Menjadi “Rainmaker” Selama COVID-19

Rainmaker merupakan istilah bagi pribadi atau person yang selalu bisa membawa keuntungan bagi suatu usaha di berbagai bidang.

Dalam perusahaan atau bisnis misalnya, seseorang dianggap sebagai rainmaker jika ia bisa menjual banyak produk atau jasa.

Di tengah situasi pandemi Covid-19 di mana banyak usaha, dari yang besar hingga kecil hanya sanggup bertahan bahkan gulung tikar, dibutuhkan sosok rainmaker.

Selama beberapa minggu ini, Managing Partner Monk’s Hill Ventures, Peng T Ong, sebagaimana dikutip entrepreneur.com, mengamati berbagai perusahaan yang tetap bertahan hidup.

Mereka saat ini, mengelompokkan perusahaan-perusahaan itu ke dalam tiga kategori.

Kategori pertama, ember es. Yaitu bisnis yang harus dibekukan selama pandemi Covid-19 karena peluang pendapatan untuk bisnis ini hampir nol, karena ada penurunan di seluruh dunia. Bisnis ini kebanyakan terkait dengan traveling atau penyelenggaraan acara atau yang dikenal dengan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE).

Kategori kedua, bisnis pivot. Yaitu pengembangan bisnis dengan cara mengubah model bisnis tapi tetap berpijak pada visi yang dimiliki. Pivot diambil dari salah satu teknik gerakan pada olahraga basket, yaitu teknik mengubah arah dengan tetap berpijak pada salah satu kaki.

Cara bertahan ini dilakukan karena tidak ada lagi konsumen yang mau membeli produk dalam bisnis tersebut, sehingga perlu beralih ke basis pelanggan baru atau bahkan produk yang baru sama sekali.

Kategori ketiga, adalah para pemenang. Yaitu bisnis yang tetap mampu berkembang dalam iklim pandemi seperti ini, seperti bisnis teknologi perawatan kesehatan, teknologi kolaboratif, toko bahan makanan online, dan e-commerce.

Saatnya menjadi Rainmaker

Sekarang menjadi jelas, terutama bagi para pengusaha kategori dua dan tiga, kini adalah saatnya menjadi rainmaker yang hebat.

Kenapa? sebab mesin penjualan apapun yang sekarang dibuat mungkin akan berhenti berfungsi dalam 3 hingga 12 bulan ke depan. Apa yang bisa dilakukan hari ini mungkin tidak berlaku lagi di 12 bulan ke depan.

Penting juga sekarang para pengusaha menanyakan pada dirinya, apa yang akan terjadi ketika kehidupan kembali normal dan pandemi ini berakhir?

Bagaimana nanti membangun kebiasaan yang baik saat dunia kembali normal?

Untuk usaha pada kategori tiga, yang saat ini sedang gencar-gencarnya melakukan penjualan, mungkin hal ini perlu dipertimbangkan:

Pertama, kelangsungan hidup. Mungkin saat ini bukanlah waktunya untuk merencanakan skenario yang paling optimis.

Jika Anda tidak tahu apa yang bakal terjadi nanti, bertahan hidup adalah hal yang terpenting.

Kedua, sekarang saatnya temukan orang-orang terbaik untuk terlibat di dalam tim. Ini juga saatnya Anda melihat siapa di antara tim yang terbaik dan Anda inginkan bersama-sama di tengah pertempuran.

Ketiga, model bisnis. Selain menjadi rainmaker yang hebat, pastikan juga apa yang dapat Anda lakukan nanti pasca pandemi. Adakah penyesuaian yang perlu Anda lakukan?

Keempat: repeat order. Bagaimana Anda terus membangun dan membuat orang tetap menggunakan produk Anda saat semuanya kembali normal? Produk tambahan apa yang bisa Anda tawarkan? Dan, bagaimana Anda bisa terus membuat pelanggan Anda ketagihan. Apakah misalnya, Anda perlu membuat konten digital serta strategi pemasaran baru?

Ketika semuanya baik-baik saja sekarang, coba pikirkanlah tentang apa yang akan terjadi pada usaha Anda saat New Normal.

Pandemi Covid-19 memang telah mempercepat digitalisasi serta adopsi banyak kebiasaan baru bagi banyak orang, seperti dalam hal belanja online, kerja jarak jauh, pendidikan online dan lain-lain.

Setelah semuanya kembali normal, apakah kebiasaan-kebiasaan itu tetap berlanjut atau sebaliknya? Ini juga yang tetap harus dipikirkan oleh para pengusaha.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...