martabat kemanusiaan, inilah esensi ajaran Islam. Manusia juga berasal dari Tuhan, saya teringat guru saya yang mengutip ayat “….Aku telah meniupkan ruh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” [Surat Al-Hijr 29]. Dimana setiap manusia ditiupkan ruh ketika usia 40 hari dan akan menghadap pada-Nya ketika wafat untuk mempertanggung jawab semasa hidupnya.

Setelah pembacaan maulid dan doa bersama, saat jamaah tengah asyik menyantap nasi kebuli Habib Abu Bakar menyampaikan “Doakan agar negeri kita aman dari segala marabahaya dan bencana, Insya Allah tahun depan kita bikin maulid lagi yang lebih meriah” tutur anggota Majlis Ifta wal Irsyad Jam’iyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (JATMAN) Depok menutup acara maulid sore itu. (Eep)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

two × 4 =